
Aku beralih ke William.
Aku memiliki janji dengan Byakko untuk membuat obat demam. Namun, sepertinya itu bukan demam biasa.
Mungkin sejenis bakteri lokal telah menyebabkan itu semua, karena penyakit itu hanya muncul pada orang-orang di lokasi tertentu.
Aku menjelaskan semuanya secara rinci kepada William dan hasilnya...
"Kamu mengetahui penyakit itu? Jika kamu mengetahuinya, aku ingin kamu membuatkan obat untuk mereka."
"Hmm, kita memang belum memeriksanya, tetapi karena penyakit itu tidak mematikan, sudah pasti itu bisa disembuhkan dengan obat. Ngomong-ngomong, Tuan Albert, saya sudah membuat beberapa obat antibiotik dari jamur. Mungkin kita bisa mencoba obat baru itu kepada mereka."
William tersenyum cerah, menampilkan kedua taringnya yang menyeramkan.
Sejak awal, orang ini sudah terlihat sangat tampan, ditambah dengan taring panjangnya itu, dia menjadi pria tampan yang menyeramkan. Namun, wanita pasti bergairah melihat ketampanan pria misterius.
Mungkin ini hanya sebuah kebetulan, aku membuat Leon seperti anak-anak yang manis, Ignis seperti laki-laki remaja tampan, dan William seperti pria dewasa yang mapan.
Semua memiliki perawakan yang mengesankan.
"Kamu ingin menjadikan mereka Kelinci Percobaan?"
"Umu."
Dia menjawab tanpa ragu, seolah-olah itu adalah hal yang paling benar untuk dilakukan.
Orang ini memang sangat menyeramkan.
"Baiklah, aku mengizinkannya. Jika itu berhasil, aku ingin kamu mengajarkan mereka cara membuatnya. Apa itu bisa dilakukan?"
"Tentu saja, Tuan Albert. Alat yang digunakan tidak terlalu rumit dan bahan bakunya juga bisa dengan mudah didapatkan. Aku yakin bahkan penduduk desa pun bisa membuatnya jika mereka ingin belajar."
Semua tergantung kemauan mereka sendiri, ya.
Aku yakin kita memang bisa melakukan apapun jika kita ingin. Namun itu adalah kalimat kepunyaan orang cerdas. Orang bodoh pasti tetap akan sulit untuk memahaminya.
Yah, terserahlah. Aku hanya perlu mengirim William sebagai utusan ke Kerajaan Binatang.
"William, ini tugas untukmu. Aku ingin kamu pergi ke Kerajaan Binatang sebagai utusan dan membuat hubungan baik dengan mereka. Kamu mau melakukannya?"
"Ku~fufu, akhirnya aku diberikan tugas oleh Anda, Tuan Albert. Baiklah, tolong serahkan misi ini kepada saya, saya janji tidak akan mengecewakan Anda."
William tersenyum lebar dan semua taring-taring mengerikannya terekspos.
Memiliki anak buah yang sangat mengagumi aku, tentu saja membuat aku sangat senang.
"Ignis."
"I-Iya, Tuan Albert!"
Entah kenapa Ignis terlihat sangat menanti-nati sesuatu.
"Kamu akan menjadi utusan ke Kerajaan Herunia. Tolong minta mereka melegitimasi negara baru ini, tanda tangan Perjanjian Bilateral kita, dan... Oh, aku meminta mereka untuk mengirim beberapa manusia ke sini. Mungkin kamu bisa mengurus itu sekalian?"
Berbeda dengan Kerajaan Binatang Byakko, Kerajaan Herunia merupakan kerajaan manusia, dan manusia di jaman ini sangat menjunjung tinggi formalitas.
Ignis memiliki etiket yang bagus dan sangat cocok untuk dikirim ke sana sebagai delegasi. Tidak, tidak hanya Ignis, sebenarnya semua mantan npc-ku memiliki etiket yang bagus. Mungkin itu berasal dari pengaturan dalam game.
"Terima kasih, Tuan Albert, karena sudah memberikan saya kesempatan. Saya pasti akan memenuhi harapan anda."
"O-Oh, bersikaplah seperti biasa. Dan juga, gunakan pakaian yang cocok sebagai utusan, ok?"
"Dimengerti, Tuan Albert."
Seragam militer yang selalu dikenakan Ignis memang terlalu mencolok.
