Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Menuju Ke Negara Merfolk.


__ADS_3

Dan begitulah pertandingan antara Mary dan Olivia berakhir. Tidak ada yang menyangka kalau makhluk dari dunia ini dapat memanggil pendahulu Alice, atau lebih tepatnya memanggil monster Rubah Berekor Sembilan sebelumnya.


Jika lawan tandingannya adalah Rubah Ekor Sembilan, rasio kemenangan Olivia akan menurun drastis atau bahkan tidak memiliki kesempatan menang sama sekali karena Rubah Ekor Sembilan sangat kuat. Itu bisa dibandingkan dengan Alice, jika Alice saja yang masih kecil sudah sangat kuat bagi sebagian orang, bagaimana dengan Alice yang sudah dewasa? Itu sudah dipastikan kalau kekuatannya bisa menyetarai tiga Divine Monster.


Dengan kata lain, kalau kami mengikut sertakan Rubah Ekor Sembilan di sisi Mary maka Marylah yang akan menang. Sayangnya, dia tidak menyangka kalau Rubah Ekor Sembilan-nya sudah menjadi Alice kami. Jadi, aku putuskan kalau Olivialah yang menang karena Mary sudah kehilangan kartu andalannya. Itu adalah kesalahan Mary yang tidak mengecek atau mempersiapkan segala sesuatunya sebelum pertandingan dimulai.


Namun, kelihatannya itu bukan sesuatu yang buruk untuknya. Lagipula, sejak awal dia tidak berniat untuk mendapatkan cinta pertama William. Hanya ingin mendapatkan pijakannya di keluarga ini sekaligus ingin mendapatkan pengakuan dari Merlin. Kurasa, dengan menunjukkan keahliannya di bidang yang lain masih bisa mendapatkan kedua hal tersebut.


\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


Hari berganti, dan sekarang anak-anak berniat untuk melakukan petualangan pertama mereka di dunia ini.


"Aku tidak menyangka mereka akan pergi mengelilingi dunia secepat ini..."


"Huh? Apa kamu mencemaskan mereka sekarang?"


"Yah, gimana ngomongnya, ya. Aku tentu mencemaskan mereka, tapi sekarang rasanya seperti kastil ini akan menjadi sepi tanpa adanya mereka."


"He~ tapi, sebentar lagi adik-adik mereka akan segera membuatmu kerepotan, tahu."


Di ruang ganti busana, kami membicarakan anak-anak yang telah pergi untuk tujuan berpetualang. Dengan beranggotakan 8 orang yang terdiri dari Atla, Eren, Alice, Claris, Natalie, Davies, Peter, dan Ken si Wyvern.


Mereka dilepaskan begitu saja, dan dibiarkan memilih estimasi tujuannya sendiri.


Kupikir, mereka memerlukannya sesuatu seperti kendaraan transportasi, tapi dengan kehadiran beberapa naga di kelompok mereka, mereka bisa mengatasi masalah tersebut dengan mudah. Selain itu, di selatan sudah ada dermaga, mereka bisa menaiki salah satu kapal di sana untuk pindah ke benua lain.


"Semua usaha yang telah aku lakukan untuk mereka, aku berharap bisa berguna dan dapat membantu mereka di luar sana."


"Kamu terlihat menyedihkan sekali. Mereka tidak akan pergi lama tahu. Bukankah mereka bisa pulang setiap mereka ingin pulang!"


Freya kayanya sudah kesal dengan tingkahku yang melankolis ini. Memang benar, sebenarnya aku sudah menyiapkan semuanya, baik itu sarana maupun prasarana. Dan salah satu diantaranya terdapat alat untuk berteleport ke sini, jadi sebenarnya mereka bisa bolak-balik ke sini setiap saat.


"Tuan Albert, semuanya sudah beres."


"Terimakasih."


Kaguya dan Titania membantuku mengenakan pakaian rumit, yang terdiri dari jas dan jubah kesatria berwarna hitam. Biasanya, Merlin atau Freya yang membantuku mengenakan pakaian, namun mereka sedang hamil. Sedangkan Rin sedang memeluk Nava di sana, “Gao”.


Di ruang busana ini, aku juga sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat.


"Sayang, ajak Eliza juga dalam perjalananmu kali ini."


