Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Apostle.


__ADS_3

Keluar dari Colosseum, semua orang pindah ke dalam kastil untuk makan siang, tapi kami masih harus menunggu, karena Eliza, Ivan, dan anak-anak terlihat kotor dan cukup berkeringat, mereka harus mandi.


Kami memberikan para tamu akomodasi, jadi selama menunggu Eliza dan yang lainnya membersihkan diri, semua orang berada di dalam kamar dan beristirahat. Tentu saja, kami mengirim pelayan untuk melayani kebutuhan mereka.


Tapi tidak semua orang lelah, salah satunya justru meminta kami untuk mengobrol. Dia adalah Hestia, sekarang kami sedang berada di ruang kerjaku untuk membicarakan duelnya.


"Hei, sebenarnya apa yang baru saja Eliza lakukan? Dia benar-benar bisa memanggil Roh Primordial bahkan tanpa persiapan apapun. Bagaimana bisa dia melakukan itu, tolong jelaskan padaku, Albert."


"Kamu penasaran banget, ya?"


"Ini bukan penasaran, ini aneh. Aku ingin penjelasan darimu."


"Um, bahkan jika kamu bertanya padaku, aku sebenarnya juga tidak terlalu tahu."


Keingintahuan Hestia benar-benar merepotkan. Aku hanya bisa memalingkan pandangan ku karena tidak bisa menjawabnya.


"Eh, bagaimana bisa kamu tidak tahu? Bukannya kamu bertanggung jawab atas mereka semua?"


"Duh, kamu sangat merepotkan sekali, Hestia!Eliza bisa memanggil mereka karena buku yang dia pegang. Itu sebabnya aku tidak tahu."


"Buku? Oh, aku juga melihatnya. Buku magis itu sepertinya sangat berharga. Kalian mendapatkan buku itu dari mana?"


"Hestia, kamu bertanya terlalu banyak."


"..."


Hestia terdiam setelah aku memperingati sikapnya. Dia tampaknya mengerti pentingnya membaca suasana.


Tapi aku kasihan melihat dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, bahkan setelah bertemu denganku.


"Em, buku itu disebut Grimoire. Kitab berisi sejumlah mantra sihir tingkat atas. Selain Eliza, tidak ada yang tahu isi buku tersebut. Aku pernah sekali melihat ke dalam bukunya, tapi aku tidak menemukan apa-apa, maksudku tidak ada tulisan di sana."


Jadi, aku bercerita untuk memuaskan rasa penasarannya. Untuk informasi seperti itu, mungkin tidak ada masalah jika aku beritahukan padanya.


"Tidak ada isinya?"


"Iya, tidak ada yang bisa melihat isinya selain pemilik buku tersebut, yaitu Eliza sendiri."


"Hee~"


Oh, tampaknya dia sudah menyerah tentang itu.


"Ngomong-Ngomong, apa tidak ada sesuatu untuk kita ngemil? Bahkan air juga tidak disediakan."


"Apa kamu menginginkan sesuatu? Sebentar lagi kita mau makan, jadi kupikir ngemilnya nanti saja setelah makan."


Hestia melihat mejanya cukup sepi. Tampaknya dia agak canggung dengan kekosongan ini. Sebenarnya aku merasakan itu sekarang.


"Selain itu, sebenarnya aku bertanya-tanya ke mana kedua istrimu pergi, tapi lebih dari itu, aku penasaran kenapa iblis ini ada bersama dengan kita?"


Hestia melirik Titania di sebelahnya.


"Kenapa? Kau tidak nyaman dengan kehadiran ku di sini?"


"Ya, aku tidak nyaman."


"Lalu, untuk membuat kamu nyaman, aku harus pergi, gitu?"


"..."


Hestia dan Titania tidak akur satu sama lain. Itu membuat aku berpikir betapa dekatnya mereka sampai bisa bertengkar sepertinya itu. Apa mereka pernah bertemu di suatu tempat?


"Merlin dan Freya sedang merawat anak-anak. Jika tidak diawasi, mereka pasti akan lama mandinya. Terus, sebenarnya aku ingin memperkenalkan Titania kepada Tristan. Jika Tristan meminta penjelasan lagi, aku khawatir makan siang kami akan tertunda."


Ini bahkan sudah hampir memasuki waktu sore.


"Memangnya di mana pria itu?"


"Dia berada di kamarnya. Sepertinya sedang merawat perlengkapannya."


"Dia pasti akan terkejut melihat iblis ini."


