
Berdiri dengan gagah di depan semua orang, sesosok pria tampan dengan armor baja berwarna kuning keemasan, menempatkan kedua tangannya di pinggang untuk menguatkan superioritas-nya kepada semua orang.
Dia adalah seorang pria tampan yang berani berdiri di hadapan musuh terkuat untuk melindungi tuannya.
Sang dewa naga yang sangat terlihat keren dan perfeksionis.
Itu, apa yang ada di dalam pikirannya.
Kenyataannya...
"Luminous, cepat usir dia, aku sudah muak dengan hawa kehadirannya."
"Luminous, apa kamu ingin membuatku menunggu?"
"Jangan kebanyakan gaya! Cepatlah urus orang-orang itu yang berani mengganggu Nyonya Freya dan Nyonya Merlin."
"Nyonya, kupikir dia perlu diberi pelajaran tambahan dari Anda."
"Um, aku mendoakan keberhasilanmu, Luminous. Semangat!"
Wanita-Wanita di keluarga Testalia – Freya, Merlin, Rin, dan Titania – tidak menyukai kurangnya inisiatif Luminous untuk bertindak sendiri.
Kecuali Kaguya yang mendoakan keberhasilannya dengan ragu-ragu.
"U-Uh, saya sudah bekerja keras untuk menguasai gaya bertarung baru bersama Levi, tahu. Apa tidak ada di antara kalian yang ingin memujiku?"
"Udahlah, cepat sana pergi!!" ××
"Luminous, jika kamu tidak segera pergi, Tuan Albert pasti akan kecewa padamu."
"Gasp!!"
Tidak ada satupun yang mau mendengarkan usaha Luminous dalam pelatihan kerasnyanya selama ini untuk menguasai Armor Leviathan. Dan ketika Kaguya menegurnya, dia langsung mengenakan helmnya dan berlari (terbang) menuju ke arah musuh.
"Sigh, bagaimana dia bisa menjadi tangan kanan Tuan Albert, sih."
"Ya, kupikir dia sudah lebih baik setelah belajar etika bersama dengan Azure dan yang lainnya, tapi ternyata dia tidak berubah sama sekali."
"U-Um, kalian tidak boleh berkata seperti itu tentangnya, tahu. Biarpun dia seperti itu, dia masihlah orang kepercayaan Tuan Albert."
Berbeda dengan Titania dan Rin yang kesal dan kecewa pada Luminous, Kaguya masih mendukung dia sampai akhir.
"Ara, apa kamu menyukai Luminous, Kaguya?"
"..."
Melihat sikap Kaguya yang terus melindungi Luminous membuat Merlin menyangka hal yang tidak-tidak. Dan tidak seperti apa yang dia kira, Kaguya memberikan raut wajah yang sangat enggan terhadap pertanyaannya.
"Eh? Aku salah ya?"
"Tidak Nyonya, bukan itu. Saya hanya tidak membenci pria itu saja. Saya melihat dia sering berlatih dengan serius walaupun dia hanya sendirian. Jadi kupikir kita harus menghargainya juga. Hanya, sebagai tangan kanan Tuan Albert, kerjanya memang kurang bagus."
Di antara semua orang, Kaguya masih memiliki pemikiran yang positif.
"Hm~ begitu ya. Yah, Albert memang menempatkan Luminous sebagai tangan kanannya karena dia cuma percaya pada kekuatan Luminous. Jadi kita bisa Mengesampingkan sifatnya. Kalian berdua dengar, kan?"
"Dimengerti, Nyonya!" ×2
Apa yang dikatakan Kaguya ada benarnya, oleh karena itu Merlin memberi teguran ringan kepada Titania dan Rin.
***
Sementara itu, Luminous tiba di depan Nodens dan gerombolannya.
"Pria di sana, aku lupa namamu padahal Master sering membicarakanmu. Tapi kau harus segera angkat kaki dari sini... Ah! Apa aku harus mengucapkan "kepakan sayap"? Apapun itu, pokoknya kau harus segera pergi karena seluruh keluarga Masterku tidak menyukaimu, jika tidak...!"
