Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Roh Cahaya Dan Roh Kegelapan.


__ADS_3

Menganalisa kekuatan mereka lebih jauh, aku tidak menyangka kekuatan mereka setara dengan spiritual peringkat [Legendaris]. Sangat kuat. Dan, empat kartu lainnya juga akan memiliki kekuatan yang sama.


Ini akan sangat berbahaya jika kami mengeluarkan mereka semua secara bersamaan, kami pasti akan mendapatkan kesulitan.


Ngomong-ngomong, setelah Roh mereka dikeluarkan dari dalam kartu, kartu mereka terbakar dan hangus. Itu juga berlaku dengan seluruh kartu yang identik dengan mereka di dalam inventaris.


Pemain meningkatkan level kartu itu dengan cara menggabungkan semua kartu yang identik, seolah-olah menyatukan fragmen sesuai jumlah tertentu. Kemudian upgrade terakhir untuk meningkatkan kartu ke level maksimal harus menggunakan Buah Kebangkitan.


Dari informasi yang aku dapatkan, entitas spiritual tercipta dari sejumlah jiwa yang terakumulasi. Dengan kata lain, jika aku meningkatkan kartu atau menggabungkan sejumlah kartu identik, mungkin kami bisa mendapatkan sejumlah kartu berlevel rendah menjadi roh spiritual yang utuh.


«Begitu, ya. Jika saya sedikit menganalisa sejumlah kartu ini, menggunakan metode seperti itu memang bisa aku lakukan.»


Hydra sudah memberi klaim.


Ini merupakan berita bagus jika kami kekurangan kekuatan, kami bisa membangkitkan mereka.


Namun, kesetiaan mereka masih dipertanyakan. Akan tidak nyaman jika mereka tidak ingin bekerja untukku dan memilih untuk pergi.


Masalahnya adalah aku tidak tahu apakah mereka akan membuat kerusuhan atau tidak di dunia ini. Jika mereka membuat kerusuhan, semua kesalahan pasti akan dilimpahkan kepadaku karena sudah memanggil mereka.


Untuk sekarang, aku tidak perlu meningkatkan kartu yang lain, enam Spiritual peringkat Legendaris ini juga sudah cukup.


Lalu, bagaimana sekarang? Apakah aku perlu menampar mereka agar salah satu dari mereka bisa bangun?


Aku ingin melihat reaksi mereka dibangkitkan, apakah mereka senang atau tidak senang. Jika mereka tidak senang, maka kami hanya perlu menghapus mereka. Aku tidak ingin mengurus anak yang bermasalah.


«Mungkin sedikit suntikan mana bisa membangunkan mereka.»


«Baiklah, tolong lakukan kepada Damara lebih dulu.»


Damara berasal dari kartu untuk meningkatkan pertahanan. Mungkin kekuatannya tidak akan terlalu besar jika kami harus bertarung.


Kemudian, tubuh Damara bercahaya. Semakin lama Intensitasnya semakin meningkat. Hydra pasti memperbesar outputnya secara perlahan. Sampai Damara tersadar, Hydra menghentikan penyuntikan Mana.


Damara membuka mata, mendirikan badannya, dan mulai memegang kepalanya mungkin karena pusing atau semacamnya.


"Damara."


Aku bersikap seolah-olah kami teman dekat. Sedikit tersenyum dan agak canggung.


"D-Di mana ini?"


"Oh, kita sedang berada di ruang harta kastilku. Apa kamu baik-baik saja? Ada merasa sakit di suatu tempat?"


Aku sedikit khawatir.


Selain itu, aku heran dengan nama dari tempat ini. Sekarang, ini hanya tempat kosong berisikan tiga pintu, tidak ada harta sebutir pun di sini.


"Aku tidak merasa sakit apapun, kurasa. Aku hanya sedikit pusing karena ingatanku seperti sedang tercampur aduk."


Kondisinya cukup memprihatinkan.


Namun, dia tidak memberontak dan masih bersikap tenang.


Apakah ini berjalan dengan baik? —Aku mulai bertanya-tanya.


"Beristirahatlah di sana. Jika kau sudah baikan, kau boleh berdiri."


"Dimengerti."


Oh, dia cukup penurut.


Mungkin tidak apa jika aku membangunkan Diego juga?


Ah, masa bodo, semua akan berjalan terlalu lama jika aku terus mengkhawatirkan sesuatu yang tidak berguna.


Hydra memulai proses membangunkan Diego. Dan Damara melihat tubuh Diego bercahaya seperti sedikit takjub dan mulai menilai situasi.


Seperti Damara, Diego membuka mata perlahan dan langsung mendirikan badannya.


"Diego...?"


