
Zaakh berjalan, berniat untuk kembali. Namun dia merasakan kehadiran dua orang sedang menuju ke arahnya dengan aura niat membunuh.
Mengetahui hal tersebut membuat sudut mulut Zaakh naik. Dua orang itu tiba-tiba muncul dari kedua sisinya, lalu dua pedang dari masing-masing tangan mereka sudah mengarah ke tubuh Zaakh untuk memotongnya secara horizontal.
*SLASH**SLASH*
Dua orang itu memotong, namun Zaakh sudah menghilang dan menyisakan udara untuk mereka tebas.
Hm!? —Kedua orang itu terkejut melihat kecepatan Zaakh.
Mereka berdua adalah prajurit elite dari Kekaisaran Karamia, peringkat mereka bahkan sudah mencapai tahap [Adamantine].
Namun pergerakan musuh lebih cepat hingga tidak dapat ditangkap oleh persepsi mereka masing-masing dan membuat mereka tidak percaya.
"Fumu, tidak buruk. Mungkin tidak masalah kalau aku sedikit bermain sebelum kembali."
Tidak jauh dari mereka berdua, Zaakh menampakkan dirinya dan menyatakan tidak keberatan untuk meladeni.
Tubuh Zaakh cukup tinggi, sekitar 6 kaki. Berambut merah dengan sepasang tanduk hitam.
Dia meregangkan kedua tangannya setelah menyatakan ingin bermain dengan mereka, namun tidak terlalu memiliki waktu banyak.
Setelah peregangan, dia langsung menuju ke arah dua prajurit itu. Salah satu kemampuan unik ras naga bumi, [Pengerasan Tubuh] telah diaktifkan dan mengeraskan tubuh Zaakh hingga ke tingkat kekerasan senjata peringkat [Legendaris] namun lebih fleksibel.
Kedua prajurit saling memandang dan mengangguk setelah mendengar pernyataan Zaakh. Kemudian Zaakh muncul dengan cepat di depan mereka, dan mengarahkan tendangan ke salah satu pria di sebelah kiri.
Pria di sebelah kiri tidak memiliki waktu untuk menghindar ataupun berfikir untuk melawan balik. Dia memutuskan untuk bertahan dari tendangan Zaakh, mengira bahwa itu hanya sekedar tendangan biasa.
Pria di sebelah kanan melihat itu, dan tidak membuang waktu karena memiliki momentum untuk menyerang Zaakh.
Dia langsung mengangkat pedangnya untuk menebas Zaakh secara vertikal, menggunakan seluruh tenaga dan kebanggaannya sebagai prajurit peringkat Adamantine.
*BOOM*
Ledakan terjadi di lokasi mereka bertiga. Disaat bersamaan, salah satu prajurit muncul dari kepulan asap ledakan, sedang terpental. Tubuhnya bergerak dengan cepat dan menabrak salah satu tenda pasukan Kekaisaran hingga hancur. Itu adalah prajurit yang telah terkena tendangan kaki kiri Zaakh.
Kemudian asap kepulan perlahan mulai menghilang dan memperlihatkan sosok Zaakh sedang menahan pedang prajurit dengan sisi lengan kanan. Dan kaki kirinya masih mengudara, memperlihatkan dia baru saja melakukan tendangan.
Wajah Zaakh sangat santai seolah-olah itu adalah hal biasa, namun berkebalikan dengan Zaakh, prajurit yang memegang pedang sangat terkejut.
Keterkejutannya terlalu eksesif dan ketakutan mulai muncul dari dalam hatinya.
Pedangnya sudah menyentuh sisi lengan lawan, tapi itu masih tidak bisa memotongnya, bahkan dengan seluruh tenaganya.
"Aaaah!"
Pria itu panik, tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dan hanya bisa mengangkat pedangnya kembali untuk memukul lawan.
Zaakh tersenyum, namun dia sadar bahwa tidak baik berada di sana berlama-lama. Jadi dia menarik nafas dalam-dalam *inhale*, bersamaan dengan prajurit yang mengarahkan senjatanya, Zaakh menyemburkan nafas api khusus naga bumi ke arah prajurit.
*Fuuu*
Sambil melompat menjauh, Zaakh membakar prajurit dengan nafas api. Semburan itu memiliki suhu bertekanan tinggi, dan bisa membakar batu berlian dengan sangat cepat.
"Kahhh!!"
Prajurit yang telah menerima semburan api hanya bisa berteriak, tidak bisa melarikan diri karena tekanan. Dan hangus terbakar ketika Zaakh sudah selesai menyemburkan nafasnya.
"Umu."