"Eh!"


Merlin menyuruhku untuk mengajak Eliza, dan Eliza terlihat terkejut. Menurutku, Eliza tidak tahu kenapa Merlin menyuruhku untuk membawanya.


"Eliza mau ikut?"


"Ah, aku, aku mau. Aku mau ikut!"


"Ok, ayo ikut denganku."


"A-Apa aku perlu mengganti baju?"


"Kalau kamu mau, ya lakukan saja. Kita akan berkunjung ke pulau bangsa Merfolk, kenakan saja pakaian apapun yang kamu suka, Eliza."


"Baiklah!"


Dia keliahatan sangat senang dan langsung mengganti bajunya dengan yang lain. Kalau soal jalan-jalan, aku tidak pernah bepergian dengan salah satu di antara mereka, aku pasti membawa mereka semua. Namun kali ini, aku akan bepergian hanya dengan Eliza, apakah ada yang berubah nanti?


"Kalian berdua jangan lama-lama pulangnya."


"Aku mengerti."


Kupikir Freya ingin ikut atau semacamnya, ternyata tidak. Kalau begitu, mungkinkah aku bisa membangun hubungan selagi di jalan dengan Eliza?


***


Atau tidak...


Di atas laut, ke arah selatan. Aku dan Eliza menunggangi kuda kami masing-masing. Dengan kecepatan tinggi bergerak di udara, kuda ini dapat melesat kencang dan meninggalkan jejak cahaya biru dan kuning.


Kuda Eliza tidak terduga sama cepatnya dengan kuda dari dalam game. Ditambah lagi, dengan mantel dan celana berkuda, Eliza terlihat sangat cantik dan keren.


Padahal kupikir aku bisa memeluknya di setiap jalan, huft. Aku tidak menyangka kalau dia memilih berpisah dan berjalan sendiri-sendiri.


Apa hanya aku saja yang berpikir tidak-tidak dalam kesempatan perjalanan "berduaan" ini? Atau, akunya yang terlalu berharap tinggi, padahal kenyataannya Eliza tidak begitu memikirkan tentangku? Yang mana, aku sangat penasaran. Kupikir dia ingin menikah denganku karena dia suka, tapi ternyata...

__ADS_1


Yaudahlah. Sebenarnya sampai sekarang aku masih tidak bisa menebak isi pikiran Eliza. Yang aku tahu, Eliza hanyalah wanita polos yang sedang terobsesi menjadi istriku. Sisanya aku tidak tahu.


Jika ternyata dia ingin mengincar hal lain, bukan karena dia suka denganku, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menikah dengan wanita yang tidak mencintaiku!? Mana mungkin aku bisa menerima hal itu!


"Tuan, kita sudah hampir sampai."


"Oh!"


Aku melamunkan hal di atas terlalu lama, dan tidak sadar kalau ternyata kami sudah mencapai tujuan.


Di hadapan kami, lautan biru membentang luas. Tidak ada pulau maupun daratan lain, hanya ada air di sana. Namun, itu hanyalah pengelabuan. Ketika aku mengenakan persepsi sihir, terdapat penghalang ilusi yang mengelilingi area di depan. Aku yakin sihir itu dapat membuat orang yang memasuki area tersebut kehilangan arah dan membuat mereka kesasar.


«Ini formasi yang bagus dan skalanya sangat besar.»


«Kamu bisa menghilangkannya?»


«Hmph, tentu saja!»


«Ohh! Seperti yang diharapkan. Tapi kita tidak perlu menghilangkannya.»


«Saya tahu.»


Kita hanya perlu melewatinya dan kita akan menemukan pulau bangsa Merfolk. Seperti itu tempatnya ketika aku mengintip memori Zen.


"Ayo, Eliza."


"Baik, Tuan."


Kita melanjutkan perjalanannya.


Sudah sejauh ini, aku tidak hanya melihat ke sekeliling langit, tetapi juga melihat ke dalam laut. Di dalam laut terdapat banyak sekali hewan atau monster berukuran besar. Aku yakin, ini penyebab nelayan tidak suka berlayar terlalu jauh ke tengah samudera. Bahkan beberapa di antaranya ada monster berukuran lebih besar daripada naga, laut di dunia ini sangat mengerikan.


