Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Perintah Dewa.


__ADS_3

Berdiri di sebuah Altar menghadap patung besar dengan kedua tangan yang ditempatkan di dadanya, seorang high priest wanita bernama Michelle sedang melakukan pendekatan kepada dewa.


Seorang gadis berpakaian religius dengan rambut panjang hitam, matanya tertutup untuk memfokuskan kesadarannya agar pesan dari dewa bisa dia dengar.


Kemudian dia membuka mata indahnya perlahan, dan menghela nafas setelahnya. Selesai beribadah, dia berbalik. Di belakangnya sudah terdapat tiga pria dari ordo kesatria suci, jubah putih dengan lambang kuil suci di tubuh mereka adalah pakaian resmi dari ordo tersebut.


"Aku, telah mendapatkan pesan baru dari dewa. Tidak, mungkin ini lebih tepatnya disebut perintah."


"Perintah apa yang Anda dapatkan, Nona Michelle?"


Gadis itu ingin menyampaikan pesannya, wajahnya gelisah. Lalu pria tampan dengan perlengkapan yang lebih bersinar daripada kedua orang di dekatnya, bertanya.


Dia adalah Erick, seorang kesatria suci sekaligus orang yang menjabat sebagai Ketua Kesatria Paladin, dimana kedudukan tersebut merupakan pangkat tertinggi dari jajaran kesatria suci kerajaan.


"Uh, dewa-- beliau ingin kita berperang."


"Sudah kuduga."


"Eh?"


Sambil membenarkan kacamatanya, seorang pria bernama Chris yang merupakan seorang wakil kapten kesatria paladin, sudah meramalkan apa yang ingin dikatakan Michelle.


"Aku sudah memikirkannya sejak kita mendapatkan perintah dari dewa untuk mencari keberadaan malaikat bernama Freya. Aku pikir dia adalah malaikat yang melarikan diri dari surga, itu sebabnya kita disuruh untuk mencarinya. Lalu, setelah melihat raut wajah Anda yang khawatir telah membuat kecurigaan saya semakin besar."


"Apa-Apaan itu."


"Diamlah."


Pria terakhir bernama James, merasa jijik dengan cara berpikir Chris. Dia adalah kapten ordo kesatria suci yang memerintah 15 ribu pasukan kesatria suci milik kuil. Dia juga merupakan seorang paladin.


Paladin merupakan kesatria suci terpilih, mereka memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kesatria lainnya, dan di kerajaan ini mereka hanya ada 14 orang, termasuk Erick, Chris, dan James.


"Apa maksudmu, setelah malaikat bernama Freya ditemukan, kita disuruh untuk menangkapnya?"


"Mungkin seperti itu (?) bagaimana menurutmu, Nona Michelle?"


"Ah, aku agak kurang yakin, tapi... Kita memang mendapatkan perintah untuk menyerang suatu negara yang di dalamnya terdapat malaikat tersebut."


Michelle tidak mendapat perintah yang begitu spesifik, dia hanya meragukan apapun yang akan terjadi di masa depan. Dia bukanlah gadis petarung, hanya gadis yatim-piatu yang dibina oleh kuil dan dengan beruntungnya bisa menjadi saint karena kekuatan suci yang dia dapatkan secara kebetulan.


"Tapi, lawannya adalah negara itu, kan? Apa kalian yakin tentang itu, kita mungkin akan melakukan pertarungan terbesar sepanjang sejarah."


"Apa yang kau bicarakan, James! Kita adalah paladin kuil dewa Nodens. Walau lawan kita adalah iblis sekalipun, kita tetap harus berperang. Tidak, justru kita memang sedang melawan iblis. Ingat alasan kenapa negara itu begitu terkenal? Itu karena mereka membunuh 500 ribu manusia hanya dalam waktu satu hari, jika mereka bukan iblis lalu disebut apa lagi mereka itu?"


Chris meningkatkan moral James. Seluruh dunia sudah mendengar nama negara tersebut karena perbuatan genosida mereka, tidak aneh melihat James khawatir seperti itu.


Namun pada kenyataannya, melawan negara tersebut memang akan mendatangkan ketakutan bagi siapapun, bagaimanapun juga itu adalah negara yang isinya penuh dengan naga.


"Saint! Selain perintah untuk berperang, apa Anda mendapatkan pesan lainnya?"


