Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Gadis kembar.


__ADS_3

Kami menuju ke tempat ignis.


Dengan menaiki para kuda peri, perjalanan menjadi lebih mudah dan nyaman.


Aku melihat ke arah eliza yang sedang memeluk merlin dengan kencang, wajahnya disembunyikan di punggung merlin.


Sepertinya dia masih belum terbiasa dengan itu.


Hanya dengan satu gelombang kejut yang dia hasilkan, kuda peri sudah langsung sampai ke tempat tujuan.


Wilayah dengan banyak pepohonan, sangat wajar ada warga yang tinggal di sana.


Rainer menurunkan laju pergerakan dan ketinggian terbangnya, setidaknya sampai di permukaan pepohonan.


Sepertinya tidak semua tempat di tanah iblis adalah lahan tandus.


Tiba-tiba leon menghampiri aku dengan kudanya.


"tuan, aku melihat ada dua orang di depan."


Leon bilang "melihat", dia pasti menggunakan kemampuannya untuk melakukan itu, benar-benar sangat berguna.


"tolong pandu kami ke sana, leon."


"baik."


Leon berkendara di depan kami.


Kira-kira 200 meter lebih kami berkendara, akhirnya leon sedikit menurunkan ketinggian terbang kudanya dan kami terus mengikuti.


Setelah itu aku langsung bisa melihat dengan jelas, dua gadis sedang berlari dengan panik, umurnya mungkin sekitar 6-7 tahun.


Mereka masih terlalu kecil untuk berlarian di tengah-tengah hutan, wajah mereka juga tidak mengatakan kalau mereka sedang bermain.


Mereka terlihat sangat ketakutan akan sesuatu, dan aku langsung paham karena menurut laporan dari ignis, para penduduk iblis sedang diserang oleh monster.


Ditambah lagi, ignis bilang monster itu kuat. Secara kasar, aku bisa menebak kalau monster itu akan menjadi peringkat A atau di atasnya.


Kami menghampiri kedua gadis itu.


Mereka berdua kembar, memiliki rambut berwarna merah muda pucat keputihan, mata merah, dan... Tanduk putih.


Tentu saja, aku akan melihat tanduk di sini.


Mungkin karena panik, mereka terus menerus melihat ke belakang dan ketika kami tiba di depan mereka berdua, mereka terkejut dan salah satu dari mereka menabrak orang yang berada di depannya, hingga terjatuh.


Ketakutan muncul di wajah mereka.


Karena salah satu dari mereka terjatuh, mereka menjadi tidak sempat untuk berlari lagi, atau kemungkinan yang paling mungkin, mereka kelelahan karena aku melihat orang yang terjatuh sangat terengah-engah.


Orang yang berdiri memeluk orang yang terjatuh, seolah-olah ingin melindunginya.


Aku pikir, orang yang melindungi adalah kakaknya dan yang sedang duduk lemas adalah adiknya, karena aku bisa melihat fisik mereka sedikit berbeda di sana.


Aku turun dari kuda dan langsung menghampiri mereka, tentu saja ingin menanyakan kondisi mereka.


Jika ada orang yang lari sampai ke sini, artinya tempat tinggal mereka tidak aman.


Dan, aku penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ignis di sana. Bukankah dia sedang melawan monsternya?


"kalian baik-baik saja?"


Aku bertanya pada mereka, tapi mereka tampaknya sangat ketakutan denganku karena mereka terus gemetaran dan menatap aku dengan sangat waspada.


Wajahku tidak mungkin menyeramkan sampai mereka harus bertingkah seperti itu, itu mungkin disebabkan oleh para kuda peri atau ketakutan mereka yang sebelumnya.


Aku mendekati mereka lagi dengan perlahan supaya mereka tidak terlalu takut.


Lalu aku melihat di sana, adiknya yang sedang dilindungi oleh sang kakak, sedang terluka di bagian kening, dekat dengan area tanduk kirinya.


Atau lebih tepatnya, tanduk kirinya yang sedang terluka.


Aku terus memfokuskan penglihatan aku ke sana, ternyata tanduk itu sudah patah dan darah yang mengalir membuat aku menjadi panik. Itu pasti sangat sakit.


"hei, dia sedang terluka, bukan?"


Mereka masih tidak menjawab.


Mungkinkah mereka tidak bisa mengerti bahasa manusia?


Kalau seperti itu maka tidak ada cara lain lagi, aku langsung mengeluarkan potion berwarna merah muda dari dalam inventaris.


Ini adalah elixir yang aku miliki di dalam game... Hmm, aku sedikit ragu, apakah obat ini sudah kadaluarsa?


Tidak, tidak, jika gandum di dalam inventaris masih dalam kondisi baik, maka itu juga berlaku untuk potionnya.


"lihat, dia sedang terluka. Ini adalah ramuan untuk memulihkan luka, tolong gunakan ini untuk menyembuhkannya."


Aku mengulurkan ramuan itu pada mereka.


Tapi, sama seperti sebelumnya, mereka tidak menanggapi aku, mereka bahkan tidak menggelengkan kepala mereka jika mereka tidak menyukainya.


Haruskah aku mengambil langkah agresif?


Aku mulai mengeluarkan pisau dapur dari inventaris, dan langsung mengiris telapak tanganku dengan itu. Serius itu sangat sakit.


Sang kakak yang berada di depan memiliki mata yang terkejut di sana, dan aku bisa mendengar suara "hah!" darinya.


Itu artinya, dia masih bisa berbicara.


"lihat baik-baik, ini adalah ramuan penyembuhan..."


Seperti seorang sales, aku memberikan demonstrasi kepada mereka bagaimana ramuan itu bekerja.


Aku meneteskan ramuan itu pada telapak tangan yang aku iriskan dengan pisau dapur.


Sejujurnya, ini baru pertama kalinya aku menggunakan ramuan ini.


Dan, jika aku tidak salah, ramuan ini digunakan dengan cara diminum.


Tapi aku tidak terlalu yakin untuk meminum ramuan itu, jadi aku melakukan percobaan, berharap bahwa itu akan berhasil.


Tentu saja, ketika aku ingin memberikan pada adiknya yang di sana itu, aku ingin mencobanya terlebih dahulu dengan menyiramkan ramuan tersebut pada tanduknya.

__ADS_1


Aku tidak akan berani memberikan ramuan kadaluarsa dan meminumkannya kepada anak kecil.


Satu tetes ramuan itu terjatuh di lukaku.


Aku langsung merasakan hangat di sana dan lukaku mengeluarkan seberkas cahaya.


Dengan cepat luka itu menutup dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun, bahkan darah di sana juga menghilang.


Fiuh, itu bekerja dengan baik.


Sang kakak terkejut setelah melihatnya, dan ketakutan di wajahnya perlahan menghilang digantikan dengan rasa penasaran.


"kamu lihat, ramuan ini berguna untuk menyembuhkan luka, jadi tolong berikan ini padanya."


Aku berbicara dengan gadis yang berada di depan.


Dia tampaknya mengerti dengan apa yang aku maksud dan mulai mengambil potion yang aku ulurkan padanya.


Aku yakin, dia pasti lebih mementingkan luka pada saudarinya ketimbang ketakutannya terhadap kami. Aku juga melihat dia membuat wajah yang penuh keyakinan.


Setelah mengambil potion itu, dia langsung menangani saudarinya dengan potion tersebut.


Darah yang mengalir pada pelipisnya menghilang tapi tanduknya masih tetap dalam keadaan fraktur.


"eh, tanduknya tidak pulih?"


Aku pikir, luka apapun akan pulih jika ditangani oleh ramuan itu.


"b-bukan, tanduk adikku memang selalu seperti ini sejak kecil."


Sang kakak berbicara, jadi dia benar-benar kakaknya dan aku bisa menebaknya dengan benar.


Tidak, bukan itu yang harus dipedulikan, baru saja sang kakak berbicara.


Hebat, jadi mereka bisa mengerti bahasa manusia. Atau, manusia dan iblis memiliki bahasa yang sama?


"fiuh, itu artinya adikmu sudah baik-baik saja, kan?"


"u-uhm."


Sang kakak mengangguk.


Aku pikir mereka masih sedikit waspada terhadap kami.


Aku mulai mengeluarkan dua potion yang sama dari dalam inventaris.


Lalu aku memberikan itu kepada sang kakak.


"ini untuk kalian minum. Ngomong-ngomong, boleh aku tahu nama kalian berdua?"


Sebelumnya, sang kakak hanya menyiramkan ramuan pada luka adiknya, jadi aku masih sedikit khawatir dengan kondisi di tubuh mereka.


"a-aku atla dan ini adikku eren."


