
Untuk pertama kalinya, aku turun dari kuda setelah masuk ke dalam tim ini.
Menyerahkan pengawasan Alice kepada William dan yang lainnya, kupikir Alice akan baik-baik saja bila bersama dengan mereka.
Alice memberikan kata-kata seperti "Ayah, semangat!" untuk mendukung dan "Bawakan aku dagingnya." mengharapkan oleh-oleh dengan mata berbinar.
Sungguh, apakah dia benar-benar bisa memakan benda apapun?
Kurasa tidak seperti itu. Dia hanya penasaran dengan daging setiap monster yang dia lihat, dia tidak bisa benar-benar memakan mereka.
Aku melangkah maju, berhadapan dengan pihak musuh.
Selama kami berbicara, dia tidak melakukan pergerakan apapun. Mungkin masih meregenerasi tubuhnya?
Yah, aku tidak terlalu peduli. Aku ingin dia menyerang ke arahku dengan sekuat tenaga agar dampak dari sandiwara ini semakin terlihat.
Ngomong-ngomong, kekuatan milik lawan berjumlah sekitar tiga juta poin. Tidak seperti Golem sebelumnya, energi mana milik makhluk satu ini murni milik sendiri. Bukan energi dari eksternal.
Dengan kata lain, dia pasti sudah hidup sangat lama hingga bisa mengumpulkan poin sebanyak itu.
Sebagai perbandingan, tiga ribu tahun lebih hidup, Titania masih belum mencapai poin satu juta.
Meski ada faktor dimana Titania tidak mau mengumpulkan energi, kenyataan akan mengumpulkan energi secara alami memang terbukti sangat lama.
Sekarang kembali ke medan pertarungan.
Musuh mengarahkan salah satu tangannya ke arah kami. Menciptakan energi yang terkompresi di ujung tangannya dan dilepaskan ke arahku.
*BOOM*
Benturan antara serangan musuh dan pertahanan Hydra terjadi, lalu menyebabkan getaran ke seluruh ruangan.
Karena aku memiliki kepercayaan diri terhadap pertahanan memiliki Hydra, aku tidak perlu merapalkan sihir pertahanan lain.
Kemampuan lawan memang begitu kuat, namun masih terlalu dini untuk bisa menembus pertahanan kami.
*BOOM*
*BOOM*
*BOOM*
Musuh terus menerus melancarkan serangan yang sama ke arahku, namun aku terus berjalan mendekatinya, mengabaikan setiap serangan yang dia lepaskan.
Sampai akhirnya, aku tiba di jarak lima meter dengannya.
Mungkin lawan sudah mau memahami bahwa serangannya tidak berguna sama sekali, oleh karena itu dia mengubah pola serangannya menjadi ke serangan physical.
Mengarahkan kepalan di tangan kanannya dan menyerang aku dengan sekuat tenaga.
*BANG*
Pukulan musuh mengenai penghalang kami, menimbulkan suara seperti benturan logam dan menghasilkan percikan cahaya karena energi padat saling berbenturan.
*BANG*
*BANG*
*BANG*
Musuh berulang kali memukul penghalang kami, mencoba untuk menghancurkannya dengan segenap kekuatannya.
Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Sudah sampai sejauh ini, aku masih belum memikirkan skill apa yang perlu aku gunakan untuk melawannya.
Andai saja aku bisa merubah tubuhku ke bentuk raksasa, aku ingin melawannya dengan pukulan.
Meski Hydra sudah menganalisa kemampuan seluruh anggotaku, beberapa kemampuan spesialisasi dan kemampuan bawaan dari ras mereka masih tidak dapat kami ambil.
Sebagian contoh, kemampuan transformasi ke wujud raksasa milik Ignis tidak bisa Hydra salin karena itu adalah kemampuan rasial.
Dan kemampuan memberikan berkah seperti yang dilakukan Julius juga tidak bisa kami serap karena itu adalah kemampuan spesialisasi roh.
Yah, kemampuan memberikan berkah, aku tidak membutuhkannya karena Hydra sudah bisa melakukan itu. Atau sebenarnya, aku juga bisa melakukan itu sendiri jika aku mau. Bagaimanapun, aku adalah seorang pahlawan.
Sementara aku memikirkan banyak hal, musuh akhirnya berhenti untuk memukul pertahanan kami.
"Sungguh, kau telah melakukan hal yang percuma selama ini."
Aku berkata dengan acuh.
Namun, tiba-tiba wajah musuh mengeluarkan cahaya berwarna merah.