Puas dengan hasilnya, Zaakh tersenyum dan langsung mengundurkan diri ke camp Sekutu.
*****
"Apa kau bilang! Dua prajurit kebanggaan kita telah terbunuh?"
Kaisar George terkejut sekaligus marah di dalam tenda.
Salah satu perwira telah berlutut di depannya dan melaporkan peristiwa serta peringatan yang telah dinyatakan oleh Zaakh.
Prajurit Kebanggaan. —Mereka adalah sekumpulan Kesatria yang telah dilatih sendiri oleh pihak Keluarga Kekaisaran.
Jumlah mereka hanya 250 orang, dan Keluarga Kekaisaran sudah menghabiskan banyak uang untuk membiayai keperluan mereka, baik itu untuk pelajaran ilmu sihir maupun sarana pelatihan. Mereka merupakan orang-orang spesial.
Dan pihak musuh sudah membunuh dua orang diantaranya. Itu telah membuat George sangat kesal dan marah.
Pada awalnya, mengetahui terdapat satu naga bumi telah mendatangi camp, mereka memutuskan untuk mengirim dua orang. Karena menurut perkiraan mereka, dua prajurit kebanggaan sudah cukup untuk mengatasi satu naga.
Bagaimanapun mereka sudah berada di peringkat [Adamantine], dan perindividu mereka sudah bisa mengalahkan monster peringkat A.
__ADS_1
Namun hasilnya dua prajurit kebanggaan mereka telah dikalahkan dengan mudah oleh naga itu. Ditambah lagi, naga itu bisa bertransformasi ke bentuk manusia. Suatu keberadaan langka.
Meski begitu kuat, anehnya naga itu tidak menyerang camp ini dengan kekuatannya. Dan malah memberi peringatan agar operasi agresi militer George dibatalkan.
"Apakah dia hanya menggertak?"
George mulai bertanya-tanya.
Dari hasil pengamatan tim pengintai di garis depan, mereka telah mengkonfirmasi bahwa pasukan musuh hanya berkisar 35.000 prajurit, itu termasuk pasukan bala bantuan dari Kerajaan Binatang.
Jumlah mereka sangat kecil bila dibandingkan dengan kekuatan George. Peringatan mungkin saja bisa dijadikan strategi mereka untuk mengurungkan niat George dalam menginvasi Kerajaan Herunia.
Sayangnya, tim pengintai belum mendapatkan informasi akurat terkait naga yang sedang bersembunyi menggunakan tubuh manusia.
Namun mereka sudah melaporkan kalau tidak ditemukan tanda-tanda adanya pasukan naga dalam jumlah besar. Mereka baru menemukan dua naga bumi, itu termasuk naga bumi yang telah membunuh dua prajurit kebanggaan. Dan keberadaan dua naga itu terdapat di tenda para petinggi musuh.
Jadi, George dan para penasihatnya berasumsi bahwa mereka hanya memiliki sedikit naga untuk dijadikan kartu truf mereka. Sedangkan peringatan hanya sebuah gertakan sambal dalam permainan mereka.
George mulai berfikir dengan serius. Jika dia mundur, dia mungkin saja akan termakan dengan strategi "menang tanpa berperang" mereka.
"Yang Mulia, bagaimana menurut Anda, apakah kita tetap menyerang mereka atau mundur di sini?"
Pria berbadan gemuk bertanya. Dia adalah Gardan Mumaza, seorang Archduke yang telah ditunjuk sebagai panglima tertinggi pasukan Kekaisaran Karamia.
Gardan sendiri memiliki keraguan di dalam hatinya akibat peringatan yang telah diberikan oleh pihak musuh.
Namun dia telah mendapatkan laporan dari pihak Kekaisaran Dortos bahwa mereka masih akan menyerang musuh walaupun musuh memiliki naga berada di pihak lawan. Hal ini hanya diketahui oleh Gardan.
Gardan tidak mengerti apakah mereka bertindak nekat atau memang sudah mengetahui kekuatan lawan dan cukup percaya diri untuk menyerang.
Jika Kekaisaran Dortos memang mengetahui kekuatan sesungguhnya pihak lawan, itu artinya peringatan sebelumnya yang telah ditunjukkan untuk pihak ini hanya sebuah gertakan.
Selain itu, semenjak bekerja sama dengan pihak Kekaisaran Dortos, keinginan Gardan untuk duduk di atas tahta semakin menggebu-gebu.
Dia sangat ingin sekali agar George mengarahkan pasukannya ke Ibu Kota Kerajaan dan bertemu dengan pasukan Kekaisaran Dortos.
Setelah bertemu, rencananya Kekaisaran Dortos akan menyerang pihak ini namun Gardan dan pasukannya akan berada di pihak mereka untuk menghancurkan kekuatan George.
