Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Anak Laki-Laki.


__ADS_3

Kerajaan Galantis, paviliun istana. Raja Mahatta — yang ditemani Pangeran Randolph — akan memulai pembicaraannya dengan Eliza.


Pemandangan paviliun yang dikelilingi oleh taman bunga di atas kolam ikan membuat suasana di paviliun tersebut sangat bersahabat, itu membuat siapapun akan berpikir kalau pihak kerajaan sedang bersikap ramah terhadap tamu undangannya.


Di meja jamuan, Eliza meminum teh yang telah disediakan sebagai bentuk etika.


(Yah, tidak buruk.) —Evaluasi Eliza untuk keramahtamahan mereka. Tapi setelah itu dia tidak meminum tehnya lagi.


"Baiklah, mari kita langsung ke topik utamanya. Kami, atau sebenarnya Tuanku, ingin melakukan bisnis di negara ini. Seperti biasanya, dia melakukan perjalanan jauh hanya untuk memperluas bisnisnya. Itu alasan pertama kenapa dia mau datang ke negara ini. Alasan keduanya, dengan gagasan kita mungkin saja bisa menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan Anda, kami datang ke sini. Dua alasan itu sebenarnya sudah menjadi inti pembicaraan kita."


Dengan tatapan matanya yang dingin seperti tidak peduli sama sekali dengan kelanjutan diskusinya, Eliza menjelaskan. Wajahnya tidak memperlihatkan keramahan sedikitpun.


Seperti penyihir es dalam cerita, itulah peran yang sedang Eliza mainkan sekarang. Berada di tempat yang jauh dari keluarganya membuat dia sangat bosan.


"Tapi..."


Eliza masih melanjutkan.


"Tapi?"


"Tuan Albert sedang tidak ada di sini, jadi kita tidak bisa membicarakan kedua hal itu sekarang. Aku datang ke sini hanya untuk menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami ke sini kepada Anda. Kami datang ke negara ini tanpa diundang, dan cukup menyebabkan masalah dengan pasukan kalian di perbatasan. Jadi aku ingin mengklarifikasi masalah tersebut demi menghindari kesalahpahaman dengan pihak kalian."


Itu adalah permintaan dari Albert. Itu sebabnya meskipun hanya sendiri, Eliza masih masuk ke istana ini. (Berdua dengan Iris, meskipun dia sekarang sedang diurus oleh maid istana.)


"Ho-Hou, jadi begitu rupanya. Aku sekarang mengerti. Sekarang karena kamu sudah mau menjelaskannya, aku tidak akan mempermasalahkan kedatangan kalian ke negaraku. Sebelumnya tidak pernah ada manusia yang bisa masuk ke Galantis melalui penghalang itu, kecuali para monster. Mungkin karena hal itu pasukan di perbatasan menyerang kalian, menganggap kalian adalah monster, hahaha!"


Mahatta tertawa, tapi itu sangat tidak lucu bagi Eliza.


Monster di lautan memang sangat kuat, terutama monster yang berada di samudra utara dan selatan dunia ini. Ukuran dan kekuatan monster di sana bisa mencapai atau melebihi naga dewasa. Bahkan di antara mereka, mungkin saja ada monster purba yang belum teridentifikasi oleh manusia di era sekarang.


"Berbicara tentang hubungan luar negeri. Sudah ribuan tahun lamanya kami tidak berhubungan dengan manusia dari luar. Itu bukan karena kami tidak bisa, tetapi kami tidak mau. Diceritakan secara turun temurun, manusia dari luar suka sekali berperang. Bisa dibilang alasan kami tidak lagi berhubungan dengan manusia dari luar karena tidak ingin ikut terjerumus ke dalam masalah perang mereka. Tapi sekarang, aku tidak tahu bagaimana keadaannya. Apa kalian masih suka berperang?"


"Aku tidak bisa bilang kalau perang sudah tidak ada, nyatanya sebulan kemarin ada perang yang terjadi antar sesama manusia. Namun, Tuan Albert bisa meminimalisir korban perangnya menjadi nol. Dan sekarang beliau sedang berupaya untuk menciptakan kondisi anti-perang di ruang lingkup negara aliansi kami."


"Oh! Jadi kalian masih suka berperang."


"Siapa yang suka berperang!? Sudah kubilang kalau Tuanku sedang berupaya mencegah terjadinya perang!"


"Ah, bukan kalian, aku hanya berbicara tentang manusia itu."


