
Di angkasa, istana Aeghistar. Langit menjadi gelap untuk beberapa saat, lalu cahaya terik menyinari semua tempat setelahnya. Membuat semua orang menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu.
Cahaya tersebut, adalah sihir dari panah Julius yang sedang menyerang Cthugha. Dan cahaya ini, menyilaukan semua orang. Termasuk Luminous, Titania, Kaguya, Rin, Carol, dan seluruh Einherjar.
Mereka semua menganggap bahwa itu merupakan sinyal untuk mengakhiri pertarungannya.
Oleh karena itu, semua orang berinisiatif untuk mengakhiri pertarungan mereka masing-masing.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
Luminous, yang tidak berada jauh dari cahaya, menghentikan pertarungannya.
"Ya ampun. Sihir api yang sebelumnya saja sudah mengejutkanku, dan sekarang dia menunjukkan sinar terangnya. Mereka benar-benar bersemangat."
Luminous memandang ke kejauhan.
Tidak lama kemudian, dia sadar kalau dirinya sudah terlalu jauh dari istana. Dan kembali melihat musuh di hadapannya.
Itu adalah Jaeger dengan tubuh yang penuh luka bakar dan terengah-engah, namun masih tetap mempertahankan kesadaran dan posisi tubuhnya sambil memegang WarAxe-nya dengan kedua tangannya.
"Kau ingin menyerah?"
Luminous menawarkan kemurahan hatinya untuk Jaeger.
"Tidak ada alasan untukku menyerah."
"Begitu?"
Melakukan pertukaran singkat, kemudian mereka bertarung kembali.
Luminous dan Jaeger saling menutup jarak mereka.
"Hyaaah!!"
Dan kemudian mereka saling menyerang.
Jaeger menyerang dengan waraxe. Satu tebasan dari senjatanya sangatlah kuat dan dapat membelah bumi dengan mudah.
Namun seperti sebelumnya, itu masih dapat ditangkis dengan mudah oleh Luminous.
Lalu mereka melakukan pertukaran seperti ini berulang kali.
Meskipun war-axe milik Jaeger sangat berat, namun dia bisa leluasa mengayunkannya. Seperti senjata tersebut hanyalah papan kayu biasa. Itu sebabnya, kecepatan dalam pergerakannya bisa stabil.
Akan tetapi, Luminous tetaplah lebih cepat darinya. Bisa disetarakan dengan Albert dan Nodens. Sehingga bisa dengan mudah membaca pergerakan Jaeger dan menangkis setiap ayunan kapaknya.
Jaeger tahu akan hal ini, dia menyadarinya setelah bertarung dengan Luminous dalam waktu yang lama. Tapi, seni kapaknya bukanlah satu-satunya cara bertarung Jaeger.
Dia juga mengeluarkan berbagai jenis sihir yang tidak diketahui Luminous, dan bisa menggores Luminous sedikit demi sedikit dengan itu.
Sementara itu, Luminous hanya mengandalkan satu skill, yaitu nafas api, untuk melawan Jaeger.
Namun itu cukup ampuh karena dia dapat mendaratkan serangannya secara tepat, berbeda dengan Jaeger yang hanya bisa menggores.
Selain itu, Luminous masih memiliki Levi di sisinya yang dapat membantu kapanpun Luminous membutuhkannya.
Jadi, ini sebenarnya adalah pertarungan dua lawan satu. Dan pada tingkat kekuatan yang berbeda juga.
Bahkan jika Luminous tidak andal dalam seni bela diri, namun dalam posisi superioritasnya tersebut, melawan Jaeger masih menjadi pekerjaan yang mudah untuknya.
(Ini sudah cukup.)
Setelah meladeni Jaeger cukup lama, Luminous akhirnya akan mengakhiri pertarungannya.
Luminous, yang terlihat seperti sedang disudutkan oleh Jaeger dengan kombinasi serangannya, kemudian memegang senjata Jaeger dengan kedua tangannya.
Jaeger agak terkejut karena pertarungan mereka tiba-tiba berhenti.
Luminous mengabaikannya. Dia mengambil alih senjata Jaeger dan melemparkannya ke arah lain. Tentu saja, bersamaan dengan Jaeger yang tersangkut pada senjatanya.
"Apa!?"
Jaeger akhirnya terlempar ke udara dalam keadaan masih terkejut.
