
"Bang!!" "Bang!!" "Bang!!"
"Ka-Boom!!"
Seluruh bidang visi dipenuhi oleh ledakan.
"Arghhh! Ini benar-benar gila!!"
Dan aku sudah kehabisan akal untuk mengatasi masalah tersebut.
Dalam semua area di sekitarku, penuh dengan malaikat bersenjata yang menyerangku secara terus menerus tanpa ampun.
Mereka semua mengelilingiku, layaknya serangga yang sedang mengerumuni lampu. Hanya saja makhluk ini lebih agresif daripada yang aku duga.
Tidak ada yang spesial tentang mereka, hanya unggul dalam jumlah.
Meskipun begitu, ini tetap saja membuatku kewalahan.
Aku memiliki perisai, namun itu sama sekali tidak berguna karena lawanku beserta serangan-serangannya berskala kecil. Lebih kecil daripada perisaiku.
Mungkin menyamakan mereka dengan serangga memang tepat. Dan perisa tidak bisa menahan serangan kecil dari banyaknya serangga.
Sebagai gantinya, aku menggunakan sihir untuk berlindung. Sedangkan perisai dan lembingku, aku gunakan sebagai alat menyerang.
Mudah bagiku untuk menyingkirkan beberapa. Hanya dengan memasang senjata, dan kemudian menabrak atau menyeruduk mereka dengan kecepatan tinggi. Aku dapat mengalahkan beberapa.
Ya, hanya beberapa.
Sisanya, yang tidak berada pada jalur seranganku, akan selamat dan menyerang. Seperti itulah kurang lebih.
Dan lagi, hanya dengan menabrak mereka tidak akan membuat mereka hancur. Mereka akan bangkit kembali setelah mereka terjatuh. Dengan sihir restorasi yang aneh, mereka dapat bangkit berulang kali.
Pada awalnya, aku bertanya-tanya "ada apa dengan mereka? Kenapa mereka tidak bisa mati?"
Tapi setelah mengamati mereka untuk waktu yang lama, aku menyadari kalau mereka mendapat pertolongan dari seseorang.
Aku tidak tahu siapa itu. Yang pasti, jika orang ini tidak ditemukan, maka pasukan ini tidak bisa dikalahkan. Mereka sepenuhnya abadi.
Seseorg harus mencari keberadaan orang ini, kalau tidak aku akan terus terjebak di sini.
Tapi, harus kepada siapa aku meminta bantuan? Kami benar-benar kekurangan orang. Itu sebabnya aku harus menghadapi pasukan ini sendiri, kan?
Ya ampun.
Yah, selama mereka tidak menembus pertahananku, keselamatanku akan baik-baik saja.
Hanya saja, ketika aku hanya berdiri diam di dalam pelindung, kadang-kadang mereka mulai bosan melawanku dan memilih pergi ke medan perang lain.
Di sana, aku tidak membiarkan mereka.
Tugasku di sini adalah untuk menghalangi mereka, jadi aku bertanggungjawab penuh atas pengawasannya.
Oleh karena itu, terkadang aku juga berganti dari strategi bertahan ke strategi menyerang. Yaitu menabrak dan menghancurkan formasi mereka dan membunuh mereka hanya untuk pengalihan.
Tapi ini tidak ada akhirnya.
Energy-ku mungkin masih banyak yang tersisa, tapi aku juga bisa merasakan bosan.
Aku sangat bosan sampai-sampai aku melakukan selebrasi aneh hanya untuk mengatasi kebosananku.
Ah, aku jadi tertular orang itu.
Mau bagaimana lagi. Aku sudah kehabisan akal untuk mencari cara keluar dari kebuntuan ini. Yang aku bisa lakukan hanya menggiring mereka menjauh dari istana.
Mereka tampaknya tidak sadar kalau aku telah melakukan hal itu kepada mereka.
Dan juga, terkadang aku menjadikan mereka sebagai sasaran untuk uji coba sihir baru dan sihir lama yang telah aku miliki.
Mereka berguna sedikit.
Sihirku masih baik-baik saja. Dan atributku juga bisa bersinergi dengan baik dengan tubuh ini.
Malahan, aku memiliki teknik-teknik baru dalam penerapannya. Karena aku berada di tubuh baru sekarang, aku tidak bisa terus menggunakan gaya bertarungku yang sebelumnya.
