
Aku menatap mata merah merlin yang sedang berair.
"sudah tenang?"
"maafkan aku, aku..."
"sudah tidak apa, kita sedang berada di tempat orang lain. Lebih baik kita kembali pulang sekarang."
"tapi..."
Sepertinya merlin tampak sangat bersalah di sana. Tapi, jujur saja, aku sendiri tidak terlalu mempermasalahkan itu.
Aku hanya sedikit terkejut karena nyawaku baru saja terancam hanya karena di dorong oleh istri sendiri.
Aku juga sedang berfikir tentang kemampuan seseorang dengan level tinggi seperti merlin. Ternyata, memang sangat berbahaya jika mereka sampai mengeluarkan kemampuan andalan mereka.
Selain itu, ini bisa menjadi pelajaran untukku, jika di masa depan, aku bertemu dengan lawan yang memiliki level tinggi, aku akan langsung mengenakan armor hydra supaya bisa menahan serangan seperti itu.
Dunia lain tidak seindah seperti apa yang aku bayangkan jika tidak berjalan sesuai perkiraan.
Aku melihat merlin yang masih dalam wujud aslinya, fallen angel.
Karena kebiasaannya memakai pakaian berwarna gelap, terkadang dia sering membuat orang lain salah paham. *dan, siapapun yang menyamakan dia dengan iblis, adalah orang kasar!
Rambut perak dengan sayapnya yang berwarna hitam, membuat merlin tampak berbeda.
Aku menghapus air matanya yang berada di pipi, lalu mulai melihat ke arah titania dan bawahannya.
Titania sedang memegang lehernya sambil terbatuk-batuk, dia pasti sudah melakukan sihir restoratif pada lehernya. Namun, tangannya masih dalam keadaan terputus, belum disambung kembali.
Sedangkan rhodes, sejak awal dia tidak sadarkan diri semenjak dihempaskan oleh merlin. Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara merlin melakukannya, aku yakin, kemampuan dari merlin pasti sudah merusak jiwanya.
Lalu pelayannya, sepertinya dia hanya pingsan biasa.
"ayo kita kembali, ini sudah malam."
Merlin mengangguk sebagai jawaban dan kami mulai berdiri.
Sadar akan sesuatu yang penting, aku melihat ke arah titania.
Haruskah aku membunuh orang itu dan bawahannya?
Masalahnya, merlin sudah mengekspos kemampuannya, dan ini akan berbahaya jika diketahui oleh lebih banyak orang. Akan lebih bagus jika aku menghapus mereka untuk menutupi informasi.
Baiklah aku sudah meminta hydra untuk melakukan persiapan dan aku mulai menghampiri mereka.
Maaf saja, aku lebih baik melakukan ini daripada istriku menjadi target incaran.
Ditambah, aku sudah pernah membunuh iblis, meskipun tidak dengan kehendak aku sendiri. Jadi tidak masalah bila aku mengotori tangan sekali lagi.
Aku merentangkan tanganku ke arah titania untuk melakukan sihir api suci seperti sebelumnya karena sihir tersebut sangat efektif terhadap iblis.
"tunggu, tolong tunggu sebentar!"
Sambil berusaha mengangkat suara, titania bertanya.
"ada apa?"
"aku hanya ingin tahu... anda, ras apa yang anda miliki?"
Titania menanyakan hal yang membuat aku bingung.
Seharusnya, dia sudah tahu kalau aku sedang melakukan persiapan untuk membunuhnya, tetapi yang dia tanyakan hanyalah ras dari merlin. Bahkan dia menggunakan kata "anda" di sana untuk menghormati merlin.
Sikapnya yang berubah membuat aku menjadi heran.
"kenapa aku harus memberi tahu sesuatu kepada orang yang ingin mati?"
"itu... Baiklah aku mengerti. Aku hanya ingin meminta maaf karena sudah bersikap tidak sopan."
Titania bertekuk lutut di sana ke arah merlin.
Sikap itu membuat aku semakin penasaran. Dia tidak peduli dengan aku yang ingin membunuhnya, dia justru memperdulikan sikapnya yang tidak sopan terhadap merlin?
Aku melihat merlin yang masih tampak murung menatap ke lantai, dia sama sekali tidak menanggapi titania yang sedang bersujud.
"kau mengetahui sesuatu?"
"sepertinya. Tapi sebelum itu, bolehkah saya bertanya tentang identitas nyonya merlin?"
Titania benar-benar merubah sikapnya menjadi sangat sopan.
Melihat ini, naluriku berkata untuk menanggapi masalah ini dengan serius.