Sebelum aku angkat bicara, Damara sudah bertanya lebih dulu.


Mereka berdua berasal dari kartu dan sama-sama entitas spiritual. Mungkin mereka memiliki relasi atau semacamnya.


"Damara? Apakah itu kau?"


"Ya, ini aku, Damara. Bagaimana keadaan tubuhmu?"


"Kupikir, aku baik-baik saja. Ini hanya sedikit kaku karena belum terbiasa... Hm? Lalu orang ini?"


Diego menyadari keberadaan aku.


"Aku Albert, Albert Testalia."


Aku berhenti di sana, menunggu apakah mereka mengenal diriku atau tidak.


"Albert... Aku sepertinya pernah mendengar nama ini..."


Diego berusaha untuk menggali ingatannya.


Kemudian mata Damara membelalak karena terkejut akan sesuatu. Dia langsung meraih kepala Diego, mendorong kepalanya secara paksa ke arah lantai.


Lalu dia juga mendorong kepalanya sendiri ke lantai seolah-olah ingin bersujud.

__ADS_1


"Tuanku, Albert. Kami minta maaf atas tindakan kami yang tidak sopan!!"


Damara seperti merasa sangat bersalah.


Mendengar ini, Diego mungkin teringat akan sesuatu dan ikut meminta maaf dengan sungguh-sungguh.


Serius, perilaku mereka membuat aku terkejut. Aku yakin mereka sudah mendapatkan ingatan mereka kembali.


"T-Tidak perlu bersujud seperti itu. Kalian tidak memiliki kesalahan apapun."


"Tidak, kami sudah bersikap tidak sopan karena tidak menyapa Anda dengan benar. Kami sangat minta maaf!"


Ugh, semua menjadi semakin rumit karena mereka cukup keras kepala. Lebih baik jika aku mengikuti apa yang mereka ingin dan mulai memaafkan mereka.


"Baiklah, baik. Aku memaafkan kalian. Sekarang kalian boleh bersikap seperti biasa karena aku ingin berbicara dengan kalian."


Seolah-olah diberi perintah, mereka menurut dan langsung mengambil sikap duduk yang benar.


Aku pura-pura tidak melihat itu dan mulai bertanya. Aku ingin mengetahui apa saja yang mereka ingat dan sampai sejauh mana ingatan yang bisa mereka dapatkan.


Setelah mendengar bahwa mereka mengingat semua kejadian di dalam game, membuat aku agak lega.


Mereka itu Roh, ketika mereka masih di dalam kartu, mereka bisa membantu pemain seolah-olah pemain sedang menggunakan sihir berbasis Roh.


Aku masih ingat bahwa seluruh kartu memiliki kemampuan untuk memulihkan Mana pemain. Itu pasti karena mereka adalah entitas spiritual.


Jika mereka entitas iblis atau malaikat, mereka pasti tidak akan bisa memulihkan Mana pemain karena mempunyai atribut masing-masing. Sedangkan entitas spiritual merupakan jiwa berisi energi alam, manusia bisa mengkonsumsi energi itu tanpa perlu mendapatkan dampak negatif.


Dan juga, mereka sangat mengenal diriku. Mereka benar-benar memuja aku karena aku seorang Pahlawan.


Baik itu di dunia ini ataupun di dalam game, Pahlawan merupakan eksistensi Mulia dan menjadi kegemaran para Roh karena memiliki daya tarik.


Roh entah bagaimana sangat menyukai Pahlawan karena suatu alasan.


"Hmm, aku mengerti. Sekarang giliran aku untuk menjelaskan situasi saat ini kepada kalian. Aku memanggil Roh kalian dan memasukkan jiwa kalian ke dalam tubuh buatan. Sekarang, kalian memiliki tubuh jasmani, kalian sudah bisa hidup di dunia ini secara independen. Oh, dan satu hal lagi..."


Aku mulai menjelaskan bahwa dunia mereka (dunia game) sudah tidak ada lagi. Sekarang mereka berada di dunia yang berbeda.


Aku juga menjelaskan keadaan kami saat ini tentang membangun negeri dan semacamnya.


Aku mengatakan semuanya. Dan sepertinya, mereka cukup kesulitan untuk mengolah informasi sebanyak itu. Hasilnya mereka hanya bisa diam menatap aku dengan mata terus melebar.


Aku sedikit khawatir, jadi aku menyuruh mereka untuk berkedip.


"K-Kami sudah bisa hidup mandiri dan memiliki tubuh? Apa itu artinya kami bebas pergi ke mana pun sesuka kami?"


"Tidak. Kalian memang boleh pergi ke mana pun, tetapi aku tidak mengizinkan kalian untuk melakukan hal yang membuat kerugian bagi makhluk lain. Kalian... Mengerti ini, kan?"