"Um, maaf Kapten, hanya perintah itu yang saya dapatkan."


"Begitu ya. Maka tidak ada masalah, bukan? Mungkin ada alasan lain kenapa kita harus memerangi negara itu, sayangnya dewa tidak mau mengatakannya. Kalau begitu kita hanya perlu mengikuti perintahnya, lagipula membiarkan para naga mendirikan sebuah negara dan berbuat seenaknya, mungkin tidak akan baik bagi umat manusia. Selain itu, kita berada di pihak dewa, kita pasti akan mendapatkan bantuan dari dewa."


Erick optimis. Tidak mungkin dewa menuntun penyembahnya masuk ke dalam kehancuran, itu apa yang dia percayai. Sikap positif seperti itu juga yang membuat dia menjadi kepala kesatria paladin.


"Lalu bagaimana? Haruskah aku mempersiapkan para kesatria?"


"Tidak perlu terburu-buru. Kita kumpulkan informasi sebanyak mungkin, lalu kumpulkan orang sebanyak yang kita bisa. Kalian berdua bekerjasamalah."


"Dimengerti!" ×2


Sebelum melakukan perang, mereka memilih untuk menyusun strategi lebih dulu karena itu bukanlah perang untuk bunuh diri. Dan kemudian, mereka pergi dari ruangan, meninggalkan Michelle. Michelle hanya bisa mendoakan keberhasilan mereka dari sana.


\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=


"Begitulah keadaan yang terjadi di kuil utama kerajaan suci. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pasti akan menyerang ke sini."


"Sigh~ semua jadi semakin merepotkan saja."


Aku mengeluh setelah Niks melaporkan bahwa kesatria suci dari kerajaan suci mendapatkan perintah berperang melawan kami dari Nodens.


Si Nodens itu membuatku jengkel saja. Tidak hanya datang ke wilayahku dan membuat masalah, tetapi dia juga menambahkan pekerjaanku, sial!

__ADS_1


Mengurus para kesatria suci mungkin masih mudah, hanya bagaimana aku harus menjelaskan perang ini dengan negara tetangga dan afiliasi kami?


"Albert, jangan marah."


"Siapa yang marah?"


"Lihat, matamu berubah lagi!"


Ugh, dia begitu terus. Sekarang emosiku mudah sekali terbaca oleh Freya karena mataku kadang-kadang berubah ketika aku merasa kesal atau marah.


Aku sudah berusaha untuk menyembunyikannya karena berbahaya jika ada manusia asing melihat mataku dalam bentuk seperti itu, tapi tidak mudah untuk mengontrolnya. Itu seperti suara perut yang berbunyi ketika lapar, kita tidak bisa menyuruhnya diam kecuali kita membuat perut kita kenyang.


Ngomong-Ngomong, aku dan semua orang sedang berada di meja konferensi lantai 2. Kembali dari kerajaan merfolk, kami langsung mengadakan rapat untuk membicarakan perihal perang.


Perang. Agak aneh untuk menyebutkannya, sebenarnya aku hanya ingin memukul Nodens, berpikir kalau semua masalah bisa diselesaikan dengan cara memberi makhluk itu pelajaran. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan orang-orang di sekitarnya.


Dengan kata lain, jika aku ingin memukulnya, aku harus melewati mayat bawahannya dulu untuk bisa mencapainya.


Sungguh, kita benar-benar akan berperang sekarang. (?)


Memang, ini bukan seperti mengabaikan Nodens tidak akan terjadi apa-apa. Padahal dia sudah memulai pergerakannya dan bahkan menyuruh para penyembahnya untuk ikut menyerang kami.


Sangat gila. Kepalanya pasti hanya diisi dengan energi Mana. Atau mungkin dia tidak ingin dipermalukan karena pernah datang ke sini tetapi pulang dengan tangan kosong? Bahkan wanita yang dia cari-cari selama ini ternyata sudah hamil, itu sangat menyedihkan dari sudut pandang dia, mungkin. Aku tidak bisa mengerti.


"Nava, ke sini, duduk bersamaku!"


"Jangan sama dia, duduk sama aku aja di sini lebih nyaman."


"Nava, kamu jangan mudah terayu oleh mereka, datang saja kepadaku!"


