Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Bangsawan Iblis.


__ADS_3

Hari ini, mungkin... Adalah awal mula dari kehancuran dunia.


"Fua~hahahaha... Apa hanya segitu saja kemampuanmu, hah!? Cepat tunjukkan keterampilan terbaikmu padaku, Pilar Kedua!! Fua~hahaha!!!"


Di hadapanku, seorang pria dengan skill seni tendangan yang sangat berbahaya, tertawa seperti orang kesurupan.


Entah kenapa, pria ini selalu menuntutku untuk menyerangnya dengan semua skill-skill tingkat atas yang aku miliki. Namun yang membuat ini menyedihkan adalah keterampilan dan kekuatanku sepertinya tidak bisa menandingi pria ini.


Namaku Jaeger Sverga, aku adalah Pilar Surga kedua, salah satu dari Tujuh Pilar Surga di khayangan ini. Kami seluruh pilar surga memiliki kemampuan unik kami masing-masing dan menguasai wilayah di setiap lapisan langit ini.


Aku dengan War-Axe milikku adalah kekuatan nomor dua di dunia ini setelah Nodens. Sebagai malaikat yang bukan Master Divine Monster, diriku di dunia ini bisa terbilang adalah malaikat terkuat.


Tapi kenapa, kenapa aku tidak bisa mengalahkan pria yang ada di hadapanku ini!? Bahkan untuk membuat kami setara saja, aku tidak bisa. Ini membuatku frustasi.


Setiap serangan yang aku berikan padanya, dia selalu bisa menangkisnya dengan kakinya itu yang aku pikir kaki itu adalah sebuah senjata [Mythical-Class].


Aku bisa berpikir demikian karena senjata War-Axe milikku berada di tingkat [Mythical-Class]. Dimana seharusnya, senjata setingkat ini tidak mungkin bisa ditangkis hanya dengan tendangan dari kaki biasa! Itu tidak mungkin! Aku tidak bisa mempercayainya.


Oleh karena itu, aku hanya bisa berasumsi kalau kakinya merupakan sesuatu sejenis magic item setingkat dengan senjataku ini. Aku tidak bisa memikirkan hal lain.


"Hei, ada apa denganmu? Gerakanmu yang sangat lambat menjadi terlihat lebih lambat. Apa Anda sudah sampai pada batasanmu? Apa Anda sudah ingin menyerah?"


Kuhh... Orang ini, membuatku sangat kesal. Memang dibandingkan dengannya, aku lebih lambat darinya. Ini membuatku sangat iri, apa kakinya itu juga bisa untuk meningkatkan kecepatannya? Aku yang berfokus pada peningkatan strength sepertinya tidak cocok menjadi lawannya.


Itu yang ingin aku katakan. Padahal...


Aku melompat untuk mendekatinya. Kemudian dengan seluruh kemampuan yang aku miliki, mengarahkan senjataku kepadanya dengan memusatkan seluruh tenagaku ke dalam senjata.


"Bang!!"


Namun kemudian, dia berhasil menahan seranganku dengan kaki menyebalkannya itu. Padahal aku sudah mengerahkan seluruh tenaga yang aku punya.


Aku ingin bilang kalau aku ahli dalam hal tenaga, tapi tidak terduga pria itu tidak hanya cepat melainkan juga kuat dan bertenaga sampai bisa menahan serangan terkuat dari senjataku! Aku mengaku kuat tapi aku tidak bisa mengalahkan pria ini, justru aku malah dipermainkan olehnya. Semua orang pasti akan mengalami depresi jika berada di posisiku sekarang.


"Hei, bukankah orang di sana adalah pemimpinmu? Tapi kenapa Anda bisa sama kuatnya dengan Nodens!?"


Akhirnya aku mengakui kekuatannya. Ini sangat memalukan, tapi itu adalah kenyataan. Aku tidak bisa membohongi diriku dan menyebut aku bisa lebih unggul darinya. Selain itu...


"Tuan Albert adalah orang terkuat. Kalian tidak akan bisa menang. Menyerah saja."


Dia selalu menyuruhku untuk menyerah.


Aneh. Kenapa dia tidak memilih untuk membunuhku padahal dia memiliki kemampuan untuk melakukan itu.


Apa dia sedang meremehkanku? Menganggap aku bukanlah ancaman untuknya. Tapi kenapa dia selalu memasang wajah serius ketika sedang menyuruhku untuk menyerah? Bukankah dia ingin mengejekku (?). Apa ini pembulian jenis baru?


