
"Ini..."
"Beliau adalah leluhur pertama vampire, atau bisa dibilang vampire pertama di dunia, Ratu Mary Scarlet."
Ketika aku dikejutkan dengan vampire cantik, Wilhelm memperkenalkan namanya lagi.
Ini sungguh sangat menakjubkan. Rambut merahnya sama bagusnya seperti rambut Ignis, hanya sedikit lebih gelap.
"William, dia sangat cantik. Bagaimana menurutmu?"
"Ya, walaupun jiwanya sudah tidak ada, namun tubuhnya masih menyimpan begitu banyak energi."
(Eh, ngomong apa anak ini...) —Aku kagum dengan William yang begitu tidak peka. Atau dia memang sengaja melakukannya?
"Bodoh, bukan itu maksudku!"
"Ah, maafkan aku. Memangnya Anda bertanya tentang apa?"
"Maksudku, aku menginginkan anak ini, jadi apa kamu mau menikah dengannya kalau dia hidup kembali?"
"Ah, itu ternyata. Jika Anda berkehendak, maka saya akan menjadikan dia istri."
"Hah!?" ×6
Pernyataan kami yang begitu santai membuat kelima vampire dan Zen terkejut. Mungkin memang agak idiot berbicara tentang pernikahan dengan mayat. Setelah dipikir baik-baik, aku mulai merinding dan jijik dengan diriku sendiri.
"Kamu setuju begitu saja? Bagaimana kalau sifatnya tidak begitu baik bagimu? Selain itu, kamu juga harus menanyakan perasaan Olivia, kan? Aku tidak setuju kalau Olivia tidak setuju."
Mari kesampingkan mereka karena ini masalah keluarga kami.
"Tenang saja, Tuan Albert. Kami berdua tahu kalau hari — dimana Anda akan menikahkan aku untuk tujuan politik — pasti akan datang. Oleh karena itu, Olivia hanya meminta untuk dijadikan istri pertamaku. Untuk masalah sifat, apapun itu tidak masalah karena aku bisa meluruskan jalan pikirannya agar mau mengabdi kepada Anda."
Anak ini, dia sangat tenang sekali. Dan juga, tujuanku menikahkan vampire ini dengannya bukan untuk politik, tapi untuk mendapatkan keturunan vampire berdarah murni di dalam keluarga.
Si Ratu Mary ini mau dilihat dari manapun sangat mengesankan. Selain wajah dan tubuh cantiknya, dia mempunyai atribut spiritual atau energi jiwa yang sangat murni, tidak ada atribut iblis atau energi kematian di tubuhnya seperti vampire lainnya.
Siapa yang mengira kalau vampire asli ternyata memegang atribut spiritual?
Yah, itu memang tidak seaneh William dimana vampire malah punya atribut suci, tapi vampire dengan atribut spiritual juga sudah cukup mengejutkan bagiku. Dia pasti akan cocok jika dipasangkan dengan William.
"Baiklah kalau begitu. Aku memutuskan untuk membangkitkannya, [Kehendak Ilahi: Resurrection]."
Aku bangkit dari singgasana hanya untuk mengumumkan hal itu. Setelah aku menghidupkan vampire itu dan duduk kembali, tidak lama kemudian matanya terbuka.
Ngomong-Ngomong, wajah para vampire terlihat bermasalah. Mungkin mereka masih tidak setuju dengan pernikahan Ratu mereka. Tapi, tidak ada yang bisa melarang hal itu karena posisi mereka bukan pada tempatnya.
Selain itu, alasan kenapa tubuhnya tetap segar di dalam peti mati selama ribuan tahun atau bahkan lebih adalah karena energi kehidupannya. Core di tubuhnya tidak rusak, hanya jiwanya saja yang menghilang. Dengan kata lain, tubuhnya tidak pernah mati.
Setelah Kehendak Ilahi digunakan, jiwanya terpanggil kembali ke tubuh ini dan melanjutkan kehidupan sebelumnya.
"Hmm~"
Dia — sang Ratu Mary — mengerang seperti orang baru bangun tidur yang sedang mengencangkan otot-otot kakunya dan memancarkan energi yang sangat kuat ke sekitarnya.
"Apa ini, pemerkosaan?"
Eh? —Aku sedikit terkejut dengan ucapan pertamanya setelah bangun dari tidur panjangnya selama ribuan tahun. Dia bangkit dan menegakkan tubuhnya untuk untuk melihat ke sekitar sebelum mengatakan itu.
Dikelilingi oleh pria memang membuat wanita akan berpikir seperti itu, ya. Sepertinya itu cukup wajar.
