
Kakuna dan Renata mulai serius menghadapi pertarungan.
Tidak ada pemikiran untuk merendahkan pihak lain dan akan bertarung dengan seluruh kemampuan mereka masing-masing.
Melihat Kakuna sudah menyelesaikan transformasinya, Renata menghampiri Kakuna, bergerak dengan kecepatan tinggi, dan mengarahkan dua bilah pada pedang gandanya ke arah Kakuna.
Renata mengincar leher Kakuna, dua bilah pedangnya fokus ke sana, diayunkan secara horizontal.
Kakuna masih belum bergerak, padahal pedang Renata sudah hampir mencapai leher Kakuna.
Karena Kakuna mengenakan bentuk aneh dan arah matanya tidak dapat diketahui oleh Renata karena kepalanya tertutupi semacam helm.
Namun Renata tidak peduli. Pergerakannya sangat cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Jadi dia berfikir kalau Kakuna tidak dapat merespon pergerakan Renata.
Dan ketika kedua bilahnya sudah mencapai jarak satu jengkal dari leher Kakuna...
*Ting*
Kedua pedang Renata ditangkis oleh tangan kiri Kakuna, menimbulkan suara yang tumpang tindih.
Renata melebarkan matanya karena tidak percaya, dan di saat yang bersamaan, Kakuna mengarahkan pukulannya untuk memukul Renata menggunakan tangan kanannya.
Tidak memiliki waktu untuk terpesona akan kekuatan lawan, Renata menghindari pukulan Kakuna dan segera menjauh darinya.
Masih sangat aneh. Pedang Renata seharusnya dapat memotong benda apapun karena kelas senjatanya sudah berada di peringkat [Legendaris].
Renata tidak terlalu tahu benda apa yang telah menutupi tubuh Kakuna, tapi jika itu bisa menangkis senjata kelas [Legendaris] milik Kekaisaran tersebut, itu artinya daya tahan tubuh dengan pedangnya sama.
(Aku mengetahui kalau sisik naga sangat keras, tapi apakah itu bisa disebut sisik?)
Renata mulai mengamati kekuatan musuh.
Tidak dapat berasumsi dengan benar karena kekurangan informasi.
Hanya saja, jika itu benar-benar sisik, itu artinya pedang kembar milik Renata seharusnya dapat membelahnya. Dia hanya perlu berusaha lebih keras lagi agar dapat memotongnya.
Baiklah. —Renata memutuskan mencobanya sekali lagi. Datang ke Kakuna dan langsung melancarkan banyak serangan dari kombinasi pedangnya.
Renata sudah mengikuti banyak pelatihan intensif di markas militer Kekaisaran, dia sudah mendapatkan banyak arahan berpedang dari beberapa Sword Master di sana.
Dia sangat terampil dan sangat yakin memiliki keunggulan karena jumlah Mana di tubuhnya sangat besar.
Namun saat ini, Kakuna bisa menangkis seluruh serangan kombinasi pedang kembar Renata. Meski Renata tahu kalau jumlah energi Kakuna tidak lebih besar daripada dirinya, dia masih tidak mengerti kenapa dia tidak dapat menembus pertahanan Kakuna.
Meski Kakuna sangat keras, pergerakannya cukup lambat. Tapi dia sangat terampil menangkis atau menghindari serangan Renata.
Dan meski pergerakannya tidak terlalu cepat, persepsinya masih bisa mengikuti kecepatan Renata dan bisa mengambil keputusan tepat untuk bertahan atau menghindari serangan.
Kakuna sangat mengerti tentang caranya bertarung dan sudah sangat membuat Renata kerepotan.
(Jika seperti ini terus, kami hanya akan terus bertarung sampai salah satu diantara kami kehabisan energi!)
Renata menyimpulkan.
Renata tidak bisa menembus pertahanan lawan, dan lawan tidak bisa menjatuhkan serangan fatal ke Renata.
Pertarungan itu hanya akan menghabiskan energi mereka masing-masing, yang mana sangat merugikan bagi Renata.
Jika Renata bisa menang dalam pertarungan ini, dia hanya akan bertemu dengan para naga lainnya.
Renata memang bisa melarikan diri, tapi ada kemungkinan kalau musuh sedang menunggu Renata kehabisan energi dan akan menyerang dirinya setelah itu.
Itu merupakan strategi yang licik. Tidak ada yang tahu pola berfikir naga seperti apa. Jadi, hal seperti itu mungkin saja akan mereka lakukan tanpa ragu.
