Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Amarah Seorang Putri.


__ADS_3

Mengetahui Golem bukanlah senjata utama Negara Lumia, Carla dan kelompok Tristan melanjutkan perjalanan mereka ke kastil.


Masih banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Tristan tentang Golem, namun sebanyak apapun dia bertanya, Endrin pasti akan menghindarinya.


Jadi daripada membuang lebih banyak waktu di sana, lebih baik dia cepat-cepat menuju ke kediaman Testalia untuk bertemu dengan Albert.


Selain itu, rasa penasaran Tristan semakin bertambah setelah melihat Golem Helios dan struktur bangunan kota. Dia juga penasaran seperti apa hubungannya Hestia dengan Albert, sampai Hestia dan para bawahannya mau repot-repot datang ke tempat pedalaman seperti ini.


Seseorang harus memberikan penjelasan kepada Tristan agar dia tidak tersiksa rasa penasaran.


Setibanya di depan kastil. Mereka melewati tembok besar dengan satu penjaga yang mengenakan armor full plate berwarna putih meta, berdiri tegak di samping gerbang dengan tombaknya.


"Hey, zirah itu terlihat sangat bagus."


"Itu seperti bukan dibuat dari bahan baku biasa."


"Bahan baku seperti apa?"


"Engga tahu! Tanyakan saja kepada Nona Carla jika kau sangat penasaran."


Kelompok Tristan cukup berisik ketika melintasi gerbang kastil. Mereka tidak berani bertanya karena Tristan tampaknya tidak peduli dan terus berjalan masuk dibimbing oleh Carla.


Penampilan halaman kastil tidak terlalu jauh berbeda dengan halaman-halaman istana pada umumnya. Tristan dan rekannya hanya penasaran dengan lantai hitam besar berbentuk oktagon di sebelah kanan mereka.


Carla turun dari tubuh Ro, memanggil penjaga yang lain untuk merawat Ro dan keempat kuda para tamu.


Tristan dan rekannya mulai turun dari kuda mereka masing-masing dan mulai menunggu kedatangan para penjaga yang akan mengurus kuda.


Biasanya Datra atau Ivan yang akan mengurus kuda dan senjata anggota party, karena mereka berdua merupakan seorang servant. Tapi kali ini mereka sedang berada di kediaman Tuan Tanah. Jadi mereka tidak bisa bergerak secara sembarangan dan tetap disiplin mengikuti peraturan yang ada.


...


Pada saat mereka menunggu, suara monster burung memasuki indra pendengaran mereka.


Mereka semua mendangak ke atas dan menemukan seekor Wyvern berwarna merah sedang mengawasi kelompok mereka.


Biasanya, monster Wyvern memiliki warna hijau atau perak, tapi kali ini Wyvern tersebut berwarna merah.


"Kaa! Kaa!"


Dia terus berteriak seperti itu dan membuat keempat kuda Pegasus menjadi tidak tenang.


Kemudian Wyvern itu turun, mendarat tepat di depan para Pegasus.


"Hei, apa yang terjadi denganmu?"


Dalam pengamatan lebih lanjut. Tristan dan rekannya menemukan seorang gadis sedang menunggangi Wyvern tersebut.


Dia gadis kecil dengan rambut pirang yang dikuncir dua membentuk sanggul cina. Mengenakan pakaian lokal berwarna merah dengan sulaman hitam desain tradisional.


Dia juga mengenakan sepatu, sarung tangan, dan celana pendek berwarna hitam yang terbuat dari bahan kulit.


"Kaa! Kaa!"


"Woah, aku bisa jatuh jika kamu kamu terus seperti ini."


Wyvern terus mengusik para Pegasus dengan sayapnya dan si gadis terlihat tidak bisa mengendalikan hewan tunggangannya.


"Oi, ada apa dengan Wyvern ini. Dia terus saja mengganggu kuda kita."


"Tidak tahu, suruh gadis itu untuk menyingkirkan monsternya."


Tristan dan kelompoknya sudah mulai risih melihat Wyvern itu terus mengusik kuda mereka.


"Hei, nak! Jauhi monstermu dari kuda-kuda kami!"


"Ah, dia sepertinya sangat tidak menyukai kuda putih kalian!"


"Hah!?"


Ivan berdiri di tengah mereka dan menyuruh si gadis untuk menyingkirkan monsternya. Namun gadis itu sendiri terlihat kerepotan dengan hewan peliharaannya.