"Yang Mulia Ratu, kami mengucapkan selamat atas kebangkitan Anda ke dunia." ×5
"Bangkit? Ah, kukira ini pelecehan jenis baru. Aku tidak menyangka akan bangkit di atas peti mati sambil dikelilingi oleh banyak pria."
"Maafkan kami, beliau di singgasana adalah orang yang membantu Anda bangkit, Yang Mulia Ratu. Beliau adalah Raja Iblis dari Tanah Naga, Lord Albert Testalia."
"Hm?"
Dia berbicara sangat lancar seolah-olah tidak memiliki tekanan apapun. Dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja dibangkitkan.
Setelah Wilhelm memperkenalkan aku padanya, dia menatap mataku. Mata kami berdua bertemu. Pada saat itu juga, entah kenapa aku seperti telah melihat Merlin pada dirinya sampai-sampai aku tidak bisa mengucapkan apapun karena terpana.
"Aku ingin darah."
"Dimengerti, kami akan mengambilkan darah untuk Anda."
Hanya dengan sekali perintah, salah satu vampire pergi untuk memenuhi permintaannya.
Sungguh, aku bisa merasakan kehadiran Merlin pada Ratu Vampire ini.
"Kenapa repot-repot mengambilnya padahal ada manusia di sini..."
Tiba-tiba, dan dengan cepat, dia bergerak tanpa suara sedikitpun. Lalu tiba di belakangku untuk menaruh sepasang taring tajamnya di leherku.
"Ah!"
"Aku sudah mendapatkan perintah dari Tuan Albert untuk mengurusmu. Jangan lakukan hal bodoh itu kepada beliau."
Namun tindakannya langsung dicegah oleh William. William menarik rambutnya untuk menjauhkan kepalanya dari leherku.
"Siapa kau dan siapa Albert? Jauhkan tanganmu dari rambutku sekarang! Atau-- Ahk!"
"Aku William, dan beliau ini adalah Tuanku, Albert Testalia. Kau tidak boleh berbicara tidak sopan kepadanya karena dia adalah orang yang telah membangkitkanmu. Seharusnya kau tahu diri, vampire bernama Mary."
"Kalian semua selalu saja seperti ini, aku tidak akan pernah menuruti perkataan kalian!"
__ADS_1
Situasi semakin tidak terkendali. Mary mulai sungguh-sungguh ingin bertarung dengan William, sedangkan William... Dia telihat biasa-biasa saja.
Dia masih bisa tenang di situasi seperti itu? Atau itu hanya sekedar poker face seperti apa yang selalu aku lakukan?
Apapun itu, aku tidak bisa membiarkan mereka bertengkar. Aku bangkit dari singgasana dan melihat ke arah mereka berdua yang berada di belakang bangku.
"Hentikan! Aku bersedia memberikan darahku, sebagai gantinya kamu harus memperkenalkan dirimu kepada kami."
"..."
Semua terdiam setelah aku memperbolehkan Mary menghisap darahku.
"Tunggu, Tuan Albert. Itu sangat tidak sopan baginya untuk meminum darah Anda. Selain itu, Kak Merlin dan Kak Freya pasti tidak akan setuju."
William menentangnya. Memang, Merlin dan Freya pasti akan sangat marah kalau tahu darahku dihisap oleh orang lain, apalagi orang itu adalah wanita.
«Aku juga menentangnya. Sebenarnya, tanpa perlu memberikan darah Anda kepada wanita itu, William juga bisa menanganinya. Master, jujur saja, Anda hanya ingin digigit oleh wanita cantik, kan?»
«Eh, ketahuan, ya?»
«Hmph, dasar Master bejat.»
Aku tidak bisa menyangkal kata-katanya, dan sedikit malu. Bahkan Hydra si Divine Monster juga tidak ingin aku selingkuh. Tapi jujur saja, bukankah cara tercepat adalah memberikan darahku kepadanya supaya dia mau percaya dan terbuka kepada kami?
"Lepasin!"
"William, biarkan dia..."
Mary meminta untuk dilepaskan, dan kemudian menuju ke arahku setelah dilepaskan oleh William.
"Biarkan aku menghisap darahmu. Aaa~"
"Tunggu dulu, aku punya syarat lain..."
Mary tanpa ragu membuka mulutnya untuk memasang taringnya di leherku, tapi aku mencegahnya.
"Ada apa lagi? Kau banyak maunya, ya."
"Tentu saja aku harus mendapatkan bayaran yang setimpal darimu karena telah menghisap darahku, kan? Jangan bilang, hanya dengan memperkenalkan diri bisa membayar darahku, kamu tidak berpikir seperti itu, kan? Kamu tahu, banyak orang akan marah kalau tahu ada vampire asing telah menghisap darahku tanpa alasan jelas?"