Pastinya. Titania merupakan salah satu Bangsawan Agung di dunia iblis dan pernah menjadi jenderal pasukan Raja Iblis, jadi Tristan pasti sangat mengetahuinya.


"Apanya yang "iblis ini"? Namaku adalah Titania, kau harus mengingat itu!"


"Ada masalah aku mengatakan itu?"


"Tentu saja, idiot!"


"Hah!?"


Ah, itu tidak akan baik bila diteruskan.


"Hei, Hei, pertengkaran kalian cukup sampai sana saja. Kalian tidak bisa menambah masalah untukku sekarang, ya ampun."


Aku merasa capek. Kepalaku entah kenapa terasa berat melihat mereka bertengkar. Mungkin aku sedang stres karena memikirkan banyak hal.


"Tuan, Anda baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya, selama kalian tidak bertengkar, kupikir aku akan baik-baik saja sekarang."


"Anda sedang tidak terlihat baik-baik saja. Kalau boleh, saya ingin membantu Anda meringankan beban Anda sedikit."


"Kamu ingin melakukan apa?"


"Ini untuk menenangkan pikiran Anda. Tolong berikan tangan Anda pada saya."


Titania ingin melakukan sesuatu. Aku mengulurkan salah satu tanganku kepadanya dan dia langsung memegangnya. Oh, tangan kami bersentuhan!


Kemudian dia seperti memberikan sihir pemulihan kepadaku. Rasanya seperti ditenangkan oleh Merlin atau Freya, tetapi alih-alih hangat, ini lebih terasa sejuk. Ini perasaan yang cukup menenangkan.


"Itu sangat nyaman, Titania. Terimakasih. Kupikir, aku sudah merasa lebih baik sekarang."


"Sama-Sama, Tuan Albert. Saya senang dapat berguna untuk Anda."


Setelah tangan kami berpisah, aku memujinya. Senyuman itu memberikan perasaan menyegarkan untukku sendiri.


"Hm? Aku ingat kau bukan wanita seperti ini, kemarin."


Hestia mengutarakan keheranannya.


Tentang itu, sebenarnya aku juga ingin tahu jawabannya. Sikap Titania terhadapku belakang ini sangat berbeda, itu benar-benar berbeda sampai-sampai bisa diamati oleh orang luar seperti Hestia. Aku sangat ingin tahu alasannya.


Sebelumnya, dia tidak sepeduli ini denganku. Dia bekerja selayaknya "pelayan pribadi" Merlin, dan jarang sekali mengekspresikan perasaannya, kecuali dipuji oleh Merlin.


Tapi sekarang, dia berubah. Perubahan ini sebenarnya membuat aku sangat senang karena bisa akrab dengannya.


Apa aku telah melakukan sesuatu yang hebat dan tanpa sadar telah membuat diriku sendiri populer?


Engga, engga, engga. Sikap Kaguya dan Tethra terhadap aku masih sama seperti biasa. Jadi hanya Titania yang berubah, aku tidak berubah sama sekali. Apalagi menjadi populer, sepertinya itu cukup sulit dilakukan oleh orang sepertiku. Itu harus menjadi pekerjaan Tristan, Luminous, atau Julius.


Dan sebenarnya, aku masih ingat Titania pernah menawarkan keperawanannya kepadaku, dulu. Aku ingin tahu, apakah aku bisa menagih itu sekarang? Aku ingin sekali menerkamnya di atas kasur... Eh?


Tunggu, apa yang aku pikirkan.


Itu tidak akan menjadi hal yang bagus. Jika Freya dan Merlin tidak suka, mereka pasti akan pergi meninggalkan ku.


"Itu bukan urusanmu."


Seperti yang diharapkan dari iblis, Titania sangat tidak peduli dengan pertanyaan Hestia. Itu tidak memberikan dampak kepada Hestia karena dia terlihat menerima jawaban seperti itu.


Dan kemudian, Tristan masuk ke dalam ruangan ini. Dituntun oleh seorang pelayan.


"Anda boleh duduk di mana pun Anda mau, Tristan."


Setelah pelayan pergi, aku mempersilahkan tempat duduk untuknya. Aku sangat sopan sekali.


Kenapa dia seperti itu? Apa mungkin ada yang salah dengan pengaturannya? Atau, dia ingin duduk di sini, di meja kerjaku? Aku tidak mengerti. Mungkin saja dia ingin duduk di kursi emas. Dia kan Pahlawan. Sayangnya kami tidak punya hal seperti itu.


