
Kembali ke observatorium.
Aku dan keluargaku melihat aksi Reona — yang memberi peringatan ke Kekaisaran — dalam diam.
"Ma-Maafkan aku, Tuan Albert. Aku akan mendidik Reona lebih keras agar dia tidak melakukan hal memalukan seperti itu lagi di masa depan."
Ignis meminta maaf padaku, dia terlihat sangat menyesal dan menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu seperti itu. Kalau tidak salah, Reona adalah naga termuda diantara mereka, kan? Jadi itu tidak masalah. Justru sebaliknya, dia terlihat sangat lucu."
Untukku, sikap seperti itu benar-benar tidak menimbulkan masalah. Dan justru sebalik, mendisiplinkan Reona hanya karena hal tadi malah akan menjadi persoalan. Karena bagiku, takut akan kematian merupakan hal yang wajar.
Baiklah kesampingkan itu. Istriku, Merlin, sedang berbaring nyaman di atas sofa sisi kiriku dan telah menggunakan pangkal pahaku sebagai bantalnya.
Dia tidak tidur, hanya dengan nyaman berbaring di sana. Aku sedang mengelus pipi dan rambutnya dengan penuh kasih sayang.
Sungguh, ini bukan tempat dan waktunya untuk bermesraan. Hanya saja, perlakuan seperti ini adalah permintaan Merlin sendiri sebagai ganti agar dia tidak fokus terhadap masalah sebelumnya, ketika dia ingin macam-macam dengan musuh.
Daripada pergi untuk mengalahkan musuh, mungkin bermesraan di tempat dan waktu seperti ini lebih baik.
Dia juga sudah tidak peduli dengan pertempurannya, dan hanya menikmati pelayanan yang telah aku berikan.
Tidak, sejak awal dia memang tidak peduli dengan urusan duniawi. Tugasnya sebagai istri dan Ratu lebih dia utamakan ketimbang hal lain.
Bergeser ke kanan, Freya sedang menatap layar monitor dengan wajah cemas.
Tidak perlu bertanya lebih jauh, dia pasti sedang berharap agar mereka (musuh) mau mundur dari medan pertempuran karena Reona sudah memberi peringatan.
Malaikat penuh kasih. —Seperti itulah sosok Freya sekarang. Matanya penuh keprihatinan terhadap musuh, padahal mereka adalah pihak yang bersalah.
Namun Freya pasti memiliki pemikiran yang berbeda. Seperti - tidak semua orang di sana adalah orang jahat. Pasti masih terdapat beberapa prajurit berhati baik, memiliki keluarga, dan hanya mengikuti peperangan karena tuntutan negaranya.
Bagaimanapun, setiap orang memiliki urusan dan masalah mereka masing-masing. Aku tidak bisa menghakimi mereka semua adalah orang jahat karena aku belum mengetahui sifat mereka perindividu.
Yang aku tahu hanya kedua Kekaisaran ingin memperluas wilayah kekuasaan mereka. Dan peperangan seperti ini memang rutin dilaksanakan setiap beberapa dekade.
"Albert, kamu benar-benar ingin membinasakan mereka? Tidak bisakah kamu memberi satu pukulan untuk memperingati mereka dan biarkan mereka pergi?"
Freya sangat cemas, menatap wajahku dengan wajah penuh kekhawatiran. Mata birunya berkaca-kaca dan terlihat sayu.
Freya benar-benar malaikat secara fisik dan mental. Sangat mengejutkan mengetahui dia merupakan salah satu istriku sekarang.
Selain itu, aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan mengurungkan niatku untuk menyerang mereka. Tapi melihat Freya seperti ini membuat batinku...
Di saat seperti ini, Merlin tiba-tiba bangkit dan merapihkan posisinya untuk duduk sambil melihat ke arah kami berdua. Dia terlihat lebih mencemaskan kami daripada apapun.
Mungkin tidak akan menjadi hal yang bagus jika aku terus bersikap keras kepala, dan lebih baik menuruti kemauan Freya?
Lagipula, dia adalah istriku, bukan? Sangat jarang melihat dia meminta sesuatu sampai sejauh ini.
Sebagai suami, aku juga seharusnya memikirkan perasaan Freya, tidak boleh mengedepankan keegoisanku sendiri.
"Sigh, kemari. Jangan membuat aku marah. Kamu hanya ingin orang-orang itu selamat, kan?"
Sambil menepuk sofa sisi kananku, aku menyuruh Freya untuk mendekat. Dia sedikit tersentak ketika aku menekankan dan menuruti kemauanku dengan wajah bermasalah.