"Ck, merepotkan sekali padahal aku hanya ingin menghisap darahmu, bukan memakanmu. Cepat katakan apa keinginanmu, aku sudah tidak sabar."
Cewek ini menganggap enteng segalanya, namun aku memang agak cerewet. Apa aku terlalu gugup untuk dihisap oleh vampire cantik? Tidak mungkin, kan?
"Syaratku hanya, kamu harus datang ke kastil kami, lalu ini adalah pertama dan terakhir kali kamu menghisap darahku. Setelah ini tidak ada lagi darah dariku."
"Aaa~"
"Tunggu, jangan di leher! Hisap dari lengan."
"Aku sudah punya istri, dia lebih kuat daripada siapapun di sini. Kalau dia tahu kamu mengigit leherku, kamu tidak akan bisa berteman dengannya."
"..."
Aku tidak tahu apakah dia akan menyetujui syarat dariku untuk datang ke kastil. Setidaknya dia mendengarkan perkataanku untuk menghisap darahku dari lengan.
"Hm? Ini sangat nikmat!"
"Uhh..."
Dia menikmatinya. Sementara itu, aku melihat ke sekeliling dan menemukan William sedang menatap Mary dengan hawa nafsu.
(Eh, ada apa dengan William?) —Aku agak khawatir dengannya. Namun, aku bisa melihat taringnya memanjang dan nafasnya terengah-engah.
Ada apa dengannya, mungkinkah dia juga ingin menghisap darahku? —Aku entah bagaimana bisa mengerti perasaan William.
"William, kamu belum pernah menghisap darahku, ya? Apa kamu mau mencobanya, eh? Ah!"
"!!"
Sambil mengulurkan tanganku ke arahnya, aku menawarkan diri. Dan setelah aku menyelesaikan kalimatku, William tanpa berkata apapun langsung menerkam diriku. Itu membuat kejutan.
"Orang ini, padahal kau sudah dilarang menghisap darah Ayah."
"Huh?"
Ignis baru saja menggunakan hal yang tidak bisa aku abaikan.
"Aku baru saja menyaksikan keajaiban."
"Kau tidak boleh membicarakan hal ini kepada siapapun."
"B-Baik, Tuan!"
Ignis menegur Zen yang sedang terpana. Dia adalah orang asing yang telah melihat banyak rahasia kami. Apa dia perlu dimusnahkan untuk menjaga kerahasiaan?
"Luminous, bantu para naga dan bawa mereka ke sini."
"Baik, Tuan Ignis."
Luminous pergi untuk melaksanakan tugas dari Ignis. Setelah keempat naga itu ke sini, aku harus memberikan penjelasan yang masuk akal untuk mereka.
"Hei, berhenti! Kalian berdua bisa menghabiskan seluruh darahku!"
"..."
__ADS_1
"..."
Uh, mereka tidak mau mendengarkan perkataanku dan terus menghisap darahnya.
"I-Ignis, bantu aku."
"Ya."
Kedua tanganku sedang repot mengurus mereka berdua. Setelah Ignis memukul kepala William dan menarik Mary, aku bisa terbebas dari mereka.
"Gila, ini sangat nikmat!" ×2
Pendapat William dan Mary setelah menghisap banyak darahku, mereka berdua sangat kompak.
"Ya ampun, aku tidak akan pernah lagi memberikan darahku kepada kalian..."
Aku menyesali perbuatanku sendiri. Ini sangat tidak nyaman dan mungkin bisa menjadi trauma baru.
Mengesampingkan William dan Mary yang terhanyut dalam euforia kenikmatan darahku, kami berkumpul di singgasana (hadapanku) untuk melanjutkan pembicaraan tentang tujuan kenapa aku datang ke tempat ini.
William dan Mary dibiarkan bersandar di masing-masing sisiku, sisi singgasana. Aku duduk di antara mereka.
"Entah kenapa aku haus. Apa kalian tidak menyediakan jus?" —Biasanya orang menyukai teh, tapi aku sedang ingin buah-buahan.
"J-Jus apa yang Anda inginkan, Yang Mulia?"
"Hah, di sini ada jus? Kalau gitu, aku ingin jus alpukat dengan susu kental manis rasa cokelat. Yang dingin, ya."
"Susu kental...? Maaf Yang Mulia, kami tidak memiliki hal seperti itu di sini..."
"Ah, aku tahu, kok."
Jus mereka kemungkinan hanya berisi varian dari buah-buahan domestik, dan susu rasa cokelat hanya kami yang bisa membuatnya. Aku meminta hal yang mustahil.
