Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Undangan.


__ADS_3

Aku tiba di ruang kerja dan seorang pria bertanduk sedang duduk di sofa dengan elegan.


Setelah aku melalui pintu, pria itu menyadari kedatangan aku dan langsung berdiri untuk menyambut aku.


Sepertinya dia memiliki kesopanan walaupun dia iblis.


"apa aku membuatmu menunggu?"


"tidak sama sekali, tuan...err."


"panggil saja aku albert."


"ohh, baik, tuan albert. Perkenalkan saya adalah ajudan lady titania, rhodes. Saya ke sini bertujuan untuk menyampaikan undangan dari lady titania kepada pemilik kastil ini."


Sangat sopan, dia berbicara dengan etika bangsawan... Iblis, mungkin.


"begitu, ya. Aku adalah pemilik kastil ini sekarang, apakah itu tidak masalah?"


"itu tidak apa, tapi boleh saya bertanya satu hal?"


"tentu."


"saya ingin mengetahui keberadaan lexo karena lady titania juga ingin bertanya sesuatu padanya."


A-- lexo!? Ya ampun, aku baru ingat kalau mereka adalah sesama iblis! Apakah mereka saling berteman? Ini akan gawat jika aku mengatakan telah membunuhnya, bukan?


"sebelum itu, boleh aku bertanya tentang hubungan lady titania dengan lexo?"


"beliau tidak memiliki hubungan khusus dengan lexo, dia hanya ingin bertanya tentang pusaka keramat yang berada di utara."


Hah? Tunggu, tunggu, tunggu!


Jangan bilang hydra adalah pusaka yang dia maksud? Bukankah ini lebih gawat daripada membunuh lexo?


Lady titania tidak peduli dengan lexo tetapi dengan hydra? Ugh, bagaimana aku harus menanggapi ini...


"aku mengerti, aku tidak tahu lexo pergi ke mana setelah aku tiba di sini, jadi sebagai gantinya, aku akan menemui tuan kamu. Aku mungkin bisa menjelaskan s-sedikit tentang pusakanya."


Aku sedikit gugup di sana. Jika rhodes pintar, dia pasti akan tahu kalau aku sedang berbohong.


"baiklah saya mengerti, saya sudah menyampaikan pesan ini kepada beliau dan beliau ingin bertemu dengan anda."


"baik, baik. Ah! Boleh aku membawa seseorang untuk mengikuti aku?"


"itu tidak apa."


Sigh, benar-benar mengejutkan.


Mereka mengundang aku di malam hari seperti ini, apakah ini kebijakan bangsawan iblis?


Untungnya aku tidak melakukan banyak hal selama perburuan jadi aku masih memiliki sedikit stamina.


Sekarang aku harus menentukan siapa yang harus ikut denganku.


Karena ini adalah undangan formal, membawa banyak orang sangat tidak sopan.


Seharusnya ini adalah tugas yang bagus untuk freya karena kemampuannya, tetapi aku belum memberi nilai jiwa kepadanya.


Aku sempat berfikir untuk memberi nilai jiwa sekarang, tetapi aku tidak tahu dengan efek sampingnya, mungkin saja dia akan merasa mual atau semacamnya karena perubahan mendadak yang terjadi pada tubuhnya.


William, ignis, dan leon sudah bekerja dengan keras selama perburuan jadi aku tidak bisa merepotkan mereka lebih jauh lagi.


Sisa orang hanya merlin, ya. Namun, membawa istri ke tempat berbahaya bukanlah kebijakan yang bagus...


Ugh, sulit, sangat sulit. Apakah pada akhirnya aku harus pergi sendiri?


Tiba-tiba seseorang membuka pintu, dia adalah merlin, dan langsung masuk menghampiri aku.


"kamu ingin pergi?"


"i-iya, mungkin hanya sebentar."


"boleh aku ikut?"


Humu, apakah dia mendengar percakapan kami? Dan, haruskah aku membawanya?


Bagaimanapun juga dia tetaplah istriku meskipun dia memiliki level yang tinggi.


"bagaimana dengan anak-anak?"


Karena mereka sudah mengakui kami sebagai orang tua mereka, aku harus memanggil mereka selayaknya anakku sendiri dan tidak memanggil dengan "kedua anak itu" lagi.


