
Kami akhirnya bisa berkumpul lagi untuk makan.
Meja disusun mengelilingi ruangan, membentuk leter "U". Aku, Tristan, dan Hestia berada di sisi yang tidak berlawanan. Lalu di tengahnya juga terdapat meja untuk rekan-rekan Tristan dan Hestia.
Karena keluarga kami banyak, kami membuat pengaturan seperti ini. Para tamu akan dikelilingi oleh keluarga kami.
Apakah ini sudah merupakan pengaturan yang tepat? Kami tidak tahu, hanya ini yang bisa kami pikirkan. Setidaknya, menempatkan para pemimpin di sampingku merupakan tindakan yang tepat.
Ok, orang-orang sudah mulai berdatangan. Satu per satu, mereka memasuki ruangan dan mengisi tempat duduk.
Untuk orang-orang yang menyelesaikan mandi, mereka tampak terlihat segar.
Ngomong-Ngomong, tidak semua keluarga kami datang ke sini. Karena kami telat, beberapa orang sebenarnya sudah makan. Jadi, di sini hanya ada orang-orang yang ikut menonton duel dan tiga orang yang sudah membantu menyiapkan makan siang ini, yaitu Kaguya, Titania, dan Rin.
Yah, semua sibuk dengan kerjaan. William dan Ignis masih berada di kantornya sampai jam kerja selesai, sedangkan Leon, Saber, dan Alfred sedang mengawasi pembangunan kota baru.
Ah, benar juga. Untuk memudahkan para tawanan perang bekerja, kami memindahkan tempat tinggal mereka ke sana. Meskipun harus tinggal di sebuah tenda, mereka tidak mengeluh sama sekali. Mereka adalah mantan tentara, mental mereka tidak akan terganggu hanya karena pernah mengalami mati sekali.
Kemudian, meskipun William dan yang lainnya tidak ikut makan atau menjamu para tamu ini, kami masih tetap melakukan komunikasi. Untuk sekarang, aku belum bisa memperkenalkan mereka kepada Hestia dan Tristan.
Apa yang akan terjadi jika Tristan dan Hestia tahu kalau kami sekeluarga dengan Vampire dan Raksasa Api? Aku tidak bisa membayangkannya. Bahkan dengan adanya Titania saja sudah membuat kedua orang itu terkejut, apalagi jika kami memperkenalkan lebih banyak keluarga kami lagi. Itu akan merepotkan. Identitas Eliza sebagai monster bahkan masih belum terungkap. Aku lebih ingin bermain aman untuk saat ini.
Beralih ke hidangannya. Ada sejumlah ikan dan udang goreng, sayur-sayuran, serta nasi. Kupikir itu akan dingin karena kami sangat telat dari waktu tentunya, tapi ternyata koki di dapur memasak hidangan baru.
Kemana hidangan sebelumnya pergi? Padahal makan hidangan yang sudah dingin atau hidangan yang dihangatkan ulang tidak masalah untukku. Meski aku sudah terbiasa dengan kehidupan mewah, aku masih tidak lupa dengan daratan. Itu tidak berpengaruh sama sekali.
Namun berkat usaha mereka dalam menghidangkan masakan baru, para tamu sangat menikmati makan siang mereka.
Tidak, tidak hanya para tamu. Sebenarnya anak-anak juga cukup menikmatinya, terutama untuk udang goreng. Hanya dimakan dengan ketchup kenikmatannya bisa bertambah.
Kupikir, itu pemikiran yang tepat untuk menyediakan makanan ini dalam waktu singkat.
Selesai makan, kami langsung pindah ke ruang resepsi untuk berbicara. Tidak ada banyak waktu untuk menikmati desert, jadi untuk mereka yang ingin menikmati Cheesecake atau Puding, mereka bisa memakannya sambil mengobrol.
"Jadi, ada keperluan apa kalian datang ke sini?"
Aku bertanya kepada kedua pemimpin masing-masing rombongan. Di satu meja, aku, Merlin, dan Freya sedang berhadapan dengan Tristan, dan Hestia.
Hestia tampaknya sudah cukup akrab dengan kastil ini. Dia sedang menikmati Puding tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Wibawanya juga sudah menghilang entah ke mana.
"Aku akan langsung ke intinya saja. Kalian itu apa dan dari mana kalian berasal?"
Tristan langsung memberikan pertanyaan sulit. Dia bergantian menatap aku dan Freya. Itu membuat aku sempat bingung, dia sedang bertanya kepada siapa? Aku atau teman lamanya...
Tapi kesampingkan itu.