Contohnya, aku memiliki atribut api hitam yang cukup kuat. Dan aku gunakan api itu untuk menutupi tubuhku ketika aku sedang menyerang.
Hasilnya, semua orang yang bersentuhan denganku terbakar.
Sekarang aku hanya perlu berlari mendekati musuh ketimbang menyihir musuh dari kejauhan untuk meningkatkan efisiensinya.
Masalahnya cuma, ketika tubuhku terseliumuti oleh api, maka apapun yang ada di sekitarku akan berantakan. Apapun itu, baik makhluk hidup ataupun benda mati karena api tersebut cukup panas.
Sekarang aku memang tidak menggunakannya, tapi ketika waktu diamku (istirahat) selesai, aku akan menggunakannya kembali.
Tunggu, waktu diam?
Benar juga, bukankah aku bisa membuat mereka diam di suatu tempat? Aku bisa memenjarakan mereka, kan?
Tapi, bagaimana caranya untukku mengumpulkan 1 juta prajurit ini dalam satu waktu? Apakah aku bisa melakukan itu?
Jika aku menangkap mereka secara terpisah, mungkin saja sisanya akan kabur setelah mengetahui diri mereka akan ditangkap, kan? Jadi aku harus menangkap mereka semuanya sekaligus dalam satu waktu.
Satu-satunya cara mungkin hanya dengan menggunakan sihir penghalang skala besar dan membuat mereka berada di dalamnya.
Mungkin aku bisa mencobanya.
__ADS_1
Aku mulai menghilangkan sihir penghalang milikku dan membiarkan mereka menyerang.
Waktu istirahatku juga sudah berakhir, jadi ini sangat bertepatan.
Mereka semua menyerangku, entah dengan sihir atau senjata. Aku diperlakukan seperti monster besar yang sedang dikeroyok massa.
Tapi itu baik-baik saja. Tubuh ini aku akui sangat kuat.
Sebelum aku memerangkapkan mereka ke dalam penghalang bersama dengan diriku, aku menyerang mereka lebih dulu untuk memprovokasi mereka. Menggunakan lembing dengan cara menebasnya dengan asal.
Meskipun itu dilakukan dengan asal, itu masih mengenai beberapa malaikat dalam prosesnya.
Dan hasilnya, semua malaikat melakukan penyerangan balik. Malaikat yang jauh dariku juga ikut mendekat untuk menyerangku.
Dengan ini, semua orang sudah ada di dekatku. Langkah selanjutnya adalah melakukan sihir penghalang skala besar untuk mengurang kami semua.
Bukan, maksudku, mereka semua.
Sebelum penghalang itu benar-benar muncul, aku melakukan teleportasi agar aku tidak terperangkap di dalamnya.
Jadi, sekarang aku berhasil memerangkapkan mereka. Ini sukses!
Jika penghalang ini sudah terkonsolidasi, orang yang berada di dalamnya tidak akan bisa keluar. Melakukan sihir teleportasi tentu saja tidak bisa, jika mereka memiliki skillnya.
Tapi yang pasti, mereka tidak akan bisa keluar dari sana.
Itu, apa yang aku pikirkan barusan.
Sekarang, aku tidak percaya dengan kata-kataku setelah melihat pasukan malaikat itu membentuk formasi dan mencoba untuk menghancurkan penghalangnya dari dalam.
Ah, dengan jumlah yang sebanyak itu, tidak mungkin penghalangku bisa...
Dan, "Boom!!" Penghalangku hancur. Atau lebih tepatnya berlubang, karena mereka semua memfokuskan sihir mereka ke satu titik.
Apa-apaan itu!? Mereka hebat!
Tidak, bukan waktunya untuk kagum dengan kehebatan pasukan musuh. Aku sedang berada dalam keadaan darurat sekarang.
Jika mereka keluar, tidak ada jaminan mereka akan masuk ke dalam jebakan yang sama. Singkatnya, kemungkinan mereka melarikan diri dan menjauh dariku cukup tinggi.
Itu gawat! Aku tidak bisa membiarkannya!
Aku mencoba untuk menambalnya, dan itu hanya akan dihancurkan kembali oleh mereka.
Sial, hal ini tidak bisa dipertahankan!!
Aku mencoba untuk mencari cara lain sambil melakukan hal yang sama hanya untuk mengulur waktu.
