Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Batu Bertuah.


__ADS_3

"Whoah! Luas!"


Dari langit, kami menemukan hamparan dataran luas setelah melewati hutan. Sangat tidak terduga kalau ternyata terdapat tanah subur di dasar laut.


Di arah utara, ujung laut yang telah kami lewati masih bisa terlihat. Namun kami masih tidak menemukan ujung laut lainnya dari arah berlawanan. Singkatnya, kami masih tidak tahu apakah daratan ini merupakan benua atau hanya sekedar pulau. Hydra masih sibuk dengan pengamatan hal tersebut.


Pokoknya, dataran di depan kami sangatlah luas dan terlihat seperti daratan normal di atas permukaan laut. Aku bahkan bisa menemukan bukit dan bayangan gunung yang sedang tertutup awan.


"Anginnya sejuk!"


Mengendarai kuda di sampingku, Eliza menikmati hempasan angin yang meniupnya. Rambut putih kebiruannya yang panjang berkibar bersama dengan jubah putihnya, dia super cantik ketika sedang seperti itu.


Sejak awal, dia memang sudah cantik, hanya saja tingkah kekanak-kanakannya di masa lalu membuat kesanku terhadapnya tidak begitu bagus. Namun sekarang aku telah sadar kalau dia sudah berubah, dan... Ah, lupakan. Itu hanya membuatku jatuh cinta padanya padahal aku tidak tahu apakah dia menyukaiku atau tidak.


Tidak lama kami berjalan, kami akhirnya menemukan pasukan penunggang hiu lagi. Kali ini jumlah mereka semakin banyak dan memblokir jalan kami.


Sangat keren, aku suka pasukan penunggang hiu terbang ini. Kalau Alfred ada di sini, aku pasti akan menyuruhnya berhadapan dengan mereka. Mereka pasti sangat terkejut ketika melawan paus terbang anti serangan fisik.


"Tuan Albert?"


"Lakukan sesukamu."


"Dimengerti!"


Tapi, Eliza juga sudah cukup karena dia adalah kakak pertama dari tiga bersaudara tersebut.


Eliza terlihat sangat senang ketika aku menyerahkan segala urusan kepadanya. Sekarang aku baru sadar kalau ini adalah satu-satunya kesempatan baginya untuk bekerja dan akan dianggap telah ikut berkontribusi oleh keluargaku yang lain. Aku hampir lupa mengenai posisinya yang masih menjadi bawahan dan hampir saja tidak memberinya kesempatan untuk mendapatkan pujian semua orang.


Eliza berdiri di depanku untuk berhadapan dengan mereka, lalu seseorang bertubuh besar dengan hiu terbang yang lebih besar bergerak ke hadapan kami dan membelakangi penunggang hiu lainnya.


Kurasa, dia adalah komandan dari pasukan itu. Auranya sedikit berubah.


"Kalian berdua, datang dari luar daerah ini, ingin melakukan apa? Jawablah!!"


"Tuanku ingin bertemu dengan orang paling berkuasa di tempat ini! Jangan menghalangi jalan kami!"


"Apa maksudmu, kalian ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja Mahatta!?"


"..."


Eliza melihat ke arahku untuk mencari jawaban, di sana aku langsung mengangguk.


Orang besar itu harus berteriak untuk berbicara dengan Eliza. Kupikir dia takut mendekati kami. Selain itu, Raja Mahatta adalah orang paling berkuasa di negeri ini. Kalau tidak salah nama negeri ini adalah Galantis.


"Benar! Tuanku ingin bertemu dengannya!"


"Kenapa kalian ingin bertemu dengan Beliau! Sebutkan tujuan kalian?"


"Ini tidak ada hubungannya denganmu! Kalau kalian tidak ingin menyingkir dari jalan Tuanku, aku tidak akan segan-segan untuk memukul kalian!!"


Kesabaran Eliza sudah mulai habis. Di sini, apa aku harus turun tangan?


Di sisi lain, setelah Eliza mengancam mereka, pria berbadan besar itu memandang ke sekeliling kelompoknya, seperti ragu-ragu ingin melawan kami atau tidak. Lalu...


"Ka-Kami tidak bisa membiarkan orang asing memasuki negeri kami secara sembarangan!! Jika kalian tidak ingin kami menyerang kalian, kalian harus menyerahkan diri kalian dengan tenang!!"


Pria itu tetap tidak membukakan jalannya untuk kami. Ya, aku mengerti tugas mereka memang seperti itu. Hanya saja, jika mereka ingin menyerang kami, seharusnya mereka sudah melakukan hal itu sejak awal seperti ketika mereka menemukan kami di hutan. Tapi bukannya menyarang kami, mereka malah menyuruh kami untuk menyerahkan diri.


Orang ini tidak bisa jujur sama sekali kalau dia tidak ingin berhadapan dengan kami dan masih saja bersikap berani.


Lihat Elizaku, dia sudah mengencangkan rahangnya dan menunjukkan gigi-giginya. Mirip banget sama Alice ketika sedang kesal karena Alice memang meniru kakak yang satu ini.


Eliza mulai mengeluarkan Grimoire dari tas di pinggangnya. Dia serius ingin mengurus mereka dengan sihir?


"..."


Dia sudah mengeluarkan Grimoirenya, namun tidak melakukan apapun.


"Ada apa dengan Eliza, dia terlihat kebingungan."


«Master, tempat ini sudah terisolasi sepenuhnya. Sihir sudah tidak bisa digunakan di sini. Eliza pasti merasakannya juga.»


«Apa? Musuh bisa melakukan itu?»


«Em.»


Datang kabar buruk dari Hydra dan menjelaskan kenapa Eliza hanya diam saja. Namun, Eliza tidak mengeluh kepadaku, biasanya dalam situasi membingungkan ini, dia akan bertanya padaku atau orang lain. Tapi kali ini dia tidak melakukan hal tersebut, mungkin masih ingin memikirkan cara lain selain menggunakan sihir.


Kalau memang begitu, dia sudah dapat diandalkan sekarang.


Selain itu, sihir sudah tidak dapat digunakan namun kuda dan hiu di sini masih bisa melayang di udara dengan benar. Itu karena sejak awal mereka menggunakan kemampuan spiritual seperti hantu yang bisa melayang di udara.


Naga dengan energi yang besar bisa melayang secara alami, karena semakin besar energi yang dimiliki seseorang, semakin jauh orang tersebut dari kata makhluk fana. Sedangkan hiu di sini memiliki atribut spiritual dengan kekuatan roh yang kuat. Bahkan tanpa energi yang besar, mereka sudah bisa melayang karena atribut tersebut. Itu keunggulan atribut spiritual yang biasanya dimiliki oleh seorang pahlawan (manusia).

__ADS_1


Eliza mulai memasukkan kembali buku sihirnya ke dalam tas, kemudian dia... Berubah.


Apa, dia tidak mau menahan diri?


Secara bertahap, dari kepalanya yang berubah menjadi memiliki paruh dan berbulu, tangan menjadi sayap besar, dan kemudian dia mulai terbang.


Suhu menjadi sangat dingin ketika dia menjadi makhluk ini, Frost Garuda.


"Wah, mo-monster!!"


"Bertahan!!"


"Ahhh!!"


Pertarungan berakhir dengan sangat-sangat cepat. Itu bisa dihitung dalam hitungan detik. Ketika Eliza berubah dan terbang, dia hanya perlu melintas atau mendekati pasukan musuh, lalu mereka semua membeku dalam tiga detik.


Dia benar-benar monster dan tidak memiliki rasa belas kasih sedikitpun.


Harus bagaimana aku menjelaskan hal ini kepada raja mereka nanti? —Aku, termenung dengan aksi Eliza. Aku pikir dia akan memukul mereka beneran, ternyata...


Ya sudahlah.


Setelah Eliza melintasi pasukan penjaga negara ini, dia terus melaju ke arah depan dan mendekati benteng mereka.


Aku tidak sadar kalau di sana ternyata ada benteng seukuran vila dua lantai. Eliza masuk ke dalam sana sendirian.


Ingin apa dia ke sana, kupikir sudah cukup untuk menyingkirkan pasukan tadi dari jalan.


Bosan menunggu, aku menghampiri benteng tersebut sambil membawa kuda Eliza. Aku juga sedikit khawatir dengannya.


Pasukan penjaga yang membeku, mereka memiliki kekuatan untuk bertahan hidup. Aku yakin setelah es di tubuh mereka mencair, mereka masih bisa dihidupkan dengan sihir.


Ah, penanganan ini terlihat berantakan sekali. —Tapi pada akhirnya, aku menghilangkan es di tubuh mereka dan menyembuhkan mereka. Sangat tidak nyaman membuat orang terluka tanpa bertanggungjawab.


"J-Jangan!!"


"Apa ini batunya?"


"Ahh, batu bertuahnya telah diambil oleh musuh!!"


Setelah aku menyembuhkan pasukan yang membeku, aku masuk ke benteng dan menemukan beberapa teriakan. Di sana, Eliza sedang memegang batu yang baru saja dia rebut dari pasukan di benteng ini.


Di dalam benteng sangat berantakan sekali, seperti habis berperang. Itu semua pasti perbuatan pasukan benteng ini sendiri, melihat tidak ada es sedikitpun di dalam sini.


"Tuan, lihat ini, batu anti sihir!"