Di udara, sebelum Jaeger bisa merapihkan posisinya, Luminous sudah ada di sekitarnya.
Kemudian Luminous mengarahkan tendangannya kepada Jaeger dari belakang. Tapi, naluri Jaeger yang sadar akan hal itu tidak bisa membiarkan Luminous menyerangnya.
Tubuhnya secara reflektif mengubah arah, berputar, dan mencoba melakukan pertahanan dari tendangan Luminous menggunakan war-axenya.
"Bang!!"
Dia berhasil menangkis tendangannya.
Tapi, Jaeger tidak diberikan kesempatan untuk merasa lega. Karena Luminous muncul di ujung lintasan Jaeger yang sedang terhempas.
Dan tanpa belas kasih, Luminous menendang Jaeger kembali. Mengirim dia ke arah lain.
"Gahh!!"
Serangan tersebut sangat berdampak bagi Jaeger.
Luminous tidak hanya menendangnya seperti biasa, karena sebelum dia menyerang, Luminous menggunakan Hakinya yang selama ini tidak dia gunakan.
Berbeda dengan Jaeger yang sejak awal harus bertarung dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Selain itu, serangan Luminous tidak berakhir di sana.
Setelah Luminous menendang Jaeger, Luminous muncul di ujung lintasannya lagi, dan menendangnya kembali.
Itu terjadi berulang kali, hingga laju kecepatan Jaeger yang tertendang semakin dan semakin cepat.
Jaeger seperti bola yang memantul berulang kali di udara.
Sempai akhirnya, Jaeger di tendang ke arah bukit, dan menghancurkannya.
Luminous mencoba untuk memastikan keadaan Jaeger dan menemukan Jaeger dalam kondisi yang sudah tidak sadarkan diri. Bukan tidak bernyawa.
Eksistensialnya masih ada, namun energy-nya benar-benar terkuras habis.
"Misi selesai."
Setelah memastikan Jaeger tidak mati, Luminous memasangkan rantai padanya.
Hanya untuk berjaga-jaga, musuh harus diikat.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=
Cahaya terang menyinari seluruh tempat. Aldra dalam pertarungannya, menutup matanya untuk sementara karena kilauannya.
Namun sebelum cahaya itu meredup, seorang wanita iblis berkulit gelap dengan dual knifesnya, muncul secara tiba-tiba untuk menyerangnya.
Dia secara mendadak muncul di tengah-tengah bidang putih cahaya, muncul dengan aura kegelapannya yang tidak bisa disinari oleh cahaya tersebut.
Tanpa membuka mata, Aldra menangkis setiap serangan wanita itu dengan tombaknya. Dia melihat menggunakan persepsi sihir.
Meskipun begitu, wajahnya menunjukkan kecemasan. Dan, sekencang apapun angin yang berada di sekitarnya, itu masih tidak dapat menyejukkan tubuhnya untuk dapat membuat keringat di wajahnya berhenti mengalir.
Itu mungkin disebut keringat dingin.
Alasan kenapa dia bisa menjadi begitu khawatir adalah karena lawan yang ia rendahkan, sekarang menjadi gila.
Wanita iblis itu tanpa henti-hentinya terus menyerang Aldra. Bahkan di saat semua tempat menjadi begitu menyilaukan, dia masih terus menyerang.
"Hyahh, hahhh, hyaahh!!"
Iblis ini, yang terus menyerang Aldra, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kewarasannya.
Aldra sempat berpikir kalau dia sudah gila, tapi melihat dia begitu indah mempermainkan senjatanya, Aldra meragukan pemikiran tersebut.
Jika dia tidak memiliki rasionalitas, seharusnya pertarungan akan menjadi lebih mudah. Namun sebaliknya, itu menjadi semakin sulit.
Sekarang Aldra sudah memiliki banyak luka di sekujur tubuhnya.
Semakin lama pertarungan itu berlangsung, semakin banyak pula Mana yang harus ia konsumsi untuk menyembuhkan lukanya sendiri.
Hanya masalah waktu sampai Aldra benar-benar kalah. Dan dia sendiri tahu akan hal tersebut.
Tidak mungkin... Aku tidak mungkin kalah !!
Tapi, dia tidak mau mengakui hal ini.
Dia tidak percaya kalau ada iblis yang lebih kuat daripada dirinya.
Aldra memiliki harga diri yang tinggi.
"Sialan!!"
"Haha... Majulah!!"
Kemudian, daripada bertarung sambil memikirkan aspek keselematan, Aldra memutuskan untuk bertarung sampai mati demi menunjukkan harga dirinya.
Iblis itupun menikmati pertarungannya dengan Aldra.
Kemudian mereka memancarkan seluruh energy yang mereka punya dan mereka terus bertukar serangan.
Aldra menggunakan tombaknya, dan iblis menggunakan pisau gandanya.
Aldra unggul dalam pertarungan berjarak, sedangkan iblis memiliki keuntungan dalam jumlah senjata.
Mereka memiliki apa yang lawan tidak miliki. Sehingga, teknik bertarung dan keterampilan yang akan menentukan siapa pemenangnya di antara mereka.
"Kau sudah cukup berjuang."
"Huh?"
Tidak lama kemudian, iblis itu, yang memiliki paras cantik dengan kulit gelap, merubah sikapnya dari gila - menjadi tenang dalam waktu yang singkat.
Itu mengejutkan Aldra.
Keterkejutan itu membuat Aldra lengah untuk sepersekian detik. Dan menemukan dirinya telah tertusuk oleh musuh yang sedang tersenyum padanya.
Aldra tidak bergerak sedikitpun, dia sudah kehabisan Mana. Tapi meskipun begitu, Aldra memang tidak memiliki niat untuk bergerak karena dia sudah menyadari kalau dirinya telah dikalahkan oleh iblis wanita tersebut.
Kemudian tanpa berusaha mengepakkan sayapnya, Aldra terjatuh ke bawah sambil melihat wanita iblis itu yang terus memandanginya sampai dia kehilangan kesadaran.
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
"Ya ampun, itu menyilaukan!"
"Dia benar-benar menyerang lawannya."
__ADS_1
Di antara rerumputan yang bergoyang diterpa angin, Silva dan Kaguya duduk berdekatan sambil memandang istana Aeghistar.
Istana Aeghistar tampak seperti kastil kehancuran sekarang, dengan cuaca yang sangat kacau di sekitarnya.
Langit yang gelap, tanah di mana-mana telah hancur berantakan, ditambah dengan kekacauan yang dibuat oleh orang-orang yang sedang bertarung di dekatnya membuat kastil ini menjadi medan perang menakutkan.
Tapi, di antara kekacauan tersebut, dua gadis cantik di sini duduk bersantai di atas padang rumput yang damai dengan terpaan angin.
Seperti sama sekali tidak terlibat dengan perangnya. Padahal mereka adalah pihak yang bersangkutan.
Meskipun begitu tidak ada perselisihan di antara mereka. Mereka justru terlihat sangat dekat, sampai-sampai orang akan mengira kalau mereka itu bersahabat.
Mengabaikan kenyataan bahwa beberapa menit lalu, mereka memiliki niat untuk saling membunuh.
Namun sekarang itu tidak terlihat.
Sebelum kedekatan itu terjadi, mereka memang saling bertarung. Dan pemenang dari pertarungan tersebut adalah Kaguya.
"Tidak seperti yang lain, aku ini orangnya sangat serius!"
Mengatakan itu setelah memojokkan Silva, Kaguya menggunakan teknik berpedang dari ayahnya untuk mengalahkan Silva dalam sekejap.
Orang lain akan melihat kalau dia bergerak seperti cahaya. Mendekati Silva dengan cepat dan mengayunkan pedangnya tanpa terlihat.
Seperti itulah gaya bertarung Kaguya.
Setelah mengamati gaya bertarung Silva, dan memahaminya. Kaguya langsung mengalahkannya tanpa memberikan keringanan sedikitpun kepada Silva. Tidak seperti Luminous dan Titania yang masih memberikan kelonggaran terhadap lawannya untuk membiarkan mereka menunjukkan keahlian.
Silva adalah orang yang sial karena bertemu dengannya.
Namun Kaguya masih memiliki sisi baik yang tidak dimiliki oleh koleganya, yaitu kemurahan hati.
Kaguya mengalahkan Silva dengan cara memojokkannya. Dan setelah terpojok, Kaguya tidak menyakitinya. Melainkan menjelaskan keberadaan dia dan kelompoknya di sini kepada Silva.
Mungkin sejak awal Kaguya bisa berbicara, tapi terkadang seseorang tidak dapat mempercayai perkataan orang lain sebelum mereka benar-benar memperlihatkan kemampuannya.
