
Hari kedua perburuan.
Sesudah beristirahat di kastil, kami memutuskan untuk kembali ke lantai 71 di pagi hari.
Sebelumnya, setelah Alice mengenakan pakaian, kami langsung pergi ke kamar untuk tidur. Meski ada sedikit kendala dimana Alice meminta ingin tidur denganku, semua itu diatasi oleh Merlin. Dia — entah bagaimana — bisa membujuk Alice untuk tidur dengan Atla dan Eren.
Awalnya, kami sudah memberikan kamar kosong untuknya, namun dia tidak ingin tidur sendirian dan memutuskan akan tidur dengan kedua kakaknya.
Untungnya dia tidak terlalu egois. Kami tidak bisa menempatkan dirinya bersama dengan kami karena kekurangan tempat. Itu akan menjadi sempit bila dipaksakan.
Sekarang, Alice mengobrol sangat akrab dengan kedua kakaknya. Sebagai kakaknya, Atla dan Eren mengajarkan apa saja yang harus Alice pahami dengan keramahan.
Baiklah, aku bisa menyerahkan pengawasan anak-anak kepada istriku seperti biasa.
Aku mulai mengumpulkan semua orang dan memberikan sedikit arahan seperti biasa.
Kali ini kami tidak akan membagi tim lagi karena masalah di depan bukan sesuatu yang mudah ditangani. Bagaimanapun juga, ini adalah Dungeon.
Di tempat terujung dari Dungeon ini, pasti terdapat makhluk yang paling kuat.
"Soal itu, saya ingin memberikan informasi kepada Anda, Tuan Albert."
Niks keluar dari dalam bayanganku dan langsung melapor.
Kemarin dia mengeluarkan sepuluh clone tubuhnya untuk mengeksplorasi Dungeon ini. Sambil bertanya kepada sejumlah Roh Kegelapan setempat, Niks pasti sudah mendapatkan banyak informasi tentang Dungeon ini, terutama situasi tentang lokasi atau lantai selanjutnya.
Lagi pula, Roh Kegelapan lebih aktif di malam hari. Membiarkan dia bekerja di waktu malam memang keputusan yang tepat.
Jika diringkas, isi informasi Niks menjadi seperti ini:
Lantai 71 sampai lantai 99 merupakan area super luas. Seperti lantai 71 ini, satu lantai diisi dengan sejumlah pegunungan.
Bukankah Dungeon ini sangat gila!? Petualang biasa pasti memerlukan waktu berbulan-bulan untuk bisa sampai ke lantai 99.
Selain itu, kita tidak bisa pergi dengan Mozes karena mobilitasnya. Namun, aku tidak ingin meninggalkan Mozes di sini, aku sangat menyayanginya.
Dia juga terlihat sangat antusias karena sudah diajak ke dunia Roh ini. Aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Aku mungkin masih membutuhkan kemampuannya untuk merontokkan kristal Ajaib yang menempel di dinding atau lantai.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk membagi kelompok menjadi dua.
Tim pertama akan menjadi pelopor untuk membuka jalan menuju ke lantai 99, semua anggotanya adalah individu yang kuat dan harus memiliki kecepatan tinggi agar bisa sampai ke setiap tempat Bos Area dengan cepat.
Meski tujuan kami adalah lantai 99, kami masih membutuhkan kristal Ajaib di setiap sarang Bos Area.
Tim kedua akan menjadi tim dengan tujuan bersantai. Mereka akan berjalan biasa menikmati kondisi alam.
Jika mereka ingin bertarung karena adanya monster yang menghalangi, itu juga diperbolehkan.
Anggota tim pertama sebagai pelopor akan terdiri dari: aku, William, Ignis, Leon, Luminous, dan Niks.
Sisanya, akan menjadi tim ke dua.
Karena adanya kuda Legendaris, kami bisa bergerak dengan cepat. Niks bisa terus terjaga di dalam bayangan, sedangkan Luminous bisa terbang dengan kecepatannya sendiri.
Kecepatan Luminous bahkan lebih baik daripada kuda Legendaris, jadi aku juga membawanya.
"Tunggu, aku ingin ikut!"
Ketika aku sedang naik ke atas kuda, tiba-tiba Alice berkata seperti itu kepadaku.
"Kami hanya ingin pergi sebentar."
Aku menolak Alice dengan kata itu, namun dia terlihat seperti ingin menangis karena suatu alasan.