"Apapun yang terjadi, aku tetap tidak akan mempercayai pihak yang berada di sisi iblis! Terima ini, [WARCYCLONE]!!"


Aku tidak ingin menyerah walaupun aku tahu aku sepertinya tidak bisa mengalahkan pria ini, aku menyerangnya sekali lagi dengan skill-skill senjata mematikanku. Menggunakan atribut power yang aku ungguli lalu aku gabungkan dengan Haki milikku.


Ini pertarungan yang sangat intens menurutku. Kami sampai harus pergi dari istana dan mengamuk sesuka kami di luar dinding gerbang. Menghancurkan bukit, menggetarkan gunung, merusak pepohonan di hutan, dan mengacaukan air danau ketika salah satu dari kami terhempas akibat sihir berkekuatan tinggi kami.


Saat ini aku tidak tahu bagaimana kabar pilar surga yang lain, apa mereka bisa selamat dari pertarungan mereka masing-masing. Aku sebagai pilar kedua saja tidak bisa mengalahkan musuhku, bagaimana dengan mereka yang lebih lemah dariku. Itu sangat mencemaskan.


Bagaimana dengan nasib dunia ini nantinya bila kami kalah di sini?


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Mati!!"

__ADS_1


Memberikan sejumlah serangan menusuk dengan trisula emasnya, Aldra sangat bernafsu untuk membunuh iblis Titania.


Namun tentunya, Titania bisa menghindari sejumlah serangan trisulanya itu dengan baik. Bila ada kesempatan, Titania bahkan bisa menjatuhkan serangan kepada Aldra dan membuat orang itu terluka.


Senjata spiritual Titania merupakan sepasang knife khusus yang bisa merusak jiwa/roh musuh namun tidak bisa memotong tubuh material. Berbeda dengan senjata tingkat mistis lainnya yang tidak terbatas terhadap spiritualitas saja.


Saat ini, Aldra adalah entitas spiritual malaikat. Jadi dengan jelas setiap serangan yang dijatuhkan Titania dapat terlihat melukai Aldra. Namun belum sampai melukainya cukup parah, hanya sekedar goresan ringan di bagian luar.


Titania tahu menembus pertahanan Aldra yang merupakan seorang pilar surga, itu memang bukan perkara mudah. Akan tetapi untuk Titania, sebenarnya dia bisa merusak pertahanan Aldra dengan skill-skillnya. Hanya saja dia sama sekali tidak menggunakannya dan justru menikmati pertarungan seperti sebuah permainan.


Mengetahui Titania berhasil menjatuhkan serangan di tubuhnya, Aldra merasa kesal. Dia menyelimuti tubuhnya dengan Haki lalu meningkatkan seluruh statistik kemampuannya, seperti kecepatan, kekuatan, dan ketangkasan.


Dan sekali lagi, Aldra menyerang Titania dengan trisulanya. Menusuk, menebas, dan bahkan mencoba melemparkan trisula itu ke arah Titania yang sedang menjauh. Semua upaya itu dia lakukan demi menjatuhkan serangannya kepada Titania, tapi sayangnya tidak berhasil. Sekalipun ada kesempatan, Titania masih bisa menangkisnya dengan twin knives-nya.


Senjata kembar dan kecil Titania membuat dia unggul dalam hal kecepatan, persiapan, dan keleluasaannya dalam mengeksekusi serangan maupun pertahanan. Ditambah lagi, tubuh idealnya bisa membantu dia bergerak leluasa tanpa pernah melakukan miss sama sekali.


Julukannya sebagai mantan komandan pasukan raja iblis memang bukan sekedar nama, tetapi keterampilannya benar-benar ditunjukkan. Bergerak cepat dan bisa menghindari setiap serangan dengan lihai, itulah sosok Titania Viozele di medan perang.


"Apa hanya segini saja kemampuan pilar surga ketiga? Hmph, sungguh lemah!!"


Sambil menahan setiap serangan Aldra, secara eksplisit Titania benar-benar mengejeknya.


"Apa katamu!?"


"Ah, tidak. Mungkin memang aku yang terlalu kuat. Hahaha~ pilihanku memang benar untuk mengabdi kepada beliau, aku sangat bahagia!!"


"Brengsek! Jangan meremehkankan diriku!!"