"mereka sudah pergi tidur."


"secepat itu?"


"uhm, sepertinya mereka sangat kelelahan."


Yah, itu wajar saja, sih. Jika mereka bisa dengan tenang tidur di sini, artinya mereka nyaman berada di sini, itu sangat bagus.


"sayang?"


"eh, ada apa?"


Merlin mengembungkan pipinya setelah aku bertanya. Sepertinya, aku sudah melakukan hal yang membuat dia tidak senang.


"aku akan ikut denganmu!"


"ugh, tapi... "

__ADS_1


"tidak ada tapi-tapian, lihat orang itu sudah menunggu."


Aku melihat ke arah rhodes yang sedang menutup matanya. Aku lupa kalau ada dia di sini.


"baiklah, baik. Rhodes tolong antar kami berdua ke sana."


"baik."


Dengan begitu kami berdua pergi ke kediaman lady titania.


Seperti biasa, merlin mengenakan gaun hitam dan jaket silvernya, dan aku mengenakan tiga potong pakaian terdiri dari kemeja, rompi abu-abu, dan jubah biru.


Aku suka dengan jas tetapi akan lebih hangat jika mengenakan jubah. Aku tidak mau repot meskipun ada pilihan untuk mengenakan keduanya.


Sebelum pergi, aku sudah menyuruh leon dan yang lainnya untuk menjaga kastil. Tentu saja, aku juga menyuruh hydra untuk mengaktifkan shieldnya kembali.


Dengan gerbang transfer, kami tiba di sebuah ruangan dengan seorang wanita yang sedang menunggu kami di meja bundar kecil dengan empat bangku, salah satunya sudah ditempati olehnya.


Wanita itu memiliki tanduk domba berwarna hitam, rambut ungu muda, dan kulit putih.


Ada juga satu pelayan iblis wanita di dekat pintu ruangan, dengan teko dan beberapa gelas porselen di atas meja yang berada di dekatnya.


"silahkan duduk. Ah, tentu, istrimu juga dipersilahkan."


Hmm, dia sudah mengetahui kalau kami adalah pasutri, mungkin itu sudah dilaporkan oleh rhodes.


Karena dia sudah mengizinkan kami, maka aku duduk di sisi lain dirinya dan merlin duduk diantara kami berdua.


Sedangkan rhodes, dia berdiri di belakang wanita itu... Atau mungkin dia yang disebut sebagai lady titania.


Pelayan wanita mulai menghampiri dan menuangkan — aku rasa — teh untuk kami.


Aku sangat gugup di sini tetapi merlin sedang bersama aku, jadi aku tidak bisa memperlihatkan kepayahan aku.


"terima kasih karena sudah mau menerima undangan dariku. Pertama-tama, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Namaku titania viozele, aku adalah salah satu dari 10 bangsawan agung yang memimpin wilayah ini. Boleh aku mengetahui nama kalian berdua?"


Ohh sebuah nama belakang, ya. Aku melupakan itu.


"aku adalah orang yang bertanggung jawab atas kepemilikan kastil, namaku albert... Albert testalia dan ini istriku... Merlin testalia."


"senang bertemu dengan anda."


Aku mendapatkan nama "testalia" secara acak, diambil dari nama hydra yang aku gabungkan dengan kata yang memiliki arti keluarga.


Untungnya, merlin dapat mengalir dengan suasana dan kondisi tanpa masalah. Mungkin, dia akan menanyakan itu nanti ketika kami memiliki waktu untuk berduaan.


"baiklah, alasan aku memanggil kalian ke sini karena ingin menanyakan beberapa hal kepada kalian, tapi aku ingin mendengar terlebih dahulu tentang lexo."


Titania ternyata masih penasaran dengan lexo.


Untuk menenangkan diri, aku menyesap minuman yang sudah disediakan olehnya.


"aku membunuhnya."


Aku langsung mengatakan itu setelah menaruh cangkirku di atas meja.


Karena dia tidak memiliki hubungan dengan lexo, aku pikir mengatakan hal yang sejujurnya kepada titania tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah pusaka, aku tidak tahu harus berbohong atau tidak tentang itu.


"kamu membunuhnya? Apa kamu memiliki alasan untuk melakukan itu?"


"tentu saja ada..."