Kami memiliki ruangan khusus busana. Berbagai macam pakaian dan aksesoris dalam game dan pakaian yang aku beli di kota Sixam, semua itu sudah aku simpan di sana. Jadi Ignis seharusnya bisa mencari pakaian bagus di ruangan itu.
Aku menyuruh Ignis dan William untuk bersiap. Ignis mungkin bisa langsung pergi besok, namun tidak untuk William.
William harus menyiapkan barang-barang dan semacamnya untuk menangani pasien seperti persiapan dokter keliling.
Aku juga menyuruh mereka berdua mencari orang lain untuk menemani mereka.
Aku tidak tahu siapa yang akan mereka pilih, aku hanya perlu menunggu keberangkatan mereka untuk itu.
Setelah itu, semuanya kembali ke kesibukan mereka masing-masing.
__ADS_1
Sedangkan untuk aku, aku pergi ke Gedung Familiar bersama dengan Merlin, Freya, Eliza, Alfred dan Saber.
Merlin, Freya, dan Eliza — mereka bertiga selalu bersama. Tugas mereka sebagai pembimbing pegawai kastil menjadikan mereka sangat populer.
Namun, keberadaan mereka sebenarnya dikenal sebagai kelompok Lima Pengawas Kastil. Dua lainnya adalah Kaguya dan Titania.
Sekarang Kaguya dan Titania sedang mengurus urusan manajemen di lantai atas kastil. Mengurus para beastman merapihkan seluruh fasilitas di lantai sembilan ke atas.
Mereka menjadi sangat dekat, dan Kaguya mendapatkan keuntungan dari itu.
Titania merupakan salah satu bangsawan besar di Dunia Iblis. Jadi informasi yang dia miliki sangat bermanfaat untuk Kaguya.
Mengesampingkan itu, sebelum kami pergi ke Gedung Familiar, kami memungut kedua putri kami yang sedang bermain di lahan perkebunan. Baru kemudian kami bisa ke Gedung Familiar.
Setibanya di gedung, aku langsung menuju ke tempat tinggal Tiramosa.
Aku sangat jarang berkunjung ke sini dan belum pernah melihat Tiramosa karena dia berada di dalam air.
Adapun Atla dan Eren, mereka sering bermain di sini. Mereka sudah mengenal seluruh hewan yang berada di sini. Jadi ketika kami masuk, Atla dan Eren langsung menuju ke kandang kuda.
Aku pikir mereka kekurangan teman dan berakhir menjadikan hewan sebagai teman mereka.
Tempat di dalam gedung ini dibagi menjadi empat bagian dan semuanya terlihat seperti keseluruhan kebun binatang.
Jalanan dibatasi dengan pagar kecil, bukan sebagai pengurung hewan tetapi hanya sebagai pembatas biasa. Itu pasti perbuatan Leon, Saber, dan Alfred.
Pagar besi dilas dengan rapih. Apakah tempat ini memiliki alat las? Tentu saja tidak. Mereka pasti menggunakan sihir.
Dengan sihir, kita bisa menciptakan reaksi nuklir, jadi kenapa hanya mengelas saja tidak bisa?
Di kepalaku selalu ada kalimat itu.
Ngomong-ngomong, kami belum menjelaskan enam kuda peringkat [Epic] yang kami miliki. Mereka merupakan kuda-kuda hebat hasil dari penyilangan Kuda Unggul.
Itu sudah menjadi puncak dari evolusi mereka, jadi mereka tidak akan bisa melahirkan kuda yang memiliki kemampuan melebihi mereka.
Mereka memang tidak memiliki nyala api seperti Kuda Legendaris namun mereka memiliki tanduk seperti Unicorn. Atau mereka memang Unicorn? Tidak, tidak, jika seperti itu mereka hanya bisa ditunggangi oleh wanita perawan.
Kulit mereka memang memiliki warna standar putih, cokelat, hitam, dan abu-abu. Namun, mereka memiliki rambut dan ekor berwarna merah, kuning, hijau, biru, hitam, dan merah mudah. Masing-masing dari mereka mewakili warna tersebut.
Terserahlah, tujuan aku ke sini untuk bertemu dengan Tiramosa. Aku menyuruh Saber untuk mengawasi mereka berdua. Akan berbahaya jika mereka berdua melakukan sesuatu yang menyinggung kuda itu dan berakhir ditendang.
Kalau itu terjadi, aku akan langsung mengeksekusi kuda itu meskipun kuda itu tidak bersalah.