Jika saja aku mengerti tentang sihir ruang, aku pasti akan mengirim mereka semua ke sana.
Tapi secara praktik, itu mustahil. Pertama-tama, seseorang harus memahami apa itu dimensi, dan ke-dua orang itu harus memiliki energy yang cukup untuk melakukannya.
Hanya untuk melengkapi kedua hal itu saja aku tidak bisa, aku sama sekali tidak mengerti tentang itu.
Hanya Ghidora, Julius, dan Niks yang bisa melakukan hal ini. Aku ingin sekali meminta bantuan mereka sekarang.
"Ka-Boom!!"
Selagi aku sibuk berpikir, mereka sudah menghancurkan penghalangku duluan.
"Ah, sial! Kenapa bisa jadi seperti ini!!"
Aku kehabisan ide, jadi aku menghampiri mereka dan melawan mereka dengan sekuat tenaga.
Aku juga tidak akan membiarkan satupun dari mereka kabur. Karena jika aku gagal dalam tugas pengawasan ini, aku pasti akan mendapatkan teguran dari seseorang.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
"Carol, aku tidak akan memaafkanmu!"
Di hadapanku, Tiamat mengangkat sabitnya tingi-tinggi, kemudian dia berusaha menyerangku dengan seluruh tenaga yang ia miliki.
Sebelumnya, aku khawatir bagaimana aku harus menangani serangannya yang terus datang bertubi-tubi. Namun setelah aku menemukan kelemahannya, aku sudah tidak mengkhawatirkannya kembali.
Malahan, gaya bertarungku ternyata lebih unggul dibandingkan dengannya, dia sendiri tahu akan fakta ini dan sekarang mulai terlihat kesal dengan itu.
Tapi itu tidak akan mengubah apapun, aku tetap bisa mengalahkannya. Karena bagaimanapun, aku berada di urutan kelima dan dia berada di urutan terakhir.
Yah, harus aku akui, senjatanya yang sangat tajam dan besar namun dapat diayunkan dengan begitu mudah olehnya membuat siapapun cemas ketika pertama kali bertarung dengannya.
Jika saja aku tidak mengambil langkah inisiatif itu, aku sekarang pasti sudah kalah ditekan olehnya.
"Dengarlah! Ayo kita hentikan pertarungan sia-sia ini, aku tidak ingin melawanmu!!"
"Berisik! Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!"
Tampaknya dia sudah tidak bisa tertolong.
Dia marah, dan terus mengarahkan kemarahannya kepadaku.
Aku hanya heran kenapa dia begitu marah padahal aku sama sekali tidak pernah menyinggungnya.
"Tidak ada keuntungannya bila kita melanjutkan pertarungan ini! Lebih baik kita berhenti di sini sekarang. Aku tidak ingin bertarung lagi!"
"Kalau begitu diam saja di sana ketika aku membunuhmu!!"
__ADS_1
"Mana bisa aku melakukan itu!!"
Dia mengatakan hal yang mustahil.
Aku agak kesal dengannya, lalu tanpa sadar melakukan serangan balik dan membuat lengannya sedikit tergores.
Ohh! Dia panik melihat aku dapat mendaratkan seranganku ke tubuhnya.
Itu agak dalam, dan jika aku menyerangnya lebih tajam lagi, tangannya mungkin akan terpisah dari keanggotaan tubuhnya.
Jika seperti itu, apa yang akan terjadi? Tentu saja dia bisa mengembalikannya. Namun pada saat itu, aku pasti akan membunuhnya lebih dulu, aku tidak akan memberikan kesempatan pada musuhku.
Tapi dalam kasus kali ini, aku hanya termakan oleh emosiku, dia agak membuatku kesal. Aku tidak sungguh-sungguh ingin menyakitinya.
"Sebenarnya, apa yang membuatmu begitu keras kepala, Tiamat? Apakah kau memiliki alasan untuk melanjutkan pertarungan ini?"
"Tentu saja aku punya! Aku tidak akan membiarkan iblis datang ke tempat suci ini!"
"Tapi itu semua karena ulahnya Nodens! Nodens yang membuat menantuku marah sehingga dia harus datang ke tempat ini! Kalau saja Nodens tidak mencari masalah, menantuku dan bawahannya pasti akan tetap berada di dunia manusia!"
"Cih..."
Dia terpaku untuk sesaat. Namun jejak kemarahannya masih dapat terlihat di wajahnya.
