Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Penyelesaian Gift.


__ADS_3

Namun sebelum itu, aku — atau lebih tepatnya kami — menuju ke observatorium.


Selama perjalanan menuju ke sana, setelah yakin bahwa kami tidak akan bertemu dengan penduduk kastil lagi, Niks muncul secara tiba-tiba di sebelahku seperti ninja.


Aku mengabaikannya dan tetap melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di observatorium.


"Niks, ini akan menjadi tempatmu bekerja."


Aku mulai berbicara. Menuju ke instrumen [Cermin Map] untuk menunjukkan sesuatu kepadanya.


Untuk kali ini, aku tidak memerlukan kunci atau sejenisnya untuk Niks. Dengan kehendak Hydra, pengoperasian alat itu dapat dikerjakan oleh Niks.


"Untuk saya sendiri?"


"Tidak juga. Lihat ini..."


Aku menunjukkan bagaimana cermin itu bekerja.


"Kamu akan ditugaskan untuk mengawasi wilayah kita, mencari informasi tentang kekuatan negara lain, dan menjadi pemimpin pengumpulan informasi itu sendiri. Oleh karena itu, kamu harus mencari beberapa orang. Menjadikan mereka bawahanmu dan bekerja sama dengan mereka. Apakah kamu mengerti?"


Dengan kata lain, Niks akan menjadi biro intelijen bagi departemen pertahanan.


Di mana pun ninja berada, bukankah mereka selalu ditugaskan untuk menjadi hal-hal seperti ini?


"Begitu rupanya. Tapi, Tuan Albert, saya mampu bekerja sendiri. Saya berjanji akan menjalani tugas ini dengan baik dan menjadi pendukung yang sempurna untuk Tuan Ignis."


Niks berkata dengan santai.


Aku sudah menduga bahwa dia akan mengatakan ini. Karena dia memiliki kemampuan untuk membagi tubuhnya, hal-hal seperti di atas akan menjadi mudah untuk dikerjakan.


"Dengar, aku mengerti kamu mampu. Tapi aku ingin kamu lebih santai, bekerja seperti biasa dengan waktu kerja yang sama seperti staff lain. Aku tidak ingin kamu bekerja terlalu keras. Bagaimanapun juga, kamu adalah salah satu anggota dari keluargaku, kamu harus memiliki bawahan agar komite ini dapat bekerja dengan optimal. Atau apakah kamu enggan bekerja dengan orang asing? Jika seperti itu, aku bisa memanggil roh atau semacamnya untuk bekerja denganmu, bagaimana? Lagipula, aku tahu kamu pasti akan selalu menaruh tubuh aslimu di bayanganku."


Benar, dia pasti tidak akan pernah mau meninggalkan bayanganku. Bagaimanapun situasinya, dia akan selalu menjagaku dari dalam bayang-bayang seperti sosok guardian.


"Hmm, kalau begitu, saya akan bekerja dengan para roh."


"Umu, itu bagus."


Aku mulai mengeluarkan berbagai macam kartu pendukung.


Peringkat sejumlah kartu tersebut belum aku tingkatkan ke batas maksimum upgrade. Jadi kekuatan mereka tidak akan sebanding dengan Niks dan belum menjadi roh/jiwa yang utuh.


Namun, jika hanya untuk menjadi pendukung, kekuatan mereka sudah melampaui syarat.


Aku menyuruh Niks untuk memilih siapa saja yang akan aku summon. Hasilnya, kami mendapatkan lima individu kuat dan mengesankan.


Mungkin akan terdengar lebih menyenangkan bila aku mengeluarkan semua roh dari dalam kartu. Namun, kami tidak mengetahui sifat asli mereka ketika dibangkitkan.


Niks bahkan mengaku masih banyak roh di dalam kartu yang menjaga hubungan dengan roh lain karena suatu alasan.


