
Seminggu yang lalu. Kerajaan Suci, gerbang selatan ibukota Ramis.
"Aku tidak tahu kalau ada manusia selain Tuan Albert yang bisa menghadapi kita bertiga hanya dengan seorang diri."
"Haha, dunia benar-benar luas."
"Yah, kita memang tidak seharusnya meremehkan lawan meskipun dia hanyalah seorang manusia."
Kanis, Selena, dan Azure yang sedang terengah-engah dan sedang berusaha untuk bisa berdiri tegak, baru saja memahami luasnya dunia.
Di hadapan mereka, Erick sang ketua kelompok Paladin justru masih bisa berdiri tegak dan tidak mengalami kelelahan sama sekali padahal dia sudah melakukan pertarungan dengan ketiga naga.
Setelah melakukan pertarungan yang sangat sengit, sekarang mereka bisa melihat jurang besar yang memisahkan mereka dengan Erick.
Tidak ada keraguan lagi bahwa Erick sangatlah kuat.
"Apa kalian tidak apa-apa?"
Edwin yang masih menjaga magic itemnya mengkhawatirkan mereka bertiga.
Dia selalu berada di dekat magic itemnya untuk berjaga, oleh karena itu dia tidak ikut ke dalam pertarungan mereka.
"Mungkin kita bisa melupakan magic itemnya, kan?"
"Apa yang kau bicarakan? Kami masih belum kalah."
"Yah, Tuan Ignis berkata kalau rencana mengurung ibukota ini hanya untuk menakut-nakuti mereka. Jadi kupikir kita tidak perlu mempertahankan magic item ini sampai akhir. Malahan jika kita kalah di sini, itu justru akan membuat Tuan Ignis dan yang lainnya marah. Kalau sampai itu terjadi..."
"Kghh..."
Kanis tidak bisa berkata apa-apa setelah Edwin meyakinkan mereka.
Apa yang dikatakan Edwin benar. Mereka tidak boleh kalah di pertarungan ini. Sebab, itu akan merusak nama baik tuannya sendiri.
Mau bagaimanapun caranya, mereka harus menang. Supaya nama baik tuannya, Albert, tidak jelek.
"Aku setuju. Kita sudah tidak bisa mempertahankan magic itemnya, jadi tinggalkan saja barang itu. Edwin, bantulah kami."
"Aku mengerti!"
Selena menyetujui sarannya Edwin. Dan sesat ketika itu diterima, ledakan besar terjadi.
"Bang!"
Magic item tersebut langsung hancur berkeping-keping, dan selaput penghalang sihirnya menghilang.
Edwin dan yang lainnya sedikit terkejut, tapi mulai mengabaikannya karena itu sudah bukan hal penting lagi.
Benda itu seketika dihancurkan oleh Erick setelah Edwin melepaskan penjagaannya.
Setelah itu, mereka melanjutkan pertarungannya sesuai rencana.
Edwin membesar dan menjadi Minotaur dengan greater axe di tangannya. Kemudian dia menyembuhkan luka-luka Azure dan yang lainnya.
Setelah mereka pulih, Erick mengerutkan alisnya. Dia sadar kalau kehadiran Edwin di tim mereka tampaknya akan menjadi masalah untuknya.
Tapi ketika dia berpikir untuk menyerang Edwin — Azure, Selena, dan Kanis berubah menjadi naga.
"ROARR!!!" ×4
Empat monster berukuran raksasa meraung ke arah Erick. Dia telah mendapatkan tekanan dari Haki keempat monster.
Namun, dia tidak gentar.
Sikapnya masih seperti biasa, hanya wajahnya saja yang menjadi semakin serius.
"Jika kau tidak ingin negeri ini hancur, kau harus melawan kami, kesatria!"
Kanis mengatakan kalimat yang sering penjahat ucapkan. Dan itu membuat dia senang.
Bagi Erick, ukuran bukanlah segalanya. Dia melompat ke arah mereka berempat untuk menyerang. Lalu Azure, Kanis, dan Selena melancarkan skill breath mereka masing-masing ke arah Erick.