Haruskah aku juga membawa anak ini?
Meski aku sudah mengetahui bagaimana keadaan area di lantai selanjutnya dari informasi Niks, kemungkinan kecelakaan masih tetap ada.
Lantai 81-90 adalah area gletser dengan suhu rendah yang ekstrem, sedangkan lantai 91-99 adalah lokasi penuh magma — di sana suhunya sangat tinggi.
Tanpa pertahanan tambahan, makhluk biasa tidak akan bisa melewati tempat itu.
Tapi jika aku meninggalkan Alice di sini, dia pasti akan menangis. Aku sudah melihat matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji untuk tidak mengeluh, ok?"
Aku benar-benar ayah yang lembek.
Oh, ayolah, orang tua bodoh mana yang ingin melihat anaknya menangis?
Selain itu, aku memiliki skill pertahanan dari Freya dan Damara. Dua kemampuan itu menciptakan skill pertahanan setingkat "Shield" kastil.
Sekarang aku sudah bisa membuat Shield sendiri tanpa harus bergantung kepada kastil dan bisa mempraktekan itu dimana pun.
Untuk skill kontrol suhu agar tetap konstan, aku akan meminta Hydra mengurusnya. Menerapkan skill tersebut untuk tetap mempertahankan suhu di sekitar aku dan Alice.
Setelah mendengar aku menyetujuinya dengan persyaratan, Alice mengangguk dan mulai naik ke atas kuda. Tentu saja, aku harus mengangkatnya, menaruhnya di depan agar tidak terjatuh.
Menunjuk Merlin sebagai pemimpin tim kedua, kami meninggalkan mereka dan mulai pergi menuju lapisan ke 80.
Untuk pertama kalinya, aku pergi menjelajahi Dungeon ini tanpa Gerbang Transfer.
__ADS_1
Setiap lapisan dibedakan dengan terowongan panjang, terowongan tersebut terdapat pada ujung lapisan.
Walaupun kami tidak dapat mengetahui arah mata angin, posisi terowongan selalu berhadapan. Jadi, kami hanya perlu berjalan lurus dari arah wajah pintu masuk terowongan.
Selama perjalanan di setiap lapisan ini, kami selalu dipertemukan dengan kabut yang memiliki kemampuan sihir penyesat indra arah seseorang, sama seperti kabut di hutan berkabut Tanah Naga.
Namun, William selalu bisa mengatasi kabut tersebut dengan kemampuannya, sekarang sedang memimpin jalan. Dia sudah seperti haluan kami setiap ada kabut yang menghalangi.
Kami terus bergerak dengan kecepatan mengerikan, sampai akhirnya kami tiba di lapisan ke 80.
Menurut laporan Niks, lapisan ini seharusnya menjadi sarang Bos Area, monster sejenis burung hantu.
Lokasi ini adalah lembah gunung dengan kabut. Kemampuan deteksi mana kami bahkan tidak berfungsi di sini.
Fumu, jika Hydra ingin mencari keberadaan monster di lapisan ini dengan "niat", dia pasti bisa menemukannya.
Setelah beberapa menit mencari — Leon, Luminous, dan Alice seperti menyadari keberadaan sesuatu dan melihat ke arah atas kami.
Apakah itu intuisi hewan?
Sambil memikirkan itu, aku ikut melihat ke arah atas.
*BADUM!*
Jantungku berdebar kencang karena telah melihat makhluk di atas kami. Itu adalah sosok teror sesungguhnya.
Siluet besar dan gelap karena tertimpa sinar cahaya dari atas. Kami hanya bisa menganggap itu sebagai burung hantu raksasa, target yang sedang kami cari.
Tidak, memangnya aku bisa menyebut dia sebagai target? Dia terlalu besar dan mengerikan.
Saat ini dia sedang terbang berputar di atas kami seolah-olah sedang mengawasi kami dari atas, namun kenapa dia tidak datang dan menyerang ke arah kami masih menjadi pertanyaan.
Apakah itu karena keberadaan Luminous? Atau karena keberadaan salah satu dari anggota keluargaku?
Padahal kami sudah menyembunyikan aura kami masing-masing. Seharusnya, dia tidak dapat menyadarinya dan langsung menyerang kami.
Semua masih menjadi misteri.
"Master, biar saya saja yang menangani makhluk itu!"
Luminous ingin menjadi sukarelawan.