Itu akan menjadi merepotkan jika mereka memilih untuk memberontak atau berhianat. Jadi kami harus lebih selektif dalam merilis mereka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Sementara aku menyuruh Hydra untuk membuatkan tubuh mereka, aku mengeluarkan senjata peringkat Mistis untuk Niks.


Itu adalah katana dengan bilah berwarna hitam pekat.


Berbicara tentang ninja, dual knife akan cocok untuk mereka karena ringan dan mudah disembunyikan.


Namun, aku tidak tahu kenapa Niks memilih katana untuk dijadikan senjatanya.


"Sesuai pesanan, kan?"


"Ya, terima kasih atas pemberiannya, Tuan Albert."


"Aku senang kamu mau menerima hadiahnya."


Niks memegang katana panjang tersebut dengan satu tangan.


Seperti biasa, benda itu bercahaya. Tapi dia langsung mengecil dan bilahnya menjadi tegak lurus, tidak melengkung.


Sekarang, panjang benda itu mungkin sekitar 80-90 cm, cukup pendek.


Tunggu, itu terlihat sangat aneh menurutku. Apalagi bila ditaruh di pinggang, itu tidak terlihat keren.


Selagi aku dibuat bingung olehnya, Niks mengeluarkan benda seperti sabuk dari ruang penyimpanannya. Kemudian sabuk itu dipasangkan dengan pedang tersebut dan Niks langsung mengenakan itu di bagian punggungnya.


Ohh, seperti yang diharapkan dari orang tampan nomor dua, dia sangat inovatif.


Tidak, menaruh pedang di punggung sudah sangat sering dijumpai, namun mengingat dia tidak memilih "GreatSword" dan justru "Katana", hal seperti itu tidak pernah terpikirkan olehku.


"Tuan Albert?"


"Ah, iya, mari kita lanjutkan ini..."


Aku terlalu terpesona dengan betapa kerennya Niks. Mata tertutup dengan bandana berlapis emas, pakaian hitam, dan pedang hitam menempel di punggungnya. Bila digabungkan dengan skill, Niks sudah menjadi ninja sungguhan.


Tapi apakah dia memiliki senjata sejenis suriken atau kunai?


Aku tidak tahu, mari kita kesampingkan itu dan melanjutkan kegiatan.


Setelah diselesaikan, aku mengeluarkan lima boneka dari dalam ruang sub-dimensi Hydra. Kemudian roh dari dalam lima kartu dengan gambar berbeda, langsung dirilis setelah aku upgrade dan diintegrasikan dengan kelima boneka tersebut.


Menilai sifat mereka satu persatu merupakan hal yang sangat merepotkan. Aku akan menyerahkan tanggung jawab pengawasan mereka kepada Niks karena dia yang bertanggung jawab atas perilisan mereka.


Kemudian kelima roh berasimilasi dengan boneka mereka masing-masing dan memanifestasikan bentuk tubuh manusia.


Tidak sama dengan Niks, mereka dalam keadaan tertidur. Padahal mereka sama-sama berasal dari kartu hitam.


Tubuh pertama seorang wanita, cantik dengan rambut scarlet diikat ekor kuda. Mengenakan pakaian serba hitam dan... Wajah asia timurnya sangat jelas terukir.


Kedua merupakan pria, mengenakan pakaian berwarna biru - hitam, penutup kepala dari baja, dan sejenis masker untuk menutupi mulutnya.


Ketiga adalah seorang pemuda, mengira dari ukuran tubuhnya, dia terlihat seperti anak berusia 15 tahun. Rambut lebat berwarna cokelat, memiliki luka gores pada wajahnya, dan mengenakan pakaian ninja dengan ikat kepala.

__ADS_1


Keempat adalah wanita, berambut hitam panjang dengan tubuh erotis. Pakaian berwarna hitam dan terlihat sangat tipis.


Terakhir adalah seorang pria, berbadan besar dan mengenakan berbagai plat baja hitam untuk menutupi tubuhnya. Dia juga mengenakan topeng, jadi aku tidak mengetahui wajahnya.


