
"Baiklah, sudah kuputuskan."
Freya bergumam. Karena dia sedang menyembunyikan wajahnya di dadaku, ekspresinya tidak dapat kulihat.
Kemudian perlahan dia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arahku dengan mata penuh keyakinan. Tampaknya dia sudah bertekad akan sesuatu.
"Jika kamu ingin aku bersikap seperti sebelumnya, maka aku hanya perlu menurutimu."
Dia mengatakan itu sambil membuka baju.
"Kenapa buka baju!?"
Aku heran, sekaligus terkejut.
Ngomong-ngomong, di ruangan ini, observatorium, sudah tidak terdapat siapapun lagi selain kami. Semua orang sudah pergi, meninggalkan kami bertiga.
"Karena banyak masalah sudah terselesaikan, sekarang sudah waktunya untuk melanjutkan "itu", kan? Ibuku memang sangat menyukai Atla, Eren, Dan Alice — tetapi dia juga masih memiliki keinginan untuk menggendong keturunan ki--"
Freya menjelaskan sesuatu yang tidak dapat aku mengerti. Atau lebih tepatnya, tiba-tiba membicarakan tentang keturunan selesai pembicaraan itu semua membuat aku terkejut.
Oleh karena itu, aku memotong perkataannya.
"Tunggu, kenapa tiba-tiba membahas itu? Selain itu, kenapa harus telanjang di sini?"
Aku tidak mengerti. Freya sudah selesai membuka pakaian luarnya, tinggal pakaian dalam.
(Ah! Apakah dia ingin mengalihkan topik? Tapi kenapa mengganti topiknya dengan hal itu?)
Aku mulai bertanya-tanya.
Sebenarnya aku tidak masalah dengan itu. Ketika datang ke kegiatan seperti ini, aku tidak pernah absen.
Dan juga, sudah hampir setahun kami sering tidur tanpa mengenakan pakaian dan melakukan berbagai hal, aku sudah mulai terbiasa. Namun ketika kulit kami bersentuhan, itu menjadi beda cerita.
Baik itu kulit Freya maupun Merlin, keduanya memiliki tekstur halus dan lembut. Aku memang tidak tahu apakah kulit wanita bisa sampai sehalus kulit mereka berdua atau tidak, tapi aku yakin kulit mereka adalah yang terbaik.
"Tidak apa, kan? Lagipula, hanya tinggal kita bertiga di sini."
Sambil mengatakan itu, dia menghampiri aku, mendorong tubuhku ke arah Merlin, dan mengatakan "Merlin, buka pakaianmu juga. Aku ingin melakukannya sekarang." seperti itu untuk menyuruh Merlin mengikuti keinginannya.
Merlin kebingungan untuk sementara waktu, namun memutuskan untuk mengikuti Freya dan langsung menyingkirkan pakaiannya dari tubuhnya. Dia bahkan tidak menyisakan pakaian dalam dan mengekspos seluruh tubuhnya.
Tidak seperti Freya, Merlin selalu mengenakan pakaian berbahan sihir. Itu sebabnya dia bisa langsung menghilangkan pakaiannya.
Tentu saja, tujuannya bukan untuk berbuat hal seperti sekarang. Meski aku tidak pernah bertanya, tapi aku mengerti kalau dia selalu siap untuk bertarung dan akan mengganti itu dengan perlengkapan perangnya ketika dibutuhkan.
Di atas sofa, setelah tubuhku didorong oleh Freya, Merlin menangkapku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.
Ketika sudah seperti itu, aku hanya bisa pasrah karena sangat nyaman berada di pelukan Merlin.
Tapi, tidak! Ini bukan tempatnya untuk melakukan hal itu, bukan? Meski ini rumahku, ini masih akan menjadi contoh yang buruk untuk keluarga.
"Tenanglah, Freya, Merlin. Kenapa kalian terburu-buru sekali? Kita bisa pergi ke kamar sekarang, jangan melakukannya di sini."
Benar, lebih baik melakukan hal seperti itu di dalam kamar untuk mendapatkan privasi. Aku tidak ingin kita menjadi keluarga vulgar.
Freya tidak mau mendengarkan perkataanku dan mulai memindahkan kakiku ke atas sofa, menyuruhku untuk berbaring di sana dengan paha Merlin sebagai bantal.
Kemudian Freya naik ke atas tubuhku dan duduk di sana. Wajahnya sangat tenang, cukup aneh karena biasanya terlihat malu-malu.
"Sebenarnya, ada apa denganmu, Freya? Sikapmu sangat aneh."
Aku bertanya dengan serius. Keadaan Freya dan Merlin memang sudah telanjang, tetapi aku masih mengenakan pakaian. Itu sebabnya aku masih bisa tenang.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin mengganti suasana. Kalian pasti sangat mengkhawatirkan aku, bukan? Aku minta maaf untuk itu. Aku hanya terlalu takut kalau Albert membenciku."
Freya menjatuhkan tubuhnya di atasku dan memeluk. Lalu aku melihat Merlin mengusap kepala Freya sambil tersenyum.
"Freya?"
Merlin memanggil, suaranya sangat lembut seperti seorang ibu yang sedang memanggil anaknya.
Mendengar namanya disebut, Freya mengangkat tubuhnya kembali dan mulai menatap Merlin, mendekatkan wajahnya ke arah Merlin agar Merlin bisa melihat dan menyentuhnya dari dekat.
"Tidak perlu minta maaf. Tugasmu sangat benar untuk dilakukan dan Albert menganggap itu sebagai tindakan yang harus kamu lakukan. Jadi, jika Albert menyuruhmu untuk melakukan itu, kamu hanya perlu melakukannya. Anggap saja, kejadian kali ini adalah kesalahan Albert."
"Eh?"
Merlin mengelus pipi merona Freya dengan kedua tangannya sambil mengatakan hal itu, dan kalimat itu sangat membuat aku terkejut.
Aku terkejut bukan karena aku disalahkan olehnya, nyatanya itu memang salahku karena sudah mengabaikan Freya.
Namun, hal yang membuat aku terkejut adalah itu merupakan pertama kalinya Merlin berani mengatakan aku bersalah.
Serius, dia tidak pernah menyangkal kata-kataku dan selalu mengikuti kehendakku. Bisa dibilang, apa yang aku lakukan selalu dianggap benar olehnya.
Dan sekarang, dia berani menyatakan kalau aku bersalah.
Ini agak aneh. Tapi entah kenapa, aku malah senang melihat Merlin bisa berfikir demikian.
Jujur saja, dianggap selalu benar oleh Merlin dan mantan NPC lain selalu menimbulkan perasaan tidak nyaman di hatiku.
Aku memang orang yang telah membentuk karakter mereka, tetapi aku bukanlah dewa. Dari dulu sampai sekarang, aku tetaplah manusia.
Ah, mungkin sekarang aku bisa disebut manusia dengan level tinggi, tapi judulnya tetaplah manusia.
__ADS_1
Jadi, akan sangat terbantu jika Merlin dapat melihat kesalahanku dan berperilaku seperti Freya untuk membenarkan kesalahanku.
"Selain itu—"
Merlin melanjutkan. Mendekatkan wajahnya ke wajah Freya, lalu kening dan hidung mereka saling bersentuhan.
"—Ketika Albert marah, pada saat itu aku akan mendukungmu. Jadi jangan takut lagi, Freya. Aku berjanji akan membantumu."
Mengakhiri kalimat, Merlin langsung mencium Freya.
Ah, Merlin benar-benar melakukannya!! —Aku terkejut dalam hati.
Ketika Merlin mendekatkan wajahnya ke wajah Freya, aku sudah menduga dia pasti akan melakukan hal itu.
Sungguh, entah kenapa melihat mereka saling mencintai seperti itu menimbulkan perasaan aneh.
Selain itu, mereka melakukan itu tepat berada di atasku. Dua pasang gunung mereka tergantung di depan wajahku dan membuat aku ingin sekali bergabung dengan mereka.
Oleh karena itu, setelah mereka menyelesaikan ciuman itu, aku langsung berdiri.
Membuat Freya kaget, lalu mengambil pakaiannya untuk menghilangkan jejak dan langsung berteleportasi ke kamar untuk melanjutkan kegiatan.
Sebelum pindah, aku bisa melihat Merlin tersenyum puas seolah rencananya telah berjalan dengan baik.
Dia benar-benar sangat mengerti aku.
Adapun Freya, dia tampaknya tidak mengerti kenapa Merlin menciumnya tiba-tiba. Hanya saja, Freya juga sangat mencintai Merlin dan tidak pernah mengeluh ketika Merlin melakukan sesuatu terhadapnya.
Merlin benar-benar sudah menodai kepolosan Freya. Dan juga, sebagai orang yang mengerti, aku hanya diam saja dan menikmati rencana Merlin tanpa mengeluh. Secara tidak langsung, aku juga ikut bersalah.
*
Keesokan paginya, sikap kami bertiga kembali seperti biasa dan menjalani kegiatan seperti kami tidak pernah memiliki masalah apapun.
Freya menuju ke rumah ibunya, ingin melihat keadaan anak-anak kami karena sudah sejak beberapa hari mereka tidak kembali ke rumah. Mungkin mereka betah tinggal di rumah nenek mereka.
Merlin seperti biasa mengurus pembendaharan kastil, dibantu oleh Titania, Kaguya, dan Rin.
Sedangkan aku pergi ke gedung hitam, bersama dengan Ignis dan Luminous.
Gedung hitam, sekarang tempat itu digunakan sebagai perkumpulan satuan kepolisian. Bisa disebut juga sebagai instansi.
Polisi Naga tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga di dalam ruangan.
Bagi naga yang dapat membaca dan menulis, mereka akan disuruh mendata laporan setiap tim eksplorasi polisi yang berada di lapangan.
Negeri kami sangat luas, kami perlu mengetahui apa saja yang terdapat di daratan ini dengan memeriksa setiap sudut lokasi secara terdokumentasi.
Ada kemungkinan terdapat makhluk lain selain naga yang memiliki kekuatan besar tinggal di daratan ini.
Bagaimanapun juga, [Cermin Map] tidak bisa menembus sarang dengan sihir penghalang. Jadi kami melakukan survey langsung ke tempatnya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Sesampainya di dalam, aku tidak menemukan resepsionis. Meja untuk menerima pengunjung ada, namun tidak digunakan.
Yah, jumlah naga yang dapat membaca dan menulis sangat sedikit. Jadi kami memfokuskan seluruh naga ke bagian eksplorasi dan bagian pendataan laporan eksplorasi.
Oh, untuk masalah pemetaan, mereka tidak perlu melakukan hal tersebut karena aku sudah membuatkan peta untuk mereka.
Gambar dari Cermin Map dapat dicetak ke atas kertas khusus oleh Hydra. Jadi kami sudah memiliki satu peta negara kami, Negeri Naga, Lumia.
Menaiki lift dan menyusuri lorong, aku dan Luminous dituntun oleh Ignis menuju ke tempat berkumpulnya para "Empat Belas Member Elite" Kepolisian.
Ngomong-ngomong, gedung ini mirip sekali dengan kantor kerja pegawai negeri. Interior dan struktur bangunan juga tidak terlalu jauh berbeda.
Itu sebabnya, aku merasa sangat nostalgia seperti aku sedang berada di dunia asalku. Walaupun aku belum pernah bekerja di dalam gedung.
"Tuan Albert?"
Sambil berjalan di lorong yang panjang, Ignis tiba-tiba bertanya. Tumben sekali.
"Ada apa, Ignis?"
"Err, bagaimana hubungan Anda dengan Kak Freya?"
"Kenapa memangnya? Kamu khawatir?"
"I-Iya"
"Hmm, siapa yang kamu khawatirkan? Aku? Freya?"
"T-Tentu saja, Anda dan Kak Freya."