Dengan gagasan tersebut, Kaguya menunjukkan kehebatannya. Dan Silva mengakuinya.
Atau lebih tepatnya, dia tidak memiliki posisi untuk menentang Kaguya. Jika dia menentang perkataan Kaguya, entah dia masih bisa hidup atau tidak setelah perang usai. Silva menghindari situasi terburuk, dan memilih aspek keselamatan.
Sekarang, dia begitu dekat dengan Kaguya. Dan Kaguya sendiri tidak mempermasalahkan kedekatannya. Atau sejak awal, Kaguya memang tipe yang bisa akrab dengan siapapun.
"Siapa itu, orang yang mengalahkan Cthugha?"
"Ketua Einherjar, Julius."
"Einherjar?"
"Einherjar merupakan kelompok khusus yang dibentuk sendiri oleh Tuan Albert. Tugas utama mereka adalah melindungi keluarga Tuan Albert, keluarga Testalia."
"Ohh! Itu sebabnya dia sangat kuat. Apa kamu juga Einherjar?"
"Bukan, aku hanyalah pelayan Nyonya Freya."
"Hou, begitu rupanya."
Tidak ada kegiatan, mereka hanya berbicara sambil mengamati perkembangan pertarungan sampai perangnya berakhir.
Karena mereka berdua sudah tidak memiliki niat untuk bertarung namun perang masih berlanjut. Pilihan mereka hanyalah menunggu.
Kaguya sebenarnya sudah melaporkan kemenangannya kepada Freya, dan mendapatkan balasan untuk tetap diam dan mengamati. Itu sebabnya dia tidak pulang, ataupun membantu yang lainnya.
Dan sebagai rekan bertarungnya, Silva sudah tidak peduli lagi dengan hasil perangnya.
Dia sudah mendengar semua penjelasan dari Kaguya. Dengan interpretasinya yang bersahabat.
Jadi, dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kaguya. Bahwa sebenarnya Albert bukanlah musuh mereka.
Ini hanyalah masalah mereka (Albert) dengan Nodens, namun Nodens membawa semua Pilar Surga ke pihaknya, dan memanfaatkannya.
Sejak awal Silva sudah menyadari kalau ada yang aneh dengan informasi Nodens. Namun karena Nodens orang terkuat di antara mereka sekaligus orang yang mereka lebih kenal bila dibandingkan dengan Albert, membuat para pilar lebih mempercayai perkataannya.
Ketimbang mempercayai Carol yang hanya memiliki sedikit citra di hati semua pilar. Mereka lebih mempercayai Nodens dan mau mendengarkan perkataannya bahwa Albert adalah musuh.
Tapi tidak disangka, pada akhirnya mereka hanya dimanfaatkan oleh Nodens. Disuruh bertarung dengan sesama pilar. Yang membawa mereka semua ke malapetaka ini.
Musuh memang bersalah karena mengacaukan istana sekaligus tanah ini, mereka juga masuk ke khayangan tanpa izin dan bahkan membawa iblis. Namun, orang yang lebih bersalah adalah Nodens karena memanipulasi semua orang untuk bergabung ke dalam kapal kejahatannya.
Sungguh, orang yang tercela. Kuharap kau mati di tangan Albert.
Silva mendukung Albert dengan sepenuh hati.
"Oh iya. Bagaimana kalian menjelaskan tentang iblis itu?"
"Titania? Dia sudah melakukan sumpah setia kepada Nyonya Merlin dengan kontrak jiwa. Dulu kami sempat dihebohkan dengan keberadaannya, tapi Nyonya Freya meyakinkan kami. Sekarang wanita itu memiliki pekerjaan yang sama sepertiku, yaitu menjadi pelayan."
"Begitu ya. Kontrak jiwa memang membuat orang yang melakukannya tidak bisa melawan perkataan apapun dari tuannya. Jadi, dia itu adalah budak kalian, bukan?"
"..."
"Eh? A-Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang tidak mengenakanmu?"
Silva menyebut Titania sebagai budak, Kaguya sangat tidak menyukai itu.
"Titania memang kadang-kadang bertindak di luar perintah, dan sering membuat aku kesal juga. Tapi dia adalah teman terdekatku. Kamu tidak boleh menyebut dia seperti itu."
__ADS_1
Dengan polos dan lugu, Kaguya memarahi Silva.