Merasa tersinggung dengan ucapan Mahatta, Eliza memberikan bantahannya. Mahatta mungkin tidak menyangka akan mendapatkan bentakan dari Eliza.


"Jadi apa yang kamu maksud adalah tuanmu tidak menginginkan perang?"


"Ya. Mungkin akan membutuhkan waktu untuk menciptakan keadaan seperti itu, tapi Tuan Albert tetap melarang negara anggota aliansinya berperang."


Randolph memberikan pertanyaan yang benar untuk penjelasan Eliza.


"Manusia adalah makhluk yang keras kepala. Bukankah akan sulit untuk mencegah mereka melakukan hal yang mereka inginkan?"


Mahatta ikut mengutarakan pendapatnya.


"Itu... Jika berbicara tentang perang, bukan tidak mungkin untuk mencegahnya. Tuan Albert memiliki rencana untuk mengatasi hal tersebut, tapi aku masih belum tahu spesifikasi rencananya."


Eliza hanya mendengar itu dari kedua kakaknya, Merlin dan Freya. Sayangnya bahkan mereka berdua juga tidak tahu rinciannya seperti apa.


"Hehe! Begitu ya. Aku pikir Tuan Albert adalah orang yang dapat dipercaya, Ayah!"


Randolph memiliki senyum mencurigakan yang sempat dilihat oleh Eliza sebelum dia mengatakan itu.


Sebelum pergi, Albert mengingatkan kalau Randolph tidak bisa dipercaya, jadi Eliza sangat waspada terhadapnya.


"Kalau dia dapat dipercaya, lalu apa?"


"Tentu saja kita harus menjalin hubungan dengan mereka."


"Ha?"


"Dengar Ayah...."


Di sana, Randolph membisikkan sesuatu ke telinga Mahatta, dimana hal seperti itu tidak sepantasnya dilakukan di depan tamu.


Eliza memang bukan tamu undangan mereka, namun tetap saja hal itu justru menimbulkan kecurigaan. Seperti sedang merencanakan hal licik secara terang-terangan.


"Oh! Kamu benar. Kita harus menjalin hubungan dengan Tuan Anda, Nona Eliza."


Seperti Mahatta baru saja tercerahkan dengan bisikan Randolph, dia menyetujui saran dari anaknya dengan wajah cerah.


Apa yang mereka bicarakan sebenarnya?

__ADS_1


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Gao!!"


"Eh, apa? Kamu senang naik di atas Rainer?"


"Gao!"


"Haha, te-tenanglah! Jangan banyak gerak, nanti kita bisa terjatuh. Ya ampun anak ini..."


Menunggangi Rainer, aku berkendara di atas permukaan laut. Namun melayang, bukan berjalan di atas air. Dan melihat Nava selalu bergerak tidak bisa diam, aku mengira kalau dia sedang menikmati perjalanan ini.


Aku langsung pulang setelah menerima pesan kalau Nodens datang ke rumah dan mengatakan banyak hal buruk pada kedua istriku, namun ketika aku sampai rumah ternyata dia sudah tidak ada.


Untungnya, seluruh keluargaku masih dalam keadaan sehat, jadi aku bersyukur.


Juga, Merlin mengaku kalau Nodens mungkin bukanlah tandingannya, melihat Nodens belum memiliki tanda-tanda pengguna Outerki energy. Tapi, kami masih tidak boleh lengah. Selanjutnya aku tidak ingin dia dekat-dekat dengan kedua istriku.


Ah, dan juga tentang Nava. Dia dikurung di dalam kamar oleh Rin. Itu membuatnya sedih, meskipun aku tidak tahu bentuk melankolis dari wajah naga, tetapi setidaknya aku bisa merasakan kalau dia merasa kesepian.


Oleh karena itu, aku membawanya bersamaku sekarang.


Semua karena rin yang menguncinya di dalam kamar, padahal dia sedang murung karena ditinggal pergi oleh ketiga kakak perempuannya. Itu membuatnya semakin sedih, tapi aku tidak bisa memarahi Rin karena dia memiliki alasan untuk menjaga Merlin dan Freya ketika Nodens datang.


Justru, orang yang seharusnya disalahkan adalah aku yang menyuruh Rin menjaga kedua istriku padahal dia sendiri sedang sibuk merawat Nava.


Ah, tidak! Kalau saja Nodens tidak datang, semua masalah tersebut tidak akan pernah terjadi. Jadi, semua salah Nodens.


