
Sebelum Tristan pulang, kita sempat membicarakan alat portal teleportasi. Karena benda itu memudahkan orang biasa dalam melakukan transportasi antar ruang dimensi, benda itu menarik minat Tristan. Dan kita membahas untuk memasang alat itu di setiap guild untuk keperluan darurat.
Kurasa, kami bisa mengganti bahan baku pembuatannya dengan bahan yang lebih mudah dijangkau harganya. Namun sebagai gantinya, kristal Mana berkapasitas besar harus dipasang untuk menunjang sihirnya.
Sebenarnya guild juga punya tempat untuk portal teleportasi. Tepatnya lebih seperti sebuah Altar dan juga menggunakan kristal Mana.
Itu tidak ada bedanya dengan alat kami. Justru alatku lebih boros karena menggunakan bahan langka sebagai material pembuatannya.
Yah, Itu salah satu alat yang dibuat untuk memudahkan mitra bisnis dari luar benua datang ke sini. Sejak awal aku tidak bermaksud untuk memperbanyak jumlahnya.
Sekarang, karena Tristan meminta untuk dibuatkan dalam jumlah banyak, aku akan membuatnya dengan bahan logam biasa, berukuran kecil, dan bisa dipindahkan.
Setelah para tamu kami kembali ke daerah asal mereka masing-masing, aku menemui istri dan anak-anakku di gedung perpustakaan.
Sekarang sekitar jam 10 pagi. Atla dan anak-anak yang lain masih dalam kegiatan belajar mengajar untuk meningkatkan nilai akademis mereka.
Ngomong-ngomong, isi buku di perpustakaan kastil tidak semuanya utuh. Ada beberapa buku yang kosong, tidak ada isinya, dan ada juga buku yang sebagian isinya terhapus.
Aku tidak tahu hal itu disebabkan oleh apa. Apa mungkin hak paten juga ada di dunia ini? Atau mungkin memang dari awal buku itu sudah kosong tidak ada isinya.
Apapun itu, pada akhirnya kami hanya menggunakan perpusatakaannya saja sebagai kelas untuk anak-anak belajar. Baik itu pengetahuan tentang teori ilmiah maupun sihir.
"Merlin, Freya! Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan kalian dan anak-anak. Setelah selesai belajar, kalian datang ke kantorku, ok."
Masuk ke dalam kelas, aku langsung menyuruh mereka untuk datang ke kantor. Padahal aku bisa menyuruh Rin atau Luminous untuk melakukan ini, tidak perlu repot-repot berjalan ke perpustakaan. Tapi aku tidak memilih itu, karena aku ingin se-sekali melihat anak-anak belajar.
"Ayah, lihat besi itu bisa menempel!"
"Besi? Oh, magnet, ya?"
Seperti yang diharapkan, Alice langsung menghampiri ku untuk memamerkan kegiatan mereka.
Magnet, ya... Aku tidak tahu apakah fisika dapat bermanfaat atau tidak untuk anak-anak seusia mereka. Tapi kupikir pengetahuan umum seperti itu tidak apa untuk dipelajari.
Mungkin saja mereka bisa menjadi lebih kuat dengan adanya pengetahuan magnetik. Jika mereka melawan sejumlah manusia bersenjata, dengan sihir magnet mereka bisa mengambil sejumlah senjata itu dari tangan musuh. Setelah itu, pertengkaran pasti akan menjadi lebih mudah.
"Apakah itu sesuatu yang sangat penting? Sebenarnya setelah mengajarkan mantra sihir magnetik, kelas akan berakhir."
Huh? Mereka benar-benar akan belajar sihir magnetik? Tidak, ternyata sihir seperti itu ternyata memang ada!! Kenapa kelas ini begitu hebat? Bahkan sihir dengan kajian fisika juga ada di sini.
"Aku ingin kita menentukan status wali anak-anak sekarang."
"Ha!?"
"Fufu, sudah saatnya, ya."
Ketika aku mengatakan tujuanku memanggil mereka ke kantor untuk memutuskan status kewalian mereka, Freya menjadi terlihat panik. Dan Merlin sebaliknya, justru dia sangat percaya diri.
Hari ini aku ingin mengkonfirmasi status wali anak-anak. Tentu saja anak-anak harus diikutsertakan dalam hal ini karena mereka sendiri yang harus memilih siapa yang akan menjadi ibu mereka.
Setelah ini anak-anak tidak akan bingung lagi ketika ditanya siapa ibu mereka.
"Tunggu, tidak bisakah kita putuskan itu nanti?"
"Nanti, kapan?"