"Apa ada masalah, Tristan?"


"Tidak sama sekali. Bukannya kau menyuruh kami menunggu untuk makan bersama keluargamu? apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan di sini?"


Tristan dengan tenang duduk di sebelah Hestia, tanpa terganggu sedikit pun. Tidak, dia terganggu, dia terlihat seperti bingung kenapa aku memanggilnya ke sini.


Benar juga, jika itu hanya pembicaraan biasa, kami bisa melakukannya pada saat makan bersama. Tapi aku justru memanggilnya sebelum makan dimulai. Mungkin karena itu dia bisa langsung menebak kalau aku ingin menunjukkan sesuatu dan itu sebabnya dia bersikap aneh di awal.


Keren, seperti yang diharapkan dari seorang Pahlawan. Kepekaannya terhadap situasi cukup tinggi.


"Titania, tunjukan sesuatu kepadanya."


"Baik."


Aku memberi instruksi. Lalu, dalam sekejap, Titania merubah penampilannya ke bentuk aslinya, seekor iblis.


Matanya berubah hitam dan memperlihatkan iris emas, sepasang tanduk domba muncul secara perlahan membentuk spiral. Warna tanduknya putih bersih, itu tampak bagus tumbuh di atas rambutnya yang berwarna ungu. Kemudian sayapnya juga ditampilkan, sepasang sayap kelelawar berwarna hitam pekat. Dan terakhir dia mengeluarkan ekornya yang agak reptil.


Dalam kondisi seperti itu, Titania masih tetap cantik di mataku.


Duduk dengan elegan sambil melipat kedua kakinya yang ramping, tubuh tegak karena tidak bisa bersandar pada sofa, menatap orang lain dengan pandangan penuh minat, dan memiliki senyum menggoda. Dia terlihat seperti seorang penjahat yang baru saja menemukan mangsa empuk, sangat erotis.


Ah, sial. Ada apa denganku?


"Oh, seperti yang diharapkan dari Tuan Pahlawan, Anda tidak terpengaruh sama sekali dengan skill pasif ku."


Titania telah menggunakan skillnya pada semua orang.


"Tentu saja, memangnya orang bodoh mana yang mau terpengaruh oleh iblis."


(He!? Aku kayanya terpengaruh, dah. Barusan!)


Pahlawan memang hebat, ya. Dia berbicara seperti itu bahkan tanpa memperdulikan kondisi orang lain.


"Aku tidak percaya ini. Kenapa ada iblis tingkat tinggi di sini?"


Kayanya Tristan marah.


«Ini mah, bahkan jika aku menjelaskannya, dia tidak akan mau mendengarkan. Hestia, bagaiamana jika kamu saja yang jelasin?»

__ADS_1


«Kamu melimpahkan pekerjaanmu padaku?»


«Ayolah, dia kan temanmu. Aku yakin dia mau mendengar penjelasan darimu.»


«Ugh...»


Aku dan Hestia berbicara melalui telepati. Kemampuan yang seratus kali lebih berguna daripada menggunakan kode gerakan tubuh.


"T-Tristan, kurasa kamu harus tenang dulu. Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan, kok."


"Memangnya kamu tahu aku sedang memikirkan apa sekarang?"


"Ah, kamu tidak senang, kan. Karena ada iblis tingkat tinggi di sini? Tapi kami bisa menjelaskannya padamu, jadi kamu harus tenangkan pikiranmu dulu dan tolong dengarkan penjelasan kami dengan tenang."


"Kupikir aku sudah tenang dari tadi."


(Dia tidak terlihat tenang sama sekali.)


Tapi benar saja, tidak hanya Tristan yang tampak aneh, Hestia juga cukup aneh. Apa Hestia takut dengan Pahlawan? Kenapa? Kalimatnya bahkan sampai berputar-putar seperti itu.


"Em, begini, Tristan. Sepertinya, iblis ini akan menjadi salah satu harem Albert. Jadi kupikir, dia--"


"—Ok, Stoooop!! Biar aku aja yang jelasin! Kamu diam saja, Hestia!"


Aku tidak tahan, jadi aku memotong kalimat Hestia. Itu benar-benar membuat jantungku ingin terlepas ketika Tristan bergumam "Hm?" Pada saat Hestia menyebut Titania akan menjadi haremku.


Terlepas dari pendapat orang-orang di sini, jika saja perkataannya itu tersampaikan ke telinga salah satu istriku, aku tidak akan bisa bermanja lagi di malam hari. Itu sangat berbahaya.