Untuk keluarga mertua, mereka semua repot-repot datang ke kastil untuk berterimakasih padaku. Tapi tidak hanya itu, mereka datang juga karena alasan mengkhawatirkan keadaan Freya yang sedang hamil.


Semua orang kerepotan, cemas, dan gelisah. Itu semua karena Nodens. Aku ingin sekali membalas perbuatannya, walaupun aku bukanlah orang yang suka melakukan pertengkaran tetapi karena dia sudah membuat masalah sampai sebanyak ini, mana mungkin aku diam saja.


Tapi aku tahu berperang dengannya bukanlah perkara kecil. Mendengar sedikit penjelasan Carol ketika dia datang ke rumah, kemungkinan Lima Keluarga Pilar Surga yang tersisa akan menjadi bagian dari pihaknya Nodens.


Bergerak sembarangan akan mendatangkan kekalahan. Itu menyedihkan kalau aku menyerang duluan dan berakhir kalah hanya karena percaya diri dengan kekuatan sendiri. Strategi sangat diperlukan.


Tapi, ini akan memberikan kegelisahan panjang jika aku berlama-lama. Jadi setelah aku membawa pulang Eliza, aku akan langsung menyerang Nodens kalau strategi yang dibuat oleh Ignis sudah selesai.


"Gao!"


"Oi! Sudah kubilang jangan terlalu banyak bergerak. Kamu tidak punya sayap tahu, kamu tidak bisa terbang."


Salahku kalau dia tidak punya sayap. Tapi, untuk apa punya sayap, manusia adalah makhluk darat.


"Gao!!"


"Hiii!!"


Nava melompat dari tanganku dan tanpa alasan yang jelas mengigit leher Rainer. Rainer yang terkejut berjingkrak dan kehilangan keseimbangannya. Aku sendiri sibuk mengurus Nava, aku kehilangan keseimbangan ketika Nava terpeleset. Dan pada akhirnya, kami bertiga jatuh ke laut dengan suara tercebur.


***


**


*


"Gao~"


"Kamu menyukai itu? Kita sekarang basah kuyup tahu!"


Seperti puas sudah menyelam ke dalam laut, Nava sekarang menikmati perjalanan dalam diam, hanya ekornya saja yang bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tidak terduga, punya anak laki-laki itu cukup merepotkan. Tidak seperti mengurus perempuan, kenakalan anak laki-laki sulit ditangani.


Tapi, ternyata dengan kedua kakinya itu, Nava bisa berenang menggunakan gaya katak. Itu agak lucu melihat naga bertingkah seperti katak, namun berakhir menyedihkan ketika dia tahu dia tidak bisa bernapas di dalam air.


Lima menit kemudian, kami tiba di depan istana. Aku mengeringkan tubuh kami dulu sebelum masuk, menggunakan sihir manipulatif untuk menghilangkan kelembapan. Sihir air yang paling sederhana itu tidak terduga sangat berguna.


"Permisi. Anda tamu dari negara Lumia, Tuan Albert?"


"Ah, iya. Rekanku sedang berada di dalam."


"Kalau begitu, silahkan lewat sini."


Seorang pria bersenjata lengkap mendatangiku dan menuntun aku ke dalam. Perlengkapan yang dia kenakan sama seperti perlengkapan penjaga yang ada di benteng sebelumnya. Mungkin itu adalah pakaian dinas para prajurit di seluruh kerajaan ini.


Aku dan Nava mengikuti penjaga tersebut, sedangkan Rainer kembali ke dunianya. Sambil berjalan di belakang penjaga, aku mengamati interior istana yang cukup mewah dengan paduan warna biru, emas, dan putih. Semua ini membawa perasaan sejuk dan memiliki nilai estetisnya tersendiri.


"Ngomong-Ngomong, apakah Anda ingin bertemu dengan gadis budak Anda?"


"Budak?"

__ADS_1


"Gadis kecil yang ikut bersama dengan Nona Eliza."


"Apa Eliza menyebutnya budak?"


"Ah, ti-tidak."


"Antarkan aku ke sana."


"Baik!"


Di negeri ini masih ada perbudakan, cukup merepotkan. Aku pasti akan mengurusnya, tapi tidak sekarang. Prioritas utamaku sekarang adalah membereskan Nodens.


Tiba di salah satu kamar istana, aku dipertemukan dengan Iris. Ketika pintu dibuka oleh penjaga tersebut, aku sempat melihat iris mengusap matanya.


Dia menangis?


