Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Event Penting.


__ADS_3

Yah, intinya kami akan sibuk untuk saat ini.


Belum lagi, kami sudah mengetahui keberadaan tempat persembunyian bangsa Vampire!


Selama ribuan tahun, ternyata makhluk itu hanya bersembunyi di bawah tanah Ibu Kota Kekaisaran Dortos.


Sinar matahari mungkin menjadi faktor terpenting kenapa mereka bisa berada di sana.


Selain itu, apa yang harus aku lakukan sebenarnya masih belum terpikirkan. Bagaimanapun, pihak kali ini adalah Vampire.


Vampire, loh. Sungguh, hatiku sangat berdebar ketika datang ke sesuatu tentang mereka.


Ah, mungkin aku bisa langsung ke sana, menyapa pemimpin mereka dan memperkenalkan William kepada mereka.


Ku... Aku sangat senang sekali ketika membayangkan hal itu! Tapi...


Kesenanganku berhenti ketika melihat Freya termenung.


Tidak, dia tidak termenung sepenuhnya. Dia hanya kurang bersemangat semenjak aku mengabaikan dia.


Padahal, pihak yang bersalah adalah aku karena aku telah mengabaikan dia, bertingkah seperti anak kecil. Namun orang yang merasa paling bersalah justru malah Freya.


Freya sangat takut kalau aku membencinya, padahal orang sepertiku sudah pasti tidak akan pernah membencinya. Tidak ada alasan untukku melakukan itu.


Freya marah padaku karena untuk kepentingan aku sendiri. Dia tidak ingin aku menjadi pribadi yang buruk dan ingin tetap aku berjalan di jalan yang benar.


Tentu saja, aku juga ingin menjadi orang baik. Hanya saja, aku tidak bisa bersikap naif bila menyangkut tentang keamanan keluargaku.


Mungkin aku bisa menerima pukulan, tetapi aku tidak sanggup melihat keluargaku terkena bencana. Entah kenapa, perasaanku selalu kesal ketika memikirkan hal itu. Bahkan jika itu hanya sebuah imajinasi.


"Freya, kamu baik-baik saja?"


Akhirnya aku mulai bertanya, merasa sangat tidak nyaman melihat Freya diam saja.


Lagipula, biasanya dia terlihat sangat cerah meskipun memancarkan aura keanggunan.


Di sebelah kiriku, Merlin juga terlihat cukup khawatir dengan Freya.


Ketika hal seperti ini terjadi, aku ingin sekali berteriak kencang. Aku ingin sekali semua masalah bisa diselesaikan dengan berteriak.


"Ma-Maaf membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja, kok. Sungguh."


Freya memberi senyum kecil kepada kami, mungkin bermaksud untuk membuat kami agar tidak cemas lagi.


Tapi sebaliknya, itu justru membuat batinku seperti terkena goresan, tahu!


Selain itu, dia selalu saja mengatakan "maaf", padahal tidak memiliki kesalahan apapun. Sikapnya sangat aneh.


Aku sekarang ingin sekali menusuk diriku karena sudah membuat Freya menjadi seperti itu. Aku benar-benar idiot karena telah membuat masalah untuknya, dan sangat menyesal.


Ah~ aku ingin sekali memeluknya. Tapi untuk apa aku melakukan hal itu? Perasaan bersalah di hati Freya pasti tidak akan menghilang hanya karena aku memeluknya.


*Sigh...*


Aku menghela nafas dengan berat, dan bersandar pada sofa.


"A-Ada apa, Albert?"


Freya terkejut, tiba-tiba menyentuh tanganku terlihat seperti dia sedang mencemaskan sesuatu.


(Aneh, kenapa dia merasa cemas seperti itu? Apa itu karena dia masih merasa bersalah dengan kejadian sebelumnya?)


Di sisi lain, Merlin juga cukup terkejut. Aku menghela nafas bukan cuma karena berat pikiran, melainkan ingin mencari perhatian juga.


"Suapi aku kue, Freya."


Dengan nada datar, aku menyuruh Freya. Dia mengerti dan langsung mengambil satu kue kecil untukku.


"Lebih banyak lagi!"


Setelah menggigit kue itu, aku langsung meminta lagi. Lalu Freya mengambil lebih banyak dengan membawa piringnya ke arahku.


Wajahnya terlihat sangat kebingungan, tapi aku berusaha mengabaikannya.


Dia memasukkan sejumlah kue itu satu persatu ke mulutku, dan aku terus memakannya.