Bahkan dengan adanya Ivan yang berdiri di tengah mereka, Wyvern itu masih terus mengusik kuda-kuda Pegasus dengan cara menakut-nakuti menggunakan kepakan sayapnya.


"Ini cukup merepotkan!"


Ivan berusaha menenangkan kuda-kudanya, namun selama ada Wyvern itu di sana, kuda-kuda mereka tetap tidak bisa diam. Dan justru sebaliknya, kuda-kuda mereka mulai menyerang balik Wyvern tersebut dengan sayap-sayap mereka.


Mereka terlihat tidak bisa akur satu sama lain.


"Ya ampun, mereka mulai bertengkar!"


"Kenapa masalahnya justru semakin bertambah. Hei diamlah!"


Pada akhirnya, Ivan mulai kehabisan kesabaran dan menyuruh kuda-kudanya untuk berhenti.


"Kaaa!"


"Nak, monstermu juga harus berhenti!"


"Tidak bisa, dia sepertinya sangat kesal melihat kuda jelek kalian berada di sini!"


"Apa kau bilang!?"


Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ivan tidak mengerti kenapa kuda-kudanya disebut jelek.

__ADS_1


Kemudian pada saat Wyvern itu ingin melangkah maju, Ivan menghentikannya. Mendorong Wyvern tersebut dengan energinya.


"A--!"


Wyvern terdorong, membuat gadis yang berada di punggungnya tergelincir dan jatuh.


"Duhh... Kenapa kau mendorong Ken? Aku jadi terjatuh, tahu!"


Sambil memegangi punggungnya yang kesakitan, gadis itu mengeluh kepada Ivan.


"Ini salahmu karena tidak bisa mengendalikan monstermu."


"Oi, Ivan. Sudah biarkan saja."


Ivan menyalahkan si gadis, namun Grandine merasa tidak nyaman melihat Ivan melakukan hal itu.


"Apa? Aku sendiri juga tidak tahu kenapa Ken sangat tidak menyukai kuda kalian!"


"Itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan kenapa monstermu mengusik kuda kami."


"Keberadaan kuda kalian sangat mengganggu."


"Apa!?"


"Lagian kuda kalian juga ikut bertengkar tadi, kenapa hanya Ken yang kau dorong!? Kau pasti sengaja mendorongnya supaya aku terjatuh, kan!?"


"Apa yang sedang anak ini bicarakan...?"


Mereka berdua bertengkar, menggantikan hewan peliharaan masing-masing. Grandine cukup khawatir melihat rekannya selalu saja merendahkan si gadis. Sedangkan gadis itu terlihat sangat marah mengetahui Ivan sengaja menjatuhkannya.


"Kau benar-benar membuatku marah!"


"Ayolah, karena ini aku benci berurusan dengan anak-anak."


Gadis itu merapatkan giginya. Dia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya melihat Ivan begitu sangat merendahkannya.


Sepasang taringnya mulai memanjang, tangannya dikepal dengan erat, dan matanya menatap Ivan dengan tatapan penuh kebencian.


Melihat sikap si gadis membuat Tristan sadar kalau ada yang tidak beres dengannya.


Di kedua tangan si gadis, mulai terpasang sarung tangan baja berwarna merah. Muncul secara perlahan. Kilauannya sangat indah dan membuat seluruh kelompok Tristan terkejut.


Di sana, Tristan menyadari sesuatu. Dia memberikan kode kepada Grandine dan langsung menuju ke arah Ivan untuk menariknya.


"Jangan pergi!!"


Gadis itu mengarahkan tinjunya ke Ivan, namun mereka semua langsung dipindahkan oleh Tristan menggunakan sihir teleportasi untuk menjauh dari lokasi. Bersama dengan para Pegasus.


*BOOM*


Gadis itu tidak bisa mengenai siapapun karena mereka semua sudah dipindahkan oleh Tristan. Sekarang posisi mereka berada di gerbang, membelakangi gadis tersebut.


"Ah, apa itu barusan?"


"Gadis itu menyerangmu."


"Dia sepertinya sangat marah padamu."


Ivan dan yang lain terkejut melihat aksi si gadis.


Dari arah pintu masuk kastil, Carla dan beberapa penjaga memperhatikan si gadis dari kejauhan. Mereka tidak bisa ikut campur karena gadis itu adalah salah satu anak dari Tuan Besarnya, dia adalah Alice.


