
Seminggu telah berlalu, dan rencana mengimigrasi warga penduduk Kekaisaran sekaligus proyek pembangunan kota baru di wilayah pesisir pantai selatan sudah dalam proses pengerjaan.
Kesepakatan antara aku dengan seluruh bangsawan sudah dibentuk di gedung penjara tempo lalu.
Setelah mereka sepakat untuk percaya padaku, mereka memberikan janji untuk mencurahkan kesetiaan mereka kepadaku.
Dan pada saat itu juga, aku bersikap baik dengan mereka. Memberikan mereka pakaian dan makanan hangat.
Mereka baru bisa tenang setelah mendapatkan akomodasi tersebut.
Sungguh, hati seseorang sangat mudah untuk diarahkan.
Ketika kami sudah cukup akrab, kami baru bisa berdiskusi secara serius dan membahas semuanya supaya rencanaku — atau lebih tepatnya keinginanku — untuk menggunakan para prajurit Kekaisaran sebagai tenaga kerja dapat tercapai.
Prajurit dari Kekaisaran berjumlah 245.000, dan untuk meyakinkan mereka semua supaya mau bekerja untukku terbukti merupakan suatu hal yang menjadi masalah besar.
Sama halnya dengan mereka (kedua puluh bangsawan), ratusan prajurit itu pasti akan memiliki banyak keraguan di hati mereka. Dan untuk menghilangkan keraguan tersebut, kami harus berdiskusi dan merencanakan semuanya dengan sempurna.
Seperti, apakah aku harus membangkitkan para prajurit itu sedikit demi sedikit dan memberi doktrin kepada mereka bahwa aku bukanlah makhluk yang jahat.
Atau seperti, kami membangkitkan mereka secara sekaligus, lalu langsung menyuguhkan pidato dari Frederick dan Roy serta para bangsawan Kekaisaran supaya mereka bisa mempercayaiku dan mau menjadi bawahanku.
Bahkan hal seperti penggunaan metode untuk mencuci otak mereka semua supaya patuh kepadaku, juga muncul dalam pembahasan aku dengan kelompok Bangsawan Kekaisaran.
Dari ketiga opsi di atas, opsi pertama sangat memakan waktu, opsi kedua masih diragukan namun tampaknya cukup baik untuk dilakukan, sedangkan opsi ketiga merupakan tindakan kejahatan.
Opsi ketiga sangat menjanjikan, tapi risikonya sangat besar jika mereka semua mengetahui bahwa mereka sudah dicuci otak olehku.
Pada saat itu, mereka pasti akan membenciku.
Yah, dibenci atau tidaknya oleh mereka, aku sangat tidak peduli. Namun aku tidak ingin jika mereka membenci keluargaku. Entah bagaimana, aku harus membuat mereka mempercayai keluargaku. Jika bisa, mereka harus mencurahkan kesetiaan mereka kepada keluargaku.
Dengan begitu, mungkin aku akan merasa terpuaskan.
Ngomong-ngomong, setelah bangsawan dari kekaisaran sudah bangkit dan mempercayaiku, aku juga membangkitkan sejumlah bangsawan dari Kekaisaran Karamia.
Seperti yang diharapkan, mereka pada awalnya bingung dengan kondisi mereka masing-masing. Dan setelah mendapatkan penjelasan dari Bangsawan Kekaisaran Dortos, mereka menjadi panik.
Pikiran mereka kacau setelah mengetahui bahwa mereka telah mati dalam perang.
Namun hanya sampai sana saja. Berdasarkan pengalaman, aku hanya perlu memberikan mereka perlakuan dan akomodasi baik. Dan dengan begitu, mereka secara perlahan mau membukakan hati mereka untukku.
Mereka memiliki kondisi tersendiri. Ketika aku menyampaikan bahwa aku tidak ingin uang mereka, tidak ingin properti dan keluarga mereka, mereka bisa merasa tenang.
Mereka tahu mereka kalah dalam perang, dan pengaturan seperti menyuruh mereka tinggal di sini lebih baik daripada harus menjadi budak.
Tidak terduga, mereka cukup cepat beradaptasi.
Sampai pada hari kebangkitan para prajurit, semua pengaturan untuk mengakomodasikan mereka sudah dipersiapkan.
Kami tidak memiliki kamar untuk ratusan ribu manusia itu, dan memutuskan akan menggunakan tenda sementara untuk mereka tempati.
Tidak lupa, mereka merupakan prajurit. Hanya karena tinggal di dalam tenda tidak akan menimbulkan masalah untuk mereka. —Hal ini, aku diberitahu oleh sekumpulan bangsawan itu.