Aku agak sedikit mengancam. Menyipitkan mata seolah-olah mengintimidasi.


Mereka berdua mengerti dan mengangguk dengan kecepatan yang tidak wajar. Mungkin mereka terpengaruh oleh peringatanku.


Aku memberikan senyuman dan mulai melanjutkan pemindahan jiwa. Namun sebelum itu...


"Menurut kalian, apa rekan kalian yang lainnya mau menuruti perintahku?"


Menatap boneka itu dengan kosong, aku bertanya kepada mereka berdua.


"Kami sangat yakin tidak akan ada Roh yang berani menentang Anda, Tuanku."


"Benar. Bahkan jika Roh seperti itu ada, kami akan langsung membunuhnya karena sudah berani menentang kehendak Anda, Tuanku."


Hmm, mereka hamba yang sangat setia. Tetapi kata "Tuanku" benar-benar membuat aku menjadi risih. Aku harus menyuruh mereka untuk menyebut namaku dengan benar nanti.


Karena Damara dan Diego sudah mengatakan hal tersebut, aku tidak perlu khawatir lagi untuk mengeluarkan mereka semua karena memastikan mereka satu persatu akan memakan waktu lama untuk penjelasan.


Ketiga, untuk meningkatkan Magic Attack pemain, berwarna biru, bernama Veronika. Memulai proses asimilasi jiwa Veronika dengan boneka.


Tubuhnya mulai terbentuk, memperlihatkan lekukan spektakuler yang sangat indah dan bersih.


Aku menatap Damara dan Diego dengan wajah seakan-akan ingin mengatakan "Jangan melihat ke sini!!" seperti itu.


Kemudian mereka mengerti dan langsung membuang muka.


Ini benar-benar tidak terduga karena Veronika merupakan Roh berwujud wanita, dan aku sebagai — perantara — kreator melihat seluruh tubuhnya tanpa berkedip.


Nah, jujur saja, aku juga ikut membuang muka, namun sepertinya agak terlambat karena aku sudah memastikan semuanya. Semuanya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


Aku merasa sangat bersalah dengan itu dan akan meminta maaf kepadanya nanti.


Setelah energi Mana miliknya sudah memanifestasikan pakaian, aku baru bisa melihat ke arahnya dengan aman.


Seperti yang diharapkan dari Roh kartu berwarna biru, hampir seluruh pakaian didominasi oleh warna biru. Itu juga berlaku untuk rambutnya yang panjang, berwarna biru langit sangat sejuk dipandang.


Sama halnya seperti Diego dan Damara, sepertinya Veronika juga memerlukan dorongan agar bisa sadar. Namun, aku tidak akan membangunkan dia sekarang. Akan lebih menyenangkan jika mereka dibangkitkan secara bersamaan.


Keempat, untuk memulihkan sejumlah HP Pemain dan rekan Party, berwarna hijau, bernama Raphael. Benar-benar nama yang sangat bagus dan sudah pasti seorang wanita.


Jadi ketika proses asimilasi aku mengalihkan tatapanku (setelah menilai bahwa semuanya aman).


Jujur saja, aku seperti seorang pria bajingan, namun aku akan dianggap "Munafik" kalau tidak seperti itu, kan? Aku mengerti ini dan menyerahkan penilaian akhir kepada kalian.


Kartu Raphael berwarna hijau, namun rambutnya tidak sepenuhnya berwarna hijau melainkan kuning keemasan dan hanya memiliki warna hijau pada gradasi di ujung rambutnya. Untuk gaunnya, itu berwarna hijau muda sejuk.


Melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


Kelima, ini sedikit khusus karena memiliki kemampuan untuk meningkatkan Damage dari Skill Pemain, berwarna putih, bernama Julius.


Proses asimilasi dilakukan, membentuk tubuh seorang pria tampan dengan rambut panjang berwarna putih keperakan.


Dia benar-benar tampan. Atau lebih tepatnya cantik karena rambutnya panjang.


Jika aku tidak melihat alat kelaminnya, mungkin aku akan mengira bahwa dia adalah perempuan.


Julius mengenakan pakaian yang didominasi dengan warna putih dengan strip emas. Itu mirip dengan pakaian William, jubah seorang Saint.


«Dia merupakan Roh cahaya.»


Hydra telah mengonfirmasi statusnya.


«Maksudnya?»


«Berbeda dengan yang lain, dia merupakan Roh khusus elemen cahaya. Dalam jajaran entitas spiritual, Roh dengan elemen cahaya dan kegelapan memiliki status yang lebih tinggi.»


Setelah Hydra mengatakan itu, aku mulai sadar bahwa energi milik Julius lebih besar daripada keempat Roh yang lain.