Kelima orang ini masih tertidur. Aku bertanya pada Niks siapa yang ingin dibangunkan lebih dulu. Kemudian dia dengan cepat menjawab semuanya.


Mungkin karena tidak ingin membuat aku menunggu, jadi aku menginjeksi semuanya dengan Mana.


Tidak lama kemudian, wanita berambut scarlet bangkit lebih dulu. Memastikan kondisi tubuhnya sendiri dan kemudian menatap kami dalam diam.


Tapi dia selalu memandang Niks. Lalu, seolah-olah tersadar akan sesuatu, matanya membelalak dan berubah menjadi asap merah kehitaman. Menghampiri Niks dengan cepat dan merubah wujudnya kembali menjadi manusia untuk memeluk Niks.


"Niks!"


Wanita itu — yang memiliki nama asli Matsu — berteriak dengan penuh kerinduan.


Um, kejadian seperti ini sudah lazim aku temui.


Mengabaikan pertemuan mereka, aku melihat ke arah empat orang yang tersisa.


Secara bersamaan, mereka juga ikut terbangun.


Aku sempat berfikir, apakah mereka akan mengeluh karena tidak ditingkatkan? Melihat Niks dan kelima Einherjar ditingkatkan sampai batas, mereka mungkin memiliki pemikiran seperti itu, kan?


Namun, tampaknya itu tidak akan terjadi karena para Einherjar tidak mengetahui tentang peningkatan yang aku lakukan.


Nah, mereka bangun. Memegang kepala mereka masing-masing seolah merasa pusing.


"Kalian baik-baik saja?"


Aku bertanya, ingin mencari seseorang untuk diajak berbicara.


Meski sudah mengetahui kalau terlalu dini untuk mengajak mereka berbicara, aku tetap bertanya.


Mau bagaimana lagi, di belakangku Niks dan Matsu sedang bermesraan. Aku benar-benar tidak nyaman dengan keadaan ini.


Adapun Niks, dia menyuruh Matsu untuk bersikap tenang. Mengatakan bahwa aku juga berada di ruangan ini, tetapi Matsu tidak memperdulikan perkataannya. Matsu berkata sangat merindukan Niks dan mencium Niks beberapa kali.


Itu sebabnya aku langsung melarikan diri dari dunia mereka dan menghampiri keempat orang yang tersisa.


Empat orang ini — Asagiri, Kaede, Michiru, dan Kiriyama merupakan karakter di card hitam.


Meski begitu, jiwa mereka tidak benar-benar hitam. Itu hanyalah klasifikasi, tidak untuk dibenarkan.


Menyadari keberadaanku, mereka semua mengambil sikap seiza dan menundukkan kepala mereka.


"Senang melihat Anda baik-baik saja, Tuan Albert."


"Hmm?"


Tampaknya mereka sudah mengenal owner mereka.


Melihat ini, bukankah aku memiliki tanggung jawab untuk merilis roh lain yang masih berada di dalam kartu?


Tapi mempertimbangkan pengawasan mereka terbukti sulit karena jumlah mereka cukup banyak.


"Bagaimana dengan tubuh kalian? Apakah itu nyaman?"


"Tubuh baru? Begitu rupanya. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengan diriku. Ternyata ini adalah tubuh buatan Anda. Kami sangat berterima kasih, Tuan Albert."


Sekali lagi mereka menundukkan kepala. Mereka terlihat sangat sopan.


"Baiklah, jika kalian baik-baik saja, maka aku merasa lega. Untuk penjelasan lebih lanjut..."


Aku ingin mengatakan "Penjelasan lebih lanjut akan diurus oleh Niks" seperti itu, tapi mulutku berhenti dan aku mulai melihat ke arah Niks.


Di sana, sepertinya Niks sudah membuat Matsu tenang. Matsu berdiri di samping Niks dan menundukkan kepalanya sekali.


