Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Perjuangan dan permainan.


__ADS_3

Di luar hutan yang tertutupi oleh dinding sihir tak terlihat, terdapat pasukan monster sedang berkumpul seolah-olah sedang menunggu.


Ukuran mereka bervariasi tetapi yang paling menonjol adalah kingkong besar setinggi 60 kaki berbulu abu-abu.


*ROAR*


kingkong itu berteriak untuk menandakan bahwa waktunya sudah tiba.


Memukul dadanya beberapa kali seperti memukul gendang, kingkong itu berteriak kembali. Kemudian, teriakan itu disusul dengan teriakan monster lainnya dan menyebabkan kebisingan.


Dengan cepat, sang kingkong berlari ke arah hutan. Berlari dengan kencang seperti memiliki niat tertentu.


Sampai di dekat hutan, kingkong itu melompat tinggi ke udara, mengarah ke hutan.


Seperti sudah mengetahuinya, kingkong itu membentur semacam dinding tak terlihat dengan kedua tangannya yang penuh dengan otot.


Dengan suara *bang* mereka berbenturan dan menyebabkan gelombang pada dinding tak terlihat itu.


*krak*


Seperti suara retakan pada kaca, dinding itu — atau bisa juga disebut sebagai sihir penghalang — memiliki retakan pada bagian yang terserang oleh sang kingkong.


Hanya dengan satu pukulan pelindung itu tidak pecah, dan kingkong itu kembali mengambil jarak untuk melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, berniat untuk menghancurkan pelindung tersebut.


*bang*


Pelindung itu masih belum hancur, tetapi retakan pada bagian yang diserang sudah mulai menyebar.


Lalu kingkong itu melakukan hal yang sama, dan akhirnya, pada pukulan ketiga dia bisa memecahkan atau menghancurkan penghalang tersebut.


*ROAR*


Dengan suka cita, dia berteriak sangat kencang sambil memukul dadanya beberapa kali.


Akhirnya, kingkong itu bisa masuk ke dalam hutan beserta dengan segerombolan monster yang lain.


.


.


.


.


.


Keadaan di dalam penghalang sementara kingkong itu sedang berupaya menghancurkan penghalang.


Di tengah-tengah hutan terdapat desa berisikan para penduduk suku huldra yang memiliki ekor sapi.


*bang*


Suara kencang yang belum pernah terdengar masuk ke telinga para penduduk, terutama seorang pria tua mengenakan tunik dengan sabuk.


Pria tersebut memiliki firasat tidak enak dengan suara tersebut dan dia langsung pergi ke rumahnya, berniat untuk menemui seseorang.


Sesampainya di rumah, pria tersebut bertemu dengan dua anak kembar yang manis sedang melihat ke arah langit-langit dan membuat wajah terheran.


"atla! Eren!"


Pria itu memanggil kedua anak itu dari pintu.


Menyadari ada yang memanggil mereka, kedua anak itu melihat dan menghampiri pria tersebut.


""kakek!""


Mereka berkumpul.


"ayo, cepat ikut kakek."


Pria itu memaksa kedua anak tersebut. Mereka berdua hanya mengatakan "eh?" karena bingung, tetapi mereka tetap mengikuti pria tersebut.


*bang*


Suara yang sama terdengar kembali dan membuat pria itu semakin yakin akan satu hal.


Pria itu membawa kedua anak tersebut ke arah yang berlawanan dari sumber suara.


Dengan tergesa-gesa, akhirnya mereka sampai di ujung desa dan ingin memasuki hutan.


*bang*


Suara ketiga terdengar. Ditambah lagi, itu terdengar seperti suara pecahan kaca dan pria itu sangat mengetahui apa yang sedang terjadi.


"kakek, apa yang terjadi?"


Salah satu dari mereka bertanya sambil merasa cemas. Namun, pria itu menghiraukannya.


"cepat, kalian harus berlari ke arah sana, lari dengan kencang jangan pernah melihat ke belakang."


"tapi?"


"atla, aku menyerahkan eren padamu. Jaga dia dengan baik. Sekarang kalian pergi, cepat, sudah tidak ada waktu lagi!"


Pria itu berkata dengan tegas.


Atla sebagai kakaknya mengerti maksud tersirat dari kalimat pria itu dan mulai menarik eren berlari menuju ke arah hutan.


Setelah melihat mereka pergi jauh, pria itu berlari lagi menuju ke alun-alun desa.


Tidak lama kemudian banyak monster yang keluar dari hutan dan langsung menghancurkan banyak perumahan dan perkebunan warga.


Tidak sempat, ya.


Pria itu berniat untuk membantu mengungsikan para warga tetapi dia tidak sempat karena waktu sudah termakan untuk membantu kedua anak itu melarikan diri. Dia tidak menyesali atas perbuatannya dan hanya bisa meminta maaf kepada para warga dari dalam hati.

__ADS_1


Namun, dia juga sadar bahkan jika kedua anak itu bisa melarikan diri dari sini, mereka tidak akan bisa bertahan hidup di luar hutan ini.


Tapi setidaknya, kesempatan mereka untuk bisa bertahan hidup tidaklah nol persen jika mereka bisa selamat dari segerombolan monster yang telah menyerang desa.


Sambil membantu mengarahkan penduduk desa ke arah yang berlawanan, pria itu juga menyerang monster yang menyerang.


Dengan sedikit kemampuannya, dia bisa mengiris monster itu dengan parang yang selalu dia bawa di sabuknya.


Menebas satu persatu monster yang datang, pria itu terus melakukan hal yang sama berulang kali sambil membantu jalannya evakuasi warga desa, dia bisa membunuh beberapa monster dengan parangnya.


Tapi itu tidak bertahan lama.


Beberapa monster sudah menyadari kalau pria tersebut merupakan ancaman dan mulai menyerang dia secara berkelompok.


"hah... Hah... Hah..."


Lama kelamaan, pria itu merasa lelah.


Meskipun dia sudah banyak membunuh monster tetapi jumlah monster tidak menurun dan justru semakin bertambah.


Semakin banyak hingga dia tidak dapat mengangkat parangnya kembali karena sudah mencapai batas stamina.


Lalu dia melihat seorang warga yang ingin diserang oleh salah satu monster.


Dengan tenaga terakhir yang dia miliki, pria itu berlari dan menghalangi serangan monster yang ingin menyerang warga desa.


Itu adalah monster sejenis lembu dengan tanduk panjang dan hitam.


Sang monster yang ingin menyeruduk, melihat seorang pria menghalangi jalannya.


Sambil berlari, monster itu merubah fokusnya menjadi ke arah pria tersebut.


Pria itu mengangkat parangnya.


Secara bersamaan, pria itu menancapkan parang yang dia pegang ke kepala monster itu, dan monster itu juga menyeruduk pria itu hingga terhempas ke udara.


Seperti teringat kembali dengan masa lalu, pria itu bermimpi kembali tentang pertemuannya dengan kedua anak kembar, atla dan eren.


Mereka bertemu di dalam hutan, dan keadaan kedua anak itu sudah tidak memiliki orang tua karena tidak ada satu orang pun yang menjaga mereka.


Mereka terlahir di hutan hanya dengan sepasang kain berwarna putih menyelimuti mereka.


Sebuah keanehan, tetapi pria tersebut memiliki sedikit pengetahuan tentang iblis terkenal yang memiliki kisah perihal sama dengan kedua gadis itu.


Dikatakan iblis yang terkenal itu terlahir dari api dan lahir secara khusus di tanah iblis.


Pria itu tidak memiliki bukti untuk menyamakan kedua gadis tersebut dengan iblis yang terkenal, tetapi dia memahami jika mereka berdua adalah iblis yang terlahir ke dunia tanpa orang tua seperti roh alam.


Dengan prihatin, pria tersebut membawa anak-anak itu dan merawat mereka.


Aku harap kalian bisa bertahan hidup.


Pria itu memohon untuk yang terakhir kali dan menutup matanya.


Pada akhirnya, pria itu terjatuh lemas di tanah dan tidak bergerak lagi. Sedangkan pedang yang menancap pada kepala monster itu tidak terlalu dalam, monster itu hanya perlu menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan parang tersebut.


Merasa kesal, monster itu melihat ke arah warga desa yang merupakan target utama sebelumnya.


Dia ingin melampiaskan rasa sakitnya kepada targetnya dan mulai berlari kembali.


