Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Victoria.


__ADS_3

Outerki energy yang sudah diakumulasi oleh kastilku, tidak sengaja kugunakan.


Dan alasannya cuma satu, aku terbawa emosi.


Entah kenapa aku menjadi agak temperamental akhir-akhir ini. Dan ini agak sulit untuk dikendalikan.


Mungkin Nodens tidak sadar kalau setiap kata yang muncul di pikirannya dapat aku baca karena aku sudah menggunakan skill unik Titania secara diam-diam ke pikirannya.


Yah, ini seperti menghubungkan koneksi jaringan secara sepihak tanpa diketahui pihak terkait.


Sebenarnya, kalau dia lebih memperhatikan keadaannya sendiri, mungkin saja skill ini dapat terdeteksi. Tapi sekarang dia hanya fokus kepadaku. Fokus untuk mengalahkanku.


Oleh karena itu, dia sama sekali tidak sadar kalau informasi yang ada di dalam kepalanya sedang aku sadap.


Mari kesampingkan itu, yang ingin aku beritahu adalah aku bisa membaca pikirannya.


Meskipun ini agak jijik, tetapi aku tetap menggunakannya karena kami sedang bertarung serius.


Dan karena aku bisa membaca pikirannya, apa yang dia sedang pikirkan sekarang bisa aku ketahui. Termasuk cemoohannya terhadap Freya.


Dia memang mengolok-olokku untuk beberapa kali sebelumnya, tetapi hal sepele seperti itu sama sekali tidak membuat aku marah.


Aku hanya marah ketika mendengar dia mencemooh Freya di dalam hatinya.


Entah kenapa itu membuatku kesal.


Aku kesal dan tanpa sadar telah mengkonsumsi Outerki energy untuk diriku sendiri.


Sekarang energy-ku sudah tercampur dengan itu, dan membuat poin jiwa-ku meningkat secara dramatis. Ini membuat poinku lebih banyak 2× lipat daripada jumlah normalnya.


Ini seperti cheat!


Selain itu, atributku juga ikut berubah. Dan karena atributku berubah, Haki yang aku miliki juga berubah.


Kemudian, Haki yang berubah telah mengubah struktur tubuhku secara fundamental. Ini seperti aku mendapatkan persepsi baru.


Aku telah berada di dunia yang sama sekali berbeda.


Hydra – sebagai mitraku juga tentu saja mendapatkan manfaat dari integrasi ini.


Dia bermutasi. Bentuk zirahnya berubah total menjadi seperti equipment Raja Iblis dalam manga atau anime. Semuanya menjadi hitam pekat dan mengeluarkan nyala miasma ungu karena atributnya, racun.


Harusnya aku senang karena seluruh perubahan ini, tetapi aku lebih ke arah terkejut dan belum bisa menerima semuanya sekaligus.


Yang lebih penting dari itu, aku ingin segera memukul Nodens.


Nodens memiliki senjata yang sangat kuat. Sangking kuatnya senjata itu, semua stok Armored Gauntlets milikku dihancurkan olehnya.


Sekarang aku hanya punya satu armored gauntlet di tanganku. Ini memiliki atribut es. Sangat tidak cocok dengan atribut racun yang memiliki sifat panas.


Tapi setelah aku mendapatkan peningkatan dari Outerki energy, senjata tersebut juga mengalami peningkatan.


Keajaiban seperti peningkatan item atau evolusi item telah terjadi di depan mataku sendiri.


Sekarang aku bisa merasakannya, senjataku, Ice Armored Gauntlet, hidup.


Perasaan ini, sama seperti sensasi diselimuti oleh Hydra dalam bentuk armornya. Sulit untuk diungkapkan tetapi aku tahu kalau senjataku sekarang memiliki kehendaknya sendiri.


Ini meninggalkan perasaan canggung karena aku tidak tahu harus berkata apa padanya.


Biasanya tokoh protagonis dalam sebuah novel akan berkata "Oh! Apakah kamu hidup?" Seperti itu dan mereka mulai mengobrol untuk mendekatkan diri.


Tetapi dalam posisiku yang sedang bertarung ini, aku tidak bisa berbicara tiba-tiba. Atau aku akan dianggap gila oleh Nodens.


Kesampingkan itu. Aku sekarang memiliki senjata tipe es yang bisa beresonansi dengan atribut racunku.


Atau lebih tepatnya, racunku yang beradaptasi dengan atribut es senjataku dan membuat senjata tersebut memiliki afinitas terhadap racunnya. Membuat sifat racunku menjadi dingin di dalam senjata tersebut.


Dingin dan beracun, seperti tokoh mata-mata yang sering dijumpai dalam film aksi.


Ah, lupakan.