Terutama 250 prajurit kebanggaan George. Prajurit itu harus ditiadakan agar Gardan dapat duduk dengan tenang di singgasana. Oleh karena itu, dia sangat membutuhkan kekuatan Kekaisaran Dortos.
"Tuan Gardan, menurutmu bagaimana kita harus menanggapi hal tersebut?"
George bertanya kembali dan meminta pendapat Gardan.
Namun berkat ketidak kompetennya George, Gardan dapat membuat rencana dengan mulus tanpa hambatan. Jadi dia sangat beruntung karena George bodoh.
"Kita sudah mendapatkan informasi dari tim pengumpulan intelijen bahwa Kekaisaran Dortos sudah mulai menyerang. Menurutku, tidak ada waktunya untuk takut dengan gertakan pihak lawan. Karena kita memiliki prajurit kebanggaan dan pasukan kita lebih unggul dalam hal jumlah daripada mereka. Bahkan jika mereka memiliki beberapa naga kuat, kita masih bisa mengalahkan mereka dengan jumlah."
Gardan memberikan pendapatnya. Gardan sendiri sudah mengetahui bahwa jumlah naga di pihak lawan tidak terlalu banyak.
Jika prajurit kebanggaan bekerja sama untuk mengatasi para naga, Gardan sangat yakin mereka bisa menang. Selain itu, Kekaisaran Karamia masih memiliki kartu truf, yaitu pahlawan dari dunia lain. Jika skenario buruk benar-benar terjadi, kartu itu bisa digunakan sebagai penanggulangan.
"Hmm, aku juga berfikir demikian. Kita tidak perlu takut dengan peringatan musuh. Menggunakan gertakan sebagai strategi merupakan tindakan orang lemah. Baiklah, selesai istirahat, semuanya bersiap untuk berperang!"
Kaisar George mengumumkan dan mengakhirinya dengan perintah untuk memulai perang.
Apanya yang "aku juga berfikir demikian"? —Gardan mulai bertanya-tanya. Tidak peduli bagaimana itu terlihat, George hanya mengandalkan otak Gardan untuk menghilangkan rasa khawatir di hatinya.
Bahkan Gardan sangat yakin bahwa George sudah sangat ketakutan dengan peringatan pihak lawan dan pasti mulai mempertimbangkan untuk membatalkan operasi militer mereka.
(Benar-benar pria yang tidak becus.)
Gardan menahan rasa kesalnya dan mulai mempersiapkan pasukan.
*****
Setelah memohon cukup lama untuk minta diampuni, akhirnya Freya mau mengampuniku. Dia juga memulihkan luka akibat cubitannya. Meskipun kesal, ternyata dia masih mencintaiku.
"Membuat Homunculus tanpa sepengetahuan kami, kamu ingin menggunakan mereka untuk apa pada awalnya? Kamu tidak mungkin memprediksikan peperangan ini, bukan?"
Freya bertanya, ingin mengetahui tujuanku membuat Homunculus.
Sebenarnya, aku memang tidak memprediksikan peperangan antara Kerajaan dengan dua Kekaisaran ini. Hanya saja, aku sudah tahu kalau perang pasti akan terjadi.
Terlepas dari kapan waktunya, dunia ini adalah dunia sihir. Jadi datangnya peperangan pasti tidak akan terhindarkan karena sihir dapat membuat orang menjadi kuat, sombong, dan berakhir tamak akan kekuasaan.
Itulah sisi negatif dari dunia sihir ini. Dan karena sisi tersebut, aku meningkatkan kekuatan.
Pada akhirnya aku berakhir menjadi seperti mereka yang ingin memanfaatkan sisi negatif dunia sihir.
__ADS_1
Namun aku tidak menyesali hal itu. Aku ingin keluargaku hidup aman dan memanfaatkan sisi negatif sihir untuk kepentinganku sendiri. Lagipula, aku memang tidak terlalu peduli bila berakhir menjadi orang baik atau buruk.
Aku tidak menjawab pertanyaan Freya, dan hanya mengusap bagian tubuhku yang terkena hit.
Padahal itu sudah dipulihkan oleh Freya, tapi rasa sakitnya masih terbayang dengan jelas di kepalaku.
Tidak lama, Merlin menyediakan teh untukku dan aku langsung meminumnya, selagi masih belum menjawab pertanyaan Freya.
"Kamu marah padaku?"
Akhirnya Freya bertanya lagi karena aku terus diam.
Sungguh, aku ingin mengatakan "Ya, aku marah." seperti itu, tapi rasanya agak tidak nyaman.