Aku mulai menceritakan kepadanya kalau aku adalah pahlawan dari dunia lain, dan lexo adalah orang yang bertanggung jawab atas hal itu.


Aku juga menjelaskan kalau dia ingin menggunakan tubuhku untuk kepentingannya sendiri.


"begitu rupanya. Lalu, apa kamu sudah mengetahui apa yang dia rencanakan?"


"dia ingin mengambil pusaka yang berada di wilayah kalian. Bukankah kalian sudah mengetahui ini?"


"yah, aku memang tahu kalau dia sedang mengincar pusaka itu tapi aku tidak terlalu mengetahui secara detail tentang apa yang dia lakukan. Huff, baiklah Kesampingkan dia, apakah kamu mengetahui tentang pusakanya?"


Ya, benar, kesampingkan lexo dan fokus pada pusakanya, kan? Makhluk hijau yang tidak berharga dan pembawa sial.


"kalau itu... Aku yang mengambilnya."


"apa?"


Suara titania sangat dingin dan dia menyipitkan matanya padaku.


Aku tidak bisa panik di sini dan mulai menyesap teh itu lagi.


Aku sangat beruntung karena ada teh di sini untuk menenangkan diriku, tetapi jika terlalu banyak mengulangi perilaku yang sama, lama kelamaan titania bisa menyadari aktingku...


Tidak, kesampingkan titania, yang aku khawatirkan adalah merlin. Jika aku terlihat payah di sini, dia pasti akan kecewa padaku, dan itu akan menjadi sebuah mimpi buruk yang lebih buruk daripada gangguan koneksi internet ketika sedang bermain game online.


"sigh, tidak ada yang perlu disembunyikan. Aku mengambilnya dan sudah membuat kontrak dengannya, jadi tolong mengerti."


Jika sudah seperti itu, maka akan sulit untuk memberikan pusaka itu kepadamu.


Itulah apa yang aku maksud, dan pasti dia mengerti dengan itu.


"bisa kamu menjelaskannya lebih rinci tentang pusaka itu?"


"tentu saja tidak bisa, bahkan jika kamu memaksa, aku tidak akan memberi tahu."


Ini seperti aku akan mengekspos kartu trufku kepada orang lain jika aku memberi tahunya. Dan, itu akan menjadi tindakan yang paling bodoh.


"o~hou, kamu berani berbicara seperti itu di depanku? Ngomong-ngomong, bukankah tugas pahlawan adalah membunuh para iblis."

__ADS_1


Titania terlihat sangat tidak senang, dan aku mulai merasakan dingin di bagian punggungku.


Mungkin jika aku bisa melihat yang namanya "aura membunuh" seperti yang sering terjadi di dalam anime atau manga, aura seperti itu pasti sudah keluar dari tubuh titania.


Namun, sangat disayangkan. Aku adalah manusia biasa sebelumnya (sekarang masih), dan aku bahkan tidak bisa melihat yang namanya "hantu", jadi bahkan jika titania sudah membunuh miliaran manusia, aura membunuhnya tidak akan pernah bisa aku lihat.


Ini adalah keunggulan seorang pemula. Tapi kenapa aku malah bangga dengan kelemahan seperti ini?


Juga, siapa yang peduli dengan tugas pahlawan. Itu hanya title yang aku dapatkan ketika aku sudah terpanggil ke sini.


Mengurus hal-hal yang merepotkan seperti itu bukanlah gayaku.


Tidak lama kemudian, titania kembali ke sikap biasa yang sebelumnya. Sepertinya, dia sudah menyerah mengintimidasi aku.


"ku~fufu, seperti yang diharapkan dari seorang pahlawan, kamu tidak mudah goyah di depan orang sepertiku. Itu berlaku juga untuk istrimu, kalian berdua orang yang hebat."


Aku melihat merlin yang dengan santai menyesap tehnya sambil menutup mata.


Apakah dia bisa merasa tertekan atau tidak, aku tidak tahu tetapi aku merasa sedikit kesal di sana dengan titania.


Rasanya seperti dia sudah merendahkan kami.


"baiklah, kesampingkan itu, aku datang ke sini juga memiliki urusan denganmu."


"oh, apa itu?"


"suku huldra, aku ingin menempatkan mereka dibawahku, itu tidak menjadi masalah, bukan?"