"Nodens, aku akan mulai serius!"


"Huh?"


Aku memperingatinya, dan langsung kuhajar wajahnya yang tampan menyebalkan itu.


Aku langsung mendapatkannya.


Tapi, ini benar-benar aneh. Nodens tidak memiliki reaksi sedikitpun ketika aku mendekatinya. Atau lebih tepatnya, pergerakanku mungkin menjadi lebih cepat.


Tidak, aku tidak bisa mengatakan itu sebagai "gerakan" karena sebenarnya aku hanya berpikir untuk mendekatinya, dan aku tiba-tiba berada di depannya.


Maksudku, aku tidak melangkahkan kakiku sama sekali, dan secara ajaib posisiku berubah hanya dengan caraku berpikir.


Sungguh, ini sesuatu yang baru untukku. Jadi aku tidak bisa menjelaskannya secara spesifik.


Intinya, ini sangat hebat!


Ini mungkin bisa disebut teleportasi, tetapi ini lebih gila dan instan. Aku bisa melihat seluruh dunia berhenti.


Dan, daripada aku menyebut diriku yang mendekati Nodens, ini lebih seperti Nodens dan seisi ruangan di sekitarnya yang mendekatiku.


Dunia seolah-olah merupakan tampilan proyeksi raksasa yang bisa aku kendalikan dengan pikiran. Baik itu waktu ataupun ruangnya, seperti simulasi 3D.


Dengan ini, aku bahkan bisa melihat posisi kedua istriku, posisi anak-anak, dan posisi keluarga yang lain hanya dengan memikirkannya. Semuanya seperti ada di depan mataku.


Tunggu, ini tidak benar! Posisiku! Posisiku agak aneh. Seluruh seisi dunia tampak sangat dekat, dan aku bisa mengeksplorasinya tanpa melangkah kakiku sekalipun. Tapi sekarang aku tidak bisa menentukan posisi diriku sendiri.


Sial! Ini mengerikan!!


«Master!!»


"Arghh! Ada apa denganku! Ini menyebalkan!"


Di dunia yang tidak kuketahui. Aku sendirian, panik, dan cemas.

__ADS_1


"Master!"


"Iya aku mendengarmu!"


"Kembalilah!"


"Bagaimana caranya kembali? Kepalaku rasanya sakit!"


"Ya ampun. Anda benar-benar..."


Hydra membuatku sadar kalau aku sebenarnya tidak sendirian.


Aku terlalu panik dengan perubahan peristiwa yang terjadi secara mendadak ini. Sulit menahan diri untuk tidak cemas karena ini masih terlalu baru untukku.


Setelah Hydra menenangkanku, dia berusaha mengembalikan semuanya ke keadaan semula. Dan kemudian aku tiba di sebuah ruangan putih.


"Di mana ini?"


"Aku menarik paksa kesadaranmu ke dalam alam bawah sadarku."


Di ruangan yang tampak tidak memiliki sudut sama sekali ini, Hydra dan aku berbicara.


Mungkin lebih tepat bila aku sebut sebagai "tempat" daripada "ruangan", tapi kupikir itu sama saja.


Mendengar suara Hydra di belakang, aku berbalik.


Tapi ketika aku berbalik untuk melihatnya, aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.


Dua perempuan berwajah asing yang saling bergandengan tangan sedang berdiri di sana.


Satu seorang wanita tulen. Tubuhnya tinggi, berambut panjang berwarna... Campuran (?) itu memiliki pesona yang sangat indah. Dan dia mengenakan pakaian peri. Sejenis pakaian dengan desain agak terbuka yang pernah dipakai juga oleh Ghidora ketika kami pertama kali bertemu.


Lalu yang lainnya adalah seorang gadis kecil. Memiliki rambut berwarna biru, tapi agak berantakan dan menghalangi wajahnya.


Anak ini bahkan lebih kecil daripada Alice.


"Eh...?"


Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan.


Sebenarnya aku sedang mencari Hydra, tapi aku malah dipertemukan dengan kedua orang ini.


"Kita sedang berada di ruang dimensiku. Aku membawamu ke sini karena kau kehilangan arah, Master."


"Arah?"


Wanita itu, yang lebih tinggi, berbicara denganku menggunakan suara Hydra.


Atau, jika aku menggunakan otakku untuk berpikir, dia tidak lain adalah Hydra itu sendiri. Dalam wujud peri.


Dia memang tidak memiliki sayap capung, tapi dia memiliki telinga yang lancip dan mengenakan pakaian dari bahan sihir.


Coba bayangkan kalau makhluk yang selama ini Anda anggap sebagai hewan peliharaan ternyata memiliki sosok yang sangat cantik ketika berubah ke wujud manusia.


