Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
He-Hebat!!


__ADS_3

Pagi hari ini sedikit tidak biasa.


Aku, Atla, anak tertua keluarga Testalia. Aku bersama dengan ke-dua adik-adikku sedang bermain di dalam kamar.


Tidak, lebih tepatnya aku sudah punya tiga adik. Karena Nava adalah bagian dari keluarga kami juga, meski kakak Rin selaku ibunya Nava tidak menikahi Ayah, Nava tetaplah anak yang Ayah beri nama Testalia.


Yah, sebenarnya aku kurang mengerti. Kami hanya diberi tahu kalau Nava juga bisa berbicara dan memahami bahasa manusia ketika sudah cukup besar nanti.


Sekarang...


"Bagaimana kalau kita menyuruh Nava untuk membesarkan tubuhnya sedikit?"


"Gao."


"Kenapa kamu ingin dia menjadi besar?"


Kami sedang mengobrol di atas kasur, dan tiba-tiba Alice mengusulkan hal aneh.


"Aku ingin menaikinya."


"Gao."


"Itu tidak baik, tahu. Aku tidak memperbolehkan kamu menaiki Nava."


Dan dia menginginkan sesuatu yang aneh. Sebagai kakaknya, aku setiap hari mencegah Alice melakukan hal-hal tidak baik.


Namun, aku takut kalau dia akan membenciku karena pendisiplinan ku tersebut. Aku hanya terus berpikir sebagai kakaknya, aku harus mengajari adik-adikku berprilaku baik.


"Dia selalu bisa memikirkan hal hebat."


"Kamu berpikir itu hebat?"


"Tidak, maksudku, Alice selalu bisa berpikir beda dari kita."


"Yah, itu mungkin karena kepribadiannya yang selalu ingin melakukan hal menyenangkan. Tapi, kamu tidak berpikir untuk menunggangi Nava juga, kan? Wajahmu kelihatannya sedang menantikan hal itu!"


"A-Aku tidak menantikannya."


Dan ternyata, Eren juga setuju dengan usulan Alice. Menurut ayah, Nava sebenarnya memiliki tubuh besar seperti Alice, dan jika Alice sedikit mengajari Nava bagaimana cara mengubah ukuran tubuh, mungkin saja Nava bisa melakukannya. Tapi tetap saja, itu tidak baik naik di atas tubuh adik sendiri, kan?


Mungkin saja kakak Rin bisa marahi kami nanti.


Pokoknya, tugas aku sebagai kakak adalah mencegah adik-adikku berprilaku buruk.


"Selamat pagi, anak-anak!"


"Selamat pagi!" ×3


"Gao."


Tidak lama kemudian, Mama masuk ke kamar bersama dengan Ibu, Rin, Kaguya, dan Titania. Seperti biasa, mereka datang ke sini untuk merawat kami.


"Tumben kalian akur di atas kasur, kalian sudah mencuci muka, kan?"


"K-Kami hanya penasaran dengan pertumbuhan Nava."


"Benar, kami tidak bermaksud jahat, kok."


"Hm?"


Kami tidak bisa bilang kalau kami sedang merencanakan suatu hal buruk.


Setelah itu, seperti biasa mereka merawat kami, menata rambut kami, dan membantu kami mengenakan pakaian.


Hari ini kami tidak memiliki kegiatan terjadwal (sedang libur), dan kami bisa dengan bebas melakukan hal apapun setelah mereka —Mama, Ibu, dan para kakak perempuan ini — merawat kami.


"Kamu ingin ke mana?"


"Aku ingin minum."


Karena itu, aku langsung pergi dari kamar dan menuju ke ruang makan.


Tapi aku tidak menemukan Ayah di manapun. Kadang-kadang dia ikut merawat kami, atau sudah berada di ruang makan lebih dulu untuk sarapan. Namun kali ini dia tidak ada.


Aku berpikir, dia mungkin saja sudah pergi untuk bekerja, dan sempat melihat kalau piringnya di meja masih belum dibereskan oleh para maid. Itu berarti dia baru saja pergi dari ruang makan. Aku mencoba untuk mengejarnya ke lantai satu dan kemudian menemukan Ayah berjalan ke pintu keluar.


Akhirnya terkejar, aku sebenarnya sangat ingin melihat Ayah bekerja. Oleh karena itu, kesempatan bertemu seperti ini sangat jarang sekali terjadi. Adik-Adikku juga sedang tidak mengikuti, tidak ada halangan lagi untuk ikut dengan Ayah.