Apakah dia marah?
Sambil berfikir seperti itu, musuh melompat ke belakang dan mengambil jarak denganku. Kemudian dia menyentuh lantai dengan kedua tangannya dan sejumlah duri kristal tercipta dari lantai.
Sejumlah duri kristal itu terus bermunculan dari lantai dan mengarah ke arahku.
"Kau bermaksud menyerang aku dari bawah? Itu tidak akan berhasil!"
Dengan penambahan kemampuan fisik dari Hydra, aku bisa melompat jauh ke depan, ke arah dimana sejumlah duri. Karena duri itu cukup besar, aku bisa bergelantungan di ujung duri.
*krak*
Suara seperti itu muncul dari bawahku.
Instingku berteriak seolah-olah memperingati, jadi aku melompat ke atas. Kemudian lantai dimana aku berpijak sebelumnya mengeluarkan duri kristal yang sama, namun dalam ukuran lebih besar dan panjang.
Duri itu menjulang ke atas, menuju ke arahku seolah-olah ingin menyerangku dengan cepat.
"Hah!"
Aku terkejut.
Benda itu terus mengejarku setelah aku menggunakan mantra terbang untuk menghindarinya.
«Perhatikan area di sekitar anda, Master.»
Hydra memperingati.
Setelah mendengar itu, aku langsung melihat keadaan di sekitarku.
__ADS_1
Aku sedang melayang ke atas dan terdapat sejumlah benda yang sama sedang mengarah ke arahku dari berbagai sudut.
Benda runcing besar dan terus memanjang bergerak seperti ular.
Karena sudah terlanjur terbang, aku hanya bisa menghindari itu semua.
Sejumlah benda itu seperti memiliki pemikirannya sendiri, namun segera mengeras setelah aku bisa menghindari mereka.
Aku melihat ke arah musuh masih dalam kondisi menyentuh lantai.
Dari sana, aku dapat menyimpulkan satu hal bahwa musuh sedang memanipulasi mineral dari seluruh ruangan ini untuk menyerangku.
Namun, kemampuan seperti ini masih terbilang cacat karena jangkauan dari satu benda memiliki batasan dan akan mengeras ketika sudah mencapai posisi yang ditentukan.
Aku berfikir seperti itu sambil terbang dan terus menghindari sejumlah benda tajam itu.
Melihat benda itu semakin bertambah banyak dan hampir memenuhi lokasi ini, aku memutuskan untuk menyerang orang yang memanipulasi mineral itu.
Aku memesan senjata Armor Gauntlet dari Hydra, dan itu langsung terpasang di kedua tanganku. Berwarna hijau keemasan dengan ukiran eksklusif senjata kelas mistis, sangat indah dan mempesona.
Dengan kecepatan tinggi, aku menghampiri musuh dan langsung memukul kepalanya.
*BANG*
Tinjuku mengenai wajahnya, menyebabkan dia terpental ke belakang dan berguling-guling.
Melihat ke belakang, tumpukan duri tajam itu mulai berhenti menyerangku, tapi tidak menghilang. Benda itu benar-benar permanen karena terbuat dari mineral di sekitar.
Hm? Kemampuan untuk memanipulasi mineral? Bukankah ini hampir sama dengan kemampuan milik Tethra?
Hanya saja kemampuan musuh kali ini hanya sebatas pada mineral, tidak pada unsur lain.
Tunggu, jika begitu, bukankah aku juga bisa melakukan hal yang sama?
Aku mencoba mengingat kembali skill milik Tethra, menggunakan imajinasi sebagai landasan dan mulai menyalurkan Mana.
"[MANIPULASI ELEMEN]"
Sambil mengarahkan tanganku ke arah sejumlah duri mineral itu, aku mengaktifkan skill.
Sebenarnya, tanpa perlu mengarahkan tangan, aku bisa mengaktifkan sihirnya. Namun, aku masih perlu mengarahkan pikiranku ke arah dimana sejumlah duri itu berada. Itu sebabnya aku perlu mengarahkan tangan agar arah dari skill dapat terkunci di satu titik.
Aku tidak bisa mengaktifkan skill manipulasi ini secara sembarangan dan menyebabkan seluruh area di tempat ini hancur. Itu akan menyebabkan kami ikut terbawa masalah.
Bagaimanapun juga, aku masih pemula dalam menggunakan skill ini.
Setelah aku mengaktifkan skillnya, sejumlah benda itu mulai mencair dan berjatuhan kemana-mana.
"Ohh, ternyata itu sukses besar."