Dia benar-benar memberikan pertanyaan tersulit. Aku harus mempertimbangkan baik-baik, apakah jujur padanya akan mendatangkan kebaikan atau malah masalah.
Tapi di sini, hanya kelompok Tristan yang tidak tahu asal usulku. Hestia dan kedua bawahannya sudah mengetahui cerita tentang kami.
Itu akan buruk jika aku menceritakan hal yang berbeda di depan Tristan sekarang. Selain itu, Hestia juga memiliki skill [Pendeteksi Kebohongan]. Jika aku salah berbicara dan malah membohongi mereka, aku akan langsung ketahuan olehnya.
Keberadaan skill itu cukup merepotkan, tapi jika aku memilikinya, itu pasti akan menguntungkan. Mungkin aku bisa meminta skill itu nanti.
"Tristan adalah orang yang dapat dipercaya."
"Apakah begitu?"
Aku kehabisan akal karena tidak punya pilihan selain jujur. Jadi aku melihat ke arah Freya, dan dia langsung mengerti kalau aku sedang kesulitan mempercayai pihak lain.
"Yah, baiklah. Kecuali Freya, kami sebenarnya berasal dari dunia lain."
"Para pelancong dari dunia lain..."
__ADS_1
"Ya, kau seharusnya sudah tahu tentang hal-hal yang berhubungan dengan sihir Pemanggilan Pahlawan."
"Aku mengerti. Para orang terdahulu juga pernah melakukan sihir Pemanggilan Pahlawan. Aku membentuk party dengan mereka pada saat aku masih muda untuk melawan agresi iblis."
Oh, ternyata sihir itu sudah ada sejak tiga ribu tahun yang lalu. Tristan mulai mengingat kembali kenangan masa lalunya.
"Lalu, siapa yang memanggil kalian ke sini? Karena banyak negara di jaman dulu telah mempergunakan sihir itu dengan cara yang salah, aku sudah melarang penerapannya."
Tristan ingin mengeksekusi Endrin. Pasti di jaman dulu pelancong dari dunia lain digunakan untuk berperang, sama seperti yang Kekaisaran lakukan.
Aku jadi teringat dengan keenam pelancong dari dunia lain itu. Mereka menjadi tahanan perang kami dan menjadi pekerja kasar. Tentu saja tanpa bayaran.
"Hestia?"
"A-Aku tahu. Dia adalah salah satu anakku dari ras Gnome yang tinggal di kastil ini, kan? Aku bisa menebak itu karena dia memang anak yang paling pintar, bahkan di antara para Gnome lainnya."
Padahal aku hanya melirik dan memanggilnya, tetapi Hestia langsung membuka mulut seperti orang yang ketahuan bersalah.
Jadi selama ini dia menyadari kalau kesalahan ada pada salah satu anak-anaknya, dan sebagai Ratu, dia merasa memiliki tanggung jawab untuk itu.
Sebenarnya, agak lucu melihat dia merasa bersalah seperti itu. Karena tingkahnya itu, aku berpikir kalau dia benar-benar gadis yang baik.
"Yah, begitulah, Tristan. Kuharap kau bisa memaafkan orang yang sudah memanggilku. Dia sebenarnya dimanipulasi oleh iblis peringkat tinggi, jadi dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Dia sudah benar-benar meminta maaf padaku."
Aku meminta dia untuk meloloskan Endrin. Karena berkat Endrin, aku bisa bertemu dengan Merlin dan Freya, aku justru merasa bersyukur telah terpanggil ke dunia ini.
Tapi berlawanan dengan rasa syukurku, Tristan tampaknya sangat tidak senang dan mengerutkan alisnya.
Aku tahu itu, sangat tahu. Tristan bukan tidak senang dengan Endrin karena telah melakukan sihir terlarang, tapi karena Endrin telah memanggil "AKU" Ke dunia ini.
Karena ulahnya, AKU terpanggil ke sini dan menyetubuhi perempuan kesukaannya. Jelas saja Tristan marah pada Endrin, kan?
Jika posisi kami ditukar, aku mungkin tidak akan kuat dan langsung pulang untuk meratapi kesedihan. Seperti yang diharapkan dari Pahlawan, dia punya mental dan kulit wajah yang keras, pantang sekali untuk pulang.
"Ke mana iblis itu pergi?"
Aku jadi teringat kalau dia adalah iblis peringkat rendah dalam game, tapi di sini dia tampaknya cukup kuat. Sudah kuduga kalau dunia ini merupakan seri lanjutan gamenya.
"Karena iblis itu, aku harus mengurus banyak hal merepotkan."