Dengan sedikit bergaya dan menunjukkan petir-petirnya, Luminous mengakhiri peringatannya dengan sebuah ancaman serius.
Di sisi lain, Nodens, justru melihat tingkah Luminous seperti orang aneh. Dia gelisah bukan karena kekuatan Luminous, melainkan kelainannya.
"Lihat, Yang Mulia! Dia masihlah seorang bawahan, tapi dia bisa menjalin kontrak dengan kakak perempuan keduaku. Ini bukan ide bagus bila kita melanjutkan pertarungannya sekarang. Kekuatan lawan masih belum kita ketahui."
Charybdis mengutarakan kekhawatirannya. Mendengar hal ini menurunkan semangat bertarung Nodens, dan memberikan kegelisahan lainnya.
Nodens akhirnya mulai mengawasi sekeliling area dengan seksama.
(Apa mereka semua adalah kekuatan tempur si Albert itu?) —Dan pertanyaan ini muncul di dalam pikirannya. Tapi hampir semua orang di sekitar Freya adalah perempuan, dan hanya beberapa laki-lakinya yang memiliki kemampuan.
Kemudian dia melihat Merlin, menganalisis Merlin menggunakan keterampilan Charybdis. Dan berakhir tercengang. Dengan persepsi yang sudah ditingkatkan, dia hanya melihat wanita itu sebagai gumpalan asap berwarna hitam yang sangat pekat. Bukan roh ataupun energi Mana, melainkan asap hitam.
Siapapun akan merasa aneh dan menelan ludah setelah melihatnya.
"Freya, jika kau tidak ikut bersamaku, kau akan menyesal!"
Pergi tanpa membawa apapun akan membuat citra Nodens menurun. Meskipun begitu, Nodens juga harus memperhitungkan kekuatan musuh seperti apa yang dikatakan Charybdis.
"Apa maksudmu? Ah, apa kau ingin menggunakan ayah dan ibuku untuk mengancamku? Hmph, kau sungguh licik! Tapi sayang sekali, bawahanmu tidak bisa mengalahkan keluarga suamiku, suruhanmu sudah mereka kalahkan."
Selesai Freya berbicara, Julius (diikuti Ghidora di belakang) menyeret malaikat yang sudah babak belur keluar dari dalam kastil, dan melempar malaikat itu seperti membuang sampah ke hadapan semua orang.
"Itu Cthugha!!"
"Apa!? Tidak mungkin!"
"Bagaimana mereka bisa mengalahkannya!?"
Satu demi satu, bawahan Nodens menunjukkan keterkejutannya. Itu membuat kesal Nodens melihat Cthugha tidak bisa menyelesaikan perintahnya, dan malah berakhir kalah di tangan musuh.
"Apa dia si Albert itu?"
__ADS_1
"Sepertinya bukan. Aku tidak merasakan aura kakak perempuan pertamaku di tubuhnya."
"Kau memeriksanya dengan benar, kan?"
"Te-Tentu saja, Yang Mulia. Aku memang tidak merasakan kehadiran kakakku itu di antara tubuh mereka. Tapi tidak salah lagi kalau ada aura kakakku di sekitar sini."
"Begitukah?"
Nodens terdiam untuk sesaat. Melihat kekuatan tempur musuh tidak langsung ditunjukkan seolah-olah mereka memang sengaja melakukannya. Wajar untuk berasumsi kalau musuh kemungkinan sedang merencakan sesuatu seperti membuat jebakan untuk dirinya.
Itu mungkin saja terjadi karena mereka hanya mengeluarkan orang kuatnya satu persatu.
Freya dan wanita-wanita itu hanya berperan sebagai umpan untuk menarik dirinya, kemudian dengan kehadiran Luminous yang bergaya seperti orang bodoh untuk mengejek seolah-olah sedang memprovokasi. Dan ketika pertarungan terjadi, dia akan dikelilingi oleh kekuatan musuh yang sesungguhnya.