Apa yang harus Anda lakukan untuk menanggapinya? Merasa senang? Atau takjub?


"Ah, ya... Siapa anak ini?"


Mari alihkan pikiranku sejenak. Jujur saja, aku tidak tahu harus berkata apa kepada makhluk yang satu ini.


Kepalaku sakit.


"Ah, anak ini... Dia adalah senjata yang ikut berevolusi bersama kita."


"Hah? Maksudmu, Ice Armored Gauntlet-ku menjadi gadis kecil ini?"


"Iya."


Mengejutkan. Ini tampak seperti keajaiban dunia phantasm.


Yah, aku sebenarnya sadar kalau dia sudah menjadi living item seperti Hydra, tapi tidak kusangka melihatnya sendiri seperti ini lebih mengejutkan dari dugaanku.


Karena dia hidup, dia pasti ikut dibawa ke sini oleh Hydra.


Pakaianku juga kembali seperti semula. Itu artinya mereka sudah memisahkan diri dari tubuhku dengan kehendaknya sendiri.


Ini sesuatu yang bagus, kan?


"Apa yang terjadi denganku barusan?"


Pertama-tama, mari bahas kejadian aneh tadi lebih dulu.


"Seperti yang Anda tahu, Outerki energy adalah alasan utama dari masalah kasus kali ini. Anda hanya mendapatkan pecahan dari bagian pengetahuan dunia."


"... Apakah itu termasuk alasan aku bisa melihat semua posisi orang hanya dengan memikirkannya?"


"Iya. Sekarang Anda tidak terpaut lagi dengan hukum ruang dimensi dunia. Karena Anda sudah tidak memiliki hubungan dengan dimensi itu, secara otomatis Anda juga sudah tidak berhubungan lagi dengan sesuatu yang disebut waktu. Benar juga, dalam bahasa kalian, mungkin itu sesuatu yang disangkut pautkan dengan teori relativitas."


"Ugh..."


Baik. Pembahasan ini benar-benar berada di luar pemahamanku.


Kalau tidak salah, teori relativitas umum mengatakan waktu itu tidak mutlak. Dan aku tentu saja percaya itu, karena sekarang aku berada di dunia relativitas itu sendiri.


Tempat putih ini adalah ruang dimensi khusus yang dibuat oleh Hydra, waktu tentu saja tidak berlaku di sini. Karena tidak ada perbandingan.


Tapi, itu tidak bisa menjelaskan kenapa hanya dengan berpikir, aku bisa memindahkan posisiku, kemana pun aku mau pergi. Sampai-sampai aku kehilangan pijakan posisiku sendiri dan membuat diriku tersasar di dunia yang amat sangat aneh.


"Sudah kubilang, Anda sudah tidak terpaut lagi dengan ruang dimensinya. Maksudnya, posisi seseorang atau dimensi seseorang, dapat Anda dekatkan dengan diri Anda. Ini seperti ujung dari masing-masing lengkungan dimensi kalian, bisa Anda rapatkan atau pertemukan hanya dengan berpikir. Tanpa harus mengikuti hukum gravitasi biasa."


"Ah!"


Ketika aku mendengar kata "gravitasi" entah kenapa aku seperti mengetahui sesuatu.


"Apa Anda sudah mengerti?"


"Sama sekali, tidak. Aku hanya bereaksi saja dengan kata "gravitasi"."

__ADS_1


"Gehh... Master, aku sekarang punya tangan, apa Anda ingin sesekali dipukul oleh tanganku?"


Hydra terlihat kesal dengan sesuatu.


Ya ampun, tempramen anak ini tidak pernah berubah. Bahkan setelah dia memiliki tubuh humanoid.


"Kesampingkan itu, sekarang yang terpenting adalah bagaimana caraku untuk bisa mengendalikan kemampuan ini?"


Benar, kita bisa melakukan sesi belajar mengajar nanti. Sekarang aku sedang bertarung, jadi prioritasnya aku harus bisa mengendalikan kemampuan tersebut dan kembali ke hadapan Nodens.


Sebenarnya, aku sangat penasaran dengan perkataan Hydra tentang "waktu".


"Anda tinggal hubungkan saja kembali tubuh Anda dengan dimensi dunianya."


"Bagaimana caranya?"


"Hmm, aku sendiri belum pernah melakukannya, jadi sulit untuk menjelaskannya."


Hydra dan aku adalah satu kesatuan. Jadi jika aku mendapatkan pecahan pengetahuan dunia, dia juga dapat mengaksesnya.


Dalam kondisi ini, aku dan Hydra sama-sama orang awam. Dia hanya menjelaskan isi dari pecahan pengetahuan dunia tersebut kepadaku dengan caranya sendiri agar aku dapat memahaminya.