Freya bergumam dengan berat hati, dia mengeluh.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Untuk mencari iblis itu, aku harus berpura-pura menjadi bawahan Endrin. Tapi dia sangat licik dan terus saja bersembunyi, memanfaatkan Endrin dan orang-orang untuk kelancaran rencananya. Saat aku tahu kalau dia berencana memanggil Pahlawan dari dunia lain, aku sempat khawatir karena mungkin saja aku tidak bisa melawan Pahlawan itu. Namun ternyata, Pahlawan yang dipanggil menggunakan ritual hanyalah manusia biasa. Mereka hanya berniat mengambil tubuh Pahlawan itu untuk rencana lain."
Freya bercerita kepada mereka karena Tristan bertanya menanggapi keluhannya. Dan setelah mendengar ceritanya, mereka semua menatap aku.
"K-Kenapa kalian menatap aku seperti itu? Biar kukatakan sekali lagi, aku bukan si iblis itu, tahu! Endrin bisa menjadi saksi kalau aku benar-benar membunuhnya."
Entah kenapa, aku berkeringat.
"Kenapa orang yang lebih lemah dari Freya bisa mengalahkan iblis yang tidak bisa Freya kalahkan?"
Ah, jadi logikanya seperti itu, ya. Pantas saja mereka menatap aku seperti melihat orang mencurigakan.
Mereka tampaknya tidak akan puas jika aku tidak menjelaskan kekuatanku. Aku mungkin harus memperlihatkan Hydra agar mereka dapat mengerti dan berhenti untuk bertanya lebih jauh lagi.
Tristan dan rekannya sudah dipercaya oleh Freya, dan aku sendiri juga sudah mempercayai Hestia. Seharusnya aku tidak perlu khawatir lagi.
*Grrr*
Jadi aku serius menanggapi mereka dan memberikan intimidasi Hydra kepada mereka. Energi yang besar dan tajam keluar dari tubuhku, membentuk ilusi monster gelap berkepala sembilan.
__ADS_1
Itu ternyata berefek fatal bagi Hestia, bawahan Hestia, dan bawahan Tristan. Wajah mereka memucat dan mereka ketakutan. Kecuali Hestia, semua orang yang terintimidasi terjatuh lemas ke lantai.
Sementara itu, Tristan masih bisa mempertahankan posisinya. Dia juga cukup tertekan tapi masih berusaha untuk mengangkat kepalanya dengan putus asa. Itu mungkin salah satu skill pasif Pahlawan.
Intimidasi dari seekor Divine Monster memang sangat mengerikan. Untungnya di ruangan ini hanya ada mereka, Merlin, Freya, dan aku.
"Huh, ada apa dengan kalian? Kenapa dada kalian tidak membusung lagi?"
Selagi aku menggunakan Intimidasi Hydra, kupikir bermain sebagai peran "penjahat" akan memberikan efek lebih.
"Ghh! kekuatan ini... kenapa kau bisa memiliki kekuatan seperti orang itu?"
"Apa kau sedang membicarakan ayahmu? Aku tidak tahu kekuatan seperti apa yang orang itu punya, tapi aku tidak berpikir dia bisa mengalahkan ku."
"..."
Aku menjadi sombong.
Berbicara tentang ayah Tristan. Sebenarnya ayahnya adalah Nodens. Jika Tristan menganggap kekuatan ku sama seperti ayahnya, itu berarti aku bisa menganggap bahwa Nodens juga memiliki Divine Monster di tubuhnya. Satu informasi telah berhasil dikonfirmasi.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, Tristan adalah salah satu demigod. Anak yang terlahir dari ibu seorang manusia dan ayah seorang dewa.
Di dunia ini, sosok demigod hanya ada sedikit. Mungkin jumlahnya tidak sampai dua digit. Dan Tristan merupakan satu-satunya demigod terkuat di antara mereka.
Dan ini juga menjelaskan kenapa Freya tidak ingin bercinta dengan Tristan, karena wajahnya sangat mirip dengan ayahnya.
Selain itu. Alasan Freya tidak ingin menikah dengan Nodens sebenarnya ada hubungannya dengan ini.
Terdapat kultus terkenal di dunia ini, usianya sudah ribuan tahun. Dan kultus itu ada untuk menyembah Nodens. Kuil utama kultus ini berada di Kerajaan Suci dan memiliki pengaruh hampir ke seluruh dunia (kecuali tanah naga).
Dan alasan Freya tidak menyukai Nodens, adalah karena Nodens suka turun ke dunia dan bercinta dengan gadis yang menjadi Saint kuil tersebut.