Ah, dia pasti masih memikirkan ayahnya yang sudah pergi meninggalkannya. Aku merasa sangat bersalah dengan itu, sungguh. Aku bahkan menyesal telah memisahkan dia dari satu-satunya keluarga yang dia miliki.


"Tu-Tuan."


"Tuan, apa? Bukankah aku sudah memperkenalkan namaku?"


"Tu-Tuan Albert."


"Fumu. Ini kue dari rumahku, makanlah."


Enam kue donat yang dibungkus dengan baik oleh juru masak di dapur, aku berikan padanya. Dia membuka itu dan memakannya. Tindakannya seperti seorang karyawan yang mendapatkan perintah dari atasannya, tidak ada penolakan atau keluhan sama sekali.


Yah, aku memang memberikan anak itu perintah, tapi setidaknya dia harusnya memiliki sikap ragu atau apapun terhadap barang mencurigakan yang dia dapatkan dari orang baru dikenal.


Tapi, walaupun hanya sepintas, aku sempat melihat matanya menunjukkan tanda-tanda keterkejutan. Dia pasti tidak menyangka kalau donat itu sangat manis, kan? Atau sebaliknya?


"Gao!"


"Tidak boleh Nava, itu punya dia! — Iris, ayo ikut denganku, kita akan bertemu kakak Eliza."


"Um."


Kembali ke wajah biasanya, dia memakan donat itu sambil mengikutiku dari belakang. Melihat dia makan terburu-buru dengan raut wajah antusias, aku yakin dia menyukai donatnya.


Tiba di taman istana, kedatanganku ternyata sudah ditunggu oleh Eliza, Randolph, dan pria tua berambut dan berjanggut putih.


Aku agak familiar dengan penampilan itu, dia terlihat seperti Sinterklas.


"Maaf membuat kalian menunggu."


"Tidak apa-apa. Menjadi seorang penguasa memang merepotkan, aku tidak akan mempermasalahkannya."


"Uh, ya. Perkenalkan, aku Albert Testalia."


Untuk suatu alasan, dia membuatku merinding. Kami berjabat tangan sambil memperkenalkan diri. Lalu, ketika dia mengajak aku untuk duduk dan mengobrol, aku menolaknya dengan cepat.


"Ah, sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menolak tawaran baikmu, karena ada urusan penting yang harus aku lakukan. Aku ke sini hanya ingin menjemput gadis ini dan memberikan ini kepadamu."


"Oh, apa ini?"


Untuk sesaat, wajahnya terlihat kesal ketika aku mengacaukan sambutannya. Tapi mau bagaimana lagi, sebenarnya aku tidak memiliki niat untuk kembali ke sini. Aku bisa menyuruh Eliza kembali melalui telepati, namun secara kebetulan aku memiliki ide untuk membawa Nava jalan-jalan. Jadi bisa dibilang, aku pergi dari kastil hanya untuk menceriakan suasana Nava.


"Ini kue yang sama dengan gadis budak Anda."


Dia memperhatikan donat di tangan Iris, ya itu memang sama.


"Iris bukanlah budak karena aku tidak menaruh kalung di lehernya. Ngomong-Ngomong, itu adalah produk dari bisnis kami. Jika kamu menginginkannya, aku bisa memberikan resepnya. Tapi dengan syarat, Anda harus mengizinkan aku membuka toko di kota ini."


"Kamu ingin berjualan?"


Wajahnya agak aneh ketika aku memberikan sebuah syarat kepadanya. Bagaimanapun, aku menawarkan makanan kepada ras yang baru aku temui, tanpa tahu dia menyukainya atau tidak, aku malah langsung memberikan sebuah syarat.


Bagaimana kalau indra perasa merfolk berbeda dengan manusia dan menganggap kalau donat itu tidak enak? Mau ditaruh di mana wajahku nanti, bergaya seperti pembisnis sukses padahal produknya tidak memuaskan konsumen.


"Huh, apa ini? Sangat enak!"


"Berdasarkan warnanya, rasanya juga berbeda-beda."


"Benarkah?"


Dia memakan itu dengan lahap. Berpikir berlebihan itu ternyata tidak baik.


"Hei, Ayah! Berikan aku satu!

__ADS_1


Dan Randolph tidak ingin kehabisan. Kemudian bapak dan anak itu memakan donat-donatnya hingga habis.


Setelah itu, dengan mudahnya mereka menerima syarat dariku dan memberikan janji untuk memperbolehkan aku membuka toko di kotanya, sangat mudah.


__ADS_2