Aku kagum dengan kemampuanku sendiri, kufufu.
Aku hanya membayangkan benda keras itu menjadi cair, dan semuanya berjalan dengan lancar.
Tunggu, kemampuan memanipulasi elemen ini bukankah sangat berbahaya? Bagaimanapun, kemampuan ini tidak terbatas pada apapun, selama benda atau pihak lain tercipta dari unsur, itu dapat termanipulasi.
Dengan kata lain, kemampuan ini juga berlaku untuk makhluk hidup.
Itu artinya, Tethra menjadi orang terkuat di antara kami??
Hmm, mungkin Tethra bisa disebut sebagai Ratu Materi.
Ngomong-ngomong, aku tidak menghilangkan duri di atas lantai karena aku takut lantai itu ikut termanipulasi.
Yah, aku akan mengurus itu nanti karena saat ini aku masih dalam pertarungan.
Kemudian aku mendengar beberapa kalimat dari para pengamat.
"Ohh, seperti yang diharapkan dari, Tuan Albert."
"Fumu, sangat mengesankan."
"Apakah itu kekuatan Ayah?"
"Ya, tidak diragukan lagi, dia adalah yang terkuat."
Seperti itu. Aku mendengar pembicaraan mereka dari kejauhan, namun tidak melihat ke arah mereka.
Sepertinya aku mendapatkan besar kepala di sini karena tanpa aku sadari, aku telah menaruh kedua tanganku di pinggang dan membusungkan dada.
Aku segera menghilangkan pemikiran aneh di kepalaku dan langsung menuju ke arah musuh.
Musuh mengalami cedera pada bagian kepalanya, itu hancur karena terpukul oleh senjataku.
"Benar-benar hebat! Seperti yang diharapkan dari senjata kelas mistis."
Namun, segera musuh meregenerasi kepalanya kembali dengan kecepatan mengerikan.
Dia benar-benar monster. Bahkan masih bisa meregenerasi ketika otaknya hancur.
Karena dia tidak bergerak, kemampuan regenerasi pasti merupakan sistem pertahanan otomatis tanpa perlu diperintah.
Musuh membenarkan kembali posisi dan mengarahkan kedua tangannya ke lantai.
"Kau ingin mencoba hal yang sama seperti sebelumnya?"
Tidak ada jawaban. Dia terlihat tidak dapat mengerti bahasa manusia.
Dia melancarkan sejumlah duri seperti sebelumnya ke arahku, namun aku menghentikan itu dengan skill milik Tethra.
Kali ini, aku tidak mencairkannya tetapi menyerang dengan kemampuan yang sama.
*BOOM*
*BOOM*
*BOOM*
Sejumlah duri berbenturan di tengah-tengahnya kami, menciptakan serpihan serbuk mineral ke mana-mana. Itu sangat berdebu.
Mungkin merasa kesal karena serangannya terus dihalangi, musuh menciptakan duri kristal lebih besar dari area di depannya dan mengarahkan duri itu ke arahku.
Ukurannya sangat besar, menjulang ke atas dan menukik ke bawah untuk menciptakan momentum.
__ADS_1
Aku sempat berfikir untuk mencairkan benda itu, tapi itu hanya akan menyebabkan aku terkena dampak setelah dia mencair.
Bagaimanapun posisi benda itu berada di atasku.
Bagaimana jika menimpa sihirnya?
Aku mencoba menyalurkan lebih banyak Mana agar objek dari kemampuan musuh bisa berada di bawah kendaliku.
Dengan imajinasi sebagai landasan dan konsumsi Mana yang berlebihan, arah dari serangan musuh mulai merubah haluan dan mengarah ke musuh itu sendiri.
Benda itu mengambil jalan memutar dan menyerang musuh dari samping.
Musuh tidak dapat merespon dan serangan itu menabrak tubuhnya hingga berbenturan dengan gerbang di belakangnya.
*BOOM*
Tubuh musuh tertahan oleh serangannya sendiri. Posisinya sedang tergantung karena diapit oleh gerbang dan duri.
Dia mencoba untuk melepaskan diri, menggunakan tangan besarnya untuk menghancurkan benda mineral di depannya.
Namun, benda itu pulih kembali setelah mendapat kerusakan karena itu masih di dalam kendali sihirku.
Sekeras apapun dia berusaha untuk merusaknya, itu akan terus pulih selama di tempat ini terdapat mineral.
"Fumu, sekarang kita harus apakan makhluk ini?"