"Pokoknya, tolong diundur sedikit lebih lama lagi. Aku masih belum siap sekarang!"
"Tidak bisa. Kita harus putuskan hal ini sekarang."
Freya mengutarakan keberatannya. Dia langsung memohon setelah menghampiriku.
"Frey, ayo kita putuskan sekarang."
"Tapi aku masih belum siap sekarang, ughh..."
Bahkan Merlin juga ikut membujuknya dengan panggilan kasih sayang. Namun Freya tampak enggan untuk menentukan hal itu sekarang. Dia memelukku dengan erat dan tubuhnya agak berat seperti tidak memiliki tenaga untuk berdiri sendiri.
"Maaf, Freya. Kita tidak bisa mengulur hal ini terus. Kesian Atla, Eren, dan Alice nanti. Lagipula, ini bukan seperti kalian tidak bisa merawat anak-anak lagi. Setelah ini dan seterusnya, kalian masih tetap menjadi orang tua dari mereka bertiga."
Benar, kami hanya ingin status identitas keluarga anak-anak diperjelas. Dan hal ini sudah kami bicarakan sejak lama. Akan tetapi, tampaknya Freya sangat terganggu karena dia mengira mungkin saja dia tidak dipilih oleh siapapun.
Itu memang sangat menakutkan, sih. Bagaimanapun Freya juga ikut andil dalam membesarkan anak-anak. Walaupun ini hanya untuk sekedar status, tapi ini sangat berpengaruh terhadap Freya.
Entah kenapa pembicaraan ini seperti ketiga anak sudah memutuskan akan memilih Merlin, padahal mereka belum memilih, dan belum tentu juga Freya tidak dipilih.
Tapi entah kenapa kami bertiga seperti setuju kalau Merlin adalah ibu yang cocok untuk mereka.
(Apa ini salahku karena membuat Merlin dengan deskripsi karakter keibuan yang kuat?)
"Baiklah, aku mengerti."
Freya akhirnya menyetujui hal ini, dengan wajah tanpa harapan.
"Ayah, jangan membully Mama terus!"
"Iya, Mama kasihan."
Atla dan Eren tiba-tiba mengutarakan ketidaksenangan mereka.
__ADS_1
"Eh, padahal aku tidak membully Freya."
"Tapi Ayah selalu membuat Mama hampir menangis!"
"Benar!"
Mereka mengerti hal-hal seperti itu? Tapi bukankah seharusnya kalian memarahi Merlin dulu baru aku? Bagaimanapun itu terlihat, Merlin selalu saja menggoda orang lain. Dan dia paling sering membuat Freya menangis.
Tapi, yaudahlah, jika aku tidak meminta maaf, mereka hanya akan terus memberikan sikap negatif mereka kepadaku.
"Ok, baiklah. Aku minta maaf Freya. Tolong maafkan aku."
"Haha, iya, aku akan memaafkan mu. Chu ❤❤❤"
Freya terlihat geli dengan aku yang meminta maaf karena tekanan anak-anak padahal aku tidak salah. Kemudian dia mencium pipiku untuk memperlihatkan kalau kami sudah berbaikan.
Pada saat itu, wajah Atla, Eren, dan Natalie tersipu melihat Freya menciumku. Bukankah mereka anak-anak yang manis? Aku tahu kalau mereka pasti sudah mengerti apa itu "cinta". Berbeda dengan Alice dan Claris yang tidak memiliki reaksi, berpikir kalau melakukan hal seperti ciuman itu adalah hal yang umum.
Bagaimana dengan anak laki-laki? Mereka membuang muka sambil menggaruk kepala, jadi tidak terlihat.
"Em, jadi bagaimana dengan kelasnya?"
Dari arah meja, di sebelah Merlin. Eliza bertanya tentang kelanjutan kegiatan belajarnya.
"Maaf, Eliza. Tampaknya kami harus menyelesaikan masalah ini dulu."
"Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan?"
"Hanya ingin memperjelas situasi. Kamu, Natalie, dan yang lainnya bisa mengakhiri kelasnya."
"Baiklah."
Merlin berbicara menggantikanku.
Ngomong-ngomong, Eliza juga ikut merawat Atla, Eren, dan Alice. Dalam prihal ini, apakah dia juga masuk ke dalam masalah ini?
Tapi dia belum menjadi istriku, jadi dia belum bisa memenuhi persyaratan untuk menjadi wali anak-anak.
Berbicara tentang status Eliza di hirarki keluarga. Dia bisa dikatakan sebagai calon istriku di dunia ini karena sebelum Freya mencintaiku, Eliza sudah menyatakan cintanya duluan dan sedang belajar dengan Merlin supaya bisa menjadi istri yang baik untukku.