"Merlin juga, jangan melihat kami seperti itu. Kamu tidak akan mengatakan hal-hal seperti "pergi ke medan perang" lagi, kan? Jangan lakukan itu, itu hanya akan menambahkan masalah."
Aku juga memperingati Merlin, dia sedikit tersentak dan meminta maaf sambil mendekat.
Dua wanita itu merapatkan posisi mereka denganku dan menaruh kepala mereka di masing-masing pundakku.
Masing-masing tanganku merangkul mereka, menyusuri lekukan tubuh mereka yang indah, empuk, dan hangat.
Ah, ini terlihat seperti aku adalah Raja yang tidak baik, dan masih terdapat Ignis, Niks, serta para kunoici di sekitar kami.
Tapi kesampingkan itu.
"Freya, kamu hanya ingin mereka tetap hidup, kan?"
Aku bertanya kembali. Sebagai balasan, Freya hanya mengangguk, tidak melihat atau berbicara padaku. Mungkin masih terpengaruh dengan perkataanku sebelumnya.
Tampaknya aku telah bersikap terlalu banyak. Jadi aku mengelus kepalanya.
"Baiklah, karena ini adalah permintaanmu, aku akan menurutinya. Tidak ada satupun yang akan kubiarkan mati. Apa itu sudah cukup?"
Aku menyelesaikan kalimat, kemudian Freya langsung mengarahkan wajah cantiknya kepadaku.
"Tidak ada yang mati, kamu serius?"
"Ya, aku serius."
Aku menempelkan hidungku dengan hidung Freya sambil menjawab pertanyaannya dengan pelan. Freya tersenyum, dan wajahnya memberikan perasaan menyegarkan.
__ADS_1
Namun seketika berubah ketika aku mengatakan "Tapi" dengan pelan.
"Eh?"
Kebingungan muncul di wajah Freya.
"Aku hanya berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar mereka tidak mati. Tapi, aku masih akan membunuh mereka."
Aku menjelaskan dengan lembut.
Bagi manusia biasa, kalimat itu pasti akan menjadi pertanyaan besar untuk kepala mereka. Tapi bagi makhluk spiritual seperti Freya, itu tidak menimbulkan persoalan rumit.
Dan dari ekspresinya, aku melihat Freya cukup tenang dan menelaah kalimatku dengan wawasannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Aku akan memindahkan jiwa mereka ke tubuh Homunculus."
Aku langsung menjawab dengan santai.
Aku baru saja menemukan gagasan seperti ini ketika sedang mempertimbangkan keinginan Freya. Dengan cara ini, keinginanku untuk memusnahkan mereka dan memperlihatkan kekuatan kami kepada dunia, serta keinginan Freya untuk membiarkan mereka tetap hidup akan terpenuhi.
Namun... Total mereka semua — baik itu pasukan Kekaisaran Dortos maupun Karamia — berjumlah 525.000 prajurit, tidak termasuk para Perwira dan Raja.
Itu adalah jumlah yang sangat besar, dan hatiku terasa telah diremas ketika aku mengatakan ingin memindahkan jiwa mereka ke Homunculus.
Kenapa seperti itu? Bayangkan saja, tubuh Homunculus itu sangat spesial dan terbuat dari bahan baku ramuan terbaik kami, Ambrosia. Itu tidak bisa disamakan dengan tubuh biasa mereka.
Tapi, ini demi salah satu istriku, Freya. Aku rela mengorbankan tubuh Homunculus sebanyak itu untuk mereka.
Tidak, aku berbohong, aku tidak rela sepenuhnya. Mereka akan dikerjakan di sini untuk membayar biaya tubuhnya. Aku akan memastikan kalau mereka akan bekerja keras untuk itu.
Freya melebarkan matanya, terkejut dan agak memundurkan sedikit tubuhnya. Tapi aku mencegah itu, karena aku memegang kepalanya, aku tidak membiarkan wajahnya menjauh seinci pun dari wajahku.
"Apa yang ingin kamu lakukan terhadap mereka?"
Dengan mata terbelalak seolah sangat cemas, Freya bertanya.
"Dengar baik-baik, jangan tiba-tiba memikirkan hal buruk tentangku, ok?"
Aku menenangkan Freya, dan kita saling menempelkan kening dan hidung kami masing-masing untuk mendekatkan perasaan kami.
Tinggal sedikit lagi, aku sangat ingin menciumnya. Tapi bila aku melakukan hal itu, sepertinya dia tidak akan senang.