Poin-poin itu meningkatkan kemungkinan bahwa musuh benar-benar sedang berusaha untuk menjebak Nodens. Karena Nodens tidak membawa seluruh pasukannya, itu membuat mereka unggul dalam hal jumlah.
"Grrr, menyebalkan, dasar licik!"
Berpikir bahwa musuh menggunakan trik curang untuk melawannya, Nodens kesal.
"Hastur! Bawa Cthugha bersamamu. Kita akan kembali ke istana!"
"Baik."
"Dimengerti!" ×4
Nodens berbalik dan kemudian pergi. Pria bernama Hastur menjemput Cthugha, membawa Cthugha bersamanya di atas Griffin. Lalu pergi menyusul Nodens.
Tidak ada yang menghentikan tindakannya menjemput Cthugha karena Merlin membiarkannya.
Jika Merlin tidak mengizinkan Nodens membawa mayat bawahannya, di sini pasti akan terjadi pertempuran. Merlin berpendapat kalau pertarungan pasti dapat dimenangkan, tapi itu akan cukup sulit melawan Nodens tanpa Albert.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Cerita sebelum Cthugha babak belur.
Langit kediaman Bestlafiol sudah dikelilingi oleh pasukan malaikat di bawah komando Cthugha. Sementara itu, Cthugha masih bertarung dengan duplikat dirinya sendiri.
Di sisi lain, laki-laki di keluarga Bestlafiol masih mengamati pertarungan Cthugha melawan dirinya sendiri dengan seksama.
"Hm~"
"Ada apa?"
"Kenapa dia tidak memerintahkan pasukannya menyerang kita?"
"Tidak tahu. Mungkin dia lupa?"
"Lupa?"
Ghidora khawatir dengan para malaikat, namun datang jawaban acak dari Julius. Mereka masih merokok.
"Seperti itukah? Apa mungkin dia benar-benar lupa kalau dia membawa pasukan?"
"Mungkin? Siapa yang tahu."
Carol juga bingung dengan tujuan sebenarnya pasukan musuh datang ke rumahnya.
"Sip, kita hancurin aja semuanya."
Ghidora menjatuhkan puntung rokoknya, sekaligus menginjakknya agar bara itu mati.
"A--"
Carol ingin mengatakan sesuatu. Dia tidak senang dengan tindakan Ghidora yang menjatuhkan sampah di halaman rumahnya, tapi sebelum dia berbicara, tiba-tiba garis bayangan hitam muncul dari kaki Ghidora. Itu memanjang ke ujung halaman dan terbuka lebar setelahnya.
"Hm?"
Untuk suara Carol yang sudah keluar, Ghidora tentu mendengarnya, dia menunggu Carol yang ingin mengucapkan sesuatu sambil menendang sisa puntung rokoknya ke dalam bayangan gelap itu. Ternyata itu dimensi lain!
"Ah, tidak. Bukan apa-apa."
"...?"
Ketidakjelasan itu hanya membuat Ghidora semakin bingung.
Tapi, dia mengesampingkan itu. Dia mulai memerintahkan ke-200 kesatria roh dari dalam dimensinya untuk keluar dan menyerang pasukan malaikat.
Berbagai roh dengan bentuk, warna, ukuran, dan sifat yang beragam — mulai bermunculan ke permukaan dari dimensi gelap itu, melesat terbang ke udara dan kemudian menyerang para malaikat.
Seluruh pasukan malaikat berjumlah sekitar 10.000, namun para kesatria roh itu tidak takut sama sekali. Bukan karena mereka tidak memiliki perasaan takut ataupun memiliki sikap siap untuk mati seperti prajurit patriotik, hanya saja mereka sudah memiliki perasaan yang kuat terhadap tuan mereka, yaitu Ghidora dan tentunya Albert juga.
Bahkan jika mereka dipertemukan dengan lebih dari ratusan ribu musuh, mereka tidak akan mundur selama ada rasa kepercayaan tersebut. Untuk itulah mereka diberikan kemampuan intuitif yang kuat untuk memilih sesuatu yang mereka percayai.
Kedua pasukan bertarung di langit.
Cthugha menyadari hal itu, kemudian berhenti bergerak.