"Ma-Maafkan aku, Tuan Albert. Aku telah berani mengabaikan Anda."


Matsu meminta maaf, terlihat sangat menyesal.


"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Aku memahami perasaanmu... Baiklah, sekarang kalian semua pasti sangat bingung dan penasaran. Jika kalian membutuhkan penjelasan, kalian bisa bertanya kepada Niks."


Mereka akan berada di bawah tanggung jawab Niks. Oleh karena itu, akan lebih bagus jika mereka mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Itu semua akan menjadi urusan Niks.


Aku menyuruh Niks untuk memberikan mereka waktu sebagai bentuk orientasi terhadap lingkungan baru mereka, dan meninggalkan observatorium.


Sesampainya di lantai 3, tampaknya kedatangan aku telah ditunggu-tunggu oleh ketiga putri.


"Ada apa?"


Aku bertanya, penasaran karena mereka terlihat sangat gugup.


"Aku juga ingin alat berkilau!!"


Alice menuntut. Dia lebih berani daripada Atla dan Eren, itu sebabnya dia berkata lebih dulu.


Mendengar Alice menuntut, kedua putri kembar itu mengangguk untuk menunjukkan bahwa mereka juga menginginkan hal yang sama.


Pada saat itu, aku memiringkan kepala karena terheran. Aku mengerti apa yang mereka inginkan, itu adalah senjata.


"Kenapa tiba-tiba kalian menginginkan senjata? Atla, Eren, kalian berdua sebelumnya tidak menginginkan hal itu, kan?"


Sambil mengangkat Alice, aku bertanya kepada mereka berdua.


Alice masih kecil. Aku sangat yakin bahwa dia tidak mengerti apa-apa.


Nah, setelah aku bertanya seperti itu, Atla dan Eren tersentak. Tampaknya mereka belum memikirkan alasannya.


Hee, sikap mereka sangat lucu. Mereka jarang meminta, tetapi ketika mereka meminta, aku tidak pernah bertanya. Sekarang tiba-tiba aku bertanya dan mereka menjadi panik.


Yah, anak-anak tidak sepantasnya memegang senjata. Oleh karena itu, aku bertanya untuk mencari tahu apa yang mereka pikirkan.


"Dengar, senjata punyaku tidak diperuntukkan sebagai aksesoris atau mainan. Aku ingin tahu, akan digunakan untuk apa senjata itu jika aku memberikannya?"

__ADS_1


Tidak ada jawaban. Mereka tampak kerepotan untuk mencari jawaban yang bagus.


Sedangkan Alice, dia hanya mendengarkan pembicaraan dalam diam sambil menyentuh bibirnya.


"Baiklah, jika kalian tidak ingin menjawab, aku akan bertanya kepada ibu kalian."


Mengatakan itu, aku langsung berjalan sambil membawa Alice. Kemudian...


"Tunggu, aku akan menjawabnya!"


Atla memberanikan diri untuk berbicara.


"Katakan, aku akan mendengarnya."


"U-Um... Aku ingin menjadi, menjadi seperti mama!"


"Uhm."


Setelah Atla berbicara, Eren mengikuti dengan anggukan keras.


Jika diingat kembali, mereka pasti melihat penampilan sosok kuat dari orang tua mereka ketika kami sedang menyerang Levi.


"Hmm, gimana ya. Pertama, ayo kita pindah tempat. Aku lelah terus berdiri."


Dengan begitu, kami pindah ke kamar kolosal Levi. Karena aku tidak menemukan Merlin dan Freya, kemungkinan terbesar mereka sedang berada di sana. Atau lebih tepatnya, berada di taman eden.


Sesampainya di sana, aku dikejutkan oleh Owise. Dia turun dari langit-langit dan menyapaku dengan suara "kwuk"-nya.


"O-Oh, kau sudah sadar rupanya."


"Kwuk."


"Ya, dan juga, mereka adalah putriku, kuharap kau akrab dengan mereka."