"Baiklah, seperti ini. Aku akan mengambil jiwa mereka dan menaruhnya di Homunculus. Hanya itu, aku tidak akan menjadikan mereka alat untuk berperang."
Dengan sedikit tambahan "Aku akan menjadikan mereka sebagai alat untuk menghasilkan uang" seperti itu, tapi aku hanya mengatakan hal itu di dalam hati.
"Kamu tidak akan melakukan hal buruk terhadap mereka, kan?"
Suara Freya terdengar sedikit tenang. Kami saling menutup mata, dan tiba-tiba kedua tangannya menyentuh pipiku.
"Ya, palingan mereka hanya akan disuruh bekerja di sini."
Aku menyelesaikan kalimat. Kemudian Freya mengelus pipiku beberapa kali, mengatakan "Baiklah, aku mengerti. Terima kasih." dengan lembut dan langsung menciumku. Tentunya dengan penuh kasih sayang.
Lima ratus ribu lebih Homunculus hanya dibayar dengan ciuman... Kalian bisa melihatnya sendiri seberapa mahal karakter wanita bernama Freya ini.
Di sisi lain, Merlin tidak lagi meremas tanganku, seperti sudah lebih tenang karena aku dan Freya tidak bertengkar.
Lalu, mungkin Freya mengingat kalau di sini banyak orang, dia hanya menciumku sebentar dan menjauhkan diri.
Tentu saja, aku memahami hal itu. Aku juga telah menarik kembali tangan kiriku yang sedang merangkul Merlin. Dan kami bertiga kembali ke posisi semula.
Sigh, mungkin pengaruh hari perayaan dua minggu lalu masih terasa, kami selalu dalam suasana hati yang bergairah. Padahal biasanya kami bersikap sopan bahkan jika itu di depan para bawahan.
"Ngomong-Ngomong, butuh berapa lama kamu akan membuatkan Homunculus untuk mereka?"
Freya bertanya, sikapnya kembali ke kepribadian biasa yang elegan seolah kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.
Dan berbicara tentang Homunculus yang berada di fasilitas, mereka sebenarnya hanya berjumlah 200 unit. Sangat tidak memenuhi kebutuhan saat ini.
Aku memiliki Homunculus buatan Hydra di dalam tubuhku, jumlahnya sekitar dua ratus ribu. Dan masih tidak mengimbangi setengah dari kebutuhan.
Namun, Hydra mengklaim sudah memahami prinsip kerjanya, dan dapat mereproduksi dengan cepat menggunakan waktu di dimensi miliknya.
"Setelah perang berakhir, mereka semua akan selesai."
"Setelah perang... Jadi, tanpa sepengetahuan kami, kamu diam-diam telah membuatnya sendiri?"
(Oi, Oi, kenapa Freya bisa dengan cepat memiliki kesimpulan seperti itu? Seberapa jauh dia telah mencurigaiku?)
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha untuk mencari alasan yang bagus untuk menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
"Jangan berpaling."
Freya berkata, dan *hit* dia mencubit pinggangku tanpa mempertimbangkan aku tersakiti atau tidak.
"H-Hei, hentikan. Itu sangat sakit, Freya! Tidak, Sayang!!"
Jadi aku memohon.
Sungguh, kita baru saja berbaikkan tetapi kenapa bisa sampai seperti ini lagi?
Benar, ini semua salah para manusia itu. Aku harus mempekerjakan mereka dengan keras nanti.
*****
Di tengah-tengah lahan tandus, Zaakh berlari dengan bentuk naganya. Menuju ke camp Kekaisaran Karamia sendirian.
Zaakh mendapatkan perintah dari Monta untuk menjadi pembawa pesan dan menyampaikan peringatan terakhir kepada Kekaisaran untuk membatalkan operasi agresi militer mereka, sama seperti apa yang dilakukan oleh Reona.
Zaakh dan Monta memiliki status yang sama sebagai salah satu dari "Empat Belas Member Elite" kepolisian.
Dan biasanya, setiap naga tidak akan mau mengikuti perintah yang berasal dari suku lain, apalagi jika status atau kekuatan mereka sama.
Namun untuk saat ini berbeda. Kedatangan Albert dan keluarganya telah membuat ketiga suku naga menjadi satu dan mengabaikan perbedaan suku.
Mulai sekarang mereka harus bekerja sama, tidak peduli pihak lain berasal dari suku naga yang mana, mereka tetap harus mengikuti perintah sesuai hierarki yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, Monta saat ini sudah ditunjuk oleh Ignis sebagai pemimpin regu dan Zaakh tidak bisa mengabaikan perintahnya.