Mereka bukannya tidak bisa, tetapi tidak berani. Karena ada sebuah peringatan untuk menjauhi Alice ketika dia sedang marah. Jadi mereka semua tidak bisa mendekat.


Tapi sebagai bawahan Tuannya, tentu saja Carla akan membantu Alice. Dia akan bergerak ketika melihat musuh Alice ingin menyerang.


Karena Carla tidak bisa mendekati Alice ataupun menenangkannya, dia hanya bisa menjadi tameng. Seperti itulah posisi Carla sekarang.


Tidak lama setelah kepulan asap menghilang, gadis itu, Alice, berbalik dan ingin menyerang mereka sekali lagi.


"Menyebalkan! Kenapa kalian menghindar!?"


Alice menanyakan hal yang tidak masuk akal. Karena pukulannya tidak mengenai siapapun, dia semakin marah.


Ketika dia ingin menyerang lagi, Ivan berdiri di depan semua orang untuk menahan serangannya. Dan pada saat Alice melompat, seseorang menangkapnya dari belakang.


"Baik, sudah cukup..."


"Mama, lepaskan. Orang itu mendorong Ken dan membuat aku terjatuh!!"


Orang yang telah menangkap Alice adalah Freya. Dia merasa lega setelah mengamankan Alice di pelukannya. Sedangkan Alice memberontak karena masih marah dengan Ivan.


"Iya, iya, siapa yang berani menjatuhkan anak mama. Aku akan segera menghukumnya. Sekarang kamu tenang dulu, Sayang."


Sementara Alice marah-marah dan terus memberontak, Freya berusaha menenangkannya.


Wanita dengan rambut panjang kuning keemasan, mata berwarna biru safir dengan bulu mata lentik, serta tatapannya yang selalu tajam seperti mata elang.


Pandangannya memiliki pesona yang dapat memikat pria maupun wanita, kecantikan tiada tara.


"Freya?"


"Kak, Freya?"


Tristan dan Grandine menatap Freya dengan wajah terkejut. Mereka berdua adalah teman Freya semasa Freya masih menjadi seorang petualang, mereka tidak menyangka akan bertemu lagi dengannya di sini.

__ADS_1


Dan untuk kesekian lamanya, Tristan akhirnya membuka mata dan menunjukkan Iris emasnya.


Mata keturunan klan Seraphim. Freya, Merlin, dan klan Seraphim lainnya juga memiliki mata tersebut, namun tidak ada perbedaannya dengan mata biasa.


Tristan tidak merubahnya, dia lebih memilih menutup matanya, karena hanya dengan menutup mata tidak menggangu pekerjaannya.


Sebaliknya, menunjukan iris emasnya ke orang-orang hanya akan mendatangkan masalah.


"Hai, sudah lama, ya."


Selesai menenangkan anaknya, Freya balik menyapa mereka berdua. Tangan kanannya melambai, sedangkan tangan kirinya sibuk memegang Alice agar tidak terlepas.


"Mama kenal mereka?"


"Iya, mereka teman-teman Mama di waktu dulu."


"Tapi pria di sana mendorongku hingga terjatuh."


"Serahkan saja kepada Mama, biar Mama yang mengurusnya, ok?


"..."


Alice tampaknya tidak akan puas jika orang yang sudah menjatuhkannya tidak diberikan hukuman, ini perasaan Freya.


Alice bukanlah tipe anak yang mau memaafkan orang lain tanpa syarat. Jika dia tidak melihat orang itu terluka sama seperti dirinya, dia tidak akan pernah memafkannya.


Justru menyuruh dia memafkan tanpa syarat hanya akan membuat dia tidak percaya lagi dengan Freya. Kalau hal itu sampai terjadi, di masa depan dia mungkin akan menjadi anak yang tidak terkendali karena tidak mempercayai siapapun lagi.


Jadi Freya harus sangat berhati-hati dalam membesarkan anaknya. Sifat setiap orang berbeda-beda, dan mengurus Alice dengan sikap keras kepala seperti itu membutuhkan tenaga ekstra dan keuletan.


Tidak mendapatkan kepercayaan dari Alice lebih bermasalah daripada memukul orang yang tidak dikenal. Jadi, orang yang berani mengusik Alice harus mendapatkan hukuman.