Berdasarkan kekuatan, Luminous lebih unggul daripada burung di atas kami. Jadi aku memperbolehkannya untuk menangani monster itu. Tapi...
"Sebelum itu, kamu harus memberi dia peringatan. Beri dia dua pilihan, ikut dengan kami atau mati. Kamu mengerti, kan?"
"Saya mengerti, Master. Kalau begitu, saya permisi."
Jujur saja, aku tertarik dengan burung hantu ini. Ada kemungkinan kalau dia adalah pelaku dari sihir kabut tersebut.
Sihir semacam ilusi dan penyesat indra arah seseorang merupakan kemampuan unik. Mengetahui Hydra bisa meniru skill dari makhluk lain, tentu saja aku tidak bisa melepaskan burung hantu itu begitu saja.
Tapi, jika dia menolak untuk bergabung dengan kami, aku harus membunuhnya agar dia tidak dapat melukai salah satu anggotaku.
Sebagai pemimpin, aku harus memprioritaskan keselamatan anggota dan mencegah terjadinya risiko kecelakaan.
"Ayah, dia sangat keren. Apa aku juga bisa jadi seperti itu?"
Alice melihat Luminous bertransformasi dan mulai bertanya.
Jika dia merubah bentuknya sebesar itu, aku akan semakin khawatir karena suatu alasan.
"Semua orang memiliki keahlian di bidang mereka masing-masing. Kamu tidak bisa meniru wujud seperti itu karena kamu sudah memiliki tubuh yang bagus."
Selain itu, aku heran kenapa anak ini bisa dengan cepat beradaptasi.
Sama sepertiku, dia juga terlihat kaget pada awalnya, namun keterkejutan itu menghilang dengan cepat setelah melihat kami bersikap tenang.
Aku rasa, dia memiliki sesuatu yang lain, dimana mentalitasnya sudah melebihi ketahanan orang dewasa.
Dari perspektif hewan buas, hal seperti itu cukup masuk akal. Anda bisa menyebutnya sebagai naluri bawaan dari darah pendahulunya.
"Tapi, aku ingin jadi seperti itu..."
"Dasar anak manja. Pertama-tama, kamu harus tumbuh besar terlebih dulu, baru kamu bisa memikirkan hal lain setelah itu."
"Tidak, hentikan, itu geli."
Untuk mengalihkan pembicaraan, aku membuat tubuhnya merasa geli.
Di tempat pertama, Luminous adalah makhluk spiritual dan Alice adalah makhluk hidup. Apakah dia ingin meninggalkan tubuh jasmaninya dan menjadi hantu?
Yah, meski aku menyampaikan hal ini, dia pasti tidak akan mengerti.
Melanjutkan ekspedisi, sekarang Luminous terbang dengan tubuh kebanggaannya sebagai naga spiritual terkuat. Meninggalkan serbuk cahaya keemasan di jalur terbangnya.
Bos Area, sang burung hantu raksasa, menyadari kedatangan Luminous dan memilih untuk menjaga posisi ketinggian agar tetap konstan. Dia tidak bergerak berputar-putar lagi.
Sampai pada ketinggian sejajar, akhirnya mereka berdua mulai berdiskusi.
Dalam kondisi itu, aku melihat ukuran mereka hampir sama, atau mungkin Luminous lebih besar.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Luminous turun, menuju ke arah kami dan memberikan laporan.
"Master, dia bersedia ikut dengan kita."
"Ohh, aku mengira dia tidak akan mematuhinya dan malah menyerang."
"Kufufu, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi."
"Eh? Maksudmu?"
"Saya cukup heran kenapa dia tidak menyerang kita, padahal dia memiliki kekuatan yang cukup. Tapi setelah bertanya lebih jauh, ternyata dia merasakan adanya keberadaan leluhur monster di sekitar kita. Itu sebabnya dia tidak berani menyerang kita."
Tidak hanya aku, ternyata anggota timku juga memiliki pemikiran yang sama terhadap anehnya burung tersebut tidak menyerang kami.
Ini tidak seperti monster memiliki kemampuan untuk menilai tingkat energi Mana kami. Mereka cenderung menggunakan hal-hal seperti intuisi atau semacamnya untuk bertahan hidup.
Karena kami menyembunyikan aura kami, itu akan menjadi aneh bila monster tidak menyerang.