Zaakh memang tidak suka diperintah oleh suku lain, tapi tidak sampai merasa kesal.
Selama setahun, Zaakh sudah tinggal dan berhubungan dengan suku lain. Sekarang dia sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan mereka, menganggap mereka sebagai rekan satu bangsa.
Berdasarkan perintah, sekarang Zaakh sedang menuju camp musuh untuk memperingati mereka agar membatalkan operasi militer.
Zaakh berlari dengan berani, cukup percaya diri dan tidak peduli dengan kekuatan pihak lawan karena dia memiliki kemampuan.
Zaakh bahkan sempat berfikir untuk memusnahkan mereka semua sendirian, tapi dia mengurungkan niatnya karena suatu ingatan.
Pada saat Lembaga Kepolisian baru saja didirikan dan menyusun anggota, Zaakh dan para naga yang lain dibina oleh Ignis agar menjadi polisi yang kuat.
Dan setelah menjalani berbagai macam pelatihan dan pendidikan, Zaakh memiliki kekuatan serta wawasan yang lebih luas daripada sebelum dia menjadi anggota kepolisian.
Tidak lama kemudian, Zaakh dan tiga belas naga tertentu mengalami terobosan kekuatan jiwa dan mencapai tahap [Epic]. Itu merupakan suatu kebahagiaan bagi mereka.
Karena kekuatan mereka meningkat, mereka menjadi besar kepala dan berfikir bisa melawan siapa saja.
Namun, tiba-tiba Ignis mengadakan latihan kelompok, ke-Empat Belas Member Elite melawan lima puluh naga peringkat [Besar]. Ditambah dengan Ignis sebagai komandan, jumlah kelompok Ignis menjadi 51 orang.
Biasanya, Zaakh dan member elite lainnya bisa langsung mengalahkan mereka semua. Bahkan jika jumlah lawan mencapai 200 orang, member elite masih bisa mengatasinya.
Namun itu semua menjadi berbeda ketika Ignis menjadi pemimpin kelompok dan mengomandoi mereka.
Pergerakan mereka menjadi lebih terkoordinasi dan sulit untuk menembus pertahanan mereka. Setiap serangan dilancarkan dengan gabungan dan sangat sulit untuk menahannya.
Hasilnya, kelompok member elite kalah hanya dengan lima puluh naga peringkat [Besar].
Pertarungan itu telah membuka mata para member elite untuk tidak meremehkan kekuatan musuhnya.
Hingga saat ini, Zaakh masih mengingat pelatihan itu dengan baik dan berusaha untuk tidak menyepelekan lawan.
Sesampainya di dekat camp musuh, sudah banyak prajurit telah mengacungkan pedang mereka ke arah Zaakh di depan tenda mereka masing-masing.
Hal pertama yang perlu Zaakh lakukan adalah bertransformasi ke bentuk manusia dan memastikan tidak ada jebakan atau apapun di depan jalannya.
Dilanjutkan dengan menganalisis kekuatan mereka sekaligus mendeteksi keberadaan makhluk kuat di antara sejumlah tenda musuh.
Hm! —Zaakh terkejut telah mendapatkan satu individu dengan esensi Mana yang cukup besar. Atau bahkan lebih besar daripada dirinya sendiri.
Namun dia berada di tengah-tengahnya camp, dekat dengan tenda — yang diduga — tempat tinggal Raja mereka.
"Jangan mendekat, atau kami akan membunuh mu!!"
Salah satu kapten pasukan Kekaisaran memperingati. Dia berdiri di belakang barikade yang terbuat dari kayu dan kawat.
Zaakh ingin tertawa mendengar hal itu. Bagaimanapun juga, mereka ingin melakukan perang di sini. Membunuh sekarang atau nanti, itu tidak akan menjadi perbedaan.
Namun Zaakh memilih untuk tidak bermain-main dan ingin menyelesaikan tugasnya sebagai pembawa pesan secepat mungkin.
"Beritahu kepada pemimpin kalian. Kami akan mengampuni kalian jika kalian kembali ke negara kalian. Kami akan memberikan waktu selama satu jam, jika selama itu kalian tidak kembali, kalian akan MUSNAH! Sekali lagi, sampaikan hal ini kepada Raja kalian, ok?"
Zaakh berteriak. Tidak seperti Reona, Zaakh tidak mengerti sihir pengeras suara. Jadi dia mengambil banyak nafas selesai berteriak.
Menyelesaikan misinya, Zaakh memutar tubuhnya dan berjalan untuk kembali ke camp sekutu.
__ADS_1