"Datang dari mana pasukan itu? Tapi biarlah, jumlahnya tidak sebanding dengan pasukanku."
Dia mengabaikan kesatria roh mereka. Hanya dilihat dari jumlahnya memang tidak membuat orang khawatir. Justru sebaliknya, Carol sangat mengkhawatirkan pasukan Ghidora lebih dari apapun.
"Nikolas, apa lebih baik kita ikut bertarung dengan pasukan senior Ghidora?"
"Ha?"
"Aku juga berpikir demikian. Dua ratus pasukan itu tidak akan bertahan jika tidak didampingi."
"Apa yang kalian pikirkan?"
__ADS_1
"Begitu ya. Baiklah, ayo kita ke sana juga."
"Hei, tunggu!"
"Ayo!!"
Dan kemudian, mereka berdua pergi untuk bertarung bersama kesatria roh dan melawan pasukan musuh. Di sana, suara dari seorang ayah tidak didengar oleh mereka, Ghidora dan Julius tampak prihatin dengan pak tua itu tapi mereka tidak bisa membantu banyak.
"Hmph, hanya menambah dua orang ke dalam pertarungan tidak akan merubah apapun. Jumlah pasukanku lebih banyak. Mereka akan segera mengalahkan pasukan kalian dan kemudian menghancurkan rumah ini. Hahaha!"
Seolah-olah dia tidak pernah melupakan pasukannya, Cthugha mulai mengancam mereka.
"Tutup mulutmu, bukankah kau tidak bisa mengalahkan dirimu sendiri."
"Huh? Bayangan seperti ini mana mungkin bisa mengalahkanku. Haa!!"
Setelah dikritik oleh Julius, Cthugha mulai mengerahkan Hakinya untuk melawan bayangan (skill Julius) itu.
Hakinya berwarna emas dengan sifat panas yang sangat tinggi. Dia mengalirkan Hakinya tersebut ke pedangnya, dan membuat pedang itu memunculkan pola api berwarna oranye.
Pedang itu menjadi sangat indah. Dengan perasaan senang karena itu, Cthugha menyerang bayangannya dengan sekuat tenaga.
Satu demi satu tebasan yang dia lancarkan ke bayangan tersebut penuh dengan kekuatan. Membuat atmosfer di sekelilingnya panas, penuh dengan energi termal.
Namun selama apapun dia bertarung, bayangan dirinya itu tidak melemah sedikit pun. Atau bahkan dia seperti tidak merasa lelah sama sekali, berdiri kokoh seperti tembok baja. Sangat kuat!
"Aneh, itu hanya sekedar sihir, kan? Kenapa bisa setara dengan penerapan Haki?" —Carol mulai bertanya-tanya.
"Itu karena atributku lebih unggul daripada dia. Memang benar Aura atau sesuatu yang Anda sebut Haki itu dapat mematahkan sihir dengan kekuatan, tetapi karena sifat atributku lebih unggul, aku bisa memanipulasi sihirku menjadi lebih kuat daripada dia. Anda pasti tahu kan kalau di dunia ini terdapat Empat Roh Agung? Di antara Empat Roh Agung tersebut salah satunya merupakan Roh Cahaya, sama sepertiku."
"Begitu rupanya, ternyata kau merupakan roh cahaya."
"Lebih tepatnya, roh pahlawan yang berevolusi menjadi roh cahaya."
"Ohh! Apa keluarga menantuku semuanya orang sepertimu?"
"Fufu, tentu saja."
Bangga menjadi bagian dari keluarga Albert, Julius mendengus. Di sana Carol dan Ghidora juga tersenyum karena mereka sekarang sudah termasuk ke dalam hubungan itu juga.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa bayangan ini sangat sulit dikalahkan!"
Di sisi lain, Cthugha sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi, kebanggaan yang selalu dia rasakan sebelumnya sudah benar-benar menghilang. Lalu...
"Haaa!!"
Dia berubah menjadi entitas yang berbeda. Seluruh tubuhnya terbakar api ganas, pakaian putihnya berubah menjadi oranye kemerahan, otot-ototnya membesar, dan tentu pedangnya juga ikut terbakar.