Ditambah lagi, kami tidak bisa mengukur kekuatan lawan jika mereka belum serius.


Sama halnya dengan peningkatan jumlah energi yang terjadi ketika Edwin berubah menjadi Minotaur.


Lebih jauh lagi, karena Julius merupakan entitas spiritual, dia bisa sesuka hati memanipulasi energi di sekitarnya. Jadi, kekuatannya tidak hanya sebatas di dalam tubuh.


Namun, perlu diingat bahwa keterampilan dan keahlian juga merupakan faktor penting dalam menentukan kehebatan individu.


Aku hanya bisa berharap pria Julius ini tidak akan menjadi musuh.


Nah, sekarang masuk ke tahap terakhir.


Keenam, memiliki kemampuan untuk mengurangi Damage dan Defense lawan, berwarna hitam, bernama Niks.


Nama yang pendek dan misterius.


Proses asimilasi dilakukan, dan menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain.


Tubuhnya diselimuti oleh aura kegelapan. Setelah beberapa menit, aura itu menghilang dan menampilkan sosok pria berpakaian serba gelap, lalu mengenakan bandana dengan lempengan emas untuk menutupi area bagian mata.


Namun, bukan gaya berpakaian itu yang aku permasalahkan. Pria bernama Niks itu telah sadar dan sedang bertekuk lutut di hadapanku.


Itu benar-benar membuat aku kaget karena dia bisa sadar tanpa bantuan dari Hydra, dan bahkan sudah mengambil posisi.


"Saya memberi hormat, Tuanku."


Niks dengan santai berkata dan menundukkan kepalanya.


"O-Oh, kau lebih sigap daripada yang lain."


Aku mulai bertanya-tanya kenapa dia bisa sadar dengan sendirinya?


"Saya memiliki kemampuan untuk bergerak di dalam kegelapan, termasuk di dalam inventaris Anda."


"Kau selalu mengawasi aku selama ini?"


"Tidak, Tuanku. Saya tidak berani untuk melakukan itu."


Nah, aku pikir, dia hanya hidup di dalam kegelapan itu selama ratusan tahun.


Mengingat ini membuat aku merasa sangat bersalah karena tidak mengeluarkan mereka lebih cepat.


Tanpa sadar, aku sudah mengelus kepalanya karena simpati. Dan karena dia tidak melawan atau bertanya, aku terus melanjutkannya.


Rambut hitam pendek sangat halus, mata tidak terlihat karena tertutupi, pakaian serba hitam seperti ninja, dan berkulit putih.


Pembuat game memiliki selera yang cukup unik. "Niks" dalam arti tertentu memang mengacu pada kegelapan. Namun, pakaian dan namanya sangat tidak sesuai.


Haruskah aku mengubah namanya? Seperti Yami atau Kuro mungkin akan lebih cocok dengan pakaiannya. Dan aku hanya perlu memberikan senjata kelas Mistis jenis Dual Knife untuknya.


Dengan begitu, aku yakin dia bisa menjadi Ninja sungguhan.


«Dia sangat berbahaya. Apa anda yakin akan membiarkan dia hidup?»


«Menurutmu seperti itu?»


«Yah, sangat langka menemukan Roh dengan sifat negatif. Mereka lebih menjunjung tinggi keharmonisan dan selalu menghindari konflik. Namun, untuk Roh bernama Niks ini, aku memiliki keraguan. Jika dia bisa mengakses inventaris, seharusnya dia sudah mengetahui keberadaanku dan melapor.»


Hmm, jadi memilih untuk diam juga merupakan kesalahan, ya.


Aku berasal dari dunia damai di mana kesetaraan sosial sudah banyak diberlakukan.


Dari perspektif Hydra sebagai pribumi dunia ini, menghiraukan atasan yang lebih kuat merupakan sebuah kesalahan.


«Kita hanya bisa melihat bagaimana dia bekerja. Jika dia melarikan diri, kamu bisa mendeteksinya, kan?»


«... Apa Anda sudah lupa bahwa pria ini adalah Roh kegelapan? Jika dia memilih untuk bersembunyi, maka sudah pasti itu akan menjadi pekerjaan yang sulit.»


«Bahkan untukmu?»


«Bahkan untukku.»


«Hah? Lalu bagaimana kita akan mengurus dia? Aku tidak mungkin membunuhnya kalau dia tidak memiliki kesalahan, bukan?»


«Kurung saja dia di sini. Itu akan menyelesaikan masalah.»

__ADS_1


Ugh, dia sangat dingin seperti biasa. Tidak mau mempertimbangkan kalau pihak lain sudah dikurung di dalam inventaris selama ratusan tahun.


__ADS_2