Ketika kami selesai rapat, Alfred dan Saber mengatakan sesuatu yang membuat aku terkejut, yaitu Tiramosa telah bertelur.
Tidak, hanya bercanda, aku tidak tahu bagaimana kerang berkembang biak. Yang benar adalah Tiramosa telah menghasilkan mutiara.
Kukuku, itu sesuatu yang sangat menggembirakan bagiku. Tidak sia-sia aku memberikan satu juta Nilai Jiwa kepada makhluk itu, ternyata dia benar-benar bisa berkembang biak di dunia ini dan bahkan bisa menghasilkan mutiara.
Oh, tentu saja, benda itu bukan tercipta dari pasir. Itu terbuat dari sekumpulan energi sihir di alam sekitar.
Prosesnya hampir sama. Tiramosa menyerap energi mentah dari area sekitar, massa energi yang terkumpul dikeraskan dan dilapisi oleh selaput sihir dari kemampuan Tiramosa sebagai Kerang Ajaib.
Itu apa yang dikatakan oleh Alfred dan Saber. Di samping pekerjaan mengurus gedung, mereka juga mengamati setiap aktivitas monster di sini.
Aku penasaran, aku belum pernah melihat perubahan Tiramosa. Tidak, aku bahkan belum pernah melihatnya sejak dia dibawa ke sini.
Pada waktu itu, dia sedang di dalam scroll. Setelah dikeluarkan, dia langsung dimasukkan ke dalam kolam.
Jadi ketika aku sedang bermain di sini, aku hanya mengunjungi beberapa hewan dan menyapa mereka.
Bagaimanapun juga, aku merupakan tuan mereka. Aku harus memperlakukan mereka dengan baik dan ikut merawat mereka sedikit.
Adapun ketika aku memberikan Nilai Jiwa kepadanya, itu hanya dilakukan di luar kolam dan yang melakukan itu tetap Hydra.
Kami tiba di depan kolam. Lantainya agak tinggi dan diberi pagar sebagai pembatas.
Terkadang anak-anak dari suku Huldra suka bermain ke sini, namun mereka tidak menghampiri Atla dan Eren, mungkin karena segan.
Meski mereka berasal dari desa yang sama, Atla dan Eren tidak pernah bermain dengan anak-anak sebayanya karena suatu alasan.
Yah, aku akan segera mencarikan mereka teman agar bisa bermain.
Aku meminta Alfred untuk mengeluarkan Tiramosa dari kolam. Posisi kami sedang berada di pusat gedung. Lebih tepatnya, berada di bawah menara. Semua atap dan menara hanya ditopang dengan pilar-pilar berukuran sedang, namun mereka cukup kokoh — mungkin terbuat dari Baja Pixie.
Ada lift menuju ke lantai atas menara dan puncak menara. Setelah melihat Tiramosa, aku pikir aku akan menaiki itu.
__ADS_1
Tiramosa dikeluarkan. Dia besar dan mirip kerang mutiara pada umumnya. Hanya saja dia berwarna hitam dan memiliki lambang Hydra berwarna merah di cangkang bagian atas.
Sangat keren dan cukup mengerikan. Julukan dia sebagai Monster Lautan Iblis bukan hanya sekedar nama.
Kemudian, kedua putri kami muncul secara tiba-tiba entah dari mana. Karena cukup antusias dengan Tiramosa, aku menghiraukannya.
"Apa dia baik-baik saja di daratan?"
Tiramosa sedang digeletakan di lantai. Lebarnya mungkin sekitar 13 meter. Itu membuat ruangan besar ini menjadi sempit.
"Dia akan baik-baik saja, Tuan Albert. Selain itu, dia memiliki banyak mutiara di dalam tubuhnya."
"Oh, tolong perlihatkan pada kami."
Tanpa jeda, aku langsung menuntut.
Alfred berbicara dan Tiramosa langsung membuka cangkangnya.
Alfred juga merupakan monster, jadi dia pasti bisa berinteraksi dengan sesama monster. Walaupun aku tidak tahu apa yang selalu mereka bicarakan.
Baik, cangkang itu terbuka dan memperlihatkan isi di dalamnya. Puluhan mutiara bersarang di sana, dikelilingi oleh daging berwarna merah.
Sungguh, entah kenapa aku malah tertarik dengan daging Tiramosa. Aku yakin itu akan menjadi hidangan yang enak bila direbus dengan bumbu.