"fallen."
Aku memberi tahunya.
Jika dia tidak mengetahui apa-apa dan hanya mengatakan omong kosong, aku akan langsung menghabisi cewek cantik ini.
Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi.
Titania melihat merlin dengan mata yang melebar setelah aku menjawab pertanyaannya.
Itu pasti indikasi bahwa titania sangat mengetahui sesuatu.
"hei, katakan, apa yang kau ketahui?"
Aku mendesak karena tidak sabar.
"saya akan menceritakannya..."
Setelah itu, titania berbicara banyak tentang masa lalunya.
Dia mengatakan kalau dia adalah salah satu iblis tertua saat ini dan sudah sangat paham tentang silsilah raja iblis. Dan, hal penting yang ingin dia katakan adalah raja iblis pertama memiliki title fallen sama seperti merlin.
Sosok yang diceritakan secara turun temurun selama jutaan tahun ternyata sama persis dengan ciri-ciri yang merlin miliki.
__ADS_1
Bedanya raja iblis pertama adalah laki-laki. Namun, title "fallen" hanya dimiliki oleh raja iblis itu. Setelah itu, bahkan selama jutaan tahun, sudah tidak ada lagi iblis atau makhluk yang memiliki title "fallen".
Ini adalah cerita yang sangat informatif untukku, jadi aku merasa tidak enak untuk membunuh titania.
"baik, aku mengerti. Bisa kamu berjanji satu hal?"
"tolong katakan saja, tuan."
"hmm, aku ingin membunuhmu karena ingin menutupi informasi kami, tapi jika kamu berjanji untuk menjaga rahasia ini, maka kami akan memaafkan kamu."
"terima kasih banyak atas kebaikan anda, tuan. Saya bersumpah atas nama titania viozele salah satu dari 10 keluarga bangsawan agung, saya akan menjaga rahasia ini dengan baik."
Terdengar sangat dapat dipercaya.
Pada akhirnya, aku masih tetap tidak berani membunuh, ya.
Tapi bagaimanapun juga, iblis adalah makhluk spiritual yang terbilang dapat dipercaya. Ketika mereka menjanjikan sumpah, mereka tidak akan melanggarnya. Ini juga berlaku untuk entitas spiritual yang lain. Jadi aku bisa dengan tenang meninggal orang ini.
Aku mulai mengeluarkan buah kebangkitan dari inventaris, lalu aku menyerahkan itu kepada titania.
"itu untuk bawahan kamu yang berbaring di sana."
"ah! S-sekali lagi saya mengucapkan terima kasih."
Ohh seperti yang diharapkan dari salah satu bangsawan agung, dia tampaknya sudah mengetahui kegunaan dari buah tersebut karena tidak bertanya lebih jauh.
"baiklah kalau begitu kami akan pergi."
Aku meraih tangan merlin dan ingin segera pergi, tapi...
"tuan, tolong tunggu sebentar!"
Titania memanggil aku.
"apa lagi? Biar aku perjelas, aku tidak akan memberikan buah itu lagi. Lagi pula, hanya rhodes yang terluka."
"bukan itu, tuan. Sebenarnya, s-saya ingin bekerja untuk nyonya merlin."
"hah, bekerja? Kamu serius? Bukankah kamu adalah bangsawan iblis?"
Benar, gelar dia sebagai bangsawan pasti bukan hanya untuk sebuah pajangan, dia pasti memiliki banyak pekerjaan di sini sebagai salah satu pemimpin wilayah.
"itu tidak apa. Saya bisa menyuruh rhodes untuk melakukan pekerjaan itu, atau sebenarnya, rhodes sudah melakukan itu sejak lama."
"kamu melalaikan tanggung jawab kamu sendiri?"
"i-ini bukan seperti itu, terkadang memang ada perjamuan dengan bangsawan yang lain tetapi saya tidak pernah menghadirinya. Karena saya adalah iblis tertua, tidak ada yang berani menentang saya."
Titania sedang tersenyum berseri-seri. Bukankah itu sama saja? Dia tidak bisa mencari alasan yang lebih bagus.
"dengar, merlin sedang dalam mood yang tidak bagus sekarang, lebih baik kita membahas ini nanti. Kamu bisa datang ke kastil kami besok."
"baik, saya mengerti, tuan. Saya akan datang besok."
Titania adalah iblis bangsawan, ada keunggulan merekrut dia ke pihak kami yaitu kekuatan dan informasi yang dia miliki.
Dia juga mengetahui kegunaan dari buah kebangkitan, jadi aku rasa, dia memiliki nilai.