"BUSHHH!!"
campuran nafas dari ketiga naga tingkat legendary-class membentuk badai abnormalitas.
Es dan api saling bertolak satu sama lain, sedangkan racun bergabung di antara mereka. Ketiga skill membuat udara di sekitar menjadi hangat.
Namun, bagi Erick yang terkena serangan tersebut, dia seperti merasa tercabik-cabik hingga ke dalam tulang.
Pertahanan suci yang dia banggakan tidak bisa menahan ketiga skill nafas mereka. Akhirnya dia terjatuh karena tidak bisa menolak skill destructive dari ketiga naga.
Setelah mencoba berdiri kembali, tiba-tiba seluruh lokasinya menjadi gelap. Namun dia sadar bahwa ada sesuatu yang menghalangi cahaya bulan. Itu adalah bayangan dari Edwin yang sedang ingin menerkam dirinya dari atas dengan kapak raksasa.
Cahaya bulan memantul di bilah kapaknya ketika itu diangkat tinggi-tinggi, membuat kilauan sinar bulan menghalangi pandangannya.
"BOOM!!"
Dan serangan kapak dari Edwin membuat ledakan besar.
Namun setelah semua, serangan itu ternyata berhasil ditangkis oleh Erick dengan perisainya.
Perisai yang sudah dialiri dengan Haki dapat membuat durability-nya meningkat drastis. Itu dapat menerima energy kinetik yang cukup hebat dan juga bisa memperkuatnya.
Namun, tekanan yang ditimbulkan dari minotour tidak main-main. Dia dapat membuat Erick tertekan hingga menciptakan kawah besar di bawah kakinya.
Tidak peduli seberapa banyak energy yang Erick miliki, jika dia tidak memiliki skill pertahanan yang lebih tinggi dari skill serangan Edwin, atau yang setara dengan itu, dia tidak akan bisa bertahan lama.
Kekuatan minotour bukanlah isapan jempol.
Itu asli, dan bahkan bisa menghancurkan kota hanya dengan sekali pukul.
Sekarang, Erick terpojok dengan kemarahan keempat monster dari Kerajaan Lumia.
Pertarungan terus berlanjut.
Setelah kapak besar Edwin berhasil menekan Erick, Edwin melompat menjauh dari Erick karena serangannya tidak bisa melukainya.
__ADS_1
Erick diam berdiri, berusaha memulihkan tubuhnya yang sudah berhasil menahan serangan Edwin.
Namun, waktu terus berjalan. Selena dengan tubuh naganya yang memiliki panjang sekitar 20 meteran berwarna biru dan bermuatan listrik yang hebat, menghampiri Erick dengan kecepatan tinggi.
Tubuhnya besar dan elok, seperti ular yang sedang berenang di air. Dia menggunakan levitasi seperti biasa untuk bergerak ataupun bermanuver di udara.
Makhluk mitos ini hanya ada di tanah naga, namun sekarang sedang menyerang manusia terkuat kedua setelah pahlawan di Kerajaan ini.
Mulutnya terbuka, dan menciptakan bola biru bermuatan listrik untuk diarahkan kepada Erick.
Erick mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk. Dia tidak bisa melarikan diri karena jika dia berbalik, dia mungkin akan terkena serangan Selena dari belakang.
Satu-satunya cara hanyalah bertahan. Meskipun dia sendiri tidak yakin apakah perisainya dapat menahan serangan sihir Selena atau tidak.
Dia sendiri sudah memahami sifat mereka berempat, dan dia sudah tahu kalau Selena adalah naga tipe wizard yang sangat kuat.
Jadi bila dibandingkan dengan naga yang lain, Selena memiliki output daya yang paling tinggi.
"Divine Armor!"
"Electric Sphere!"
"BOOM!!"
Erick mengaktifkan skill suci tingkat tinggi untuk mencoba bertahan dari serangan Selena, dan Selena melepaskan bola bermuatan listriknya ke arah Erick.