Eliza berlari ke arahku setelah melihatku.


"Sungguh? Bagaimana bisa batu ini menghilangkan sihir?"


"Katanya, kita hanya perlu menempatkan batu ini di setiap sisi dan batu ini bisa mencegah pengaktifan sihir di dalam area tersebut."


"..."


Biar lebih cepat mengerti, ketika seseorang di dalam kurungan batu itu, dia tidak bisa menggunakan sihir. Begitulah maksudnya, setelah hidup lama tinggal dengan Eliza, aku terbiasa menguraikan kata-katanya.


Aku mengambil batu itu, Batu Bertuah seukuran bola voli, dan menganalisa dalamnya. Kemudian aku terkejut dengan hasilnya. Ternyata, itu adalah batu suci, batu yang ada di dunia Seraphim.


Tapi intensitasnya tidak sebagus batu suci itu sendiri, bisa dibilang Batu Bertuah ini adalah versi rendah dari batu suci.


"Hei, ini hebat."


"Benarkah? Batu ini bisa mencegah aktifasi sihir, Tuan! Pasti ini akan sangat berguna."


Eliza terlihat sangat bersemangat. Aku tahu kalau dia ingin dipuji, jadi aku memujinya dan mengelus kepalanya. Dia terlihat senang di sana.


Jika dia tahu kalau batu ini adalah batu suci, mungkin dia akan kehilangan semangatnya. Lebih baik aku diam saja dan mengatakan faktanya nanti.


"Kalian berbuat seenaknya jangan kira bisa melarikan diri! Kami sudah melaporkan perbuatan kalian ke markas pusat dan mereka akan segera datang ke sini!"


Salah satu penjaga benteng ini marah kepada kami. Dia terlihat sudah tua, berambut putih dan berjanggut. Dia bersama dengan dua penjaga lainnya.


Ah, sepertinya rambut putih bukan hanya karena dia sudah tua. Aku juga melihat rekan-rekannya yang lain berambut putih. Atau bisa dibilang ras Merfolk memang kebanyakan memiliki rambut berwarna putih dengan sirip biru atau putih sebagai ganti daun telinga. Bagian sirip mirip dengan punya Alfred.


"Apa kau baru saja meneriaki Tuanku!!"


"!!"


Eliza berbalik memarahi pria tua tersebut dan kelihatan ingin memukulnya.


"Tunggu, kamu tidak perlu sampai semarah itu, kan?"


"Tidak, Tuan. Dia terlihat sombong."

__ADS_1


Itu bukan sombong, dia hanya marah karena kamu berbuat seenaknya. Tapi aku tidak mengatakan hal ini dan menariknya ke pelukanku.


"Eh...?"


"Tenanglah."


"Tu-Tu-Tu-Tuan..."


Eliza terlihat sangat gugup dan wajahnya sedikit memerah karena aku memeluknya dan mendekatkan wajahku. Sebenarnya, sejak awal perjalanan ini dimulai, aku selalu memikirkan tentang perasaan Eliza terhadapku. Soal laut terbelah, pasukan penunggang hiu, atau batu Bertuah, itu semua tidak terlalu aku pikirkan.


(Yah, ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal seperti ini di depan orang lain, tapi untuk-- eh...?) —Saat aku mencoba untuk menenangkan Eliza dengan memeluknya, tiba-tiba dia mendorongku untuk bisa lepas dari pelukanku dan berpaling. Di sana aku sangat shock. Itu adalah pertama kali aku memeluknya tanpa adanya kehadiran keluargaku, tapi dia malah menolaknya.


Sekarang, aku semakin yakin kalau dia tidak begitu suka denganku.


Bagaimana ini, semua terasa canggung setelah aku memeluknya tanpa meminta izin. Ditambah lagi, aku melakukan hal itu di depan banyak orang. Itu seperti penolakan Eliza disaksikan oleh orang-orang ini.


Sial, memalukan! Aku harus membunuh mereka!


"T-Tuan, kenapa kamu terlihat sangat marah?"


"Eh... B-Bukan, Aku enggak marah. Aku cuma-- ah! Ngomong-Ngomong, dia bilang, mereka telah melaporkan perbuatan kita ke markas pusat. Apa itu artinya, orang-orang dari pusat akan datang ke sini?"


Alihkan, alihkan. Aku tidak sanggup menatap Eliza dan bertindak seperti kejadian sebelumnya tidak pernah ada.


"Benar! Mereka akan segera datang dan menangkap kalian!"


"Mungkin lebih bagus jika kita menunggu kedatangan mereka di sini... Seberapa cepat mereka akan tiba-- Hm?"


Baru saja aku ingin menanyakan kapan pasukan bala bantuan mereka akan datang, namun segera aku menyadari kehadiran banyak orang sedang menuju ke arah kami dari arah selatan.