Sekarang Renata dilanda kegelisahan. Dia tidak bisa memutuskan sendiri tindakan seperti apa yang harus dia lakukan karena biasanya dia hanya mengikuti perintah.
Selama perintah masih ada, dia harus menjalankan perintah itu selayaknya kewajiban.
Tapi, atasannya kali ini sepertinya sudah mati terkena ledakan. Dan bahkan Kaisar sudah dihantam oleh ledakan, mereka pasti sudah mati.
Hanya saja, masih terdapat para petinggi non kombat di markas militer Kekaisaran. Kembali tanpa menyelesaikan perintah akan mendapatkan hukuman.
Sampai saat ini, Renata belum pernah belum pernah dijatuhi hukuman karena selalu bisa menyelesaikan misinya dengan mudah.
Sekarang kendala terdapat pada musuh di depannya.
Apakah dia harus melarikan diri sekarang atau menggunakan banyak energi untuk mengalahkan naga di depannya dan kemudian melarikan diri setelahnya.
Walaupun misinya belum diselesaikan sepenuhnya, setidaknya dia sudah membunuh satu naga.
Dia hanya perlu melaporkan kejadian dan menjelaskan situasinya. Bagaimana mereka akan menilainya, akan menjadi urusan nanti.
Renata memutuskan untuk melarikan diri setelah mengalahkan Kakuna, dan akan membawa informasi keadaan peperangan ke petinggi Kekaisaran.
Jadi, mulai dari sini dia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tanpa perlu menahan diri, tanpa perlu menahan energi, semua akan dia keluarkan untuk bisa kembali ke Kekaisaran.
*
Dari kejauhan, Kakuna melihat aura Renata semakin dipertajam ke satu tempat, yaitu di pedangnya.
__ADS_1
Insting Kakuna mengatakan bahwa Renata sudah tidak bisa menahan diri lagi dan akan menyerang Kakuna habis-habisan.
Kakuna tidak khawatir, dia hanya perlu lebih serius, membalut seluruh tubuhnya dengan sihir pertahanan multilapis.
Bila musuh ingin bertarung dengan output energi berjumlah besar, maka Kakuna juga hanya perlu mengikutinya.
Hanya saja, ini akan buruk jika musuh melarikan diri dengan menggunakan seluruh jumlah energinya. Mungkin, Kakuna tidak dapat mengejarnya setelah itu.
Kakuna dan Renata saling menatap, ketika persiapan di sisi Renata sudah selesai, Renata tiba-tiba menghilang dari tempatnya.
(Sudah kuduga!)
Kakuna mengerti kalau musuh akan meningkatkan kecepatannya.
Sebelum ini, meski tidak dapat mengimbangi kecepatan lawan, Kakuna masih bisa memprediksi setiap gerakan lawan. Itu sebabnya dia bisa bertahan dari serangan Renata.
Dan sekarang, perbedaan kecepatan sudah sangat jauh dari sebelumnya, persepsi Kakuna tidak dapat menangkap pergerakan Renata karena terlalu cepat.
Pandangan Kakuna selalu memeriksa keadaan di sekitarnya karena tidak dapat menemukan Renata. Dan menimbulkan perasaan cemas karena tidak dapat melihat keberadaan musuh.
"!!"
Rasa merinding berlebihan tiba-tiba dapat dirasakan di punggung Kakuna. Dia berbalik, mengikuti refleks dan membuat sikap bertahan. Namun tidak terdapat siapapun di belakangnya.
Kakuna memeriksa kembali seluruh area, kecemasannya semakin meningkat.
Tidak diragukan lagi bahwa barusan merupakan niat membunuh musuhnnya. Itu berarti musuh tidak melarikan diri dan masih berada di sekitar Kakuna, menunggu Kakuna menurunkan pertahanannya.
Mengetahui kondisi sudah semakin genting, Kakuna memutuskan untuk menambahkan pertahanannya. Jika tidak ditingkatkan, perasaan cemasnya tidak bisa hilang.
Namun, sebelum dia bisa menambah penghalang, siluet gelap tiba-tiba muncul dari sebelah kiri, memasuki persepsi Kakuna.
Karena situasi semakin genting dan membuat Kakuna sangat terkejut, Kakuna gagal menambahkan penghalang dan memilih untuk bertahan. Lalu...
*Slash*
Tangan kiri Kakuna terpotong karena serangan salah satu pedang musuh. Begitu mudahnya musuh bisa memotong penghalang berlapis Kakuna dengan satu pedang.
Namun tidak sampai di sana. Musuh memiliki satu pedang lagi sedang mengarah ke leher Kakuna dari arah belakang.