Pada saat itu aku merasa mual, terlalu banyak memakan gula sangat tidak nyaman untuk perutku. Tapi aku tetap menahannya.


Aku memiliki pemikiran dan ide aneh. Bekerja atau tidaknya itu, aku tidak peduli.


"Lagi."


Aku meminta tambahan, karena semua kue di atas piring sudah aku makan.


Dengan wajah khawatir akan sesuatu, Freya mengambil piring penuh kue di atas meja. Dan menyuapi aku sejumlah kue itu hingga tidak tersisa.


*


Beberapa menit kemudian, semua kue di atas meja sudah habis termakan olehku.


"Lagi."


Cukup enggan, tapi aku tetap mengatakannya.


Di sisi lain, mendengar hal itu membuat wajah Freya semakin khawatir.


"K-Kamu terlalu banyak makan kue, Albert."


Setelah cukup lama menutup mulut, akhirnya Freya berani berbicara.


"Memangnya kenapa? Apa ada masalah?"


Aku bertanya. Namun Freya tidak menjawab. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu tetapi tetap menahannya di dalam mulut.


"Jika ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, katakan dengan cepat. Setelah itu, ambil lebih banyak makanan dari dapur."

__ADS_1


Aku mendesak Freya. Di sana, wajah Freya terlihat sangat bermasalah. Dan tidak lama kemudian...


"Su-Sudah cukup makan kuenya. I-Itu sangat tidak baik untuk perutmu. Lihat, bahkan wajahmu sudah terlihat pucat karena terlalu banyak makan."


Dia mencegahku. Meski wajahnya terlihat sangat ketakutan akan sesuatu, dia tetap menghalangiku dengan keberaniannya.


Ah, aku ingin sekali tersenyum, tapi drama ini belum selesai, tinggal sedikit lagi.


"Hah?"


"Su-Sudah kubilang, berhenti memakan kue. Itu sangat tidak nyaman untuk perutmu, kan? Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?"


Freya berbicara. Meski ketakutan, dan meski bibir serta tangannya tidak berhenti bergetar, dia tetap mengatakannya.


Sudah kuduga, Freya lebih mementingkan diriku daripada dirinya sendiri.


Meski takut diriku membencinya, dia tetap melarangku. Dimana melarang seseorang dapat membuat orang itu kesal, bahkan dibenci.


Meski mengerti akan hal itu, Freya tetap melarangku. Memprioritaskan kesehatanku daripada kepentingannya sendiri.


Ah, aku benar-benar sangat mencintainya.


Walaupun masalah ini terlihat sangat sepele, tapi aku yakin sangat jarang menemukan wanita dengan mental seperti Freya.


Orang biasa pasti tidak akan bisa seperti Freya. Mereka akan lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri dan menyepelekan kepentingan pihak lain.


"Freya."


Aku tersenyum, sangat senang.


Namun Freya tidak melihatnya. Dia terus menatap ke bawah, takut akan sesuatu.


Kemudian aku menyentuh tangannya yang tidak mau berhenti bergetar, dan membuat dia melihat ke arahku.


"Aku mencintaimu."


"Eh?"


"Aku mencintaimu, Freya. Aku ingin kamu seperti biasa, menjadi Freya yang selalu menjagaku, mencegah, dan melarang sesuatu yang tidak baik untukku. Aku sangat mencintai Freya yang seperti itu. Sebelumnya, aku minta maaf karena telah mengabaikanmu. Jika boleh jujur, aku memang kesal, tapi itu hanya sikap sementara, sungguh. Aku benar-benar tidak terlalu kesal atau marah. Jadi... Err, maafkan aku."


(Uwah, payah. Jadi pria seharusnya tidak labil!! )


Ah, aku ingin sekali memukul diriku sendiri. Tapi jujur saja, aku hanya mengatakan apapun yang ada di kepalaku.


Selain itu, banyak hal terjadi pada saat anda berbicara, seperti grogi atau semacamnya. Pada saat itu, anda pasti akan mendapatkan kesulitan ketika berbicara, kan?


Ah, lupakan itu. Kembali ke Freya.


Sekarang dia menatapku dalam diam, tidak mengatakan apapun. Itu sebabnya, suasana menjadi sedikit canggung untuk beberapa menit.


"Jadi, kamu benar-benar kesal padaku, kan?"


Dengan mata berkaca-kaca, Freya bertanya.


Aku membuka mulut, ingin berbicara. Dan hampir menyangkal hal itu karena tidak ingin Freya menangis.


Sekarang lebih baik aku jujur. Biarkan kami memahami perasaan kami masing-masing dan berusaha untuk memperbaiki sikap.


Benar, cara seperti ini lebih dewasa. Aku adalah pria yang tumbuh!


"Iya."


Sudah berfikir seperti orang dewasa, tapi aku malah hanya bisa mengeluarkan satu kata. Sangat payah.


"Lalu, kenapa kamu masih meminta aku bersikap seperti biasa? Kalau aku bersikap seperti biasa dan mengganggumu kembali, Apa... Apa kamu tidak akan kesal lagi padaku? Atau, kamu masih akan kesal?"


Freya memberikan pertanyaan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.


Itu artinya, ini sudah memasuki zona event. Jika aku bisa menjawabnya dengan baik dan benar, aku pasti bisa mendirikan flag. Dan akan mendapatkan cinta sejati Freya.


Baiklah kalau begitu.


"Mungkin, kamu tidak akan percaya bila aku mengatakan "aku tidak akan pernah marah padamu". Dan tentunya, aku tidak bisa menghilangkan perasaan hati. Jadi, pada saat itu, perasaan kesal mungkin akan muncul kembali."


Aku berkata jujur.


Mantra untuk menghilangkan perasaan manusia, mungkin saja ada. Tapi jika aku menghilangkan sesuatu yang sangat berharga seperti itu, aku akan berakhir seperti Golem buatan Endrin atau Homunculus nantinya.


"Terus, kenapa kamu ingin aku bersikap seperti biasa lagi? Pada saat aku bersikap kasar padamu lagi, bagaimana jika kamu semakin kesal padaku? Bagaimana jika kamu... Marah padaku? Aku... Takut. Sangat takut."


Freya menangis. Tubuh, mulut, tangan — semuanya bergetar. Dan dia memalingkan wajahnya ke bawah.


Di saat-saat seperti ini, aku ingin sekali berharap, hanya dengan menciumnya dapat menghilangkan rasa khawatir Freya.


"Kamu ingat alasan kenapa aku menyukaimu?"


"Alasan?"


"Ya, aku menyukaimu karena kamu sangat berani, Freya. Bukankah kamu sering mencegah kami ketika kami ingin melakukan sesuatu yang tidak benar? Maka, bersikaplah berani seperti biasa. Untukku sendiri, aku akan berusaha untuk tidak mudah marah lagi, tidak akan membenci kamu dan Merlin, tentunya semua keluarga juga termasuk. Jadi, tetaplah berani seperti biasa, seperti ketika kamu mencegah aku memakan lebih banyak kue barusan."


Keberanian. Di kastil ini, orang paling berani adalah Freya. Dia juga berhati kuat dan tidak mudah menyerah.


Sikap seperti itu sangat cocok bila ditempatkan dengan gelar "Pengawas" dalam game. Dapat mengatur seluruh jajaran supaya tetap teratur.


Atau bahkan, Freya di sini lebih baik karena bisa mengatur sang Raja yang pangkatnya lebih tinggi daripada dirinya, dan sang Ratu yang pangkatnya sejajar dengannya.


Mungkin, aku tidak ingin Freya merubah sikapnya karena faktor itu juga.


Aku ingin Freya tetap menjadi pengawas kami, dan mencegah kami mengambil langkah yang salah di masa mendatang.


Selesai berbicara cukup panjang, Freya mengangkat kepalanya, dan melihat ke arahku dengan mata melebar.


Aku tersenyum. Alasan kenapa aku makan kue terlalu banyak, sebenarnya hanya ingin menunjukkan sikap keberanian Freya.


Aku sangat berharap bahwa dia dapat mengerti karena perutku sudah sangat mual sekarang. Aku tidak ingin ide konyol yang dapat membuat perutku sakit ini menjadi sia-sia.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, sistem pencernaanku masih tetap sama seperti manusia biasa, tidak dapat memproses dengan cepat seperti Alice.


Oleh karena itu, sejenis sihir pemulihan atau pemurnian dan sejenisnya tidak akan menghilangkan rasa mualku karena makanan itu masih menumpuk di perut.


Dengan kata lain, aku harus pergi ke toilet bila ingin menghilangkan rasa tidak nyaman ini, memuntahkan kapasitas berlebihan di sana.


"Kamu melakukan hal aneh hanya untuk tujuan seperti itu?"


Pekerjaanku dikatakan aneh olehnya, dengan ekspresi kaku. Bekas aliran air mata di pipinya masih ada, tetapi tangisannya sudah terhenti.


Aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan Freya seperti apa, dan hanya memilih untuk diam. Bagaimanapun, kepalaku tidak bisa bekerja dengan baik karena rasa mualnya belum menghilang.


(Selain itu, aku tahu kalau ide memakan banyak kue memang hal aneh untuk dilakukan, sekaligus sangat konyol. Tapi aku sudah berusaha untuk membuat kamu dapat mengerti, tahu! Setidaknya, jangan melihat aku dengan wajah seperti itu! )


"Kenapa kamu diam lagi? Kesal?"


Freya mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh wajahku, dan mengatakan hal itu.


"T-Tidak, bukan itu..."


Entah kenapa, aku tidak bisa menjawabnya dengan baik.


Bila dipikirkan baik-baik, hal itu membuat aku menjadi terlihat seperti orang idiot. Dan aku tidak mungkin bilang kepadanya tentang perasaan ini, kan?


"Albert?"


Sambil menyebut namaku, Freya melingkarkan tangannya di leherku, untuk memeluk. Dan menyandarkan kepalanya di dadaku.


Tentunya, sebagai suami, aku langsung memeluk Freya. Tubuhnya sangat lembut, jadi aku tidak pernah bisa tahan jika tidak memeluknya. Padahal hubungan kami sudah berjalan hampir 1 tahun, tapi aku tetap tidak pernah bosan dengan kelembutan tubuhnya.


Oh, tentu saja perasaanku terhadap Merlin juga sama seperti itu. Dia sekarang sudah cukup tenang melihat Freya sudah berhenti menangis.


"Kenapa?"


Sebelum memikirkan hal lain, aku menjawab panggilan Freya terlebih dulu.


"Kamu mencintaiku?"


"Em."


"Kamu menyukaiku?"


"Em."


"Kamu berjanji untuk tidak akan pernah marah padaku?"


"Err..."


Ketika suasana sudah tenang, sekarang aku baru menyadari kalau janji seperti itu sepertinya tidak mungkin untuk dilakukan.


"Ada apa?"


"Err, janji untuk tidak marah. Sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu."


"Kenapa?"


"Hmm, kamu tahu, aku orangnya cemburuan?"


"Tahu, kamu sering mengatakannya ketika mabuk."


"U-Uh, ya. Pokoknya, aku mungkin bisa marah jika kamu mendekati pria lain."


"Apa kamu mengira, aku akan melakukan hal seperti itu?"


"Emm, tidak. Hanya saja, menjanjikan untuk tidak marah ke semua orang masih tidak bisa kulakukan. Banyak hal yang tidak aku ketahui bisa saja terjadi di masa depan, jadi aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Maaf."


Misalnya, jika Freya atau Merlin pergi ke tempat berbahaya, sudah pasti aku akan menghentikan mereka. Bahkan jika diperlukan, aku akan marah.


"Memangnya kamu bisa marah?"


"Jangan meremehkan!"


Dengan nada serius, aku langsung menjawab.


Berbicara tentang amarah, sepertinya aku tidak pernah marah. Tidak, sejak awal aku memang bukan tipe pria seperti itu.


Tidak mudah marah dan selalu bertindak pasif. Itulah aku.


"Ma-Maafkan aku."


Freya tiba-tiba tersentak, mungkin terkejut. Dan pelukannya semakin dikencangkan. Kemudian dia melanjutkan...


"Kamu menyukaiku karena aku wanita pemberani, kan?"


"Iya."


"Kalau begitu, aku boleh memarahimu? Dan juga, jika diperlukan, apa aku boleh memukulmu?"


...


...


...


(Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa dia ingin dijanjikan diperbolehkan berbuat sesukanya agar dia dapat bertindak dengan bebas setelah ini?)


"Kenapa diam saja?"


"Eh, b-boleh kok. Selama dalam batasan."


"Sungguh? Kamu tidak boleh menyesal setelah mengatakan itu, loh."


"Y-Ya, sungguh. Aku tidak akan menyesal."


Tidak, aku masih sangat ragu menjawab pertanyaan itu. Namun jika aku tidak menjawab seperti itu, semua pembicaraan ini akan sia-sia dan Freya akan kembali menjadi murung.

__ADS_1


Ah, entah kenapa, rasa tidak nyaman tiba-tiba muncul di hatiku.


__ADS_2