"Tuan Albert, apa Anda ingin aku membuatkannya untuk Anda."
"Engga perlu, jangan pulang dulu sebelum urusanku di sini selesai. Tolong sediakan air putih aja sebagai gantinya."
"Baik."
Jika Ignis bisa pulang untuk membuatkan jus, istriku pasti meminta kami semua pulang dan menyarankan untuk mengurus permasalahan di sana.
"Wilhelm, aku sudah membangkitkan Mary. Dan seperti apa yang kau lihat, kami akan membawa pulang ratu kalian. Kau tidak ada masalah dengan itu, kan?"
"Y-Ya, jika itu keinginan Yang Mulia Ratu, kami tidak bisa mencegahnya."
"Fufu, tenang. Bukan berarti kami ingin mengurungnya di kastil. Tentu saja, urusan bangsa vampire akan aku serahkan padanya nanti. Untuk sekarang kalian harus menuruti kehendakku."
"Ya."
Baik. Kekuasaan vampire sudah ada di tanganku. Sekarang, tinggal bagaimana aku harus memanfaatkan mereka dengan baik demi mewujudkan keinginanku.
"Zen."
"Ya, Tuan Albert."
"Kita baru bertemu hari ini, tapi aku ingin kau melakukan satu hal untukku."
"Baik."
Dia menyetujuinya tanpa keluhan sedikitpun. Kupikir dia akan bertanya dulu sebelum tahu apa yang akan aku lakukan terhadapnya. Biasanya, orang akan seperti itu ketika menghadapi orang asing, kan? Ditambah lagi, dia patuh dan berlutut di hadapkanku, sangat aneh.
"Hehe, aku sangat suka sikap seperti itu, kuharap kau tidak tiba-tiba mengkhianatiku setelah kita berpisah dari sini. Yah, mari kesampingkan itu. Zen, kau punya organisasi penjahat di bawahmu, kan? Aku ingin kau bekerja sama dengan Wilhelm dan para vampire untuk membuat organisasi baru dengan ukuran yang lebih besar. Bagaimana, apakah itu bisa dilakukan?"
"Hah!?" ××
Banyak di antara mereka terkejut dengan pernyataanku, termasuk Ignis.
"Tuan Albert, Anda serius?"
"Iya, aku serius."
"Tapi bagaimana dengan Kak Freya? Dia, pasti akan sangat marah mengetahui Anda membuat organisasi semacam itu."
Ignis khawatir dengan kami. Baginya mungkin tidak masalah aku membuat atau tidaknya organisasi jahat ini. Yang dia permasalahan adalah hubunganku dengan Freya karena Freya pasti sangat-sangat menentang hal yang satu ini.
(Kemungkinan Freya menusukku dengan pedang saja sudah bisa aku bayangkan.)
"Tapi, selama kita menyembunyikan hal ini darinya, kupikir tidak ada masalah. Selain itu, organisasi yang aku inginkan bukan hanya untuk mengumpulkan orang tak terkendali, melainkan perkumpulan masyarakat rahasia yang berfungi sebagai alat kekerasan."
Organisasi rahasia, atau sesuatu seperti Mafia, itulah yang aku inginkan untuk melakukan pekerjaan kotor. Semua butuh keseimbangan, jika kami membiarkan salah satu organisasi di permukaan menjadi besar, pada akhirnya akan membusuk dari dalam.
Oleh karena itu, organisasi semacam ini dibutuhkan untuk mendorong konflik yang bersih di permukaan.
"Tujuannya untuk memberikan persaingan terhadap perusahaan besar di permukaan, dan mencegah mereka menjadi korup. Kamu tahu kan kalau sudah banyak perusahaan di bawah naunganku semakin dan semakin membesar, Ignis?"
"I-Iya."
"Jadi, kumohon, tolong rahasiakan ini dari Freya, ya."
"B-Begitu, ya. Itu sebabnya Anda mengajak aku dan William ke sini untuk melibatkan kami dalam urusan ini. A-Aku mengerti, aku akan tutup mulut tentang masalah ini."
Seperti yang diharapkan dari mantan NPC, tidak ada satupun di antara mereka yang bodoh. Mereka bisa langsung mengerti dalam satu kali penjelasan.
Memang, jika hanya ingin berkunjung, biasanya aku bisa melakukannya sendiri. Dan alasan kenapa aku tidak mengajak Leon karena dia masih muda. Menjaga rahasia yang bisa membuat hubunganku dengan istriku berantakan terlalu berat untuknya.
__ADS_1
Sedangkan, William, Ignis, dan Niks harus tahu agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan.