
Bangun di tempat tidur, aku sudah berada di tengah antara Merlin dan Freya.
"Hm, aku ingat dengan jelas apa yang sebelumnya aku lakukan. Ini sangat memalukan."
Apa yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Aku berusaha melupakannya dan mengesampingkan itu.
"Selamat pagi, Albert."
"Kamu tidak tidur?"
"A-Aku juga baru saja bangun karena mendengar suaramu."
Seperti biasa, Merlin adalah wanita penuh misteri. Apa dia benar-benar tidur atau tidak, aku tidak ingin mengetahuinya. Tapi hari ini dia tidak terlihat semangat. Walaupun dia memberi salam dengan senyuman, namun aku tahu kalau itu senyum yang dipaksakan.
"Merlin, apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?"
"Tidak, kok."
"Apa kekhawatiranmu itu karena aku?"
"Tidak, tidak, tidak. Aku tidak mengkhawatirkan apapun! Sungguh!"
"Uh, ok."
Ternyata itu hanya perasaanku saja, kurasa ini tidak sesederhana seperti yang biasa.
Di sebelahku, Freya masih tertidur. Seorang ibu muda yang sangat pemalas. Kalau dipikir-pikir, dia denganku tidak pernah menyiapkan sarapan.
"Hngg!" —Erangan Freya, yang merasa terganggu karena aku memainkan wajahnya.
Kelihatannya dia masih ingin tidur, mari berusaha untuk tidak mengganggunya lebih jauh.
"Merlin, kamu mau buat sarapan?"
"Aku mau!"
Tidak seperti sebelumnya, barusan dia terlihat cukup semangat.
Mungkin karena aku sering menyuruhnya mengerjakan urusan manajemen kastil, sekarang dia jarang menyiapkan sarapan untuk kami. Itu sebabnya dia agak bersemangat di sana.
"Mau buat sarapan denganku?"
"Mau!!"
"O-Ok, mari kita ke dapur sekarang."
Dia semakin bersemangat. Kurasa karena suasana hatinya sudah membaik, mengajaknya bekerjasama adalah pilihan yang tepat.
Jadi, kami berdua pindah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk keluarga.
***
Di ruang makan, selesai menyiapkan sarapan. Mary dan Olivia menghadap.
"Kenapa? Kalian tidak menyukai sarapan yang aku buat?"
Aku bertanya. Tumben sekali ada orang yang ingin mengajak aku berbicara di saat makan seperti ini.
"Bukan itu, kami ingin meminta maaf karena telah membuat masalah untuk Anda kemarin."
"Kemarin? Itu bukan masalah, sungguh. Hari ini kalian akan bertanding untuk memperebutkan posisi istri pertama, kan? Kalau begitu makanlah sarapan ini untuk mengisi energi kalian." —(Kupikir mereka mau mempermasalahkan makanannya.)
"Apa itu makanan berenergi?"
Ah, si Mary berpikir kalau itu adalah semacam makanan untuk meningkatkan kekuatan. Padahal itu hanyalah makanan biasa.
"Benar, aku menyiapkan makanan ini untuk kalian sebelum bertanding. Dengan ini, kalian bisa bertarung dengan semangat."
Perkataanku itu, tidak sepenuhnya salah karena dengan makan kita bisa mendapatkan energi untuk tubuh bergerak.
"Ohh! Baik Tuan, saya akan laksanakan."
"Fumu, makan yang banyak."
Mary terlihat antusias seperti percaya pada kata-kataku.
Di samping Mary, Olivia mendengar percakapan kami dengan wajah bermasalah. Mungkin dia tidak menyangka kalau Mary mudah untuk dibohongi.
Kemudian mereka pergi ke tempat duduk mereka masing-masing, yaitu di sekitar William.
"Bisa-bisanya kalian berdua membuat sarapan tanpa aku."
Duduk di sebelahku, Freya mengeluh. Dia kelihatan iri karena tidak diajak memasak.
"Mana mungkin aku bisa membangunkan kamu yang sedang tertidur nyenyak dengan wajah manis begitu."
"K-Kalau kamu tidak bisa, Merlin bisa melakukannya, kan? Tapi kalian berdua malah pergi meninggalkanku."
"Nanti siang aku ingin pergi ke dunia Seraphim dengan Rainer, mau ikut?"
"Mau!"
Aku hanya mencoba mengalihkan topiknya, tapi dia langsung menjawab dan menerima itu tanpa jeda berpikir. Wajah jengkelnya juga sudah berubah menjadi tenang kembali.
Padahal, kupikir aku akan memerlukan waktu lama untuk mengubah moodnya, namun... Entah kenapa barusan dia sedikit berbeda.