Hmm, nama yang manis.


Jika diperhatikan baik-baik, mereka memiliki warna rambut yang cukup menarik, tanduk kecil dan wajah mereka putih manis.


Atla mengambil potion yang aku berikan, dan langsung membagikan itu dengan adiknya.


Adiknya, eren, hanya malu-malu sambil bersembunyi di belakang atla.


Karena mereka sudah baik-baik saja, aku mulai berdiri lagi.


Sedikit merepotkan berurusan dengan anak-anak yang sedang ketakutan.


"terimakasih atas kerja samanya."


Merlin menghampiri aku dari samping dan langsung membantu aku mengelap keringat di wajahku dengan sapu tangannya.


Aku tidak tahu kenapa, tapi hanya berurusan dengan anak-anak membuat aku grogi hingga berkeringat.


Merlin sangat perhatian jadi aku berterima kasih padanya.


"apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?"


"aku rasa, kita harus membawa mereka kembali ke rumahnya."


Sangat berbahaya bagi anak-anak berada di tengah-tengah hutan seperti ini.


"mereka sepertinya sangat kelelahan."


Freya memiliki wajah yang prihatin dengan kedua anak itu.


Jadi dia tidak membenci mereka walaupun mereka iblis.


"atla, bisa kamu memberi tahu kami kenapa kalian bisa sampai berada di tengah hutan seperti ini?"


"k-kami sedang melarikan diri."


"melarikan diri?"


"benar, kakek kami menyuruh kami untuk..."


Kemudian atla mulai menceritakan kepada kami tentang situasi mereka.


Meskipun dia sedikit gugup, tapi dia tetap berusaha memberi tahu kami.


Dia mengatakan bahwa dia berasal dari desa terdekat dari sini.


Lalu beberapa waktu lalu, terjadi kejadian aneh di desa mereka.


Kakek mereka tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyuruh mereka untuk melarikan diri ke hutan, jadi mereka berlari sampai ke sini.


Aku pikir, atla dan eren sudah melarikan diri sebelum ignis datang.


Sebenarnya, hutan ini dilindungi oleh semacam pelindung sihir. Namun pelindung itu sudah dirusak oleh para monster.


Dari cerita atla, aku berkesimpulan kalau pelindung itu dihancurkan oleh monster yang sedang ignis lawan.


Tentu saja, pelindung itu pasti kuat karena bisa menahan dari banyaknya monster di tanah iblis ini.


Tapi kembali lagi ke kenyataan, ignis sudah mengakui kalau monster yang dia lawan itu kuat, jadi sudah pasti monster itu bisa menghancurkan sihir pelindung desa ini.

__ADS_1


Dan sepertinya, kejadian ini sudah direncanakan karena monster itu membawa pasukan.


Ini benar-benar dunia kekerasan.


Aku yakin, mau itu dunia iblis atau dunia manusia, pasti itu akan sama saja.


"baiklah, kalian harus ikut dengan kami kembali ke desa, ok?"


"t-tapi..."


"itu sudah tidak apa-apa, sebenarnya teman kami sudah tiba di desa kalian dan sudah menangani masalah itu."


Aku tidak tahu apakah itu sudah dikalahkan atau belum, tapi ignis melaporkan kalau monster itu bukan masalah.


"juga, berbahaya jika kalian terus berada di hutan, 'kan?"


Mereka tampak cemas setelah aku mengatakan itu, bahkan eren semakin meremas tangannya yang sedang memegang baju kakaknya, atla.


Mereka hanya memakai baju yang terbuat dari bahan linen dan celana pendek.


Pakaiannya mengindikasikan kalau peradabannya masih terbelakang, tapi setidaknya mereka tidak menggunakan semacam kulit hewan untuk dijadikan baju seperti bangsa barbarian.


"aku mengerti."


Atla setuju denganku, tapi eren menarik baju atla dan menggelengkan kepalanya, sepertinya eren masih ragu terhadap kami.


Hmm, aku benar-benar tidak bisa menangani anak-anak.


Ketika aku merasa kerepotan, merlin datang menghampiri mereka. Mata merahnya terfokus pada eren.


"ada apa? Kamu tidak ingin pergi dengan kami?"


Merlin bertanya pada eren dan menurunkan tubuhnya sampai mereka sejajar.


Tapi eren semakin bersembunyi di belakang atla, menutup dirinya dengan tubuh atla.