Kenapa dia sebegitu ngototnya? Apa dia sejak awal sudah menjadi budak Nodens sehingga dia mau menuruti permintaannya sampai akhir?
Kalau begitu aku tidak habis pikir. Tingkat kekuatan kami mungkin sedikit berbeda, tetapi derajat kami sama, kami adalah "Tujuh Pilar Surga".
Hanya karena Nodens menjadi master dari Divine Monster bukan berarti dia harus menjadi master dari kami semua. Jika dia melakukan itu maka keseimbangan di seluruh tingkat kayangan akan rusak.
Di sisi lain, pilar yang memilih untuk menjadi pesuruh pilar lain tidak memiliki kualifikasi menjadi seorang Pilar Surga. Karena kami ini penguasa di masing-masing domain kami.
Malaikat-Malalikat yang berada di domainnya pasti akan mengeluh melihat penguasa wilayah yang mereka hormati malah menghormati orang lain.
Itu benar-benar akan menjadi masalah dan harus segera diatasi. Atau kekacauan akan terjadi di wilayahnya.
Tapi, sejujurnya malaikat di wilayahku sendiri sudah ada beberapa di antaranya yang memihak pada Nodens. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu.
Aku, tidak pantas mengomentari pilihan Tiamat.
"Kalau begitu, beri tahu aku kenapa kau memihak kepada orang yang jelas-jelas berada di sisi iblis?"
"Tidak! Dia tidak berada di sisi Raja Iblis! Aku dapat menjamin itu!"
"Aku tidak dapat mempercayai kata-katamu."
"Percayalah! Aku memang tidak bisa membuktikannya sekarang, tapi kau bisa memastikannya kalau bawahan menantuku tidak akan membunuh Pilar manapun!! — Ke-kecuali Nodens yang diincar olehnya."
Di akhir kalimat, aku menambahkan hal penting itu.
Nodens memang tidak melakukannya hal jahat apapun terhadap keluarganya, dia "BELUM" Melakukannya.
Dan pilihan Albert untuk membunuh Nodens mungkin merupakan tindakan yang benar, karena Nodens sendiri pasti tidak akan membiarkan dirinya direndahkan.
Untuk orang yang mengincar kehidupan harmonis dalam keluarga seperti Albert, pasti tidak akan membiarkan Nodens menyerangnya. Itu sebabnya dia mengambil tindakan lebih dulu sebelum Nodens melakukannya.
"Itu artinya kita akan terus bertarung sampai salah satu di antara mereka tumbang, benar kan?"
"K-Kau benar, tapi..."
Sial! Dia benar-benar keras kepala sampai akhir! Apa dia tidak sebegitu percayanya kepadaku!?
Arghh! Aku ingin sekali memotongnya. Kesabaranku mungkin akan habis di sini.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"
Di saat aku sedang mempertimbangkan untuk membunuh Tiamat, seorang wanita menginterupsi pembicaraan kami.
"Si-Silva!!"
"I-Iya, ada apa? Kamu tidak perlu sampai berteriak seperti itu, kan?"
Melihat salah satu Pilar Surga yang sangat aku kenal muncul, aku berpikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk membujuk Tiamat.
Itu sebabnya aku langsung berlari ke arahnya.
"Silva, tolong bantu aku membujuk Tiamat. Dia terlalu keras kepala dan terus mengajakku untuk melanjutkan pertarungan ini."
"Aku mengerti. Ngomong-Ngomong, kamu baik-baik saja, kan? Tubuhmu berantakan banget."
"Aku tidak apa-apa."
Tidak hanya datang untuk menolongku, tetapi dia juga mengkhawatirkanku. Dia sangat baik.
Aku tidak tahu kenapa wajahnya memerah, tapi aku sangat bersyukur dia datang ke sini. Bersama dengan Kaguya.
"Tiamat, kenapa kau tidak hentikan saja pertarungannya. Mereka bukan orang jahat."
"Hmph, mana mungkin aku mau mempercayai perkataan nenek tua sepertimu."
"Apa kau bilang!? Kau ingin cepat mati!? Kubunuh kau sekarang juga!!"
"Hei, hei, kenapa malah kamu yang ingin bertarung."
Bukannya ikut meyakinkannya, malahan Silva justru ingin ikut bertarung.
__ADS_1
Ya ampun, apa aku meminta bantuan ke orang yang salah?