Karena dia terus memberontak, aku menahan tangannya ke dinding agar dia bisa diam. Kemudian aku mendekatinya karena dia sudah tidak bisa melakukan apapun, tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Kurasa, ada kondisi tertentu untuk mengaktifkan kemampuannya dalam memanipulasi mineral, yaitu dia harus menyentuh objek dengan kedua tangannya.
Tidak seperti kemampuan Tethra, Tethra hanya perlu menggunakan daya pikir untuk memanipulasi unsurnya. Sama seperti apa yang aku lakukan sebelumnya. Mungkin itu bisa disebut dengan telekinesis.
Kemampuan musuh mungkin bisa terbilang versi rendah dari kemampuan Tethra, dan bisa disamakan dengan kemampuan dari para Naga Bumi.
Yah, itu tidak akan menjadi masalah lagi. Tapi...
«Hydra, kamu bisa meniru kemampuan lawan?»
«Tentu saja, Master.»
Hydra menjawab tanpa ragu.
Sebenarnya, kemampuan miliknya cukup unik dan terbilang berguna walaupun masih memiliki kondisi tertentu untuk mengaktifkannya.
Tapi, mungkin Hydra bisa memodifikasi kemampuan tersebut, mengubah syaratnya agar bisa dilakukan dengan telekinesis.
Kemudian kami menelan makhluk itu, memasukkan dia ke dalam dimensi terpisah untuk dianalisis lebih lanjut.
Setelah semua, aku membersihkan lokasi dari berbagai duri kristal, merapihkan area dan menjemput seluruh anggotaku yang tertinggal di belakang.
Dengan menggunakan Gerbang Transfer, mereka bisa datang ke lokasi ini dengan cepat.
Beruntung, mereka tidak mendapatkan kendala apapun selama perjalanan di area pegunungan.
Selain itu...
"Lihat ini, Alice."
Atla menghampiri Alice dengan sebuah telur besar berwarna merah di tangannya.
"Telur?"
"Benar, kami menemukan sarang monster di perjalanan."
"Apa kita akan memakannya?"
"T-Tidak, kita akan merawat monster ini sampai besar."
Alice terlihat kecewa setelah mendengar itu.
Dia terlihat sangat lapar, jadi kami menyiapkan makan... Siang?
Ngomong-ngomong, aku lupa dengan waktu.
"Apa kalian sudah makan?"
Aku bertanya kepada Merlin.
"Belum, aku akan menyuruh mereka untuk menyiapkan makan malam."
Begitu, ya. Mereka juga belum makan...
Eh, makan malam?
Itu artinya makan siang sudah lewat? Bagaimana bisa aku melupakan makan siang?
Pantas saja anak itu selalu membicarakan makanan. Sial, aku gagal menjadi seorang ayah!
Selain itu, aku heran kenapa tidak ada yang mengingatkan aku tentang makan siang, sigh.
Sudahlah, kondisi tidak memungkinkan kami untuk melakukan makan siang, dan ini bukan seperti mereka akan mati atau kekurangan energi hanya karena tidak makan siang.
Seperti yang terlihat, kami menggelar tikar di lantai tanpa perlu mengkhawatirkan ada ancaman dari pihak tak dikenal.
Ignis dan tim memasak menyiapkan peralatan mereka untuk memasak.
Segala bumbu dan bahan pokok lainnya juga dikeluarkan.
Namun, ada satu hal yang tidak aku sadari. Itu adalah Leon, dia datang dari pintu masuk lantai 98.
Mungkin ada yang tertinggal?
Sambil memikirkan itu, Leon mengeluarkan ikan besar berwarna hitam dari ruang penyimpanannya.
Hei, dia kembali ke lantai 98 hanya untuk mengambil bahan makanan?
Selain itu, ternyata monster penghuni area magma itu benar-benar ikan.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mengambil ikan tersebut, tapi apakah itu akan enak bila dimakan?
Monster itu bisa bertahan di tempat dengan suhu lebih dari sepuluh ribu derajat, kan? Bagaimana kalian akan mengolahnya menjadi makanan kalau monster itu bisa tahan terhadap api?
Aku mulai bertanya-tanya, namun sepertinya aku terlalu khawatir.
__ADS_1
Leon meminjam pedang milik Saber dan mulai mengiris kulit dari monster ikan hitam itu. Kemudian, kami bisa melihat daging dari ikan itu tidak berwarna hitam. Itu berwarna merah seperti daging pada umumnya.
Aku yakin itu bisa dimakan, jadi aku tidak mempermasalahkan makan malam kali ini adalah hidangan ikan.