Aku mengejar Ayah ke luar pintu dan menemukan dia sedang berbicara dengan satu orang asing.


"Eh? Kenapa kamu berlari, Atla?"


"A-Aku, Aku ingin tahu Ayah mau ke mana?"


"Aku ingin pergi ke tokonya Martin, memangnya kenapa?"


"Boleh aku ikut?"


"Apa karena itu kamu mengejar aku sampai sini? Baiklah kalau begitu, ke sini."


Yes, Ayah memang sangat baik. Aku menghampiri Ayah ke atas sesuatu yang disebut portal teleportasi. Itu hampir saja aku tertinggal, beruntung aku sempat mengejarnya.


"Apa yang harus dilakukan ketika kamu ingin pergi ke luar kastil?"


"Menyembunyikan tanduk dan aura, lalu membawa senjata."


"Bagus. Karena kamu bersama dengan Ayah, senjata tidak diperlukan."


Fufu, Ayah tidak tahu kalau sebenarnya kami sudah bisa menggunakan senjata kami masing-masing. Sekarang ke-tiga alat itu bahkan sudah berada di tubuhku. Hanya Mama saja yang tahu soal ini karena kami bisa menggunakan senjata ini karena diajarin Kakek dan Nenek.


Setelah aku menyembunyikan tanduk dan auraku, Ayah langsung mengirim kami pergi. Kemudian kami tiba di sebuah ruangan besar dan langsung disambut oleh orang-orang di ruangan tersebut.


Kami pindah lokasi ke ruangan yang lebih enak untuk mengobrol. Kami juga disuguhkan teh dan makanan ringan.

__ADS_1


Aku ingat kalau aku belum makan, makanan ringan ini setidaknya membantu ku menghilang rasa lapar.


Itu adalah apa yang aku pikirkan. Namun setelahnya...


"Kamu pasti belum sarapan, kan? Kalau begitu pesan makanan aja."


"I-Iya."


Ayah menyuruhku untuk sarapan. Memang, sejak kami berevolusi, faktor makanan tampaknya mempengaruhi pertumbuhan kami. Seperti ada beberapa syarat untuk berevolusi, dan salah satunya adalah mengkonsumsi makanan dalam jumlah tertentu.


Oleh karena itu kami perlu makan teratur atau kami akan telat tumbuh.


"Bagaimana keadaan harga kristal Mana di pasar?"


"Hehe, seperti yang Anda harapkan, Guild Pedagang mengurus kristal Mana dari Anda dan menurunkan harganya sampai setengah. Sekarang sudah banyak orang membeli kristal Mana dengan Guild Pedagang dan mereka sangat dipercaya."


"itu bagus."


"Meski begitu, aku mendapat laporan dari Irina kalau sejumlah besar bangsawan dan bahkan beberapa keluarga kerajaan di benua Slavia mengajukan keluhannya ke Guild Pedagang. Namun itu semua diurus oleh Guild Petualang."


"Fufu, aku tahu orang-orang yang suka menaikkan harga kristal Mana pasti akan mengeluh, oleh karena itu aku lebih memilih mengintegrasikan Guild Pedagang dengan Guild Petualang untuk mendapatkan perlindungan dari Asosiasi Petualang. Sekarang Tristan pasti sedang kesal karena aku sudah melimpahkan banyak sekali urusan orang-orang seperti itu kepadanya."


"Seperti yang diharapkan dari Paduka Albert."


Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi ayah sepertinya terlihat sangat senang dengan sesuatu.


Mama pernah bilang kalau ada beberapa prilaku Ayah yang tidak boleh aku tiru, dan aku entah kenapa sangat yakin kalau salah satu di antaranya adalah ini.


"Apa Anda tidak takut kalau-kalau Asosiasi berbuat seenaknya? Biasanya Anda perlu organisasi kotor untuk menertibkan tindakan seperti itu."


"Apa yang dikatakan oleh Paduka Frederick benar, Tuan Albert. Karena organisasi mereka sejak awal sudah besar, mereka bisa saja mengendalikan pasar sesuka mereka. Meskipun Tuan Pahlawan sudah pasti tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti itu, akan tetapi orang-orang dari organisasinya pasti akan ada yang tergoda."