Merasa takut, orang yang dimaksud sebagai target monster mulai berlari menjauh namun dia terjatuh di tengah jalan.


Tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya menutup mata dan pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


*boom*


Suara yang terdengar seperti ledakan gas terjadi.


Orang itu membuka mata dan dia melihat api sudah menyelimuti monster tersebut dengan ganas.


Kemudian, dengan cepat api itu dihilangkan dan monster tersebut berada pada kondisi setengah matang.


Tapi, monster itu berhenti bergerak dan mulai menjatuhkan tubuhnya ke samping, sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Monster itu praktis mati hanya dalam hitungan detik.


Itu terjadi tidak hanya kepada monster lembu tersebut, tetapi monster lain juga terkena api yang sama.


Semua warga yang sedang diserang akhirnya bisa tenang sebentar dan mulai mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi.


"hei, lihat!"


Salah satu warga berteriak sambil menunjuk ke arah langit.


Seolah-olah terhipnotis oleh orang tersebut yang sedang mengarahkan telunjuknya ke atas, pandangan para warga mengikuti arah yang ditunjuk oleh orang tersebut.


Di sana, seseorang sedang berdiri di udara, berbadan besar dengan rambut berwarna merah api yang terus berkibar ditiup angin.


Dia terus beterbangan ke sekeliling desa sambil melemparkan sihir api proyektil dengan bentuk yang sangat kecil seukuran buah kelengkeng ke arah para monster yang menyerang desa.


Setelah mengenai targetnya, sihir proyektil itu akan membuat suara ledakan dan target langsung terselimuti dengan api.


Jumlah monster sangat banyak, tetapi sihir proyektil yang dia lemparkan kepada monster satu persatu juga tidak pernah habis.


Juga, setiap lemparan yang dia lakukan, itu tidak pernah tidak mengenai target, atau lebih tepatnya, sihir yang sudah dilemparkan olehnya akan langsung mengincar target seolah-olah sihir itu memiliki pemikirannya sendiri.


Tidak heran, sihir tersebut dinamakan dengan "will-o-the-wisps" oleh penggunanya. Setiap kali sihir itu diarahkan ke target, dia akan memiliki tujuan untuk mengantarkan kepergian target ke jalur maut.


Dengan kata lain, ketika sihir itu sudah dilepaskan, dia akan langsung membunuh target dengan membakar jiwanya.


Kemampuan sangat mengerikan yang sudah dimiliki oleh orang tersebut ketika dia datang ke dunia ini.


Penduduk desa sudah bisa memahami sedikit tentang apa yang terjadi terhadap monster-monster yang terbakar setelah melihat orang tersebut.


"siapa orang itu?"


"mungkinkah dia lady titania?"

__ADS_1


"tidak, tidak, tubuhnya terlalu besar untuk porsi perempuan."


"tapi, mungkin saja beliau (titania) adalah perempuan berbadan besar."


Mereka mengutarakan pendapat mereka masing-masing setelah melihat orang yang sedang terbang tinggi di langit. Tapi, penglihatan mereka tidak bisa mencapai wajah dari orang tersebut karena terlalu jauh.


Ditambah lagi, mereka juga tidak memiliki pengetahuan tentang bentuk tubuh lady titania yang mereka sebut.


*ROAR*


Teriakan sang kingkong terdengar, dia datang dari dalam hutan sambil berlari dan menyingkirkan pepohonan yang menghalanginya dengan tangan berototnya.


"ini dia, tuan albert pasti akan senang dengan buruan yang satu ini."


Orang itu — yang bernama ignis — tersenyum ke arah datangnya monster kingkong.


Kingkong itu merasa muak dengan pohon dan mulai melompat hingga dia bisa keluar dari rimbunnya pepohonan.


Akhirnya, kingkong dan ignis bertemu di pinggir desa.


Kingkong melihat ignis dengan heran, dan dengan insting tajam yang dia miliki, dia bisa menyadari kalau ignis adalah seorang individu yang kuat.


Kingkong itu bersikap waspada kepada ignis, tetapi bukan berarti dia merasa takut dengannya.


Pengalamannya sebagai monster tak terkalahkan di tanah iblis membuat kingkong itu memiliki harga diri yang tinggi.


Dia tidak akan menyerah hanya dengan seekor iblis kecil biasa.