Jadi kami sepakat akan menggunakan tenda sebagai tempat tinggal mereka. Untuk lokasinya, kami memilih menempatkan mereka di dalam dan luar colloseum.
Untuk tempat tinggal mereka sudah ditentukan, selanjutnya adalah pakaian, selimut, atau benda lain untuk menunjang kehidupan dasar mereka.
Dalam masalah ini, kami mengandalkan mitra dagang kami, Martin, untuk mengumpulkan barang-barang tersebut.
"Serahkan itu padaku, Bos!"
Martin cukup percaya diri ketika aku meminta dia mengatasi masalah tersebut.
Kami sangat membutuhkan banyak bantuan. Bahkan jika itu hanya pakaian bekas, kami sangat menerimanya untuk saat ini.
Karena menyediakan pakaian dan barang kebutuhan pokok untuk ratusan ribu orang merupakan hal yang sulit.
Setelah masalah tempat tinggal dan pakaian sudah diselesaikan, masalah terakhir dan menjadi masalah yang paling penting, itu adalah makanan.
Makanan sangat penting bagi makhluk hidup. Meski tempat tinggal dan pakaian sudah terpenuhi, jika mereka tidak mendapatkan makanan, mereka tidak akan bisa hidup.
Nah, untuk masalah ini. Kami meminta bantuan kepada Marcus dan Byakko untuk menyediakan kebutuhan tersebut. Tentu saja, aku membayarnya dengan harga normal dan uangnya berasal dari para bangsawan.
Aku tidak ingin negara kami memiliki hutang dengan negara lain. Negara kami cukup kaya, bahkan mungkin sudah menjadi salah satu negara terkaya di dunia ini. Jadi memiliki hutang sangat tidak masuk akal.
__ADS_1
Negara kami memang masih belum matang, masih tidak bisa menyediakan makanan untuk ratusan ribu orang.
Tidak, bahkan untuk masyarakat kami sendiri, kami masih belum bisa memenuhi kebutuhan penting seperti sayuran, dan harus memperoleh barang-barang tersebut dari negara lain.
Namun kami memiliki banyak bahan tambang. Jika ingin mineral, kami hanya perlu menggali. Dan dapat menghasilkan baja dalam jumlah banyak karena kami sudah memiliki tiga pabrik.
Ah, pembicaraan sedikit melenceng. Kembali ke topik utama.
Pada hari semua pengaturan dan tiga kebutuhan sudah terpenuhi, aku mulai membangkitkan ratusan ribu orang tersebut di dalam colloseum. Tentunya, tenda dan kebutuhan lain sudah dipersiapkan.
Ratusan ribu orang itu digeletakkan di atas tanah. Satu set pakaian sudah dipersiapkan di sebelah tubuh telanjang mereka.
Masing-masing mendapatkan satu set.
Ketika mereka bangkit, mereka hanya perlu mengenakan pakaian tersebut.
Ngomong-ngomong, terdapat prajurit wanita juga diantara mereka. Jumlahnya mungkin sekitar seperempat dari keseluruhan jumlah pasukan.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kami memisahkan tempat mereka diletakkan sesuai dengan jenis kelamin. Dan para anggota kepolisian wanita yang akan mengurus prajurit perempuan itu.
Yah, kurang lebih seperti itulah pengaturan kami untuk akomodasi mereka setelah dibangkitkan.
Ketika mereka sadar, aku dan para bangsawan lainnya berpidato di atas mimbar. Menjelaskan situasi mereka dengan singkat dan langsung membujuk mereka untuk bergabung dengan kami (Negeri Naga, Lumia).
Tidak seperti kelompok bangsawan, ternyata para prajurit itu cukup dapat menerima keadaan mereka dan langsung mengerti kalau mereka tidak memiliki pilihan lain selain menerima kenyataan.
Wajah mereka terlihat pasrah, depresi, dan tidak bertenaga. Itu wajar, mengetahui mereka pernah mati sekali membuat kebingungan dan kegelisahan muncul di dalam diri mereka.
Namun ketika aku berpidato dan menyampaikan pesan kalau mereka masih bisa bertemu dengan keluarga, kerabat, atau teman mereka yang berada di kampung halamannya, mata tidak bercahaya mereka mulai menyala kembali dan mereka mulai sedikit bersemangat.
Aku mengatakan kalau bersikap murung tidak akan menghasilkan apapun, dan mereka mulai sedikit mengerti.