Wajah dan tindakan Titania dipenuhi dengan pancaran kebahagiaan, membuat Aldra merasa tertekan akan suasana hati Titania yang tidak merasa khawatir atau gelisah sama sekali.


Karena tidak ada kemajuan apapun bahkan sudah menggunakan Haki untuk meningkatkan kemampuannya, Aldra kehabisan kesabaran untuk menahan diri.


Melihat perubahan sikap yang terjadi secara tiba-tibanya itu membuat Titania waspada, dia memilih untuk memperhatikan Aldra dari jauh.


Lokasi di area hutan, terpisah dengan yang lain karena masing-masing dari setiap pasangan bertarung mencari tempat kosong mereka sendiri untuk mendapatkan kepuasan bertarung.


Namun itu mungkin bukan rencana bagus untuk mereka yang kalah karena tidak akan ada rekan yang bisa mengcover ketika hal itu benar-benar terjadi.


Sekali lagi, tubuh Aldra mulai memancarkan energy. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini energy lebih bergejolak seolah-olah sengaja ditampilkan. Selain itu, kulit putihnya mulai menunjukkan tato-tato yang hampir mirip dengan milik Cthugha.


Titania memang tidak melihat perubahan Cthugha secara langsung, dia mendapatkan informasi tersebut dari Julius di pertemuan sebelumnya. Dan mengetahui kalau itu adalah bentuk fase lanjut dari malaikat tingkat atas ketika sedang berperang dari Freya.


Setelah kulitnya tertutupi oleh tato bergaris emas, Aldra membuka matanya. Di saat itu juga seperti ada aura kuat yang menerpa ke arah Titania, membuat Titania tercengang merasakan sebuah tekanan yang dipancarkan tersebut.


Dalam hitungan detik, Aldra berhasil pindah dari lokasinya ke hadapan Titania di atas langit. Dan, "Bang!!" Dengan suara benturan yang kencang, Aldra berhasil menyerang Titania. Membuat Titania terhempas jauh dan membentur daratan.


"Uhuk!"


Muncul dari kepulan asap, Titania terbatuk. Tubuh indahnya tidak terluka sama sekali dan dia masih bisa berdiri. Hanya saja dia masih menatap Aldra dengan ketidakpercayaan.


Dalam waktu singkat, semua status kemampuannya meningkat drastis hanya karena menggunakan fase pertarungan tersebut.


"Sebagai iblis rendahan Anda terlalu sombong. Aku akan mengajarimu dan memberitahu kalau masih ada langit di atas langit."


"Cih, bicara apa kau, barusan. Kalau hanya itu tentu saja aku tahu karena aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, sosok orang-orang yang sangat misterius dan sangat tidak masuk akal. Sedangkan untukmu, berhentilah berbicara angkuh! AKU SANGAT JIJIK MELIHATNYA!!"


"BOOM!!"


Sesaat setelah Titania menyelesaikan kalimatnya, dia melepaskan seluruh kekuatannya dan menciptakan ledakan besar.

__ADS_1


Untuk bertahan dari ledakan tersebut, Aldra harus menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya, dan setelah dia merasa ledakan sudah selesai, dia menemukan semua pepohonan di sekitar Titania menghilang dan seluruh area menjadi lahan kosong dalam sekejap.


"Apa...? —Aldra terkejut. Di tengah-tengah lokasi terjadinya ledakan, muncul satu iblis bertanduk domba dengan sepasang sayap kelelawar dengan ekornya yang panjang.


Iblis itu tidak lain adalah Titania dalam wujud aslinya.


Meski sudah tahu bahwa Titania merupakan iblis bergelar bangsawan, Aldra masih tetap saja terkejut melihat energy Titania yang berfluktuasi.


Dia sudah mengira bahwa - mungkin, dia tidak bisa menandinginya meskipun dia sudah masuk ke fase bertarung.


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


Dataran tinggi, padang rumput di bukit hijau.


Kaguya, gadis gnome bertelinga runcing yang mengenakan baju kimono putih dengan gaya rambut twintail, menangkis setiap serangan sambil berusaha mempertahankan gaya bertarungnya.


Lawannya adalah pilar surga keempat, Silva Einzgard. Satu-Satunya wanita di antara ketujuh pilar surga. Memiliki paras cantik dan memancarkan aura kharisma. Senjata mistisnya adalah whip sword emas. Senjata tersebut dapat memanjang dan bergerak selayaknya cambuk pada umumnya tapi memiliki tepi berbilah.