Entah kenapa, aku mengerti kalau aku tidak pantas untuk marah. Tapi tetap saja rasa kesalnya masih ada.
Mungkin ini yang disebut dengan "Ngambek"?
Selesai menyesap teh, aku menghela nafas dan menaruh teh itu di atas meja untuk mengambil sejumlah makanan ringan.
Aku tidak mengambil sedikit, tetapi mengambil banyak dan langsung memakan semua itu tanpa perlu menikmatinya satu persatu.
Aku tidak peduli dengan rasanya, aku hanya ingin mengunyah untuk mengubah suasana hati.
Aku juga sedang menikmati salah satu layar monitor yang sedang menampilkan Zaakh si naga bumi bertarung.
Normalnya aku akan merasa bersalah karena pihak kami sudah membunuh dua orang dengan mudahnya.
Tapi rasa seperti itu tidak muncul. Aku benar-benar tidak peduli lagi dengan pihak musuh, walaupun kami sesama manusia.
Mungkin pengaruh kesal terhadap seseorang masih ada.
"Kenapa kamu hanya diam saja?"
Untuk ketiga kalinya, Freya bertanya kembali.
Aku sempat berhenti menggigit kue yang berada di tanganku setelah Freya bertanya seperti itu, tapi aku memilih melanjutkan dan mengabaikan pertanyaan Freya.
Sejujurnya, aku tidak bisa memberikan jawaban yang bagus untuk itu.
Aku mengerti kalau sekarang aku sedang "Ngambek", tapi aku akan merasa malu jika mengatakan hal seperti itu di depan Ignis dan yang lainnya, kan?
Tidak, sejak awal mereka pasti sudah menduga kalau aku sedang ngambek.
Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, padahal aku sudah dewasa tapi sikapku masih seperti anak kecil.
Ditambah lagi, aku sadar dengan hal ini tapi tidak melakukan upaya untuk meluruskan agar citraku masih tetap terjaga.
Sungguh, aku bahkan tidak bisa mengerti dengan kondisi diriku sendiri. Rasanya seperti aku tidak peduli lagi dengan citra atau wibawa pemimpin.
Beberapa menit aku telah mengabaikan Freya, tiba-tiba Freya memegang tanganku saat aku sedang asik mengamati pasukan Kekaisaran Dortos sedang melakukan persiapan untuk berperang.
Dan karena aku sedang asik mengamati kegiatan musuh, aku sampai lupa kalau Freya sebelumnya sedang bertanya padaku.
Jadi aku langsung mengalihkan pandanganku untuk melihat Freya dan menemukan mata biru indahnya sedang berlinang air mata.
Eh! —Aku benar-benar terkejut. Bahkan mataku terbelalak setelah melihat itu.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat Freya menangis. Tidak, baru ingin menangis? Intinya, matanya sedang berkaca-kaca.
Aku langsung sadar kalau itu karena aku telah mengabaikannya, tetapi kenapa hanya karena mengabaikannya membuat dia menangis?
"Maaf, bisa kalian meninggalkan kami bertiga?"
Tidak ada ide, aku langsung menyuruh semua orang kecuali Merlin dan Freya pergi dari ruangan. Kemudian aku langsung memeluk Freya tanpa pikir panjang.
"Aku minta maaf, Albert."
Didalam pelukanku, Freya berbicara dengan gemetar.
Aku ingin sekali mengatakan kalau aku tidak marah sama sekali dan keasikan mengurus layar monitor, tapi jika aku mengatakan hal itu, sepertinya itu tidak akan berakhir dengan baik untukku.
Dia akan memukulku ketika mengetahui kalau aku lebih mementingkan layar monitor ketimbang dirinya. Jadi aku bijak memilih untuk tidak mengatakannya.
"Sudah, aku tidak benar-benar marah. Hanya merasa kesal sedikit. Tidak perlu untuk meminta maaf karena aku juga ikut bersalah."
Aku sadar, sekarang aku tidak dewasa sama sekali. Jika sejak awal aku bersikap baik dengannya, dia tidak akan berakhir menangis seperti ini.
Namun, untuk bisa melihat Freya menangis mengira aku marah padanya, aku bisa berfikir bahwa dia sangat tidak ingin dibenci olehku.
__ADS_1
Kemudian Merlin ikut memeluk kami dari samping, berusaha untuk menenangkan Freya. Dia juga terlihat selalu khawatir dengan sikap kami, jadi aku memeluknya juga dan mengelus kepalanya.
Keluarga ini benar-benar yang terbaik untukku. Aku tidak keberatan menggunakan sisi negatif dunia sihir dan menjadi buruk demi melindungi mereka.