Freya sudah tahu tentang hal ini, jadi dia seharusnya memperbolehkan Eliza menjadi istriku, kan? Seharusnya begitu, kan?
Bahkan sampai saat ini, Eliza masih berusaha belajar menjadi istri yang baik. Dia tidak pernah melupakan tugas itu sampai detik ini.
Padahal kupikir Eliza sudah bisa menjadi istri yang ideal. Tubuh ramping, wajah dewasa, dada dan bokong sudah memenuhi tipeku. Dia adalah perempuan yang sudah siap untuk menikah.
Benar juga, bukankah ini hanya tinggal menunggu keputusan dariku? Aku hanya perlu berkata "Eliza sudah siap menjadi istriku." Kepada Merlin dan Freya, kan?
Kupikir tidak mungkin bisa semudah itu, ya. Jika aku bisa berbicara dengan mudah seperti itu, aku pasti sudah lama menikahi Titania.
Apalagi sekarang Merlin dan Freya sedang mengandung. Mungkin akan berakibat buruk jika aku membicarakan hal itu sekarang.
Baiklah, kesampingkan itu.
Kami mengakhiri kelas dan membawa anak-anak ke kamar mereka. Pada saat itu mereka tampak bingung dan terus saja bertanya, tapi kami tidak menjawabnya dan membuat mereka semakin penasaran.
Ketika sudah di dalam kamar, Merlin dan Freya berdiri di sisi lain ruangan. Sedangkan aku, Atla, Eren, dan Alice berdiri di sisi lain mereka.
"Atla, Eren, Alice, sekarang masing-masing dari kalian harus memilih, siapa diantara Merlin dan Freya yang ingin kalian jadikan ibu."
"Huh?"
"Memilih ibu?"
"Ibu."
Mereka tampak kebingungan. Itu tidak bisa dipungkiri karena mereka sudah terbiasa memiliki tiga orang tua.
Namun kami sudah sering menjelaskan kalau keluarga yang benar cuma memiliki satu ibu dan satu ayah, oleh karena itu aku hanya perlu menjelaskannya sedikit agar mereka dapat mengerti bahwa ini hanya untuk memperjelas identitas diri.
"Ayah, aku sudah mengerti."
Setelah menjelaskan dengan hati-hati, akhirnya Eren dapat mengerti. Itu bukan sesuatu yang sulit karena seharusnya mereka bisa melihat keluarga lainnya, masing-masing cuma punya dua orang tua.
"Baiklah Eren, kamu bisa lebih dulu memilih. Merlin atau Freya yang akan menjadi ibu kamu."
"Iya."
Eren berjalan menghampiri Merlin, tanpa keraguan sama sekali. Itu sudah masuk ke dalam perkiraan kami, jadi tidak ada hal yang mengejutkan kecuali jika Eren memilih Freya, atau Eliza, atau Titania.
Jika Eren memilih Titania hanya karena Titania adalah iblis, Merlin dan Freya pasti akan bertengkar denganku.
"Mama, aku memang memilih ibu sebagai ibu untukku. Tapi bukan berarti aku membencimu. Aku juga mencintai Mama."
"Iya, aku mengerti."
Setelah menghampiri Merlin dan menciumnya, Eren melihat Freya memandangnya dengan senyum pasrah. Itu mungkin membuat Eren berempati dan menghampiri Freya untuk menciumnya juga.
Anak itu bisa menghibur orang dewasa dengan baik. Aku seperti melihat sifat Merlin sudah sangat melekat pada diri Eren.
__ADS_1
Sekarang giliran Atla untuk memilih, kita bisa menempatkan giliran Alice di akhir.
Atla, secara esensial sudah seperti Freya. Baik itu kepribadian, kemampuan, dan keahlian. Semuanya hampir mirip seperti karakter Freya.
Dari dulu sampai sekarang, Atla selalu ingin menjadi kakak yang melindungi adik-adiknya. Itu sebabnya dia belajar skill dari Freya — dimana kebanyakan skillnya untuk melindungi — dan selalu mendengarkan nasihat Freya.
Bahkan dalam istilah game, kelas Freya sebagai Holy Knight juga ingin dipelajari oleh Atla. Karena bagaimanapun juga skill skillnya sudah termasuk ke dalam kelas tersebut.
Hanya saja Atla bukan makhluk suci. Jadi Merlin dan Freya menggunakan klasifikasi lain yang disebut Dark Knight dan memodifikasi beberapa keterampilan Freya agar dapat digunakan oleh Atla.
(Sekarang, siapa yang akan Atla pilih?)