Melewati formasi sihir, kami menemukan sebuah jurang di laut. Laut itu ternyata memiliki ujung? Semakin dekat, jurangnya semakin membesar. Dan ketika kami tiba di jurang itu, kami menemukan sebuah daratan di bawah laut, dikelilingi oleh dinding air laut.


Yah, agak membingungkan. Daratan tersebut berada di dasar laut, namun air laut tidak menenggelamkannya. Itu menjadi daratan yang dikelilingi oleh air terjun. Dari sini, aku bahkan tidak bisa melihat ujung dari daratan ini.


Aku tidak tahu bagaimana mekanisme daratan ini bekerja, kalau sebuah kapal masuk ke daratan ini dan terjatuh, itu pasti tidak akan berakhir bagus.


Yah, beruntung kami menunggangi kuda yang bisa terbang. Jadi ketinggian air terjun tersebut tidak menjadi masalah.


Karena tidak menemukan keganjilan lain selain daratan di bawah laut ini, aku memutuskan untuk menapakkan kaki kuda kami di daratan tersebut. Dan tidak ada reaksi apapun, kami bisa berjalan seperti biasa di sini.


Kemudian, kami berjalan masuk ke hutan, tidak memilih terbang karena penasaran dengan isi hutan.


Hutannya sangat lebat, pepohonan rimbun hampir menutupi langit dan menghalangi cahaya matahari untuk masuk.


Akan hebat jika ini menjadi tempat wisata, namun apa penduduk asli setempat bisa bergaul dengan manusia?


"Kusuk-kusuk"


Tidak lama kami memasuki hutan, tiba-tiba suara berisik dari arah berlawanan mengusik pendengaran kami. Itu seperti suara segerombolan makhluk yang sedang melewati pepohonan.


"Tuan, serahkan mereka padaku."


"Oh, tolong, ya."


Eliza berjalan ke depan dan membelakangiku. Seharusnya, sudah menjadi tugasku sebagai pria untuk menjaga Eliza, namun sebagai bawahan dia juga memiliki tanggung jawab untuk melindungiku. Oleh karena itu, mari berikan dia kesempatan untuk bekerja agar dapat pujian dari kakaknya.


*ROARRRR!!*


Tidak lama kemudian, salah satu makhluk di gerombolan mereka muncul dengan mulut yang terbuka lebar dan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya.


Itu adalah hiu, hiu yang sedang ditunggangi oleh ras merfolk. Hiu itu terbang dan besar, sangat mengejutkan bahwa bangsa merfolk bisa memanfaatkan hewan seperti itu untuk menjadi tunggangan mereka.


"Orang asing ditemukan!!"


Orang di atas hiu berteriak, pasti untuk memberitahu rekan-rekannya yang lain. Dia mengenakan zirah putih dan memegang trisula.


Lalu, rekan-rekannya yang lain datang dari berbagai arah dan mengelilingi kami.


Hebat, ini seperti kami sudah masuk ke wilayah terlarang.


"Tangkap mereka!!"


"Huh?"


Salah satu di antara mereka – yang aku kira adalah seorang kapten dari satuan tersebut – tanpa basa-basi ingin menangkap kami.

__ADS_1


Sekali lagi, hebat. Mereka tidak tahu kalau gadis di depanku ini tidak memiliki belas kasih terhadap lawannya. Eliza pasti akan terganggu dengan sikap kasar mereka terhadap kami. Sebagai catatan, alasan putri ketigaku cukup nakal karena dia meniru Eliza.


*Whoosh!!*


Ketika mereka benar-benar mendekat untuk menangkap kami, Eliza mengeluarkan auranya. Seolah-olah angin muncul secara tiba-tiba dari tubuh Eliza dan menciptakan gelombang kejut ke sekeliling area.


"Ohh, dia bisa menahannya." —Aku kagum dengan pilihan Eliza untuk tidak memukul mereka.


"A-Apa itu, barusan!? Kenapa para hiu menjadi tidak tenang!"


"Orang ini baru saja menggunakan Haki Raja Binatang Buas!"


"Apa!?"


Mereka panik karena tunggangan mereka menjadi resah setelah menerima aura Eliza.


"Rawl!!"