Terjadilah gejolak bermuatan listrik dan ledakan besar yang teramat sangat terang di sana. Hingga membuat penglihatan semua orang terganggu.
Ketika cahaya ledakannya menghilang, Erick masih bisa berdiri. Dengan baju dan armor yang sudah compang-camping, meskipun begitu perisai dan pedangnya masih utuh.
Item tingkat legendary-class memang hebat. Itu kuat menahan serangan dari naga-naga peringkat atas.
"Hmph!"
Meski tidak suka, Selena dapat memakluminya.
Tidak hanya senjatanya yang kuat, tetapi energy yang dimiliki oleh Erick juga sangat padat. Itu semua menjadi equipment yang hebat untuk melawan Selena dan yang lainnya.
"Aku juga akan menyerang!"
Setelah Selena menunjukkan kemampuannya, Kanis tidak mau diam saja melihat mereka. Dia juga ingin bertarung.
Keunggulan naga bumi bukan hanya di api saja. Mereka sebenarnya memiliki banyak kemampuan yang dapat menghancurkan negara. Seperti misalnya...
"Inferno!!"
Kanis menggunakan kemampuan terhebatnya. Dia berubah menjadi naga berapi yang memiliki magma di dalam tubuhnya.
Berbeda dengan Selena yang tubuhnya dipenuhi dengan muatan listrik, Kanis menjadi seperti anjing dari dalam neraka yang membawa api di dalam tubuhnya.
"Kghh... Kalian pikir, kalian bisa melakukan hal seenaknya."
Erick geram dengan ulah mereka berempat.
Bersamaan dengan kanis yang sedang berlari ke arahnya, dia menggunakan skill armor ilaihinya kembali dan melapisi tubuhnya dengan armor energy berwarna putih.
Meskipun dia tidak tahu skill seperti apa yang akan digunakan oleh Kanis, tetapi dia sudah memutuskan untuk melawannya.
Kemudian tanah mulai bergetar. Atau lebih tepatnya, terjadi gempa bumi yang sangat besar di sekitar lokasi mereka.
Gempa tersebut pasti mempengaruhi permukiman kota, dan itu membuat Erick khawatir. Tapi, dia tidak bisa menghentikan gejolak getaran bumi tersebut.
Hanya saja, dia tahu kalau hal itu semua pasti perbuatan si Kanis.
Naga sudah sejak lama digolongkan sebagai monster tingkat bencana. Ketika mereka serius, seisi kota tidak akan bisa terhindar dari yang namanya bencana. Oleh karena itu, inilah resiko dari melawan naga. Bencana yang harus ditanggung ketika menghadapi naga.
Sekarang, itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Jika dia bisa mengalahkan Kanis, dia pasti bisa menghentikan gempanya.
"Pedang Cahaya!"
Oleh karena itu, tanpa berlama-lama Erick melancarkan serangan ke arah Kanis yang sedang menuju ke arahnya.
Tidak peduli hasilnya, dia hanya perlu bertarung dan menang. Kalah bisa dipikirkan nanti, prioritas utamanya adalah menyelamatkan kota dari kehancuran.
Ketika Erick melompat tinggi untuk menyerang Kanis dari udara, Kanis pun ikut melompat untuk menghampirinya.
Kemudian, terjadilah aksi anjing raksasa yang ingin mengigit manusia di angkasa pada malam hari ini.
"WUNG!!"
Keluar dari pedang, skill cahaya Erick menerangi malam untuk kedua kalinya. Lalu dia mengarahkan pedang cahaya tersebut kearah Kanis. Yang mana, ukuran pedangnya menjadi sangat besar karena skill tersebut, cukup besar untuk memotong Kanis.
"BOOM!!"
Pedang cahaya telah mengenai Kanis, berubah menjadi ledakan besar yang menyilaukan.
Ditambah lagi, lokasi di sekitar mereka menjadi sangat panas akibat partikel cahaya dan molekul Mana Kanis yang tersebar akibat benturannya.
Dengan atmosfer panas yang memiliki ruam merah, mereka berdua muncul kembali di permukaan.