Itu yang dia pikirkan, dia tidak tahu ignis berasal dari ras mana. Namun, karena ini adalah tanah iblis, dia hanya berfikir dengan itu.


*ROAR*


Seolah-olah membakar semangatnya, kingkong itu menghampiri ignis dengan penuh kebanggaan.


Mulai berlari untuk mengambil ancang-ancang, kemudian langsung melompat ke arah ignis yang berada di atas langit.


Kingkong itu mengepalkan tangan kanannya dan mengarahkan tinju itu ke ignis.


Ketika dia hampir mendekati ignis, dengan penuh kekuatan dan kebanggaan sebagai monster terkuat, dia memukul ignis dengan sekuat tenaga.


Ignis tidak menghindar, justru dia ingin menghadapi kingkong itu dengan tangan besarnya-- tidak, jika dibandingkan dengan kingkong, tangan itu hanya seperti sebuah jarum.


Pikir kingkong tersebut, itu pasti tidak akan berefek. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.


*boom*


Tangan mereka beradu dan itu menyebabkan suara ledakan keras karena massa energi padat mereka berbenturan.


Hasilnya, kingkong itu kalah dan terhempas jauh ke belakang.


Dengan suara *whoosh* gelombang kejut tercipta dari benturan, menyapu bersih pepohonan yang berada di jalur kingkong terlempar.


Kingkong tersebut berguling-guling ke belakang seperti kemampuan yang dimiliki oleh hewan tenggiling.


Sekitar 100 meter, akhirnya kingkong itu berhenti berguling. Dia langsung mengambil sikap berbaring karena pusing.


"ohh, kau cukup tangguh juga rupanya."


Senyuman ignis berseri-seri.


Kingkong itu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh ignis tetapi naluri yang dia miliki telah berteriak seolah-olah menyuruh dia untuk melarikan diri.


Kingkong tersebut membuka matanya dan menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri.


Dia melihat ke arah ignis.


Itu bukan lagi tatapan yang sedang melihat ke arah iblis biasa, dia melihat ignis sudah sebagai sebuah ancaman besar.


Jantungnya berdebar karena panik. Dia melihat sekeliling dan langsung melarikan diri dari ignis ke arah yang berlawanan.


"eh, mau melarikan diri?"


Monster itu merupakan mangsa yang bagus, jadi ignis tidak bisa membiarkan dia melarikan diri begitu saja.


Kingkong itu sudah seperti sebuah kentang panas di matanya. Itu akan menjadi buruan yang cocok untuk dirinya sebagai seorang giant.


Ignis mulai menadahkan tangannya dan nyala api berwarna biru muncul di telapak tangannya.


"[will-o-the-wisps]"


Ignis berkata, dan langsung melemparkan nyala api itu ke arah kingkong yang sedang melarikan diri.


Dengan cepat, api itu mengincar kingkong tersebut dan langsung membakarnya ketika mereka bersentuhan.


*kuaaaah*


Rasa sakit yang dihasilkan dari kulit terbakar tidak bisa ditahan oleh sang kingkong.


Namun, tubuh jasmani bukanlah tujuan utama dari kemampuan api tersebut. Dia sedang membakar jiwa dari kingkong itu.


Semakin lama api itu membakar, semakin kuat jiwa yang dia miliki.


"hmm, ternyata dia memang tangguh."


Sekali lagi, ignis kagum dengan monster buruannya.


Itu sama seperti monster laba-laba sebelumnya, yang dia serang dengan kemampuan yang sama.


Meskipun setiap warna yang muncul berbeda-beda, tetapi tujuan kemampuannya masih tetap sama.


Butuh waktu lama untuk bisa membakar monster laba-laba dan kingkong. Artinya, mereka berdua memiliki jiwa yang kuat.


Setelah beberapa menit, kingkong itu menjadi hangus.


"hmm, apa ini masih bisa dimakan oleh para familiar?"

__ADS_1


Tujuan utama mereka berburu adalah untuk mengumpulkan daging. Namun, ignis juga memiliki keinginan untuk meneliti kemampuannya yang baru saja dia dapatkan.


Tidak ada ide, mungkin saja itu masih bisa dimakan, jadi dia membawa mayat kingkong itu ke desa dan juga mengumpulkan mayat-mayat monster yang lain ke satu tempat.


__ADS_2