***
__ADS_1
Menyelesaikan sarapan, kami pergi ke bukit di Dungeon, tempat biasa latihan untuk anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
Di sini kami mengadakan pertandingan antara Olivia VS Mary.
Di pojok lapangan terdapat tempat untuk beristirahat, kami duduk di sana. Lalu, karena ini merupakan pertandingan yang sangat jarang sekali terjadi, penontonnya menjadi cukup banyak.
Terutama ada Tethra. Karena urusannya dengan budidaya Homunculus sudah selesai, dia sedang senggang sekarang. Kemudian seluruh keluarga ikut melihat juga, termasuk anak-anak, Rin dan Nava.
Nava sedang bersamaku, dia tidak bisa tumbuh besar lagi karena dia memang sudah besar. Dengan kata lain, dia akan menjadi boneka kami untuk selamanya.
Tidak, maaf. Walaupun dia sudah besar dan tidak akan besar lagi, namun kecerdasan dan mentalnya dapat meningkat, di bagian sana kami membesarkannya. Akhir-akhir ini Nava seperti sedikit demi sedikit mengerti bahasa kami. Ketika kecerdasannya meningkat nanti, Nava pasti bisa mengubah bentuk tubuhnya sendiri, sesukanya. Sekarang, kami membiarkan anak ini tetap seperti ini (kecil dan lembut).
"Baiklah, pertandingannya bisa dmulai sekarang."
"Gao!!"
Di meja tempat beristirahat, aku mengumumkan dimulainya pertandingan itu. Semangatku dan yang lain sepertinya tersalurkan ke hati Nava.
Di tengah-tengah lapangan, Olivia dan Mary sudah bersiap diri. Dan ketika aku menyatakan dimulainya pertandingan, mereka langsung bertarung.
Olivia sebagai Elder Lich melawan Mary si Vampire. Seharusnya menjadi pertarungan antara kelas beratribut iblis, namun Mary sedikit berbeda.
Seperti yang diharapkan dari Mary, dia menggunakan kuku-kuku tajamnya untuk melakukan pertarungan jarak dekat. Dia langsung mendekati Olivia dengan cepat sambil mengarahkan kuku-kukunya, tidak dengan tinju melainkan jari-jari yang dirapatkan lurus.
Sementara itu, Olivia memegang tongkat kesayangannya yang terbuat dari kayu dan terlihat tua.
Benda yang sudah terpakai selama 200 tahun, tentu saja menua. Namun tongkat tersebut penuh dengan energi. Wanita cantik berambut putih dengan tongkat kayu tua, cukup eksentrik.
"[Tempest]!"
Pada saat Mary mulai mendekat, Olivia menciptakan angin kencang untuk menghambat pergerakannya. Kemudian dia menjauh dan tetap menjaga jarak dengan Mary.
"[Thunderstrom]!"
Tidak hanya badai angin, Olivia menyerah seluruh tenaganya untuk menciptakan badai hujan dan petir. Dia sangat bersungguh-sungguh.
Di sisi lain, Mary cukup tenang menanggapi badai dan petirnya. Dia bisa menghindar dari bilah angin berfrekuensi tinggi pada badainya, dan dengan mudah memprediksi jatuhnya sambaran petir.
Tempat ini seharusnya adalah bukit berkabut, namun sekarang sudah menjadi tempat badai angin, hujan, dan petir bersarang. Sangat kacau. Untungnya di tempat duduk kami memiliki atap untuk berteduh.
"Bangkit dari kematian, tuntaskan penyesalan semasa hidup, curahkan kebencian dan amarahkan semuanya kepada musuh. [Summons Undead: Dullahan, Banshee, Death Dragon] Datang!"
Chunibyo —Itu apa yang aku pikirkan ketika melihat Olivia merapalkan mantranya untuk memanggil pengikutnya. Sebuah gejala mental yang menghancurkan kehidupan (keseharian) pengidapnya. Anehnya, padahal dia yang melakukan itu, tetapi aku yang merasa malu.
*SCREAM**ROAR**ROAR*
"Gyahhh!!" ××
Kesampingkan itu, Olivia memanggil tiga Undead berwujud seorang kesatria, wanita, dan naga. Ketiga Undead ini memiliki daging telah membusuk di tubuh mereka, sangat menyeramkan untuk Atla, Eren, dan Alice ketika ketiga Undead itu berteriak.
Terutama Banshee. Wujudnya seperti hantu perempuan dengan baju putih dan rambut panjang. Ketika dia berteriak, Anak-anak juga ikut berteriak.
Yah, semua itu karena kesalahanku yang sering menceritakan hal-hal menakutkan kepada mereka. Karena melihat anak kecil ketakutan juga menjadi kesenangan bagi orang dewasa.