"Ehem, begini, Tristan. Nama gadis ini adalah Titania, dia merupakan salah satu pemuja Merlin. Jadi dia sudah bukan lagi jenderal pasukan Raja Iblis."


Akhirnya aku bisa menjelaskan kata "pemuja" Di sini. Kami memiliki Altar di lantai satu untuk dijadikan fasilitas pemujaan keluarga Testalia, terutama terhadap kedua istriku. Masing-masing memiliki pemuja yang telah memiliki title Apostle di jiwa mereka.


Pemuja Freya adalah Kaguya dan pemuja Merlin adalah Titania. Kedua orang ini sangat sering mengunjungi Altar untuk melakukan kewajiban mereka.


Terdengar cukup mengerikan, bukan? Aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa-apa, kami hanya mengikuti sistem dunia ini bekerja. Berkat itu, Kaguya dan Titania memiliki title Apostle.


Title itu sendiri memiliki kegunaan yang hebat, yaitu bisa meminjam kekuatan atau skill dari target yang mereka sembah.


Itu Hebat, kan? Terutama si Titania, dia bisa meminjam kekuatan misterius Merlin yang di mana kekuatan itu tidak bisa dipakai oleh orang lain, termasuk aku.


Dia sudah menjadi wanita yang tangguh, kupikir dia bisa bertanding setara dengan Tristan.


Lalu bagaimana denganku? Siapa yang menjadi Apostleku? Kukira kalian sudah tahu jawabannya. Dia adalah orang yang selalu berjalan-jalan di kastil ini sambil mengenakan pakaian pendeta tinggi.


Sebenarnya, karena pria itu semua orang menjadi aneh. Termasuk merekomendasikan Kaguya dan Titania menjadi Apostles, semua ini karena ulah orang itu.


Tapi aku tidak bisa memarahi dia. Karena berkat usahanya, Kaguya bisa mengenakan busana religi miko dan Titania mengenakan busana pendeta hitam ketika ingin mengunjungi Altar.


Haruskah aku mendirikan kuil untuk mereka daripada menggunakan Altar? Tapi setiap kali aku memikirkan hal itu, aku merinding. Jadi aku membiarkan mereka menggunakan Altar nya dan berpura-pura seperti tidak melihat apapun sampai sekarang.


"Kenapa iblis bisa menjadi Apostle?"


"Kalau itu, aku sendiri tidak tahu. Tapi itu membuktikan kalau mereka sama saja seperti manusia, kan?"


"Aku tidak berpikir begitu. Aku juga belum mempercayai kata-katamu."


"Yah, ini bukan seperti aku menyuruhmu untuk percaya, aku hanya ingin kau tidak mempermasalahkan Titania menjadi salah satu bagian dari kami."


Benar, aku sangat-sangat tidak peduli denganmu. Aku hanya tidak ingin dia merusak acara hanya karena ada iblis di wilayah kami.


Tristan diam menatap Titania, wajahnya menunjukkan ketidakpuasan.


"Bagaimana dengan Freya? Apa pendapat Freya tentang dia?"


"Tentu saja Freya mau menerima Titania. Lagipula, Titania sudah melakukan Kontrak Jiwa dengan Merlin."


"Kontrak Jiwa...?"


Tristan termenung setelah mengetahui Titania berani melakukan perjanjian mengikat dengan kami.


Seharusnya itu tidak akan membuat masalah untuknya lagi, kan?


"Ada apa lagi? Kau masih tidak percaya dengan Titania?"


"Bukan itu masalah."


"Lalu?"


Oh dia benar-benar susah untuk dibujuk. Atau dia memang cukup sensitif tentang masalah kepercayaan?


"Entahlah, aku masih tidak bisa menerima ini."


"Hei, kau mau ke mana?"


Tristan tiba-tiba berdiri dan melangkah untuk meninggalkan tempat duduknya.


"Aku akan kembali. Tentang urusan dalam kalian, aku tidak peduli."


Tristan meninggalkan ruangan sambil mengatakan hal itu. Dia kelihatannya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Yah, pokoknya aku sudah memperkenalkan Titania kepadanya. Mau bagaimana dia memandang kami, aku juga sebenarnya tidak peduli. Tapi kami harus tetap menjaga hubungan baik dengannya. Jika tidak, pandangan orang-orang dari dunia ini tentang kami akan semakin memburuk.


__ADS_2