
"Grrrr... Wanita ini..."
Di tempat duduknya, ibuku sedang menggeram karena melihat suaminya (ayahku) bertemu dengan wanita lain.
Karena ini adalah pertama kalinya aku melihat ibuku marah, sampai aku bisa melihat vena di keningnya, aku sangat terkejut.
Dan bahkan tidak percaya, apakah ini masih ibuku yang sama atau dia sudah berbeda sejak aku meninggalkannya.
Tapi yang pasti, raut wajahnya itu entah kenapa mengingatkanku dengan wajah Merlin yang sedang marah.
Rupanya seperti iblis, padahal iblis itu sendiri justru lebih cantik dan sudah memenangkan pertarungannya dengan gaya yang elegan.
"Ibu, tenang. Aku yakin Ayah tidak melakukan itu dengan sengaja."
Aku akan mencoba menenangkannya.
"Kau yakin akan hal itu?"
"Hiik!"
Aku ingin menenangkannya, tapi ibuku seperti malah mengarahkan amarahnya kepadaku. Itu membuatku sedikit takut.
Ibu, kenapa kamu menunjukkan wajah seperti itu kepada putrimu sendiri!!
Tapi, yah... Aku bisa mengerti perasaan ibu. Lagian, meskipun Ayah tidak melakukan pendekatan yang disengaja dengan wanita itu, tetapi di mata kami itu terlihat seperti mereka adalah sepasang kekasih yang bertemu di medan perang.
Kesampingkan ayah, wanita itu, Silva, memegang tangan Ayah dan menunjukkan kekhawatiran yang sangat berlebihan seolah-olah dia adalah kekasihnya.
Istri manapun yang melihat suaminya melakukan adegan itu pasti akan menunjukkan sifat asli mereka, kan?
Ah, pembicaraan ini mengingatkanku kepada seseorang.
"Lilia, sepertinya kamu harus mendidik ulang suamimu."
"Tung-- apa yang kamu bicarakan!"
"Kamu benar. Aku akan menghukum dia nanti."
"Ibu!?"
Merlin baru saja membuat ibuku menjadi istri yang kejam.
Aku khawatir dengan Ayah sekarang. Meskipun dia bisa pulang dengan selamat ke rumah, belum tentu dia benar-benar selamat ketika ada di rumah.
"Tenangkan dirimu, Lilia. Mari kita ubah moodmu dengan melihat pertarungan yang lain."
Merlin, kamu suka memanipulasi orang lain, kan!? —Aku ingin sekali mengeluh.
Tapi, itulah cara dia memperlakukan orang selain Albert. Dia melihat semua orang seperti hewan kesayangannya sendiri, dan akan merawat hewan kesayangannya dengan caranya sendiri.
Ya ampun, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Bahkan ibuku dibuat menjadi penurut olehnya.
Mengesampingkan kegelisahanku, kami menonton siaran lainnya. Dan menemukan Rin melakukan pertarungan yang impresif.
Lawannya adalah Agatha, Pilar Surga ke enam.
Ketika Agatha menyerang Rin dengan twin bludgeon-nya, Rin tanpa menghindar – menangkis serangan Agatha dengan tangannya yang kokoh.
Agatha yang kehilangan momentumnya karena serangannya berhasil ditangkis ke arah lain, kehilangan keseimbangannya. Dan berakhir memukul tanah, lalu terjatuh.
Melihat dia terjatuh, Rin langsung menendangnya tanpa belas kasihan.
Bersama dengan gadanya, Agatha melambung tinggi di udara.
Serangan Rin tidak berhenti di sana. Dia segera menuju ke arah Agatha yang sedang melambung, lalu memukulnya ke tanah.
"BOOM!!"
Dunia berguncang karena itu.
"Ohh! Dia sangat kuat, kan?"
"Karakter pendiamnya menghilang entah kemana."
Kami senang melihat dia bisa bertarung.
Maksudku, kami sebenarnya khawatir apakah dia akan baik-baik saja ikut ke dalam perang ini. Namun, kekhawatiran kami tampaknya tidak diperlukan.
Kami tahu dia sangat kuat, itu terbukti ketika hari keajaiban Nava terlahir ke dunia. Dia mau mengorbankan energy jiwanya sendiri, yang mana hal itu sangatlah beresiko bagi kehidupannya.
Ditambah lagi, dia hanya perlu memulihkan staminanya hanya dengan tidur selama satu hari. Itu sudah membuktikan kalau dia sangatlah kuat.
Oleh karena itu kami tidak khawatir dengan kekuatannya, yang kami khawatirkan hanya tentang mentalnya. Dia sepertinya memiliki ingatan yang buruk tentang perang.
Tapi kalau sekarang dia bisa melawan musuhnya tanpa masalah, maka semuanya masih baik-baik saja.
Kesampingkan itu, karakter "putri bijaksana"-nya ternyata bisa menghilang ketika dia sedang berada di medan perang, ya?
Entah kenapa dia memiliki aura superioritas yang sangat kuat sekarang. Seperti, dia adalah tokoh utamanya di dalam perang tersebut.
Huh? Tunggu! Bukankah Albert sangat suka dengan karakter-karakter yang bersifat mengejutkan seperti ini?
...
Mari ganti siarannya.
__ADS_1
Ghidora sedang menonton pertarungan antara Damara dan Diego dengan musuh mereka masing-masing.
Aku paham, Ghidora tidak memiliki pekerjaan sekarang.
Seharusnya Nodens memiliki enam jenderal di bawahnya, dan mereka akan dipertemukan dengan seluruh Einherjar.
Namun, Miura meninggalkan sisinya sejak awal sehingga bawahannya tertinggal lima orang.
Kemudian perkembangan perang yang tidak terduga membuat Cthulhu dan Hastur mengkhianati mereka.
Pada akhirnya, Nodens tidak memiliki bawahan yang cukup kompeten untuk mengatasi Einherjar.
Bisa dibilang, perhitungan kami tidak salah dan strategi kami sukses. Strategi untuk menyerang Nodens lebih dulu ternyata bukan tindakan nekatnya Albert.
Sekarang Damara dan Diego sedang bertarung.
Damara memiliki keunggulan dalam hal defensive, jadi aku tidak tahu apakah dia bisa memenangkan pertarungannya atau tidak.
Dan berkebalikan dari Damara, Diego sangat unggul dalam hal offensive.
Diego cukup kuat, meskipun tidak sekuat Rin. Setidaknya, dia bisa memukul mundur musuhnya dengan greater sword yang suamiku berikan.
Dia pandai menghindar, dan akan melakukan counter attack ketika musuhnya lengah.
Dia-- tidak. Semua Einherjar pandai bertarung. Mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dengan bakat dan kejeniusan jika berbicara tentang ini.
Maka dari itu, bisa dibilang ini adalah kemenangan mereka (Albert dan yang lainnya) sejak mereka datang ke istana Aeghistar.
Sekarang tinggal mengamati pertarungan Albert dan Nodens.
Apa? Masih ada pertarungan antara Hastur dan Cthulhu?
Biarkan saja mereka. Kami tidak ingin menyaksikan konflik internal pihak musuh.
Ngomong-Ngomong, mereka semua kelihatannya sepemikiran untuk bertarung sendiri-sendiri daripada berkelompok, ya?
\=\=\=\=\= ××× \=\=\=\=\=
"Lihat, mereka berdua mengamuk!"
"Oh! Hebat!"
Jauh dari istana Aeghistar, Cthulhu dan Hastur bertarung satu sama lain. Dan Sophia beserta gadis-gadis lainnya hanya menonton mereka dari kejauhan.
Cthulhu menggunakan pedang, dan Hastur menggunakan tombak.
Gaya bertarung di antara keduanya sangat hebat. Ditambah dengan atribut yang mereka punya, segala macam pertarungan menjadi terlihat seperti catastrophe.
Badai angin, hujan, petir, dan es bercampur di satu lokasi.
Pandangan gadis-gadis itu terhadap pertarungan juga terhalang karena kekacauan tersebut. Jadi mereka hanya bisa mengamati pertarungannya dari jauh dan menunggu.
"Pertarungan mereka sangat intens, bukan?"
"Iya. Aku heran bagaimana Sophia bisa melawannya."
Raphael dan Veronika tertarik dengan pertarungan hebat ini.
"Hehe, tidak seperti kalian para penyihir, aku ini adalah tipe petarung jarak dekat."
Sophia menyombongkan dirinya kepada mereka.
"Kupikir keterampilan bertarungmu bukanlah alasan utama untuk masalah itu."
"Apa kau bilang!?"
Meskipun tidak dekat, tetapi Raphael cukup mengenal Sophia sampai batas tertentu.
Dia setidaknya tahu batas kemampuan Sophia, dan kemampuan aslinya seharusnya masih belum cukup untuk bisa menandingi Hastur.
Bahkan Raphael sempat berpikir kalau Sophia akan kalah ketika dia berkata ingin menghalangi Hastur.
Oleh karena itu, kalau bukan karena bonus dari Tuan Albert, Raphael tidak bisa memikirkan alasan lainnya kenapa Sophia bisa menjadi sangat kuat.
Singkatnya, Sophia bisa jadi kuat karena faktor eksternal, bukan karena kemampuannya sendiri.
Raphael berasumsi sedemikian rupa.
"Jangan bertengkar di sini atau kalian akan mendapatkan teguran. — Miura, kamu juga. Jangan ikut campur ke dalam pertarungan kakak laki-lakimu."
Veronica menegur mereka yang bertengkar, dan dia juga mencoba untuk menahan Miura karena Miura terlihat sangat ingin membantu Hastur.
"Tapi aku khawatir dengan Kakakku."
"Kalau situasinya menjadi gawat, kami akan membantunya. Sekarang lebih baik kita perhatikan saja pertarungan mereka dari jauh."
Setelah tahu kalau Hastur adalah kakak laki-laki Miura, Veronica dan yang lainnya memiliki alasan untuk membantunya. Tidak ada alasan untuk mereka tidak membantunya.
Tapi sekarang Hastur sedang bertarung untuk mengklarifikasi masalahnya dengan Cthulhu, bergabung dengannya sekarang sepertinya tidak tepat. Itu seperti Veronica dan yang lainnya akan mengintervensi masalah urusan pihak musuh.
Berbeda jika Hastur kalah dan berada dalam bahaya. Pada saat itu adalah waktu yang tepat untuk membantu Hastur.
Jadi, mereka akan mencoba mengamati pertarungannya lebih lama lagi.
Meskipun, mereka sudah melihat tampaknya Cthulhu lebih unggul daripada Hastur.
__ADS_1
Field badai es miliknya dapat meniadakan serangan apapun, termasuk berbagai macam serangan dari atribut Hastur.
Sepintas, badai es Cthulhu dan badai hujan petir Hastur sedang bergejolak di langit, tetapi jika mereka memperhatikannya lebih dekat, mereka akan menemukan kalau badai esnya bisa meniadakan atau mungkin membekukan setiap unsur dari badai milik Hastur.
Itu benar-benar membuktikan kalau suhu di field-nya Cthulhu sangat amat ekstrim. Terutama di pusat field itu sendiri, yaitu Cthulhu.
Itu pasti sangat berdampak bagi Hastur.
Pertarungan terus meningkatkan intensitas-nya. Dari pertarungan senjata, atribut, lalu sihir.
Mereka juga menggunakan Haki mereka masing-masing, tampak seperti pertarungan sudah mencapai *******-nya.
Meskipun begitu, mereka sama sekali tidak memiliki niat untuk berhenti. Mungkin jika salah satu di antara mereka berhenti atau mundur, itu akan menjadi kekalahan bagi mereka.
Hastur bertarung untuk melindungi adiknya, Miura. Jika dia berhenti, mungkin Miura akan mendapatkan serangan dari Cthulhu. Itu sebabnya dia tidak berniat untuk mundur.
Sedangkan Cthulhu sama sekali tidak memiliki alasan untuk berhenti. Karena dia sudah ketahuan melarikan diri dari pertarungan, dia pasti akan mendapatkan hukuman dari Nodens.
Berhenti di sini sama dengan mati. Itu berarti dia lebih memilih bertarung dengan Hastur daripada menyerahkan diri.
Mungkin, akan ada kesempatan untuk melarikan diri ke dunia manusia. —Cthulhu meyakinkan hal ini.
Karena keyakinan tersebut Cthulhu serius melawan Hastur.
Dia melancarkan sihir es berbentuk proyektil ke arah Hastur dalam jumlah besar.
"BOOM!" "BOOM!" "BOOM!"
Dan Hastur berhasil menahan sejumlah proyektil itu dengan tombaknya. Walaupun setiap proyektil yang tertangkis meledak menjadi serbuk es.
Pandangannya menjadi serba putih karena serbuk es tersebut.
Tidak lama kemudian Cthulhu muncul secara mendadak di tengah keputihan tersebut dan melancarkan serangan dengan pedangnya.
Hastur mau tidak mau dikejutkan dengan serangan tiba-tibanya, dan terburu-buru untuk menangkis serangan yang akan datang.
Namun, pergerakan Cthulhu sangat cepat. Ditambah lagi, suhu di sekitarnya juga menurun sangat drastis dan membuat gerakan Hastur sedikit terhambat.
Ketika Cthulhu menyerang, Hastur masih bisa menyempatkan tombaknya untuk menangkis serangan tersebut. Namun dia tidak menduga kalau serangan Cthulhu akan sangat membebankan dirinya, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan untuk sesaat.
Cthulhu seperti sudah memperhitungkan semuanya. Pada saat Hastur sudah kehilangan keseimbangannya, Cthulhu tidak ragu-ragu untuk menyerang Hastur dengan pedangnya.
"Bang!"
Cthulhu menyerang, atau lebih tepatnya menebas tubuh Hastur hingga membuat suara benturan dari pedang dan zirah terdengar cukup keras.
Serangan tersebut membuat Hastur terpukul sangat jauh hingga membentur bukit yang ada di jalurnya.
Bukit itu pun hancur seketika, menyisakan Hastur di dalamnya. Dia membuat kawah yang sangat besar.
"Kakak!!"
Melihat kakak laki-lakinya terlempar, Miura tidak bisa membantu tetapi berteriak. Dan dia langsung menghampiri kakaknya karena khawatir tanpa mencemaskan dirinya sendiri, sama sekali tidak memperhatikan bahwa masih ada Cthulhu disekitarnya.
Tapi Raphael dan Veronica tidak bisa membiarkannya sendiri, dan mau tidak mau mengikutinya menuju ke tempat jatuhnya Hastur.
Di sisi lain. Cthulhu sudah tidak memiliki niat untuk menyerang Hastur maupun Miura.
Di kepalanya hanya ada pemikiran untuk melarikan diri dari khayangan secepat mungkin, dan kemudian bersembunyi di suatu tempat.
Oleh karena itu dia tidak membuang-buang waktu untuk mengurus kakak beradik itu, dan segera melarikan diri dari sana.
Bencana alam yang terjadi sebelumnya, telah menghilang seolah-olah tidak pernah terjadi.
Namun, seluruh tempat itu menjadi saksi bisu untuk bencana alam yang sangat abnormal tersebut.
"Oi, oi, apa kau pikir, kau bisa melarikan diri?"
"!!"
Suara seorang wanita yang tidak Cthulhu kenal, telah memasuki indra pendengarannya. Itu membuat dia sangat terkejut.
Suaranya berasal dari belakang, namun dia tidak berbalik untuk mencari tahu siapa orang yang mengajaknya berbicara. Yang pasti, dia cukup asing dengan suara tersebut.
Cthulhu mulai mengingat kembali sekelompok wanita yang bersama dengan Miura. Dan dia akhirnya mengingat suara ini.
Itu adalah suara dari salah satu wanita yang datang bersama Hastur.
"Kau ingin berkelahi denganku?"
"Berkelahi? Bukankah sejak awal kita sudah ditentukan untuk bertarung? Baru sekarang kenapa kau mempertanyakan hal itu?"
"Huh? Setelah kau melihat aku bisa mengalahkan Hastur, kau masih yakin ingin bertarung melawanku? Apa kau ingin mati?"
"Pfftt, apa-apaan itu, ancaman? Justru karena aku sudah melihat gaya bertarungmu, aku yakin bisa mengalahkanmu, tahu! Jangan berpikir kau bisa melarikan diri dari pengawasan kami."
Cthulhu bermaksud ingin mengancamnya, namun malah mendapatkan ancaman balik.
Sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki niat untuk bertarung karena hal itu dapat membuang-buang waktunya.
Sekarang dia tidak memiliki pilihan lain selain bertarung.
Dia berbalik, dan menemukan wanita berlapis baja putih sedang membawa lembing dan perisai.
Sosok itu cukup memberikan intimidasi ringan terhadap Cthulhu. Sehingga dia berpikir untuk tidak meremehkan lawannya kali ini.
__ADS_1