Di sisi Einherjar, terutama para gadis-gadisnya, Veronica, Raphael, dan Sophia — sedang berusaha mendapatkan Nava. Kami belum memulai rapatnya, dan Nava sedang asik berlarian di tengah-tengah meja. Di situlah gadis-gadis itu ingin merawat anak itu agar tidak berlarian di atas meja. Dia semakin populer dari waktu ke waktu.


"Hah? Raphael, kamu bilang apa barusan? Nava akan duduk bersamaku, tahu."


"Dengan orang sepertimu? Fufu, itu tidak akan baik jika dia tertular penyakit jomblomu."


"Apa kau bilang? siapa yang jomblo? Aku cukup populer, tahu!"


"Nava, jangan dengarkan pembicaraan mereka yang tidak berguna itu, datanglah kepadaku."


"Cih, kenapa membahas itu sekarang? Ini tidak ada hubungannya, tahu! Kemampuanku memang lebih hebat daripada kalian!"


"Apa!?"


Mereka berisik. Raphael dan Veronika memang sering bertengkar, namun semenjak Sophia datang, keributan di sekitar mereka semakin bertambah.


Yah, mari abaikan mereka. Di sebelah William, Mary kelihatannya sangat ingin mengambil Nava. Entah kenapa tatapannya terhadap Nava seperti anak kecil yang sedang melihat boneka baru. Nava mungkin akan mendapatkan masalah jika dia terjatuh ke pelukan Mary.


Sebenarnya, tidak hanya mereka yang menginginkan Nava, tetapi hampir semua orang di meja ini sudah berusaha memanggilnya. Sayangnya, Nava malah kebingungan karena dipanggil banyak orang. Ibunya, Rin, hanya diam saja melihat Nava kebingungan seperti itu. Mungkin dia sedang membiarkan Nava memilih sendiri siapa orang yang ingin dia dekati.


Kalau ibunya memang berpikir demikian, maka aku juga akan membiarkannya seperti itu.


"Ignis, kamu punya ide untuk mengurus pasukan dari Kerajaan Suci itu?"


"Aku pikir hanya dengan kekuatan polisi kita sudah cukup untuk mengurus mereka."


"Hmm, aku juga berpikir demikian, sih. Tapi rasanya tidak enak menyuruh para naga untuk ikut dalam perang ini. Ngerti enggak? Itu seperti kita melibatkan mereka ke dalam masalah kita, kan?"


"Uh, Anda memang benar."


Ignis melihat Freya setelah aku mengatakan itu. Alasan kenapa Nodens ke sini dan ingin berperang dengan kami adalah karena kami menginjak-injak harga dirinya.


Tapi, tentu saja aku tahu kalau para naga itu pasti akan menuruti perintah apapun yang kami berikan. Hanya saja, membayangkan salah satu di antara mereka mati di dalam perang ini, entah kenapa membuat perasaanku tidak enak.


Payah banget, padahal aku pernah berbicara untuk menggunakan apapun yang aku punya demi keselamatan keluargaku sendiri seperti karakter antagonis dalam fiksi. Tapi sekarang malah... Sigh, jangankan menggunakan mereka sebagai pion, aku malah tidak berani mengirim mereka ke dalam perang.


"Master, kalau Anda takut merasa bersalah karena melibatkan kaumku ke dalam perang ini, bagaimana jika kita tanyakan langsung pendapat mereka?"


"Maksudmu?"


"Kalau mereka ikut perang ini dengan sukarela, Anda pasti tidak akan merasa bersalah, Master!"


Luminous berusaha membuat aku berhenti khawatir.

__ADS_1


Ada apa dengan naga tampan ini. Aku juga mengerti kalau para naga akan ikut ke dalam perang ini karena rasa balas budi mereka atau karena alasan keberadaan dia sendiri (Luminous, selaku dewa mereka), juga akan membuat mereka mau mengikuti perang. Tidak, justru mereka pasti akan ikut berperang karena kesukaan mereka terhadap pertengkaran. Ya, aku tahu itu, mereka pasti.


Tapi bukan itu yang aku pikirkan. Dari dulu, aku malah ingin menggunakan mereka sebagai pionku karena mereka terlihat berguna.


"Fufu."


"Kenapa ketawa?"


"Perasaanmu terhadap mereka, telah berubah, tahu."


Freya berbicara seperti dia bisa menembak isi pikiranku, padahal...


"Kenapa kamu jadi sombong seperti ini dari hari ke hari? Apa kamu salah makan?"


"Hm!?"