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan, aku TIDAK TAHU sama sekali."


"Eh, maksudku, mereka bisa saja memonopoli ekonomi dunia kalau tidak ada organisasi yang bersaing dengan mereka, dan organisasi yang... Bisa mencegah mereka berbuat seenaknya. Jika itu sampai terjadi, usaha anda akan sia-sia."


"Bukan itu, aku sudah bilang kalau aku TIDAK TAHU sama sekali dengan apa yang sedang kalian bicarakan. Apa perlu aku tegaskan sekali lagi?"


"Ah! Mohon maafkan kami, Yang Mulia."


Mereka membuat Ayah marah, dan langsung membungkuk. Aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa, tapi ayah terlihat sangat menyeramkan kalau lagi marah.


Meski begitu, kenapa mereka berdua melihat ke arahku dulu, baru setelah itu mereka meminta maaf?


"Sudahlah, mari bicarakan tujuanku datang ke sini. Aku sebenarnya ingin membahas pengaturan pesta jamuan untuk debut anak-anakku ke kalangan sosial. Aku ingin kalian berdua mengatur hal itu untukku."


"Baik, Yang Mulia." ×2


Setelah itu mereka mengobrol seperti biasa. Selagi sarapan dengan roti, daging, telur, dan susu, aku mendengarkan percakapan mereka dan sedikit memahami apa yang ingin mereka lakukan.


Sepertinya kami akan dipertemukan dengan keluarga serta anak-anak dari bangsawan Kekaisaran Dortos.


Aku tidak bisa bilang itu hanya sekedar pesta perayaan biasa, hanya saja Ayah selalu melakukan sesuatu untuk keuntungan. Jadi, pasti ada alasan kenapa kami dikenalkan ke mereka.


"... Mau!"


Setelah menyelesaikan sarapan dan menunggu Ayah mengobrol cukup lama, akhirnya Ayah mengajak aku pergi jalan-jalan.


Sebenarnya aku hanya ingin melihat pekerjaan Ayah seperti apa, tapi ternyata itu membosankan. Tidak, sejak awal aku telah salah mengira kalau ternyata tujuan dia ke sini, bukan ke kota di dekat laut yang sering dia bicarakan.


Kami keluar gedung dan menemukan banyak sekali orang sedang beraktivitas. Berbelanja, berangkat kerja, dan bahkan pulang dari kerjaan dengan tubuh compang-camping. Banyak sekali jenis aktivitas orang-orang di ibukota.


"Ayah, kita mau ke mana?"


"Ke tempat yang ingin sekali kalian kunjungi."


"Huh? Apa itu Guild Petualang?"


"Benar."


Woah, akhirnya kami diizinkan ke tempat itu! Tempat perkumpulan orang yang suka berpetualang!


Ayah dan yang lainnya suka bercerita tentang petualangan mereka, dan itu memberikan motivasi kepada kami untuk berpetualang.


Petualangan itu sungguh menakjubkan, kita melakukan kunjungan ke berbagai tempat dan menikmati hidup di sana. Belajar tentang banyaknya budaya, mencoba berbagai macam makanan, dan membantu orang-orang dalam kesulitan. Itu adalah pekerjaan mulia dan menyenangkan di jaman sekarang.


Kami harus mengikuti langkah orang tua kami dalam membantu menyelesaikan masalah di masyarakat. Karena bagaimanapun juga, kami merupakan bagian dari keluarga pemerintahan.


"Tuan, lama tidak bertemu!"


Seorang penjual buah-buahan menyapa Ayahku dari dalam tokonya, dia masih anak-anak.


"Nico, ya. Sudah lama sekali. Kamu menjaga toko sendirian?"


"Iya, Ayahku sedang sibuk mengurus stok yang ingin dikirim ke kota-kota jauh."


"Terdengar bagus. Itu berarti bisnis kalian berkembang, kan?"


"Iya, berkat Anda, Ayah bisa memperluas lahan perkebunan dan merekrut lebih banyak pekerja. Orang-orang di desa kami sangat berterimakasih."


"Aku senang mendengarnya."


"Apa gadis di sana adalah anak Anda?"


"Benar. Dia putriku, Atla."


"Hee, kalau begitu... Aku ingin kamu menerima ini."


Anak si penjual buah-buahan itu mengambil keranjang dan mengisinya dengan barang dagangannya, kemudian dia menyerahkan keranjang penuh dengan buah-buahan itu kepadaku.