Untuk Kaguya yang baru-baru ini masuk ke ranah [legendary-class], masih belum mengerti cara menangani serangan dari senjata tersebut. Namun, dia berusaha untuk tidak terkena serangannya secara langsung.


Serangannya, dapat berbentuk pecutan, tebasan, dan bahkan tusukan. Karena Silva sangat ahli dalam mengendalikan senjatanya seolah-olah senjata tersebut memiliki kehendaknya sendiri untuk menyerang Kaguya.


Dapat terlihat bahwa Silva sangat ahli menggunakan senjatanya sampai-sampai arah dari setiap gerakan senjata agak kabur untuk dilihat karena pergerakannya terlalu cepat.


Di sisi lain, Kaguya pun tidak mau kalah. Dia masih mempertahankan gaya bertarungnya sambil menangkis setiap serangan yang datang.


Dilihat dari perspektif lain, Kaguya seperti berada di pihak yang ingin kalah karena jangkauan dari serangan katananya tidak dapat menjangkau Silva. Sedangkan Silva sebaliknya justru selalu menghujani Kaguya dengan serangan. Perbedaannya dapat terlihat jelas. Kaguya mengerti akan hal itu.


Namun, Kaguya memilih terus bertahan dan mau terus menerus diserang olehnya bukan karena kewalahan, tetapi karena sedang mengamati. Kaguya baru saja mencapai ranah [legendary-class], oleh karena itu dia memiliki motivasi untuk memahami setiap gaya bertarung musuh dalam pertempuran.


Di sisi lain, Silva pun sama. Dia tidak merubah pola serangannya karena dia sedang menunggu, sampai mana Kaguya bisa bertahan.


Kedua wanita ini, meskipun tidak mengatakan sepatah katapun dalam pertarungannya, tetapi hati dan pikiran mereka sama. Mereka memiliki pola pikir yang sama dan juga memiliki pertanyaan yang sama, yaitu "apa yang akan dia lakukan selanjutnya?".


Selain itu, mereka tahu mereka tidak bisa terus menerus bertarung sedemikian rupa, mereka memiliki motif untuk menjatuhkan serangan mereka kepada lawan namun terhalang dengan gagasan menunggu lawan untuk bergerak atau menyerang duluan.


Berpikir untuk tidak lengah sampai saat terakhir meskipun lawan lebih lemah daripada mereka, itulah alasan mereka mempertahankan posisinya.


Sampai hingga beberapa jam telah berlalu setelah penyerbuan kelompok Albert ke istana Nodens, Kaguya dan Silva masih saja terus bertarung. Mereka tidak kelelahan sama sekali meskipun lokasi di sekitar mereka sudah hancur akibat dampak dari setiap serangan yang sangat destruktif.


"Hei..."


Sadar terhadap lokasi yang sudah tidak indah lagi, Silva menghentikan serangan bertubi-tubinya. Dia menarik kembali whip swordnya, kembali ke bentuk pedang biasa.


Tentunya, Kaguya juga berhenti bertahan karena sudah tidak ada serangan lagi. Dia terlihat sangat santai saat sedang menyarungkan katananya seolah-olah pertarungan sebelumnya hanyalah latihan.


"Ini tidak ada habisnya, kenapa Anda tidak mau menyerangku sama sekali?"


Bosan menunggu, Silva berbicara sekali lagi. Dan juga, dia heran dengan sikap Kaguya yang biasa-biasa saja. Seperti tidak memiliki niat untuk bertarung, padahal Kaguya menangkis setiap serangan dengan sungguh-sungguh. Hanya saja itu tidak tersampaikan pada Silva.


"Tentu saja aku ingin menyerangmu, tapi... Anda sendiri, kenapa pola seranganmu sangat monoton? Kalau Anda tidak serius, mana mungkin aku mau serius."


Kaguya baru saja berbohong. Dia tentu saja serius di setiap pertarungannya, tapi dalam perspektifnya, Silva memang terlihat seperti sedang bermain-main.


"H-Hmph, kenapa aku harus serius melawan makhluk bumi sepertimu! Kalau aku serius, Anda akan langsung kalah. Aku hanya tidak ingin mengakhirinya seperti itu, aku ingin terus menyiksamu sampai Anda mau menyerah dan memohon ampunan kepadaku!"


"Geh, buruk banget sifatmu."


"Aku tidak ingin dibilang seperti itu dari orang yang bersekutu dengan iblis!"

__ADS_1


"..."


__ADS_2