*HIK*
Oh, aku melihat Tiramosa sedikit tersentak, mungkin dia menyadari apa yang aku pikirkan. Jadi aku mulai membuang jauh-jauh pikiran itu.
Kemudian aku tersadar akan sesuatu. Mutiara itu tidak berwarna hitam, melainkan berwarna putih.
"Eh, kenapa itu tidak menjadi hitam?"
Aku bertanya, kemudian Alfred menjelaskan mewakili Tiramosa.
Tiramosa merupakan monster berartibut Iblis. Oleh karena itu, dia bisa hidup nyaman di Dunia Iblis dengan menyaring esensi sihir Iblis di sekitar dan sisanya akan menjadi mutiara.
Namun, setelah mengalami evolusi, dia dapat mengkonsumsi esensi sihir murni dari para familiar kami.
Itu juga penyebab dia bisa hidup di dalam dunia ini, jika dia tidak berevolusi, dia mungkin sudah mati karena tidak cocok dengan perbedaan habitat.
Ditambah lagi, aku memindahkan kastil ini bertepatan dengan evolusi dirinya. Secara bersamaan, perubahan habitat mendorongnya untuk merubah tubuhnya agar cocok dengan kondisi alam.
Terlambat sedikit, mungkin kita hanya akan menemukan Tiramosa dengan wujud lain dan atribut yang tidak berubah.
Aku cukup terkejut setelah mendengar penjelasan dari Alfred. Aku tidak menyangka kebetulan itu menyebabkan keberuntungan.
Dan juga, aku sedikit bersyukur atas keberuntungan itu. Aku tidak tahu wajah seperti apa yang akan dikeluarkan oleh William jika dia tahu kalau hewan peliharaan miliknya mati.
Kami memutuskan untuk mengumpulkan mutiara itu. Kami menemukan lima mutiara berukuran dua sampai tiga meter. Itu sangat besar, dan aku tidak tahu akan digunakan sebagai apa benda tersebut.
Untuk mutiara yang lain, ukuran mereka sama seperti sebelumnya — seukuran bola basket. Jumlah mereka ada 20, bila ditotalkan menjadi 25 butir.
Aku juga mendengar bahwa Tiramosa bekerja keras dalam produksi mutiara itu sebagai bentuk terima kasih karena aku sudah memberikan Nilai Jiwa kepadanya.
Aku menyuruh Alfred untuk menyampaikan rasa senangku. Juga, mengatakan tidak perlu terlalu bekerja keras, hidup dengan nyaman, dan menikmati itu dengan santai.
Lagi pula, mutiara itu tidak terlalu sering kami gunakan dan aku akan lebih senang jika dia menjalani aktivitas seperti biasa.
Tiramosa menutup cangkangnya dan kami sedikit mengelusnya pada bagian bawah cangkang karena penasaran dengan rasa kulitnya.
Terutama Atla dan Eren, mereka berdua sangat mengagumi hal-hal yang berbentuk besar. Jika Tiramosa bergerak sedikit, kami pasti akan tergencet oleh tubuh besarnya.
Interaksi telah selesai. Lalu Alfred mengembalikan Tiramosa ke dalam kolam.
Pada akhir pertemuan, aku mengatakan akan memperbolehkan Tiramosa untuk tinggal di lautan jika dia menginginkannya.
Wilayah kami dekat dengan laut. Kalau dia ingin tinggal di laut, kami bisa menaruhnya di sana. Aku yakin dia tidak akan pergi menjauh dari kami.
Sebagai balasan "Aku akan mencobanya nanti, aku ingin merasakan air laut di dunia ini." seperti itu. Tentu saja kami menggunakan Alfred sebagai translator.
Nah, mungkin dia harus meminta izin lagi kepada William jika ingin berenang di laut. William sudah repot-repot menyelam ke laut untuk mengambil kerang itu. Jadi membawa Tiramosa tanpa seizin William sangat membuat tidak nyaman.
Setelah semua, tiba-tiba aku ingat dengan nama mutiara itu. Apakah ini masih akan menjadi "Mutiara Iblis Hitam"?
Warnanya putih dan tidak memiliki atribut Iblis sedikit pun di dalamnya, tetapi Tiramosa masih memiliki kulit hitam yang menyeramkan.
Baik, aku tidak ingin pusing, aku akan menamakan itu sebagai "Mutiara Iblis Mosa" sebagai gantinya.
__ADS_1