Sebelum aku bisa menerimanya, aku melihat ke arah Ayah untuk mendapatkan penjelasan lebih kenapa tiba-tiba anak itu menyerahkan pemberiannya padaku.


"Jika ada seorang kenalan baik yang memeberikan kamu sesuatu, kamu harus menerimanya dengan baik dan berterimakasih. Atau itu akan menjadi tindakan tidak sopan kalau kamu tidak menerimanya."

__ADS_1


Tapi Ayah malah menjelaskan hal lain. Memang, kami diajari untuk tidak menerima sesuatu dari orang asing, orang mencurigakan, dan orang yang mempunyai maksud tertentu. Namun untuk kasus kali ini...


"Terimakasih."


"Tidak, tidak, seharusnya kami yang berterimakasih kepada kalian karena sudah membantu masalah keuangan di desa kami. Buah-buahan ini sebagai ucapan terimakasih kami."


Ternyata itu sebuah pemberian untuk membalas kebaikan Ayahku.


Begitu, ya. Ayahku memang hebat. Semua orang berterimakasih padanya. Tidak, aku berkata sungguhan, Ayahku memang benar-benar hebat. Selagi kami berjalan menuju ke Guild Petualang, sejumlah pedagang di kota dan bahkan beberapa warganya, memberikan sesuatu kepada kami, di sepanjang jalan.


Apa itu, dia sangat populer! Apa yang dia lakukan sampai bisa disukai oleh banyak orang? Aku bahkan melihat orang berpakaian mahal menundukkan kepalanya kepada kami. Tidak hanya itu, pemberian mereka semakin banyak sampai tidak bisa aku tangani sendiri. Ayah harus membantuku membawa sejumlah pemberian itu tanpa memindahkannya ke dalam sihir.


Ayah kenapa repot-repot membawa pemberian ini? Kalau saja aku punya item penyimpanan, aku pasti memindahkannya ke dalam sana. Ini sudah terlalu banyak untuk kami bawa.


Sampai di depan guild, aku melihat banyak sekali petualang berkumpul di depan. Dan pada saat itu, ayah baru mau memindahkan pemberian orang-orang ke dalam sihirnya.


Huh, kenapa itu tidak dilakukan sejak awal? Tapi kesampingkan itu, aku melihat banyak sekali petualang di sini, dengan pakaian mencolok mereka.


"Kenapa banyak sekali petualang berkumpul di sini?"


"Eh, kau siapa?"


"Kami hanya orang lewat. Sepertinya banyak sekali petualang berperingkat tinggi di sini?"


"Kau bisa menilai kami dari perlengkapan, ya? Sungguh mata yang bagus. Tapi tidak hanya itu, kami juga kuat secara fundamental karena kami adalah petualang peringkat [Orihalcum]. Kami berasal dari luar kerajaan ini, jadi wajar saja bila kau tidak mengenal kami. Yah, sejujurnya kami juga tidak mengenal beberapa petualang di sini."


"Maksudmu tidak mengenal beberapa?"


"Karena alasan yang sama, kami secara kebetulan berkumpul di sini. Beberapa di antara mereka berasal dari negeri yang jauh, tapi kebanyakan berasal dari Kerajaan Karamia dan Dortos."


"Begitu ya. Dan untuk alasan apa kalian datang ke sini?"


"Itu karena kami ingin memusnahkan naga. Semua orang di sini juga ingin melakukan hal yang sama. Hanya saja, Guild Petualang tiba-tiba menjatuhkan larangan untuk tidak membunuh naga. Sungguh perintah yang aneh, bukan? Kenapa petualang tidak boleh membunuh monster yang memusnahkan tentara manusia. Itu sebabnya, kami datang ke sini karena ingin meminta penjelasan."


Ayah berbicara dengan salah satu petualang. Ternyata, mereka datang ke sini untuk menyerang kami!? Bagaimana ini, sebentar lagi akan ada perang!


"Oi, oi, kenapa ada orang tua dan anak-anak di sini?"


(Hiiik, ada orang menyeramkan tiba-tiba mendatangi Ayah!) —Aku agak takut melihat orang bercodet seperti berandal.


"Kurasa kalian tidak akan bisa mengalahkan naga."


"Hah? Kamu baru bilang apa? Leader, dia bilang kita tidak akan bisa mengalahkan naga. Bagaimana menurutmu?"