Meskipun dia terlihat sangat terobsesi dengan merlin dan terlihat tidak memiliki niat untuk melakukan hal itu, tapi ada bagusnya aku berjaga-jaga.
Titania membungkuk di sana, kemudian hydra menggunakan teleportasi untuk keluar dari kastil itu.
Dengan cepat, kami sudah berada di atas kastil kami. Lebih tepatnya kami sedang melayang di udara.
Hydra mengatakan kalau kediaman titania tidak terlalu jauh dari kastil, jadi kami bisa langsung sampai di kastil hanya dengan satu kali sihir teleportasi biasa.
Merlin terlihat masih murung, bahkan dengan keadaan kami yang sedang berada di udara.
Aku menarik tangannya seolah-olah untuk menyuruh merlin melingkarkan tangannya di leherku agar wajah kami dapat bertemu.
"kamu masih memikirkan kejadian sebelumnya?"
Merlin hanya mengangguk di sana sambil membuang muka. Ternyata, memiliki istri yang cantik dan setia juga ada kesulitannya.
Sigh, baiklah, sepertinya aku harus mengambil langkah agresif.
"benar juga, kamu sudah melakukan kesalahan yang paling fatal karena sudah berani memukulku."
Aku berhenti di sana.
Merlin tersentak karena terkejut mendengar itu, wajahnya berubah pucat dan dia ingin menarik diri untuk menjauh dariku. Tetapi aku tidak membiarkan itu dan tetap memeluknya.
Lalu dia menunduk di sana seolah-olah untuk menyembunyikan wajah bersalahnya.
"benar-benar istri yang tidak berbakti, aku akan menghukum kamu karena sudah berbuat kesalahan."
Merlin masih diam, sepertinya dia sedang menyimak perkataan aku. Mungkin dia sedang menunggu hukuman apa yang akan dia dapatkan.
Sebenarnya, aku tidak marah dengan merlin, tapi dengan adanya hukuman, itu bisa meringankan beban pada rasa bersalah yang ada dalam diri merlin. Dengan begitu, aku harap dia bisa berhenti murung karena terus menerus dihantui oleh rasa bersalah.
"baiklah, aku sudah memutuskan hukuman yang paling berat untukmu. Selama seminggu, kamu akan memasak makanan untuk aku, atla, dan eren. Hukuman kamu ini akan dimulai besok pagi, jadi kamu harus menyiapkan diri untuk itu. Kamu mengerti?"
Merlin mengangkat wajahnya dan mengatakan "eh?" dengan wajah yang bingung.
"ada apa? Apa itu terlalu berat untukmu?"
"tidak, bukan itu--"
"cukup, tidak ada pengurangan untuk itu. Kamu harus bekerja mulai besok."
"t-tapi..."
"tidak ada tapi-tapian. Sudah, hentikan ini. Aku tidak ingin adanya negosiasi dalam hukuman kamu, kamu mengerti? Kalau kamu masih mempermasalahkan ini, aku akan marah sungguhan."
Merlin terdiam di sana setelah aku mengatakan itu dengan tegas.
Tidak lama kemudian, dia tersenyum, senyuman yang sangat cerah.
__ADS_1
Ada apa dengannya? Apa dihukum membuat dia merasa senang? Tapi, dia bukan masokhis, kan?
Aku tidak mengerti. Setelah itu, merlin menarik aku dan memeluk aku dengan kencang.
"aku mencintaimu."
"aku tahu itu, tetapi aku lebih mencintaimu."
"tidak, aku yang lebih mencintaimu."
"sebagai suami, aku bisa selalu mengalah padamu, tapi tidak untuk yang satu ini. Ini adalah hal yang tidak bisa dibantah."
"ku~fufu, baiklah, baik. Aku mengerti."
Merlin mencium pipiku di sana, dia sudah kembali ke moodnya yang bagus.
Aku baru sadar kalau kami melakukan hal romantis di bawah sinar rembulan dengan kondisi melayang.
Itu adalah posisi yang tidak nyaman, tapi kami mendapat momen di sana.
Baik, kami mulai kembali ke dalam kastil dan beristirahat.
Keesokan harinya, tepatnya pagi hari, kami mendapatkan tamu pertama kami dan aku langsung pergi ke ruang kerja untuk menemuinya. Tentu saja, ditemani oleh merlin dan freya.
Di pagi hari, freya sudah memiliki banyak pertanyaan tentang merlin. Tapi masalah itu ditunda karena kami memiliki tamu.
Karena aku mengenal tamu itu, aku tidak perlu memakai pakaian yang merepotkan lagi.