Dia ingin berbalik untuk menggunakan tangan kanannya agar bisa menangkis serangan musuh.
Menerima begitu saja serangan musuh akan mendapatkan pukulan fatal, Kakuna sudah belajar.
Namun dia tidak memiliki waktu untuk memutar tubuhnya karena pedang sudah berada sepuluh senti dari tengkuk lehernya.
Kakuna berteriak di dalam hati, mengira kalau dia akan mati tertebas.
*BOOM*
Ledakan terjadi di lokasi mereka, menimbulkan asap berwarna abu-abu.
Tidak lama kemudian...
"Kau, tidak apa?"
Tidak jauh dari asap ledakan, seorang pria mengenakan seragam putih dengan sepasang sayap dan tanduk, berdiri tegak di udara membelakangi Kakuna.
"Nahat?"
Sambil memegangi tangan kirinya yang hilang, Kakuna terkejut.
Dalam perspektif Kakuna, Nahat telah menyelamatkannya dari serangan Renata. Membawanya melarikan diri dari lokasi dengan cepat.
"Hm, kau beristirahat saja sekarang. Dari sini, biar aku yang menjadi lawan pria itu."
Sambil melemparkan tangan kiri Kakuna yang terputus ke arah Kakuna, Nahat menggantikan tempat Kakuna.
"Serangannya dapat menembus pertahanan multilapisku dengan mudah, hati-hati."
Kakuna memperingati, dan mundur dari lokasi pertarungan untuk menghubungkan kembali tangannya yang terputus dengan Elixir.
Sekarang, di lokasi hanya terdapat Nahat dan Renata, mereka saling memandang.
Nahat dapat melihat aura musuh dipusatkan di kedua pedangnya. Itu memang dapat meningkatkan Damage. Akan tetapi, menembus kulit Kakuna seharusnya tidak akan mungkin bila hanya dengan itu.
Jadi, ada kemungkinan musuh telah mengaktifkan skill untuk kedua pedangnya, atau itu adalah kemampuan bawaan kedua pedang itu sendiri.
Mengetahui hal itu membuat Nahat menjadi cemas karena Nahat tidak memiliki perlengkapan apapun untuk menandingi senjata lawan.
Tim "Empat Belas Member Elite" sebenarnya akan diberikan senjata, namun semua itu masih dalam proses pembuatan.
Awalnya para naga berfikir bahwa senjata sangat tidak diperlukan, tetapi Nahat sekarang sangat membutuhkannya dan sudah mengerti senjata itu cukup penting untuk meningkatkan kesempatan memenangkan pertarungan.
Yah, memikirkan itu sekarang tidak ada gunanya. Untuk saat ini dia harus memikirkan bagaimana caranya untuk melawan pria bertopeng tersebut.
Di saat Nahat sedang berfikir, tiba-tiba Renata menghilang dari pandangannya.
"Hmm, begitu, ya. Dia menggunakan cara ini untuk memotong tangan kiri Kakuna."
__ADS_1
Nahat mengerti setelah melihat bagaimana musuh bekerja.
Kakuna memang kuat, tapi tidak cukup cepat untuk menangkap pergerakan musuh kali ini. Jika saja dia bisa memahami keberadaan musuh, Kakuna pasti tidak akan kehilangan tangan kirinya.
Nahat meningkatkan persepsi sihirnya, hingga ke batas maksimal.
Kemudian dia mendapatkan musuh ingin menyerangnya dari belakang, menggunakan skill spesialis Assassin. Wajar saja bila Kakuna tidak dapat mendeteksi keberadaannya.
*Slash*
Renata memotong leher Nahat hingga terputus dari belakang. Namun dia langsung menyadari bahwa itu hanyalah ilusi setelah tubuh terpotong itu menghilang seperti asap.
Hm!? —Terkejut dengan itu, Renata kehilangan musuhnya.
Mencari keberadaan musuh dengan panik, dan menemukan musuh sedang menyentuh perutnya.
"Eh?"
"[Freeze]!"
Disaat Renata kebingungan, Nahat membekukan tubuhnya dengan sihir es dan meningkatkan output energinya, menyebabkan penurunan suhu yang sangat drastis di lokasi.
Renata memang sangat cepat dan memiliki kemampuan memotong yang sangat mengerikan, namun dia tanpa sadar hanya terfokus pada dua hal itu, dan melupakan hal penting yaitu pertahanannya.
Tubuh manusia Renata membeku dengan cepat akibat sihir Nahat. Kehilangan kesadaran secara perlahan, menjatuhkan senjatanya, dan akhirnya tumbang jatuh ke tanah dari ketinggian ratusan meter.