Alis Freya berkerut setelah mendengar pertanyaanku, dia kesal. Dan urat mulai muncul di pelipisnya.


"Kamu tidak ingin mengatakan apa-apa?"


"Hmph."


Dia membuang muka. Ah, bagian itu, aku suka banget membuat dia kesal.


"Jadi bagaimana Luminous? Aku harus bertanya pada siapa kalau ingin meminjam kekuatan naga?"


Sebenarnya, aku sudah tahu harus bertanya pada siapa. Pasti ke Azure si pemimpin mereka, tapi di sini aku ingin Luminous berprilaku seperti bawahanku. Jadi, aku akan mengikuti sarannya yang tadi.


"Saya sudah memanggil Azure dan yang lainnya."


"Ohh!"


Dia bergerak cepat. Ternyata Azure, Kanis, Selena, dan Edwin sudah menunggu aku memanggil mereka di depan ruangan ini.


Mereka masuk dan berbaris di sebelahku.


"Aku tidak ingat pernah memanggil Edwin?"


Apa kita akan menggunakan kekuatan dari suku Huldra juga? —Itu yang ada di pikiranku sambil melihat wajah shock Edwin. Memangnya suku Huldra bisa apa. Bertani? Menggunakan sayuran sebagai senjata proyektil untuk membunuh musuh? Mirip game jika aku mencoba membayangkannya.


"Yang Mulia, saya akan ikut ke medan pertempuran!"


Dengan semangat anehnya, Edwin mengajukan diri. Jika diingat dengan baik, dia juga pernah seperti ini ketika pangeran dari Kerajaan Herunia datang ke sini untuk menangkap naga, kan? Ah, itu sudah lama sekali, bikin nostalgia.


"Hehe, aku suka semangatmu, Edwin. Baiklah kamu akan ikut dalam perang kali ini."


Aku menyetujuinya. Semakin banyak bantuan semakin baik, bukan? Tapi, tunggu. Bagaimana kalau dia mati? Bukankah koleksi spesies Minotaurku akan menghilang? Baiklah, mari ingatkan dia untuk tidak mati.


"Yang Mulia!" ×3


"Kecuali Azure, aku jarang sekali melihat kalian bertiga. Sekarang kalian semua sudah terlihat hebat dengan pakaian itu."


Aku berbicaralah tentang jas mahal mereka. Itu adalah pakaian buatan kami yang desainnya berasal dari ingatanku. Anehnya, setelan eksekutif perusahaan itu jadi erotis ketika dipakai oleh Selena. Kenapa??


Ngomong-Ngomong, setelan jas tersebut sangat menarik perhatian ketika Azure datang denganku ke acara Kongres kemarin. Itu bakalan langsung laku ketika dijual... Ah!


"Tidak hanya pakaiannya, kami secara pribadi juga sudah berkembang. Tuan Albert."


"Apa benar? Kalau begitu semua urusan luar negeri mulai sekarang kalian yang urus, ya?"


"Oh! Itu dia! Biar saya saja yang urus bagian itu!"


Kanis bangga dirinya sudah berkembang, sedangkan Selena berniat mengerjakan bagian kementerian luar negeri. Mereka berdua sudah bukan naga liar lagi, aku sangat senang."


"Begitu ya. Tidak sia-sia kami merawat kalian. Mulai tahun depan kalian pasti bisa mengurus masalah negara kalian sendiri."


"Iya, Tuan Albert tidak perlu khawatir lagi, kami akan mengurus negara kami sendiri."


Terlihat sangat dapat diandalkan. Berarti, setelah ini aku dan keluargaku sudah tidak dibutuhkan lagi oleh mereka.


Hanya belajar tulis menulis dan beberapa hal tentang politik dalam satu atau dua tahun memang bisa langsung menjadi pemerintah?


Tentu saja bisa jika itu adalah mereka. Karena bagaimanapun juga, mereka semua adalah penguasa sejak awal. Mana yang baik dan buruk bisa mereka tentukan sendiri karena mereka adalah penguasa. Sedangkan cara untuk mengembangkan negaranya, mereka bisa meminta saran dengan pemerintah yang lainnya.

__ADS_1


(Ah, sebentar lagi aku mungkin akan menjadi pengangguran, atau seorang pensiunan. Hidup hanya dengan memanfaatkan keuntungan dari dividen investasi.)


__ADS_2