Hmm, bukankah itu artinya, aku bodoh?


Mari kesampingkan itu. Karena di dalam jiwaku sudah ada informasinya, aku hanya perlu mempelajarinya sendiri dan memahaminya sendiri, kan?


Aku barusan sempat panik, jadi aku tidak bisa berpikir jernih. Sekarang aku sudah mendapatkan sedikit pemahaman, tinggal mempelajarinya lebih dalam lagi.


"Hm?"


Di saat aku sedang berpikir, aku melihat gadis kecil – yang merupakan manifestasi kehidupan senjata Ice armored gauntlet-ku – mencuri pandangannya kepadaku.


Anak ini pasti sedang menungguku memanggilnya.


"Ke sini!"


Jadi aku tanpa pikir panjang langsung menyuruhnya ke hadapanku.


Dia sedikit tersentak ketika aku tiba-tiba memanggilnya, tetapi dia langsung menurut dan mendekatiku.


Kayaknya hal seperti pernah terjadi di suatu tempat, kan?


"Hydra, apa anak ini punya nama?"


Sambil bertanya kepada Hydra, aku menurunkan tubuhku untuk mensejajarkan diriku dengan gadis itu.


Aku juga memperlakukan dia dengan hati-hati. Dengan cara menggenggam tangannya pelan-pelan dan merasakan sensasi kulit tangannya dengan lembut.


"Tentu saja belum punya, kan? Memangnya Master pernah menamai senjata Anda?"


"Yaa, aku tidak pernah melakukannya."


Benar juga, aku tidak pernah mengira kalau mereka benar-benar hidup secara harfiah.


Mereka adalah senjata-senjata yang memiliki roh dan kehendaknya sendiri. Mereka hidup tetapi itu dalam artian yang lebih luas.


Ngomong-Ngomong, anak ini bisa mendengar dan mengerti apa yang aku ucapkan barusan. Itu artinya dia memiliki akal, kecerdasan dan ketanggapan.


Dia hanya mengenakan kaus putih polos, dan rambutnya menutupi wajahnya.


"Boleh aku menyentuh wajahmu?"


Jadi aku sangat penasaran dengan keadaan matanya karena tidak terlihat.


Kemudian, dia segera menanggapi keinginanku dengan mengangguk berulang kali.


Tidak seperti apa yang aku pikirkan, mungkin anak ini sebenarnya lebih ingin disentuh olehku. Aku dapat memahami hal tersebut dari tanggapannya barusan yang berlebihan.


Kalau dia tidak masalah dengan itu, maka aku tidak akan sungkan lagi. Aku langsung menyingkirkan poninya dan menemukan wajahnya yang terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha menahan diri.


Apa mungkin dia memaksakan dirinya supaya aku bisa menyentuhnya tanpa ragu?


Dia menutup matanya, mengerutkan kening dan alisnya, dan dia juga menutup mulutnya rapat-rapat.


Wajahnya seperti muka Alice yang dipaksa makan sayuran pahit.


"Sangat lucu."


Tanpa sadar aku malah memainkan wajahnya. Aku sangat tidak sopan.


"Kamu sudah memutuskan nama untuknya?"


"Hm, kupikir nama yang terdengar kuat akan sangat cocok untuk anak ini."


Identitas asli gadis ini adalah senjata. Jika kita memberikan nama yang kuat untuknya, mungkin saja itu bisa membantu pembentukan karakternya.


"Baiklah, aku akan memberikan nama Victoria untuknya."


"Victoria?"


"Iya. Terdengar seperti nama kesatria perempuan, kan?"


"Itu bukan "terdengar" lagi namanya. Bukankah keluarga bangsawan memang cukup banyak menggunakan nama seperti itu untuk putri mereka sendiri?"


Dia benar. Aku hanya berpikir tentang gadis yang kuat, dan kata Victoria beserta bayangan kesatria perempuan muncul secara bersamaan di kepalaku.


"Yah, pokoknya nama anak ini Victoria. Aku akan mengenalkannya kepada Merlin."


Merlin sudah terbiasa merawat anak kecil, dan terbukti sangat dapat diandalkan untuk hal-hal seperti itu. Jadi aku tanpa pikir panjang akan menyerahkan urusan kepengawasan Victoria kepadanya.


Tapi sesaat aku mengatakan hal tersebut, Hydra tiba-tiba meraih tangan Victoria, dan kemudian dia merebutnya secara paksa dariku.


"Eh?"


"Kenapa anak ini harus dikenalkan kepada wanita itu?"


Hydra, terlihat sangat tidak setuju aku mengenalkan Victoria kepada Merlin.

__ADS_1


__ADS_2