Selanjutnya, pertarungan menjadi serius. Melihat Olivia memanggil Undead, Mary tidak ingin kalah dan melakukan pemanggilan juga.
"[Familiar]!"
*ROAR**ROAR**ROAR*
Mary melakukan pemanggilan, lalu tiga monster berukuran besar bermunculan dan berteriak di sekitarnya. Monster humanoid berkepala kelelawar, monster harimau bertaring, dan monster serigala. Ketiga monster ini berwarna merah gelap.
"Maju!" ×2
Olivia dan Mary secara bersamaan menyuruh makhluk yang mereka panggil untuk bertarung.
Death Dragon besar menghadapi monster harimau dan serigala. Ukuran naga lebih besar daripada kedua monster Mary, dia bisa menghadapi dua monster tersebut sendirian dengan nafas mematikannya.
Sementara itu, monster siluman kelelawar melawan Banshee dan Olivia, kemudian Death Knight Dullahan melawan Mary.
Monster siluman kelelawar adalah tipe petarung udara. Dia bisa terbang dan menyerang Banshee dengan tinjunya dari udara. Ketika siluman kelelawar menyerang Banshee, Olivia memberikan dukungan dengan sihir anginnya untuk mencegah siluman kelelawar mendekati Banshee. Sementara itu, apa yang Banshee lakukan adalah berteriak, atau melakukan sihir dengan gelombang suara berfrekuensi tinggi yang dapat melukai siluman kelelawar tersebut.
Di sisi lain, Mary sama seperti siluman kelelawar, tidak bisa mendekati Olivia dan malah sibuk dengan pengikutnya, yaitu Dullahan.
Dullahan merupakan kesatria penunggang kuda dengan pedang besar di pundaknya. Namun, kepalanya terpisah dari keanggotaan tubuh dan dia selalu memegang kepalanya dengan tangan kiri.
Meski begitu, keahlian berpedangnya adalah yang terbaik dan bisa menahan setiap serangan Mary dengan presisi.
"Wow, calon istrimu sangat hebat, William."
"Ya, sedikit-sedikit, aku membantunya berkembang. Itu sebabnya aku tidak mengkhawatirkan pertarungan mereka."
"Ohh."
William tampak percaya diri dengan kemampuan mengajarnya.
Lalu, di tempat anak-anak berkumpul, kupikir mereka semua akan merasa antusias dan senang, namun ternyata tidak semuanya. Salah satu putri kami yang biasanya akan heboh sendiri dengan pertarungan, justru di sana dia tidak menunjukkan adanya ketertarikan sedikitpun. Malahan, dia terlihat gelisah akan sesuatu.
Ini kasus yang sangat jarang sekali terjadi, oleh karena itu aku agak khawatir.
"Alice, ke sini."
Gadis yang biasanya terlihat ceria sekarang sedang gelisah, aku menyuruhnya mendekat dan dia langsung menghampiriku.
"Alice kenapa? Kamu tidak semangat sama sekali kelihatannya."
"Engg."
__ADS_1
Alice hanya menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya sambil memelukku. Apa pertanyaanku barusan membuat dia tidak mengerti, atau apa dia sedang mengalami perasaan yang dia tidak mengerti?
Aku tidak bisa menebak kalau hanya dengan gelengan kepala.
Apa yang sedang dipikirkan anak-anak terkadang susah untuk dimengerti. Yang aku tahu, dia sedang merasa tidak nyaman dengan sesuatu.
Selain itu, kebisingan di lapangan pertarungan tidak memungkinkan seseorang untuk mengobrol santai. Jadi, aku membiarkan Alice memelukku sampai keadaan pikirannya mulai tenang dengan sendirinya.
Di lokasi pertarungan, tampaknya pemenang pertandingan sudah mulai terlihat.
Death Dragon bisa mengalahkan dua monster Mary lalu mengikuti pertarungan antara Dullahan dan Mary untuk membantu Dullahan mengalahkan Mary.
Sedangkan Banshee sudah dikalahkan oleh siluman kelelawar ketika mereka melakukan adu kekuatan. Kedua makhluk ini bisa melakukan sihir gelombang suara frekuensi tinggi dan hasil adu kekuatan tersebut dimenangkan oleh siluman kelelawar.
Namun pada akhirnya, siluman kelelawar tersebut dikalahkan dengan sihir angin Olivia. Tubuhnya mengalami luka parah karena sayatan sebelum menghilang.
"Mary, ayo sudahi pertandingan ini. Sejak awal, tempat pertama pasangan William itu punyaku. Kenapa kamu ingin melakukan pertarungan sampai sejauh ini..."