Dia terlihat bingung, dilema dengan kedua orang tua yang sangat baik. Jika aku berada di posisinya, aku pasti akan berakhir sama seperti itu.
"Uh... Um..."
"Tidak apa, Sayang. Siapapun yang kamu pilih, itu tidak akan mengubah apapun. Jadi datang saja dan pilih sesukamu."
Selagi Atla bolak balik menatap Merlin dan Freya dengan gelisah, Freya mencoba menenangkannya.
Namun dalam kata-katanya, aku melihat bibir Freya gemetar untuk sesaat. Dia menenangkan Atla padahal dirinya sendiri tidak tenang?
"Kuu... Baiklah."
Atla menguatkan diri dan berlari ke arah Merlin dengan mata tertutup. Kemudian Merlin menangkapnya dan menciumnya sambil mengatakan "Terimakasih sudah memilih aku. Mulai sekarang dan seterusnya, tolong jaga ibu.".
Dia mengatakan hal itu ke telinga Atla dan Eren.
Di sisi lain, Freya tersenyum senang melihat mereka berpelukan. Namun sebuah air mata turun dengan cepat melewati pipinya.
Itu benar-benar menyakitkan untuk Freya? Aku ingin bilang kalau dia terlalu sentimen, tapi aku tidak berada di posisinya. Jadi aku memilih diam.
Tidak ada hal yang bisa aku lakukan untuk Freya, karena itu bukan sesuatu yang bisa ditangani hanya dengan hiburan sederhana.
Dan juga, itu bukanlah sebuah masalah, justru sebaliknya. Kami baru saja menyelesaikan masalah untuk status anak-anak. Mungkin itu yang membuat Freya tersenyum padahal dia merasa terkalahkan.
(Yah, aku akan mengajak dia jalan-jalan nanti.)
Setelah Freya ditenangkan oleh Atla, Eren, dan Merlin — sekarang giliran Alice untuk memilih.
Sejak awal, aku selalu memegang tangannya, dan menjelaskan setiap kejadian yang tidak dimengerti olehnya.
Dibanding dengan Atla atau Eren, Alice ingin menjadi kuat seperti aku. Dia bahkan sampai meminta Armored Gauntlet sebagai alat bertarungnya, supaya gaya bertarung kita sama.
Sedangkan aku sendiri tidak terlalu kuat, menurutku. Selain itu, aku ingin sekali bertanya tentang Gauntlet miliknya. Kenapa itu bisa digunakan olehnya padahal Mark dan Gale saja tidak bisa menggunakan barang sekelas itu.
"Baiklah, Alice. Sekarang kamu boleh memilih, Ibu atau Mama yang akan menjadi... Orang tua kamu (?)."
"Aku mau Mama... Mama!!"
Pada saat aku menyuruh memilih dan melepaskan tangannya, Alice langsung berlari ke arah Freya, berteriak, dan memeluk Freya.
(Kupikir, dia akan memilih Merlin.)
Kami salah perkiraan, tapi itu bagus. Sekarang Freya tidak sendirian.
"Alice, kamu tidak suka denganku?"
Dari arah samping, Merlin bertanya.
"Uh, aku..."
Dan entah kenapa, Alice ketakutan akan pertanyaan itu. Dia menjadi ragu, dan mulai melangkah untuk menghampiri Merlin.
"Merlin! jangan kamu rebut Alice juga dariku. Biarkan aku memiliki satu..."
Sambil memelas, Freya mencegah Alice pergi ke sisi Merlin. Dia tampak menyedihkan.
Ada apa dengan drama ini, Merlin terlihat seperti Ratu jahat yang sedang mengganggu selir dan putrinya.
"Aku juga mencintai ibu."
Mengesampingkan adegan mereka, Freya membiarkan Alice menghampiri Merlin untuk menjawab pertanyaannya. Namun Alice terlihat ketakutan.
"Sepertinya aku terlalu tegas denganmu, Alice. Maafkan aku."
"Tidak apa-apa, Ibu."
"Sungguh?"
"Uhm, kalo bisa aku ingin Ibu tidak selalu melarangku bermain."
"Hmm~, apakah kamu baru saja menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan kebebasan?"
"..."
(Eh, ada apa itu?)
Merlin tampaknya mengetahui motif tersembunyi Alice. Berpura-pura takut dan terlihat murung, namun pada kenyataannya dia hanya tidak ingin mendapatkan larangan bermain dari Merlin. Kemudian ketika motifnya diketahui, dia langsung malu dan membuang muka?
__ADS_1
(Cara licik seperti itu, dia belajar dari siapa?)