Tidak salah kalau itu adalah sejumlah pasukan bala bantuan, kan? Mereka bertindak dengan cepat. Atau mungkin, penjaga di benteng ini sudah melaporkan kedatangan kami ke markas pusat mereka semenjak kehadiran kami di tanah ini? Itu sudah setengah jam berlalu.


"Eliza."


"Huh?"


Sambil menggandeng Eliza, kami berjalan keluar benteng karena khawatir dengan kuda-kuda kami.


Terdapat satu sosok yang cukup kuat berada di pasukan tersebut. Dengan kekuatan itu, mungkin saja dia menyerang benteng ini untuk memusnahkan kami dari luar.


"Mo-Monsternya banyak sekali!"


"Ohh!"


Sampai di luar, kami dikagumkan dengan barisan monster berbagai varian ukuran sedang menuju ke arah kami.


Semua monster itu berjenis ikan, ada juga yang memanjang seperti ular tapi kurasa itu adalah belut laut.


Sekarang aku baru sadar dan bertanya-tanya dengan apa ikan-ikan tersebut bernapas?


"Jumlah mereka sangat banyak. Karena kita tidak bisa menggunakan sihir, aku ingin kamu menunggu di sini."


Jika mereka semua terbunuh oleh Eliza, kunjungan kali ini pasti akan berakhir dengan penjelajahan. Dan bahkan penaklukan.


"Tapi, aku masih bisa membekukan mereka."


"Ya, kamu benar. Cara itu juga lebih cepat. Tapi aku ingin menggunakan mereka untuk menuntun kita ke tempat raja mereka. Soalnya kita masih belum tahu lokasi tempat tinggal raja negara ini berada, kita baru pertama kali datang ke sini, kan?"


Tidak, sebenarnya aku sudah tahu dimana lokasi istana negara ini berada dari ingatan Zen, aku bahkan sudah tahu wajah raja mereka itu seperti apa. Tapi, inilah kesempatanku untuk mengambil alih tempat Eliza. Kalau tidak begini, Eliza akan terus menyerang orang yang tidak sopan denganku sampai perjalanan kami tuntas.


"Kalau begitu, biar aku saja yang bertanya pada mereka."


"Huh!? I-Itu berarti kamu harus bertarung dengan mereka tanpa menggunakan sihir?"


"Fufu, tenang saja. Kak Freya dan kak Merlin mengajariku untuk tidak mengandalkan kemampuan sihirku saja. Jadi aku juga telah menguasai beberapa teknik bela diri dari mereka, Tuan!"


Gawat. Terakhir kali anak ini pernah babak belur oleh rekannya Tristan karena tidak bisa menggunakan sihir. Apa dia sudah lupa dengan itu!?


"Ju-Jumlah mereka ada banyak banget. Apa kamu akan baik-baik saja menghadapi mereka semua? Aku, aku bisa loh mengandalkan Aura Hydra untuk melawan mereka, aku tidak bermaksud melawan mereka dengan tangan kosong."


Tidak, aku baru saja memikirkan cara itu untuk mencari alasan. Berbeda dengan sihir yang memantrai seseorang dengan energi Mana, penggunaan aura adalah pertarungan dengan energi itu sendiri secara langsung.


Yah, sesuatu yang disebut "mantra" di dunia ini perlu energi Mana untuk bayarannya. Hal itu dapat menghemat energi pengguna dan dapat melakukan hal apapun sesuai dengan fungsi mantranya. Jadi, penggunaan mantra sihir sangat baik untuk efisiensi energi Mana.


Sedangkan Aura adalah penggunaan energi itu sendiri, energi dilepaskan begitu saja untuk melawan musuh. Selain tidak dapat menghemat energi, terapannya juga sangat terbatas. Namun, penggunaan energi dapat dioptimalkan. Pertarungan di tingkat Legendary-class pastinya menggunakan aura dan senjata untuk pengoptimalan kekuatan mereka.


Aku bahkan sampai mencari alasan seperti itu supaya Eliza tidak menghadapi mereka, padahal kekuatan tempur lawan tidak sampai ke tingkat legenda.


"Aura? Ah, aku juga mau mencobanya! Aku juga diajarkan cara mengendalikan aura oleh kakak. Benar juga, ini pasti alasan kakak mengajariku teknik ini. Bahkan dengan adanya batu anti sihir itu, aku masih bisa menyerang mereka. Tuan Albert, tolong serahkan penanganan mereka kepadaku!!"


".... U-Um."


Baik, pengambilalihan kendali telah gagal. Apa yang aku lakukan, aku bahkan membuat ini semakin parah.

__ADS_1


__ADS_2