"Hah... Hah... Hah... Aku, Aku tidak bisa berhenti. Aku ingin menang supaya Vampire mendapatkan pijakannya di dunia ini. Selain itu, aku ingin menunjukkan kemampuanku di hadapan Nyonya Merlin."
"Tapi kalau begini terus kamu hanya akan kelelahan."
"Belum cukup. Aku masih memiliki kartu Andalan (walaupun ini sangat berbahaya, tapi aku harapan...)"
Mary terpojok dengan Dullahan dan Death Dragon. Walaupun Olivia sudah menyarankan untuk menyudahi pertandingan, namun Mary masih ngotot untuk menunjukkan kemampuannya.
Aku bahkan sempat mendengar dia menggumamkan sesuatu yang kelihatannya cukup berbahaya.
Setelah berbicara, Mary mundur dan menjaga jaraknya dari pengikut Olivia.
(Apa yang ingin dia lakukan?) —Aku bertanya-tanya ketika dia merapalkan sesuatu yang serius dan sangat lama.
"Ah! Arghhhh!!"
"A-Alice! Kamu kenapa?"
Di pelukanku, Alice terlihat seperti sedang kesakitan. Ini pertama kalinya dia terlihat seperti itu, jadi aku sangat panik.
"Hentikan pertandingannya."
Dari samping, Merlin tiba-tiba berdiri dengan wajah serius. Lalu dia menghilang dan muncul kembali di hadapan Mary.
Badai dihentikan seketika oleh Olivia karena Merlin tiba-tiba muncul di tengah lapangan.
"Hentikan perapalanmu sekarang!"
"T-Tapi."
"Hentikan sekarang atau kubunuh kau!"
"B-Baik!!"
Dengan perutnya yang sedang hamil, Merlin mengancam Mary. Walaupun begitu, Mary tetap takut dan menghentikan perapalannya.
Yah, seperti apapun kondisinya, sorot mata Merlin memang sangat mengerikan ketika sedang marah. Itu berlaku juga dengan Freya.
"Merlin kenapa sangat marah seperti itu? Dan lagi, apa Alice baik-baik saja, Albert?"
"Setidaknya dia sudah berhenti mengerang. Kamu baik-baik saja, Alice?"
"..."
Freya bertanya padaku dan aku bertanya lagi pada Alice. Sayangnya Alice tidak memberikan jawaban apapun.
"Segera menghadap Albert."
Meninggalkan kata-kata itu, Merlin menghilang dan kembali lagi ke sisiku.
"Ada apa?"
"Mungkin Mary yang telah melakukan sesuatu terhadap Alice."
"Eh?" ××
Seperti yang diharapkan dari Merlin, dia cepat tanggap dan cepat mengerti. Karena Merlin sudah berkata seperti itu, kami menunggu Mary datang.
"Saya menghadap, Yang Mulai Albert."
Dengan keadaan kacau dan basah bekas pertarungan barusan, Mary menghadap kami.
"Barusan kamu ingin melakukan apa?" —Setelah pemberitahuan Merlin, secara kasar aku dapat menebak apa yang terjadi dengan Alice, kayanya.
"Aku, Aku ingin memanggil monster yang lebih kuat daripada ketiga monsterku tadi. Itu adalah monster rubah berekor sembilan."
Dan masalah langsung terjawab. Sangat mengejutkan mendengar Mary bisa memanggil Alice — atau monster yang lebih dikenal dengan sebutan Mother of All Monster, Mythical Beast, Nine-Tailed Fox, Alice. — Oleh karena itu, semua orang membeku.
Tidak ada yang tahu nama asli rubah berekor sembilan di masa lalu. Jadi, mari sekarang kita sebut rubah itu Alice karena aku sudah menamainya.
"Pantas saja sejak kedatanganmu ke sini, Alice menjadi sangat gelisah. Kemampuan yang bisa memanggilnya pasti penyebab itu semua terjadi."
"Ma-Maksud Anda?"
"Kamu sepertinya tidak tahu apa yang baru saja kamu lakukan. Dengar baik-baik, putri ketiga kami, Alice ini, adalah monster rubah berekor sembilan yang baru saja ingin kamu panggil! Ketika kamu memanggilnya tadi, Alice berusaha untuk menolaknya. Kamu mengerti sekarang?"
"Ah, itu... Aku, mohon maafkan aku!!"
Menyadari perbuatan telah mengganggu Alice, Mary langsung meminta maaf dan langsung bersujud.
__ADS_1
Itu pasti sangat tidak terduga untuknya, bahkan untuk kami.
Kupikir, ini hanya salah paham, dan perbuatannya mungkin masih bisa dimaafkan.