Ukuran tubuhnya menjadi dua kali lebih besar dari sebelumnya dan pedangnya menjadi terlihat pendek. Atmosfer menjadi semakin tidak terkendali karena perubahan suhu yang terjadi akibat api ganas di tubuhnya.
Cthugha mulai bergerak, menghilang dan muncul kembali di depan bayangannya dalam sekejap. Kecepatannya juga ikut meningkat.
Kemudian dia menyerang bayangannya, dan itu terbelah menjadi dua. Tebasan yang sangat cepat dan kuat, bayangannya tidak bisa mengikuti kecepatan itu dan berakhir dikalahkan tanpa perlawanan sama sekali.
"Wujud sesungguhnya dari sang jenderal api. Sekarang dia tidak akan bisa diajak berbicara, kalian harus berhati-hati."
Sebuah peringatan datang dari Carol untuk Julius dan Ghidora. Wajah mereka menjadi serius.
"Akhirnya dia mulai serius, seperti itu, kan?"
"He~ aku ingin melihatnya."
Mereka berdua menjadi bersemangat. Dan ketika tatapan penuh kebencian Cthugha bertemu dengan mereka, mereka bertiga menghilang. Hanya meninggalkan bekas pergesekan udara.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Puncak pertarungan.
Ruangan putih yang diciptakan oleh kekuatan sejati Julius, sub-space roh cahaya. Mereka bertiga sedang bertarung di sini.
Untuk menahan serangan Cthugha, Ghidora berhadapan dengan dia secara langsung dengan senjata yang sudah terlengkapi di tubuhnya.
Kedua tangannya berubah bentuk menjadi bilah runcing tajam berwarna merah. Dia menahan seluruh serangan Cthugha dengan mudah karena unggul dalam jumlah senjata. Dia bahkan bisa memberikan damage pada Cthugha karena kelebihan itu.
Selain itu, masing-masing pihak memegang kelas senjata yang sama, yaitu [Legendary-class]. Dengan Haki yang dia alirkan, kedua tangannya yang menjadi bilah bertambah semakin kuat.
"Haaa!!" ×2
Setiap Cthugha memberikan serangan dalam satu waktu, Ghidora bisa memberikan dua kali lipat dari serangan tersebut. Mereka berdua berusaha menyerang dan menahan dengan pedang, dan memancarkan energi mereka ke seluruh area.
Pertarungan yang intens.
Namun dalam hal jumlah Energi Mana, Ghidora memiliki batasan. Kekuatan jiwa Ghidora sebelum pertarungan adalah [SP: 3 juta] sedangkan Cthugha [SP: 31 juta], sepuluh kali lipatnya.
Jika Ghidora tidak mengalahkan Cthugha secepat mungkin, Ghidora pasti akan dirugikan.
Namun di ruangan ini ada Julius, si pemilik tempat. Meskipun dia tidak ingin mengganggu pertarungan antara Ghidora dan Cthugha, tapi dia tidak bisa pihak ini mengalami kekalahan.
"Aku akan melancarkan serangan!"
Oleh karena itu, dia melibatkan dirinya dalam pertarungan.
Busur atau item yang diberikan oleh Albert padanya cukup spesial, dapat melancarkan serangan proyektil berkecepatan cahaya. Jika digabungkan dengan skillnya, itu menjadi kombinasi yang paling sempurna.
Skillnya menduplikat dirinya sendiri, dan memanifestasikan ribuan Julius yang sedang memegang busur. Ketika Ghidora menyingkir dari Cthugha, ribuan Julius melancarkan serangan kuat ke arahan Cthugha dan menghujani tubuhnya dengan serangan cahaya tersebut.
Ketika seluruh panah cahaya menghilang, Cthugha mulai terlihat dari balik sisa asap. Dia masih berusaha untuk berdiri.
"Aku akan menghabisinya."
__ADS_1
Menggunakan busur tingkat [Legendary-class] di tangannya, Julius mengakhiri pertarungan dengan serangan penghabisan.