Erick tidak mendapatkan luka tambahan semenjak terkena serangan Selena, sedangkan Kanis mendapatkan sedikit goresan pada bagian tubuhnya.
"Kenapa kau memaksa menerobos masuk padahal dia melancarkan serangan itu lagi? Kau baik-baik saja."
"Ini hanyalah luka kecil."
Melihat tubuhnya tergores, Selena sedikit mengkhawatirkannya. Tapi, bukan darah yang keluar dari tubuh Kanis, melainkan lava cair panas yang menetes.
Sangat tidak masuk akal, tetapi itulah atribut Kanis, MAGMA.
Ketika tubuhnya dalam kondisi seperti ini, manusia biasa tidak akan bisa mendekatinya. Jika mereka mendekatinya dengan paksa, mereka akan langsung terbakar habis karena tingkat intensitas panasnya terlalu tinggi untuk ditanggung manusia biasa.
"Kupikir kesatria ini sudah hampir mencapai batasnya."
"Aku juga sependapat. Jika dia memaksa tubuhnya terus menerus melancarkan serangan berskala besar, nantinya dia sendiri yang akan mendapatkan luka dari perbuatannya."
"Kalau begitu..."
__ADS_1
"Ayo kita serangan dia sampai dia kelelahan. Kita memiliki keunggulan dalam ketahanan."
"Baiklah." ×3
Mereka berempat sepakat untuk menyerang Erick tanpa ampun.
Erick memiliki daya serangan yang cukup kuat untuk melukai tubuh naga, akan tetapi serangan tersebut memiliki bayaran yang sangat tinggi bagi tubuhnya.
Dia tidak bisa melancarkan serangan berskala besar secara terus menerus, atau tubuhnya tidak akan kuat menahan output daya yang besar. Dia akan hancur dengan sendirinya jika terus memaksa.
Selanjutnya perang berubah menjadi pertarungan daya tahan. Empat monster raksasa mengeroyok seorang kesatria paladin.
Mereka melemparkan kapak, bola listrik, cakaran, dan gigitan ke arah Erick. Sedangkan Erick masih berusaha menyerang mereka dengan pedang cahaya.
Seringkali skill-skill cadangan miliknya dia terapkan untuk mengecoh pandangan mereka. Kemudian dia bisa menyerang salah satu lawannya dengan serius tanpa ada yang menghadang.
Dia menggunakan otaknya untuk bertahan melawan mereka.
Sampai pada waktu dini hari, mereka masih terus bertarung. Lokasi mereka bertarung sudah lama menggeser dari pinggir kota ke tengah-tengah hutan. Tapi mereka belum bisa menentukan siapa pemenangnya karena Erick masih bisa berdiri, walaupun sudah babak belur.
"Apa-apaan manusia ini, Hah... Hah... Hah... Dia... Tidak normal!"
"Kenapa dia tidak melemah sama sekali? Apakah energy-nya tidak ada habisnya?"
"tidak, kalian salah. Dia sudah lebih lemah dari sebelumnya. Dia hanya sedang berusaha terlihat tegar."
Ujung pertarungan akhirnya sudah hampir mulai terlihat. Mereka berlima masih bisa berdiri, meskipun perlu usaha untuk tetap bisa mempertahankannya.
Meski begitu, waktu terus berjalan.
Erick dalam pemikirannya berharap untuk mendapatkan bantuan, tapi dia juga tahu kalau rekan-rekannya sedang melawan musuhnya masing-masing.
Dia juga sudah memperkirakan kalau mereka mungkin tidak bisa bertahan lebih lama darinya. Itu berarti musuh kemungkinannya sudah masuk ke dalam kota lewat arah lain.
Sejak awal, Erick ke sini hanya bertujuan untuk menghancurkan penghalang yang melapisi ibukotanya. Namun, karena dia bertemu dengan mereka berempat, dia entah kenapa malah terlarut ke dalam pertarungannya.
"ini sangat melelahkan."
Erick tidak bisa tidak mengeluh.