Pada titik itu, aku langsung menyuruh para petugas kepolisian untuk mempersiapkan makanan dan minuman, berharap agar itu dapat mencairkan suasana hati mereka.
Hari sudah gelap, ketika mereka sudah selesai makan, sudah kenyang, dan sudah mulai terbiasa dengan kondisi baru mereka, aku berdiri lagi di atas mimbar.
Berbicara sedikit untuk membangkitkan semangat hidup mereka dan mendorong hati mereka supaya mereka mau menjadi warga negara kami dengan sepenuh hati.
Pada saat itu, salah satu prajurit secara tiba-tiba bertanya "Kenapa Anda tidak membiarkan kami mati?" seperti itu kepadaku. Dan membuat suasana menjadi sunyi.
Di sana aku hanya perlu menjawab jujur. Rencana menggunakan mereka sebagai kuli bangunan sudah kami sampaikan, namun aku belum menjelaskan kalau mereka dihidupkan kembali karena permohonan dari istriku.
Oleh karena itu, aku menyampaikan semua itu dan menciptakan keterkejutan secara serentak.
Pada saat-saat seperti itu, aku bingung harus mengatakan apa. Semua mulai berbisik dan mengutarakan setiap spekulasi mereka masing-masing.
Kemudian seorang wanita cantik mengenakan gaun putih naik ke atas mimbar dan berdiri di sampingku. Dia adalah Freya, mengenakan pakaian formal dengan riasan dan aksesoris.
Pada malam itu dia sangat cantik. Aku heran kenapa dia bisa ada di sebelahku dengan pakaian formal.
Ketika dia merangkul tangan kiriku, dia meminta izin untuk berbicara menggantikan aku.
Aku hanya mengikuti arusnya dan membiarkan dia berbicara.
"Ehem, perkenalkan, Semuanya. Saya adalah Freya Testalia, istri kedua pria hebat ini. Aku ingin menyampaikan satu hal kepada kalian untuk tidak berfikir terlalu negatif terhadap kami. Kami hanya ingin kalian hidup, cuma itu. Seperti apa yang dikatakan oleh suamiku ini, kalian masih bisa menikmati kehidupan seperti biasa. Kami tidak akan merenggut keluarga, kerabat, ataupun teman kalian. Kami berjanji untuk itu, kami juga berjanji tidak akan memperlakukan kalian dengan buruk. Kami memang bersalah karena sudah memaksa kalian untuk tinggal di sini, tapi kami tidak akan melarang kalian untuk pergi. Setelah menyelesaikan pembangunan kota baru untuk kalian tempati, kalian boleh bebas. Kalian boleh memilih ingin tetap tinggal di tanah ini atau pergi, kami tidak akan memaksa. Dan terakhir, bagi mereka yang ingin tinggal di sini, aku akan mendoakan kalian supaya mendapat kelancaran hidup dan dapat berbahagia..."
Mengakhiri pidato, Freya benar-benar berdoa sambil menutup matanya. Kemudian tubuhnya mengeluarkan cahaya.
Di kegelapan malam ini, tenda-tenda hanya diterangi oleh cahaya minim dari lentera dan obor.
Tapi kemudian, semua lokasi diterangi oleh cahaya dari tubuh Freya. Dan menghangatkan seluruh hati manusia yang berada di dalam colloseum ini, termasuk aku.
Sungguh, aku baru ingat kalau kedua istriku juga merupakan entitas suci. Hal-hal seperti memberikan "Ketenangan Jiwa" sudah pasti bisa mereka lakukan.
Sekarang, di mataku dan mata para hadirin yang menyaksikan ini, sudah menganggap Freya sebagai Dewi Penenang Hati.
Selesai berdoa, cahaya mulai menghilang dari tubuh Freya dan keadaan malam kembali gelap seperti biasa.
Meski begitu, berkas cahaya masih meninggalkan sisa di tubuh para prajurit itu, menghilang secara perlahan seolah-olah masuk ke dalam tubuh mereka, dan memberikan mereka kekuatan serta semangat.
"Se-Sembah Dewi Freya!!"
Seseorang tiba-tiba gila dan berteriak untuk menyuruh semua orang menyembah istriku.
(Sungguh, apa yang dia pikirkan sampai mau melakukan hal itu?)
__ADS_1
Tapi berbeda dengan pemikiranku, semua orang di colloseum — termasuk para mantan prajurit, polisi, dan bangsawan — benar-benar bersujud di hadapan kami.
Menempelkan hidung serta bibir mereka ke lantai, untuk melakukan posisi bersujud yang benar.