Kuil itu didirikan sejak ribuan tahun lamanya, dan setiap gadis yang menjadi Saint di kuil itu diajak tidur oleh Nodens.
Aku mengerti kenapa Freya tidak menyukai Nodens karena melakukan hal-hal seperti itu. Tapi dari sudut pandang manusia, bercinta dengan dewa tampan atau cantik justru merupakan sebuah berkah, bukan? Itu adalah pencapaian mereka.
Selain itu, ini bukan seperti Nodens bercinta dengan banyak wanita. Karena jangka umur manusia itu pendek, Gadis Kuil atau Saint selalu diganti seiring pergantian generasi. Itu merupakan budaya yang wajar untuk manusia. Jadi Nodens tidak salah sepenuhnya.
Tapi Freya tetap tidak memaafkannya karena seharusnya Nodens bisa membuat salah satu manusia itu menjadi dewa dan bertanggung jawab untuk membahagiakannya.
Salah satunya adalah ibunya Tristan. Freya tahu kalau Nodens memberkahi wanita itu dengan anak tapi dia tidak mengubah wanita itu menjadi dewa. Jadi wanita itu sudah lama meninggal karena termakan usia.
Itu juga menjadi alasan bagi Tristan membenci ayahnya. Karena dia barusan menyebut ayahnya dengan "orang itu", dia pasti sangat jijik untuk mengakuinya.
A-- Berbicara tentang anak. Aku mendapat kabar gembira dari Merlin dan Freya. Mereka bilang, mereka sepertinya sudah terisi. Tapi kami tidak memberitakan hal ini kepada siapapun. Kami berpikir untuk menunggu sedikit lagi sampai bayi itu terbentuk. Jadi orang lain bisa melihatnya dan kami akan mengadakan perayaan setelahnya.
Fufu. Aku akan menjadi seorang ayah. Aku sangat gugup.
Itu mungkin akan menjadi perayaan paling besar daripada momen-momen sebelumnya. Dan akan membebaskan perasaan seseorang untuk menikah dan memiliki anak.
Selama ini, tampaknya mereka menunggu Tuan mereka memiliki anak, jadi mereka menahan agar mereka tidak mendahului ku. Tapi itu hanya sekedar dugaan tidak berdasar ku. (Aku berbicara tentang para maid dan staf di kastil)
Selain itu, aku, Freya, dan Merlin memutuskan untuk menjadikan anak itu sama seperti Tristan, entitas Demigod.
Ada alasan khusus untuk itu, karena Freya dan Merlin sebenarnya adalah makhluk spiritual, jika aku mengikuti cara spiritual, nantinya anak itu akan menjadi makhluk spiritual juga.
Bagaimana ras manusia sepertiku bisa melakukan hal itu? Semua diajarkan oleh Freya yang berkonsultasi pada ibunya. Dan melakukan hal itu tidak begitu sulit untukku karena aku sudah bergabung dengan Hydra. Sebenarnya, bahkan tanpa melakukan **** makhluk spiritual bisa mempunyai anak.
Kesampingkan itu. Di dunia ini, bayi spiritual tanpa tubuh material tidak akan bisa tumbuh dengan baik. Kami bahkan tidak tahu resiko seperti apa yang akan terjadi bila kami membiarkan itu. Jadi kami tidak bisa (atau lebih tepatnya, tidak mau) membuat anak spiritual seperti Atla dan Eren di dunia ini. Itu berbahaya.
Dan, ada juga opsi untuk membuat anak manusia. Itu lebih aman dan memiliki tingkat keberhasilan kelahiran bayi sehat paling tinggi diantara kedua pilihan di atas.
Namun kami tidak memilih opsi itu karena waktu yang dibutuhkan cukup lama, lebih lama daripada membuat anak spiritual atau anak demigod lahir. Dan juga ada kekhawatiran kalau nantinya anak itu akan dibuli karena tidak langsung memiliki kekuatan. Meskipun kami tahu kalau hal seperti itu tidak mungkin terjadi, tapi kami tetap khawatir.
__ADS_1
Jadi, pilihan kami adalah membuat anak Demigod. Prosesnya sama seperti membesarkan bayi manusia di dalam kandungan, namun bisa cepat tumbuh karena membentuknya dengan energi jiwa ibunya, bukan protein dan gizi.
Hampir mirip dengan apa yang aku lakukan di Lab. shelter, hanya saja mereka dilakukan dengan energi Mana, bukan energi jiwa. Jadi seharusnya sejumlah Homunculus di sana tidak mungkin hidup karena perbedaan hal itu.