Orang bercodet itu mengadu ke pemimpinnya. Sungguh, kenapa Ayah malah berurusan dengan mereka? Kita jadi dikelilingi oleh mereka, tahu!!


Aku bersembunyi di belakang Ayah untuk mencari keamanan.


"Kenapa, orang biasa, ya? Biarkan saja, dia palingan hanya ingin membual."


"Bukan itu, aku memperingati kalian untuk mengurungkan niat kalian membunuh naga, atau kalian akan menyesal."


"Apa kau pikir kami ini lemah?"


"Benar, kalian tidak akan bisa mengalahkan satu naga hanya dengan kekuatan segitu."


"Kau ngajak berantem?"


Suasana menjadi semakin riuh setelah Ayah meremehkan mereka.


(Kenapa Ayah, kenapa kamu semakin membuat mereka marah?)


Tunggu, aku tahu. Ini yang sering disebut kekerasan dunia luar, kan? Karena ini kami disuruh berlatih menjadi kuat. Tapi aku tidak tahu kalau manusia akan semengerikan ini!


"Menjengkelkan, kau membuat aku kesal. Ayo kita berduel, aku akan membuat kau mengerti seperti apa kekuatan petualang peringkat [Orihalcum]. Sebagai gantinya, kau harus menyerahkan seluruh harta termasuk putri dan istrimu. Hehehe, dilihat dari penampilan kalian, kalian pasti memiliki barang bagus dan ibu dari anak itu pasti sangat cantik."


Tidak baik, pria itu baru saja memperlihatkan niat jahat di wajahnya. Ditambah lagi, dia ingin ibu dan aku? Itu tidak bisa dimaafkan! Tidak ada yang boleh mengambil ibu dari Ayah.


Setelah pria itu membuat lidahnya menyeka bibir, dia melepas sarung tangan dan melemparkan itu ke Ayah.


"Bang!!"


"Wah!!"


Tapi setelah itu, tiba-tiba saja bumi berguncang hebat dan membuat semua orang panik. Aku bahkan harus memeluk Ayah agar tidak jatuh. Guncang itu benar-benar hebat, seperti Gargantua baru saja terjatuh dari ketinggian.


"Sigh, Niks kau terlalu berlebihan..."


(Apa!? Jadi itu ulah kakak Niks? Di mana dia sekarang?)


"H-Hah, apa yang terjadi barusan?"


"Apa ada naga baru saja turun?"


Mereka semua panik karena guncang hebat itu, sangat ketakutan di atas tanah sehabis terjatuh karena guncangan.


"Hei, terjadi sesuatu di langit!?"


Kemudian seseorang berteriak dan menyuruh kami untuk melihat ke atas. Di langit, terjadi distorsi ruang yang membuat langit seperti mengalami keganjilan aneh. Setelah itu, langit secara perlahan mulai terbelah, atau aku harus mengatakan kalau ada garis hitam membelah cakrawala dan memperlihatkan isi kegelapan di dalamnya.


"Albert, apa sesuatu terjadi?"


Peri keluar dari lubang kegelapan itu bersama dengan ratusan peri lainnya. Dia adalah Ghidora, seekor roh yang baru saja Ayah jadikan bawahan. Para roh lainnya juga merupakan bawahan baru Ayah.


"Aduh! Kenapa kamu memukul kepalaku?"


"Siapa yang memberimu perintah datang ke sini dengan membawa pasukan roh? Cepat kembalikan mereka lagi, kalian menakuti orang-orang di kota ini, tahu!"


Setibanya di hadapan Ayah, Ghidora terkena pukulan karena telah membuat Ayah marah. Tapi karena kehadiran pasukan roh, para petualang menyeramkan itu pergi lari dan membuat kami lebih mudah memasuki guild.


Padahal Ayah sudah repot-repot mengambilkan sarung tangan pemimpin mereka dan mengembalikannya, tapi mereka malah ketakutan dan pergi.


Ghidora juga, ternyata dia datang ke sini karena ingin mencoba skillnya dalam memobilisasi pasukan. Namun, itu membuat Ayah kerepotan karena harus meminta maaf kepada warga di kota ini. Sekarang aku dan Ayah sangat terkenal di kota ini, aku sedikit malu ketika di dalam guild.

__ADS_1


__ADS_2