"ah, benar juga. Aku tidak masalah dengan itu. Mereka lemah, jadi aku tidak peduli. Tapi, aku sangat tidak suka dengan caramu menghancurkan penghalangku."


Sekali lagi, titania merubah sikapnya menjadi dingin terhadapku. Dia orang yang mudah berubah, ya.


"penghalang? Maksudmu, sihir pelindung yang melindungi desa? Kalau itu, tentu saja bukan kami yang melakukannya. Ketika temanku datang ke sana, penghalang itu sudah hancur dan monster kingkong adalah pelakunya."


"jangan berbohong padaku, aku memiliki kemampuan membaca ingatan. Jika kamu terbukti berbohong padaku, aku tidak akan pernah memaafkan kamu!"


Dengan suara *whoosh* gelombang angin ribut keluar dari tubuh titania.


Dia sepertinya sangat marah padaku, padahal aku sudah berkata jujur.


Kejadian dan waktunya memang hampir sama, jadi cukup sulit untuk mempercayai alasan yang seperti itu.


"sudah cukup."


Merlin angkat bicara, dan nadanya tidak terdengar kalau dia sedang dalam mood yang bagus.


"hah!? Aku peringatkan padamu, ini adalah urusan aku dengan suamimu. Jadi lebih baik, kau diam di sana dan jangan banyak bertingkah."


Merlin tetap diam menutup mata setelah mendengar itu.


Titania sepertinya benar-benar marah, tapi aku sangat tidak suka jika istriku diperlakukan seperti itu.


"aku sangat benci dengan serangga."


"ap--"


Ketika titania ingin berbicara, lehernya sudah dicekik oleh merlin.


Melihat tuannya dicekik oleh seseorang, rhodes terkejut dan berteriak "nona titania!" karena khawatir. Dia ingin membantu tuannya tetapi itu tidak bisa terjadi karena merlin melakukan sesuatu padanya.


Rhodes terhempas ke arah pelayan yang berada di belakangnya, dan mereka berdua berbenturan di sana hingga menabrak dinding.


Aku melihat itu juga merasa panik dan menyuruh hydra untuk bersiap. Tapi aku hanya menonton mereka, secara sengaja membiarkan merlin melakukan itu.


Sebelumnya, titania sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu dia katakan. Dan jika sudah seperti itu, aku tidak akan bisa membantunya... Sejujurnya, aku juga takut dengan merlin.


Jika aku mencegahnya, mungkin mood jeleknya akan diarahkan kepada aku.


"a-apa yang kau lakukan! Lepaskan!"


Titania memberontak.


Aku rasa, aku pernah melihat kejadian yang seperti ini. Itu ketika, hydra menggunakan tubuhku untuk melawan lexo. Dia juga melakukan hal yang sama.


Apa semua wanita suka melakukan hal yang seperti itu? Tapi, yang aku sering lihat, perempuan suka menjambak rambut lawannya.


"hmph, serangga yang mengaku dirinya sebagai bangsawan, sungguh konyol."


"tch, jangan sombong hanya karena ini!!"


Titania berteriak.


Lalu, kulit dan pupil putihnya berubah menjadi hitam. Dia juga mengeluarkan sayap kelelawar dan ekor panjang yang bengkak pada pangkalnya seperti ibu jari.


Aku sudah bersiap di sana untuk skenario terburuk, tapi sepertinya itu tidak diperlukan karena merlin masih bisa mencekiknya.


"apa? M-mustahil... Bahkan dengan kekuatan penuhku..."


Titania masih tidak percaya.


Menurut prediksiku, jika ini di dalam game, mungkin titania berada pada level 80-90. Itu masih belum cukup untuk menghadapi merlin.


Namun dengan level itu, dia sudah bisa menjadi salah satu penguasa wilayah iblis. Itu artinya, raja iblis bisa memiliki level yang cukup tinggi atau justru sudah maksimal.


"sungguh wanita yang menyebalkan."


"jangan kau pikir, kau bisa melakukan apapun sesukamu di sini!! Aku akan memanggil seluruh anak buahku untuk melawanmu dasar brengsek!"


"ohh, sungguh? Maka aku hanya perlu untuk mengalahkan mereka, bukan?"

__ADS_1


__ADS_2