"Growl!!"


"Woah, berhenti!!"


"Mereka tidak bisa dikendalikan lagi!!"


"Ahhh!!"


Hiu-hiu mereka tampaknya sangat shock, mereka tidak mengikuti perintah penunggang mereka dan berbalik untuk melarikan diri. Kelihatan mereka sangat ketakutan, apa Eliza memang semengerikan itu?


"Tuan, mereka sudah aku bereskan!"


"Hebat, hebat. Aku senang kamu bisa mengurus mereka sendiri."


"Mwehehe."


Setelah Eliza mendekat untuk memberi laporan, aku mengelus kepalanya sebagai hadiah dari usahanya.


Padahal aku tidak ingin membuat kehebohan di tempat ini, tapi... Ya sudahlah. Salahkan pihak lain karena ingin menangkap kami seenaknya.


"Ayo kita lanjutkan perjalanannya."


"Ya!"


"Pohon-pohon di sini kelihatannya tumbuh dengan subur."


"Apa ada sesuatu yang Tuan inginkan?"


"Tetaplah berjalan di dekatku."


"Baik."


Sambil berjalan, kami mengamati sekeliling hutan. Hutan ini sungguh hijau dan lembab, beberapa pohon bahkan bisa menghasilkan buah dengan baik. Tempat ini mungkin lebih makmur daripada apa yang aku kira.


«Hm~»


«Kenapa Hydra?»


«Tempat ini sejak awal sudah terisolasi dengan sihir, namun baru saja aku kehilangan kontak dengan jaringan informasiku di luar tempat ini.»


«Maksudmu, ada penghalang yang membuat kita tidak bisa berhubungan dengan orang-orang di luar?»


«Seperti itu.»


«Hm~ kenapa bisa jadi begini. Apa itu karena kita sudah masuk terlalu dalam?»


"Tidak tahu, menurutku ini agak sedikit aneh.»


«Ohh, bahkan orang sepertimu bisa dibuat bingung oleh tempat ini. Baiklah kita akan masuk dan menemui orang-orangnya.»


Aku semakin penasaran dengan seluruh tempat ini ketika seekor "Hydra" bisa kebingungan di dalam sini.


Selain itu, alasan aku bisa percaya diri ingin bertemu dengan orang-orang di sini tanpa mengkhawatirkan kekuatan mereka karena sebenarnya aku sudah mendapatkan sejumlah data dari ingatan Zen.


Aku juga memiliki alasan kenapa tidak membawa Zen dalam perjalananku ke tempat ini. Alasannya adalah Zen bukan orang biasa di tempat ini. Dan lagi, dia keluar dari tempat ini bukan karena keinginannya sendiri. Jadi aku tidak bisa mengajaknya begitu saja dalam urusan kali ini.


Yah, dia juga sedang sibuk mengurus masalah organisasinya bersama dengan Niks dan Wilhelm. Niks memberikan semua informasi yang dia tahu tentang organisasi-organisasi serupa, seperti tempat dan bos mereka. Kemudahan Wilhelm dan anak buahnya menyerang sejumlah organisasi serupa tersebut untuk mendapatkan kekuasaannya dan menyuruh mereka untuk bergabung dengan organisasi Zen. Terakhir, Zen menjadi pemimpin mereka dan membuatkan prosedur untuk mereka.


Semua orang bekerja dengan keras selagi aku berwisata ke tempat ini.

__ADS_1


Ah, aku juga sudah mengirim William, Olivia, dan Mary ke tempat Tristan untuk membereskan legislasi Vampire di dunia manusia. Mereka bertiga bisa diasosiasikan ke dalam ras Iblis, dan mungkin ini bisa dijadikan langkah awal untuk manusia menerima ras Iblis walaupun aku tidak tahu apakah Tristan dapat menerimanya atau tidak.


Kudengar benua Ciene di arah barat daya dari tanah naga terdapat sekelompok ras Iblis hidup dengan manusia. Tapi bagaimana Iblis yang merupakan makhluk spiritual bisa hidup bebas di dunia ini? Aku belum pernah berkunjung ke sana dan aku hanya bisa menduga kalau jenis-jenis makhluk beratribut Iblis seperti vampire yang mendiami benua tersebut.


__ADS_2