"Kwuk."


Baik, aku tidak mengerti.


Aku meninggalkan dia setelah mengelus bulu halusnya.


Oh, ngomong-ngomong, bulunya berubah menjadi cokelat dengan kilau emas. Sangat menyenangkan melihat dia bisa terbang dengan bahagia di kamar kolosal ini.


Kami mengesampingkan burung itu dan menuju ke lokasi di mana para kuda Familiar berada.


Di sana sudah terdapat Merlin, Freya, dan Eliza sedang mengawasi kuda baru milik Eliza.


Mereka juga sudah menyiapkan bangku dan meja untuk duduk, jadi aku duduk di sana mengikuti kegiatan mereka.


Tidak, aku ke sini ingin berdiskusi tentang senjata untuk anak-anak.


"Kenapa mereka menginginkan senjata?"


Freya bertanya, terkejut. Reaksi itu diberikan setelah aku bercerita tentang anak-anak yang ingin menjadi kuat.


Aku juga terkejut. Tapi orang yang tersentak adalah Atla dan Eren ketika mendengar perkataan Freya.


Mereka berdua tampaknya tidak berdiskusi lebih dulu dengan wali mereka.


Untukku sendiri, sebenarnya aku tidak masalah jika mereka memegang senjata.


Lagipula, mau itu dunia ini atau duniaku sebelumnya, memiliki kartu untuk pertahanan sendiri sangat penting.


Jadi memberikan senjata untuk mereka dengan alasan pertahanan diri, cukup masuk akal.


Terlebih lagi, dunia ini tidak terlalu damai seperti yang terlihat. Masih banyak kejahatan di mana-mana karena hukum masih longgar.


Daripada Putri kami menjadi korban kejahatan mereka, lebih baik aku memberikan senjata untuk mengalahkan mereka.


Selain itu, dua putri kami adalah iblis. Jika sosok mereka disalahpahami oleh pihak lain, itu akan menjadi berbahaya.


Mendengar penjelasan seperti ini dariku, Merlin dan Freya mengakui bahwa itu memang merupakan masalah.


"Jadi kita akan memberikan mereka senjata dan pelajaran untuk mereka, kan?"


"Kurasa, itu memang perlu dilakukan."


"Sigh, ya, kupikir juga begitu. Mereka juga sudah besar, kurasa memberikan mereka pendidikan bertarung sejak dini tidak akan menjadi masalah."


Merlin dan Freya akhirnya menyetujui proposal ini.


Mendengar itu, Atla dan Eren tampak sangat senang.


Untuk senjatanya, masing-masing mendapatkan senapan mesin ringan untuk serangan jarak jauh.


Benda itu merupakan senjata yang paling berguna dan dapat dengan mudah digunakan oleh siapapun.


Sebagai spesialisasi khusus, Atla mendapatkan perisai - pedang agar sama dengan Freya.


Eren mendapatkan pedang jenis rapier, aku telah melupakan nama dari senjatanya. Itu adalah senjata khusus milik salah satu npc.


Karena aku tidak memiliki halberd untuk Eren, aku memberikan senjata itu karena mereka sama-sama bermain pada kecepatan.


Eren akan mendapatkan pelajaran tentang pertarungan jarak dekat sama seperti Merlin.


Terakhir adalah Alice...


"Kamu masih kecil."


"Ah!"


Aku mengatakan itu untuk menggodanya. Hasilnya, dia mengamuk karena tidak mendapatkan apapun.


Pada akhirnya, aku memberikan Armored Gauntlet.


Gauntlet itu terlalu besar untuk tangan kecilnya, tetapi dia tetap memaksa ingin mendapatkan itu karena aku juga menggunakan senjata yang sama.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, Gauntlet itu tidak digunakan. Alice hanya menyimpannya dan akan digunakan setelah tubuhnya besar. Dia cukup egois, tetapi aku tidak membencinya.


__ADS_2