Tunggu, tapi kenapa burung hantu itu memiliki alasan yang cukup aneh. Siapa leluhur monster? Apakah itu Hydra?
«Makhluk sekecil ini tidak mungkin bisa mendeteksi keberadaanku.»
Hydra memberi klaim.
Kupikir, kata "kecil" di sana bisa mengarah ke arti luas bagi Hydra. Bagaimanapun juga, Hydra merupakan makhluk raksasa dengan ukuran tubuh lebih besar daripada Luminous.
Menganggap burung hantu itu sebagai makhluk kecil tidak akan menimbulkan kesalahpahaman.
Sudahlah, aku tidak peduli, intinya sekarang kami telah mendapatkan sekutu baru.
"Apakah dia mau menuruti perintah kita?"
Jika dalam bentuk numerik, kekuatan dari monster ini sebesar [SP: 780.975]. Benar-benar menakjubkan.
"Tentu saja, saya sudah menyampaikan hal itu untuk mematuhi perintah Anda. Lagi pula, dia tidak memiliki hak untuk mengeluh."
Benar juga, di hadapan Luminous dengan wujud sejatinya, monster cerdas pasti akan berfikir dua kali untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka.
"Kerja bagus, tolong bawa dia ke sini."
"Dimengerti."
Karena bentuk naganya sudah tidak dibutuhkan, Luminous bertransformasi kembali ke bentuk manusia dan mulai pergi ke arah si burung hantu.
Ketika mereka berdiskusi, aku tidak ingin mendekati mereka karena aku tidak bisa mengerti bahasa hewan.
Aku memiliki bawahan, aku bisa menyuruh mereka sebagai utusan untuk mengatasi hal-hal sepele. Ini juga merupakan pekerjaan seorang pemimpin.
Luminous dan burung hantu mendekat ke arah kami, semakin dekat jaraknya semakin jelas terlihat bentuk tubuh dan ukurannya.
Secara keseluruhan, bentuk tubuhnya tidak terlalu jauh berbeda dengan burung hantu berbulu putih. Terutama wajahnya, itu terlihat agak menyeramkan.
"Menurutmu, apa dia bisa mengikuti kecepatan kita, Luminous?"
"Hmm, anak ini memang cukup tangguh. Dia juga cukup terampil dalam hal terbang karena tidak mengeluarkan suara sedikitpun, tapi kurasa dia tidak akan bisa mengikuti kita."
Setelah Luminous mengatakan pendapatnya, aku baru sadar kalau burung ini benar-benar tidak mengeluarkan suara sedikitpun ketika terbang ke arah kami, padahal tubuhnya sangat besar.
Tapi, suara kepakan sayapnya masih terdengar jika dalam keadaan mempertahankan ketinggian konstan.
Yah, hal itu tidak bisa dihindari melihat tubuhnya sangat besar. Selain itu, kemampuannya juga tidak terlalu jauh berbeda dengan burung hantu biasa.
"Luminous, tolong sampaikan padanya kalau dia harus masuk ke dalam scroll. Aku berjanji akan mengeluarkan dia setelah perburuan ini selesai."
Mendengar ini, Luminous langsung berbicara dengan si burung hantu.
"Master, meski dia tidak paham, dia tetap menyetujuinya."
Ugh, entah kenapa aku jadi merasa kasihan dengan burung itu.
"Ngomong-ngomong, apa dia memiliki nama?"
"Dia tidak memilikinya."
"Hm, kalau begitu aku akan memberinya nama "Owise" padanya. Artinya, burung hantu yang bijaksana."
Tanpa meminta pendapat Owise, kami memberinya nama dan Leon mulai memasukkan dia ke dalam scroll familiar.
Namun setelah scroll itu dimasukkan ke dalam inventaris, Leon mulai bertanya padaku.
"Tuan Albert, burung ini terlalu besar untuk menara familiar."
Ah! Aku telah melupakan akomodasi untuknya.
Sungguh, aku hanya tertarik dengan kemampuannya dan tidak memikirkan kenyamanan pihak lain.
Sepertinya, aku sudah menjadi orang tamak dan bertindak terlalu egois.
"Benar juga, aku akan memikirkan hal ini nanti. Sekarang kita harus ke sarangnya dan mengambil apa yang perlu diambil."
"Dimengerti."
__ADS_1
Untungnya, kami tidak melupakan tujuan kami datang ke sini untuk mencari batu kristal Ajaib.