Musuhnya keras, dan energy mereka tidak ada habisnya. Ditambah lagi, mereka sangat kuat. Jika Erick lengah sedikit, atau salah dalam mengambil langkah bertahan, dia mungkin sudah mati sejak awal pertarungannya dimulai.
Tapi, walaupun hanya sedikit, dia bisa merasakan serunya bertarung dengan naga dan minotour.
"Sudah waktunya..."
Azure yang sejak awal diam saja, akhirnya ikut berbicara. Dia ikut bertarung melawan Erick dan kelelahan juga, namun dia tidak pernah mengeluh.
Dan baru kali ini dia berbicara, membuat Erick bertanya-tanya apa yang barusan ingin dia katakan.
Jawaban ada setelah itu.
Azure adalah naga es berwarna perak dan bermata biru. Setiap serangannya memiliki atribut es berwarna putih.
Sekarang, aura di sekitarnya berubah menjadi biru. Matanya juga memancarkan nyala api biru yang cukup aneh.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Kanis bertanya mewakili semua orang yang berada di sana. Baik itu rekannya ataupun musuh, mereka tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh Azure yang tiba-tiba merubah suasananya tersebut.
"Aku harus mengakhiri ini karena pertarungan di tempat lain sudah selesai. Kita berempat tertinggal hanya karena satu kesatria ini."
"Apa?"
"Yah, aku juga sudah menduganya."
"Baguslah kalau mereka tidak mengalami masalah."
Ternyata Azure mendapatkan informasi situasi terkini dari markas, dan dia menjelaskan itu kepada teman-temannya.
Kalimat Azure juga didengar oleh Erick, dan Erick tidak terkejut sama sekali.
Dia mungkin sedikit menikmati pertarungannya, tetapi dia juga putus asa menghadapi mereka berempat.
Jika seseorang tidak mengakhiri pertarungannya maka kemungkinan mereka berlima akan terus bertarung sampai hari berikutnya tiba. Dimana pada akhirnya, dia pasti akan kalah karena kelelahan.
Atau, dia bisa memilih melarikan diri dari sana.
Dia punya banyak keluarga yang harus dia lindungi. Dan dengan kemampuannya, dia bisa memindahkan mereka semua ke tempat aman dalam sekejap jika dia mau.
Akan tetapi, dia memiliki keluarga yang sangat patriotis. Melarikan diri bukanlah suatu pilihan dalam hidup mereka. Jadi dia tidak bisa melakukan itu.
Pada akhirnya dia sadar, kalau bertarung melawan naga itu benar-benar tindakan yang bodoh dan membuang-buang waktu.
....
Atau tidak...
"Hei, boleh aku tahu kalian ke sini ingin apa?"
Ketika Azure sudah melebarkan sayapnya, bersiap untuk terbang, Erick tiba-tiba mempertanyakan hal yang paling penting dari kedatangan para naga ke ibukota ini.
Dia tahu kalau ini adalah perang suci, perang yang dimulai oleh para dewa. Tapi di awal, dia belum sempat bertanya maksud dan tujuan para naga datang ke sini.
"Kami harus membekukan kuil suci kalian dan mengambil alih tempat tersebut. Hanya itu."
"Jika hanya itu yang kalian inginkan, apa kalian akan menyerang seluruh penduduk kota juga?"
"Kurasa, tidak. Tuan Albert mana mungkin menginginkan hal tersebut. Jika dia ingin memusnahkan umat manusia, dia pasti sudah sejak lama melakukannya sendiri."
"..."
(Oh, aku melupakan hal penting dalam pertempuran ini. Seharusnya aku ada untuk melindungi umat manusia, bukan untuk kuilnya.)
Di saat-saat terakhirnya, akhirnya Erick menyadari tugas dia yang sebenarnya sebagai seorang paladin. Dan kemudian, Azure berubah menjadi kilatan cahaya biru, terbang menuju ke angkasa, lalu menukik ke bawah, menuju ke arah Erick dalam kecepatan yang sangat tinggi.
Erick tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat keindahan itu.
__ADS_1