Merlin tersenyum setelah melihat itu.


"apa kamu takut dengan kami?"


Eren tidak menjawab, sedangkan atla seperti sedang kerepotan dengan tingkah laku adiknya.


"tenang saja, kami tidak akan melakukan hal jahat padamu dan kakakmu, kami hanya khawatir dengan kalian. Hutan ini tidak terlihat baik untuk anak-anak seperti kalian. Jadi kamu harus ikut dengan kami, yah? Tentu saja aku berjanji untuk tidak melakukan hal jahat pada kalian berdua."


Merlin menjelaskan dengan penuh kesabaran. Dia juga tersenyum kepada mereka yang membuat itu terlihat hangat.


Eren mungkin menyadari ketulusan merlin dan langsung menatap kakaknya seakan-akan ingin memberi persetujuan.


Melihat itu membuat aku ingin mempertimbangkan untuk membuat anak.


Tapi aku kembali sadar ke kenyataan, aku masih memiliki pekerjaan yang harus ditangani, dan merlin sangat dibutuhkan di sana.


Aku juga belum memiliki penghasilan sendiri dan belum memiliki tempat yang bagus untuk menetap.


Bagaimana jika ketika merlin sedang hamil, ada seseorang yang menyerang kami? Itu tidak akan menjadi keadaan yang bagus untuknya.


Setidaknya, sampai aku memiliki pertahanan yang bagus dan perekonomian yang mapan, aku pasti akan... Ehem, maaf, kembali ke pokok masalah.


Eren berbisik pada atla, lalu atla mengatakan kalau eren sudah setuju dan mau ikut dengan kami.


Semua berjalan dengan lancar tapi mereka harus dipisah untuk menaiki salah satu kuda.


"eren, kamu naik kuda ini bersama denganku."


Merlin menyarankan, dia menyuruh eliza untuk terbang sendiri karena jarak ke desa tidak terlalu jauh.


Itu terlihat kejam, tapi untungnya eliza menerima kondisinya tanpa masalah sama sekali. Atau sebaliknya, dia bahkan lebih senang untuk terbang sendiri karena masih merasa tidak nyaman menunggang kuda.


Selain atla, yang paling dekat dengan eren saat ini hanya merlin, jadi merlin harus menanganinya.


Sedangkan untuk atla...


"atla, kamu ingin naik dengan siapa?"


Ada freya di sini, jadi seharusnya atla naik dengannya. Freya juga tidak keberatan sama sekali.


Atla menghampiri aku dengan wajah yang malu-malu, dia seperti memiliki keraguan untuk mengatakan sesuatu.


"kamu naik denganku saja kalau begitu."


Aku mengatakannya, atau lebih tepatnya aku menyuruhnya.


Di sana, atla tidak ragu-ragu untuk mengangguk, jadi dia setuju denganku atau sejak awal dia memang ingin naik denganku.


Sudah diputuskan, aku dengan atla, eren dengan merlin, leon dan freya tetap sendiri di kuda mereka, lalu eliza terbang dengan wujud manusianya.


Aku tidak memperbolehkan eliza berubah karena ada anak-anak yang sedang ketakutan di sini. Aku khawatir jika dia berubah menjadi makhluk besar, itu akan menyebabkan atla dan eren kembali memikirkan hal buruk lagi tentang kami.


Aku menaruh atla duduk di depanku.


Jika aku menaruhnya di belakang, aku takut dia akan terjatuh karena tersenggol olehku.


"u-uhm, tu-tuan..."


Atla mengatakan itu dengan keraguan, sepertinya dia ingin berbicara denganku.


"ada apa?"


"itu... A-aku sangat berterima kasih k-karena sudah membantu kami..."


Atla memiliki wajah yang memerah, sepertinya dia sangat ingin mengatakan itu sejak awal, tetapi karena suatu alasan dia tidak bisa melakukannya tepat waktu.


Dan ketika kami sedang berduaan, dia baru bisa mengatakannya.


Awww, bukankah dia sangat imut?


Aku menjadi ingin melihat ibu mereka seperti apa, tapi dia hanya menyinggung kakeknya ketika sedang bercerita.


Aku mengelus kepalanya, dan mengatakan...


"kamu kakak yang hebat, atla. Kerja bagus. Mulai dari sini, aku yang akan melindungi kalian, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi."


Atla mengangguk dan sedikit menundukkan kepalanya seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2