"Freya, barusan kamu bilang dia adalah anakmu?"


"Iya."


Sambil menunjukkan wajah ketidakpercayaan, Tristan mengkonfirmasi status Freya. Dan setelah mendengar jawabannya, dia menjadi putus asa.


Setelah melihat itu semua, semua orang bisa tahu kalau Tristan memiliki perasaan terhadap Freya. Di tempat pertama, semua rekannya tahu kalau Tristan tidak pernah membuka matanya, bahkan jika lawan bicaranya merupakan Raja.


Dan sekarang dia terlihat seperti orang yang cintanya baru saja ditolak.


Datra dan Ivan tidak mengenal Freya, namun mereka sering mendengar ceritanya dari Grandine atau Tristan. Sosok wanita yang bisa disandingkan dengan Tristan dan juga Hestia, memiliki gelar "Petualang Tercantik", dan tidak sedikit orang menyebutnya sebagai "Heroine".


Itulah Freya yang mereka tahu.


Karena julukannya itu, Datra dan Ivan benar-benar memperhatikannya. Wajah mereka tampak merona merah.


"K-Kak, Freya?"


"Grandine, kamu tumbuh menjadi wanita yang cantik. Aku senang melihat kamu baik-baik saja."


Grandine ragu-ragu memanggil Freya, tetapi Freya mengerti kalau Grandine adalah anak yang seperti itu, Freya langsung memuji penampilannya supaya dia mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.


Mendengar jawaban dari Freya membuat Grandine senang, dia menjawab "Iya" Dan langsung menghampiri Freya sambil tersenyum lebar. Sangat berbeda dengan laki-laki yang gagal dalam hubungan asmara di belakangnya.


"Kak, Freya. Aku tidak tahu ternyata kamu tinggal di sini..."


"Yah, banyak hal telah terjadi. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu siapa orang yang mendorong Putriku hingga terjatuh?"


Freya menatap para pria dengan sinis, mencari pelaku yang membuat masalah dengan Putrinya.


Mendengar hal itu membuat Ivan berkeringat dingin. Dia sadar kalau Freya tampaknya sangat tidak senang anaknya telah diganggu.


"Err, itu..."


Grandine tidak bisa berkata banyak, dia takut disalahkan. Hanya bisa membuang muka.


Kecuali Tristan, semua orang cukup terintimidasi oleh tatapan Freya. Tristan sendiri sedang menunduk, tidak tahu harus berkata apa.


Mereka adalah teman lama, meski Tristan memiliki perasaan terhadap Freya, dia tidak pernah mengungkapkannya. Buruknya lagi, Freya tidak terlalu tahu tentang perasaan Tristan terhadapnya. Itu sebabnya dia tidak mengerti kenapa Tristan hanya diam saja.


Karena hal tersebut atmosfer di antara keduanya menjadi canggung.


"Oh iya, di mana kedua kakakmu? Kenapa kamu pulang sendirian?"


Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, Freya mengubah topik dan bertanya hal lain ke Alice, namun pertanyaan itu telah membuat Tristan dan Grandine cukup terkejut.


"K-Kak, Freya. Kalau boleh tahu, sebenarnya kamu sudah punya berapa banyak anak?"


Karena penasaran, Grandine bertanya. Pertanyaan itu cukup membuat Freya tersenyum karena mereka sepertinya telah salah paham.


"Yah, biarlah. Kami punya tiga putri. Dan anak ini nomor tiga, namanya adalah Alice. Aku sebenarnya ingin kalian berteman dengannya, tapi tampaknya dia tidak suka dengan kalian."


Semua orang melihat ke arah Alice. Dan seperti yang diharapkan, Alice mengatakan "Hmph" Sambil membuang muka.


Anak itu sudah tidak suka dengan mereka semua.


"Err, permisi--"


Merasa sangat amat bersalah, Ivan ingin meminta maaf dan telah melangkah maju. Namun tiba-tiba muncul tiga orang dari dalam kastil. Dua wanita dan satu pria.


Carla dan para penjaga yang sejak awal sudah berada di belakang Freya, memberi hormat kepada mereka bertiga. Jadi Tristan dan rekannya dapat menyimpulkan kalau ketiga orang tersebut memiliki status yang lebih tinggi.


Atau tanpa perlu melihat reaksi Carla dan penjaga, mereka bisa menilai dari pakaian yang dikenakan oleh ketiga orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2