Eh!? —Aku hanya bisa terkejut.
Aku melihat ke arah istriku, Freya. Di sana, dia tersenyum hangat. Memandang semua orang dengan pancaran penuh kasih.
Tidak sepertiku, dia tidak heran. Justru sebaliknya, dia terlihat sangat biasa-biasa saja seperti itu adalah hal normal.
*
Yah, semenjak saat itu, keluarga kami tidak dianggap seperti keluarga biasa pada umumnya. Status kami sudah melesat tinggi berkat Freya.
Saat ini, kami sudah memulai rencana.
Para bangsawan sudah dikirim ke negeri mereka masing-masing untuk memberitakan kabar baik bagi setiap keluarga prajurit itu.
Mereka yang ingin bertemu, kami akan membantu mengurus transportasi serta perpindahan mereka ke tanah ini.
Untuk keluarga yang memiliki bisnis di kampung halamannya, harus memikirkan sendiri cara terbaik untuk menangani itu.
Seperti halnya bangsawan. Pekerjaan mereka dalam mengurus wilayahnya tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Oleh karena itu, kebanyakan mereka menyerahkan status itu kepada kerabat atau teman. Atau bisa juga keluarga mereka sendiri yang mengurusnya.
Jadi, orang yang tinggal di sini hanya orang yang pernah ikut dalam perang.
Meski begitu. Mengingat kembali tentang apa yang Freya katakan di dalam pidatonya membuat aku hampir menangis.
Mereka diperbolehkan bebas memilih untuk tetap hidup di sini atau kembali ke kampung halaman.
Sejujurnya, aku sangat tidak setuju dengan keputusan itu karena tubuh Homunculus merupakan benda berharga.
Hanya dengan menjadi kuli bangunan tentu saja tidak akan bisa melunasi pembayarannya.
Hanya saja, aku tetap diam dan mengikuti keputusan Freya.
Terakhir kali, dia memiliki pemikiran sendiri dan melarang aku untuk membunuh. Dan pada akhirnya, keputusan yang dia buat merupakan pilihan tepat.
Jadi sekarang, aku tidak akan mengeluh ketika dia sudah membuat keputusan.
Lagipula, jika Freya tidak mengatakan hal itu, sejumlah orang tampaknya tidak memiliki niat untuk hidup.
Mungkin mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki keluarga, itu sebabnya mereka tidak memiliki alasan untuk tetap hidup.
Baru bangkit dari kematian langsung disuruh untuk menjadi kuli bangunan, itu tidak jauh berbeda dengan perlakuan terhadap budak.
Mau bagaimana lagi, kami tidak memiliki tempat tinggal untuk mereka. Jika mereka ingin tempat untuk berteduh, mereka harus membuatnya sendiri.
Tapi aku mengerti kalau dalam keadaan seperti itu, mereka pasti tidak bisa berfikir demikian.
Jika itu aku, mungkin aku juga akan seperti itu. Aku tidak akan langsung percaya pada ucapan orang misterius.
Aku pasti akan menganggap ucapan itu hanyalah kebohongan belaka untuk mendorong kami agar mau bekerja dengan baik. Semacam cuci otak.
Yah, tapi itu tidak perlu dikhawatirkan lagi sekarang.
Mereka sudah mulai bekerja dengan cukup baik. Ketiga Dwarf — Sam, Rudo, dan Marlof — akan mengatur pekerjaan mereka.
Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkan pembangunan kota baru tersebut.
Ah, ngomong-ngomong, Kaisar dari Kekaisaran Karamia, George Durans Karamia, telah dieksekusi sebagai bentuk tanggung jawab atas kekalahan mereka dalam perang.
Meski aku sudah membangkitkan prajuritnya, kami masih merahasiakan kebangkitan mereka dari kabar dunia.
Kami menggunakan metode memanggil keluarga mereka dengan cara antar muka.
Bagi prajurit yang memiliki keluarga dan ingin bertemu dengan keluarganya, mereka bisa membuat pesan dengan tanda tangan agar lebih mudah dikenali oleh pihak keluarga mereka.
Dan bila ada keluarga yang ingin bertemu, mereka harus menutup mulut untuk merahasiakan perihal kebangkitan.
Yah, bahkan meski mereka membocorkan hal itu, tampaknya orang-orang pasti tidak akan mempercayai mereka dengan mudah.
(Seseorang telah menghidupkan kembali ratusan ribu manusia yang telah mati!!) —Itu terdengar seperti cerita yang dibuat-buat.
__ADS_1