Aku membuka pintu dan tamu kami, titania, sedang berdiri di sisi ruangan.
"kenapa kamu tidak duduk?"
"akan sangat tidak sopan untuk saya jika saya melakukan itu."
"o-oh."
Titania benar-benar merubah sikapnya kepada kami.
Aku mengabaikannya dan mulai duduk di kursi kerjaku. Merlin dan freya berdiri di sebelahku.
Aku merasa tidak enak melihat mereka semua berdiri, jadi aku ingin mempercepat bisnis ini dan segera pergi ke meja makan karena kami belum sarapan.
Aku memang menyuruh titania untuk datang ke sini, tetapi tidak perlu datang sepagi ini, bukan?
Yah, aku juga tidak menentukan waktunya secara jelas, jadi aku juga ikut bersalah di sini.
"tolong katakan lagi keperluan kamu, titania."
Aku mempersilahkan titania, dan dia langsung menghampiri merlin dan mengambil sikap bertekuk lutut dengan satu kaki seperti seorang kesatria.
"saya ingin mengabdikan diri saya untuk anda. Mohon terima saya sebagai bawahan anda, nyonya merlin!"
Titania melakukannya dengan gaya teatrikal. Aku pikir, itu sangat keren.
"bawahan aku? Apa kamu bercanda?"
Namun, merlin tampaknya masih tidak senang dengan titania.
"s-saya minta maaf, nyonya merlin. Pada saat itu, saya sudah terbawa suasana sampai membuat kesalahan."
"tch, jika kau tahu kau salah, maka kau sudah pantas mati."
Merlin mulai mengeluarkan halberd berwarna hitam dari inventarisnya. Panjang tongkatnya sekitar 5,5 kaki dengan bilah berukuran 30 cm.
Sama halnya dengan tongkat william, halberd itu tidak aku miliki, atau lebih tepatnya, pemain tidak memiliki peran untuk menggunakan senjata itu. Namun, ketajamannya sudah terjamin karena aku sendiri yang membeli itu.
"kamu ingin marah dan mengamuk lagi, merlin?"
Halberd yang sedang diarahkan ke leher titania terhenti setelah aku mengatakan itu. Lalu, aku melanjutkan.
"apa kamu tidak mau memaafkan dia?"
"a-aku..."
"sigh, aku yang membawa titania ke sini, tentu saja bukan tanpa alasan. Aku ingin mempekerjakan dia di sini, oleh karena itu, aku membawa kalian berdua ke sini untuk mempertimbangkannya."
Akan merepotkan jika mereka menolak keberadaan iblis seperti titania di kastil ini setelah aku mempekerjakan dia. Jadi, aku mengajak mereka berdua untuk berunding tentang masalah ini.
"aku mengerti, aku sudah mengetahui cara kerjamu, albert."
Freya sepertinya sudah mengerti dengan apa yang aku maksud.
Hanya dengan beberapa hari, dia bisa memahami etika kerja yang aku miliki. Seperti yang diharapkan dari orang yang selalu serius.
Merlin mulai menurunkan kembali halberdnya dan memasukkan senjata itu ke dalam inventaris.
"jika kamu berkehendak, maka aku tidak akan menentangnya."
Hmm? kenapa aku yang harus memutuskan ini?
"tunggu, bukan seperti itu. Aku ingin kamu juga ikut memutuskan ini. Lagi pula, titania akan bekerja untukmu, jadi pendapat kamu sangat dibutuhkan untuk menerima dia atau tidak."
"aku tidak masalah."
"eh, secepat itu? Kamu tidak memikirkan ini kembali?"
"keinginan kamu adalah keinginan aku. Jadi, aku akan memaafkan dia untuk kali ini. Selama dia tidak membuat kesalahan seperti itu lagi, aku tidak akan marah."
Ah, aku melupakan itu.
Merlin, william, ignis, dan leon adalah karakter yang aku buat, mereka pasti tidak akan menentang kehendak aku, bahkan jika aku mengirim mereka ke medan perang.
Tapi, jika ada medan perang sungguhan, sudah pasti aku tidak akan melakukan itu.
Mendengar kalimat merlin, titania yang sedang bersujud sambil menundukkan kepalanya mengatakan "terima kasih".
Baiklah, selama hasilnya bagus maka aku tidak akan mempermasalahkan itu terlalu jauh.
__ADS_1
Selanjutnya adalah persetujuan dari freya.
Sebagai perwakilan dari orang-orang yang berasal dari dunia manusia, pertimbangan dari freya pasti sangat menentukan sikap warga kastil terhadap titania.