Kecerobohan. Hal itu terjadi kepada Renata. Untuk pertama kalinya dia menghadapi naga, dia menganggap bahwa semua naga itu memiliki kemampuan yang sama.
Itu tidak salah, tapi lawannya kali ini adalah naga yang terlatih dengan baik. Dan memiliki kecerdasan tinggi seperti layaknya petarung kelas satu.
"Hebat, Nahat. Kamu bisa mengalahkan dia dalam waktu singkat."
Terbang mendekati Nahat, Kakuna memberikan selamat kepadanya. Tubuhnya sudah dalam kondisi baik-baik saja.
"Itu hanya kebetulan saja. Dia tidak memiliki cukup banyak reaksi dan terlambat mengambil keputusan. Mungkin dia belum pernah bertarung dengan lawan yang setara dengannya."
Nahat memberikan pendapatnya.
Ketika Kakuna melawan Renata, Renata unggul di beberapa aspek dan selalu selangkah lebih maju daripada Kakuna.
Itu hanya nasib sial Kakuna karena spesialisasi lawan sangat tidak cocok untuknya.
Sejak awal, tugas Kakuna memang hanya untuk mengalihkan perhatian Renata ke tempat lain. Dan tugas seperti itu merupakan pekerjaan yang sangat cocok untuk Kakuna.
Setelah itu, mereka berdua mulai menghampiri tubuh membeku Renata untuk mengambil pedang, dan tentu saja tubuh Renata.
Meski tubuhnya sudah terkristal, Renata masihlah merupakan petarung peringkat [Epic], sama seperti Nahat dan yang lain.
Jadi, dia tidak akan mati hanya karena tidak mendapatkan oksigen. Selama jiwanya masih kuat, tubuhnya bisa dipulihkan kembali agar dapat bekerja dengan normal.
Bahkan jika detak jantungnya terhenti. Itu semua akan baik-baik saja selama organ tubuhnya masih berfungsi dengan baik.
*****
Kami terus menyaksikan medan pertempuran dari observatorium.
Kerja bagus untuk para member elite, mereka benar-benar bisa bekerja sesuai dengan harapan kami.
Awalnya aku sedikit khawatir dengan mereka, namun kekhawatiran itu ternyata sangat tidak diperlukan.
Kami sudah mendapatkan dua pemimpin dari kedua negara musuh. Pencapaian yang sangat hebat.
Akan tetapi, aku merasa kalau kami akan mendapatkan banyak sekali pekerjaan setelah ini.
Kami sudah menyuruh Monta untuk menyerahkan urusan Kekaisaran Karamia kepada Kerajaan Herunia. Sedangkan urusan Kekaisaran Dortos akan diurus oleh pihak kami.
Sebelumnya aku memiliki pemikiran untuk membawahi kedua negara itu. Namun tiba-tiba aku teringat akan sesuatu.
Jika aku membawahi kedua negara besar itu, aku pasti akan mendapatkan lebih banyak pekerjaan. Itu sudah pasti akan terjadi.
Oleh karena itu, aku mengurungkan niatku untuk membawahi mereka. Mungkin sistem "Negara pengikut" lebih baik daripada menjadikan mereka "Negara bawahan".
Aku memang tidak akan bisa mengatur mereka sepenuhnya kalau mereka menjadi negara pengikut, tapi aku masih bisa meminta sesuatu dari mereka.
Itu sudah cukup baik. Mengatur terlalu banyak wilayah juga bisa menjadi hal merepotkan.
Aku akan sangat senang bila perusahaan kami mendapatkan ekstrateritorialitas di tanah orang asing. Dapat menghindari pemungutan pajak dan dapat membeli tanah.
Yah, jika mereka menjadi negara bawahan kami, keuntunganku pasti lebih besar lagi. Tidak hanya bisa memilih tanah, tetapi juga bisa mendapatkan hasil pajak mereka. Kekayaan mereka akan berlari ke arahku.
Namun, aku memilih untuk tidak melakukan itu.
Kenapa? Semua orang pasti akan senang bila mendapatkan uang, tapi tidak untukku.
maksudku, sejak awal aku sudah punya uang banyak. Jadi hanya dengan mendapatkan uang kecil hasil pemungutan pajak Kekaisaran, benar-benar tidak menarik minatku sama sekali.
Bekerja lebih keras hanya untuk uang kecil. Sungguh, aku yakin beberapa orang tidak akan melakukan hal merepotkan seperti itu.
Kecuali jika mereka menganggur. Berbeda denganku, begini-begini aku ini orangnya cukup sibuk.
__ADS_1