Ignis berbicara dengan suara bergetar, mungkin takut pertanyaan telah membuatku terganggu. Tapi aku senang karena dia sudah mau mengkhawatirkan kami.
Kami masih berjalan. Karena Ignis sedang menuntunku di depan, wajahnya jadi tidak terlihat. Oleh karena itu, aku langsung menarik rambut panjangnya agar dia berhenti berjalan.
Rambut itu cukup halus. Aku heran dia sebenarnya laki-laki atau perempuan.
"Agh!"
Dia berteriak. Kemudian langsung berbalik menghadap ke arahku dan... Bersujud.
"Ma-Maafkan aku, Tuan Albert. Aku telah bertanya tentang hal yang tidak penting!!"
Dia ketakutan.
__ADS_1
Padahal ketika dia berteriak saat aku menarik rambutnya, itu cukup membuat aku terkejut. Ada rasa sedikit ngeri yang tiba-tiba muncul karena tubuh Ignis sangat besar.
"Angkat kepalamu. Aku menarik rambutmu karena ingin melihat wajahmu. Dan juga, ketika sedang berbicara, kamu harus melihat ke wajah lawan bicaramu itu, tahu! Jika Merlin melihatmu seperti itu, kamu akan... Di... Eh? Ada apa denganmu, Ignis!?"
Aku baru saja mau menceramahi Ignis, tapi dia sudah menangis duluan. Tidak, mungkin baru mau? Matanya saat ini terlihat berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Tuan Albert."
Sambil merasa bersalah, Ignis berusaha menghilangkan air di matanya.
(Tunggu, apakah dia tidak tidak ingin melihat ke arahku karena itu?)
Jika itu benar, aku merasa sangat bersalah karena sudah menarik rambutnya.
"Tidak, itu bukan salahmu. Tapi kenapa kamu menangis?"
"I-Ini hanya kelilipan, Tuan Albert. Aku baik-baik saja."
"Mana ada kelilipan sampai seperti itu!? Ditambah lagi, wajahmu memerah, tahu? Kenapa kamu menangis, cepat katakan padaku?"
"S-Sebenarnya, aku melihat Kak Freya pergi ke rumahnya. Aku berfikir bahwa dia tidak akan kembali lagi."
Ignis akhirnya mau berkata jujur, itu membuatku sangat terkejut.
Terlebih lagi, dia benar-benar mengkhawatirkan Kakaknya, Freya, dan berakhir salah paham.
Yah, dia melihat kami bertengkar kemarin dan belum mengetahui kalau kami sudah berbaikan.
Sigh, baiklah. Ini hanya salah paham, tapi sejak awal aku yang telah membuat masalah itu, sekaligus membuat Ignis khawatir.
Oleh karena itu, aku memeluknya agar dia tenang. Meski tubuhnya sangat besar, wajahnya masih terlihat muda. Itu membuatku tidak ragu untuk memeluknya.
Terlebih lagi, dia adalah keluargaku. Jadi aku tidak merasa malu sama sekali. Mungkin jika itu William, aku masih akan berfikir dua kali untuk memeluknya.
"Tenang, Ignis. Kamu hanya salah paham. Freya pergi ke rumah orangtuanya bukan karena masalah kemarin, melainkan karena ingin bertemu dengan anak-anak."
Sambil menepuk punggung Ignis, aku menjelaskan dengan singkat.
"Lalu, masalah kalian kemarin bagaimana?"
"Sudah selesai. Aku sudah meminta maaf dengan benar karena aku yang bersalah."
Aku menjawab pertanyaan Ignis, kemudian dia menjadi diam beberapa menit. Dan melanjutkan...
"Be-Begitu, ya."
"Ya, seperti itu. Jadi berhentilah menangis, ok?"
"Err, Tuan Albert?"
"Kenapa?"
"B-Boleh aku memeluk Anda?"
...
...
...
Hmm, aku tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Ignis.
"Boleh, tentu saja. Kamu boleh melakukan hal itu bahkan jika tidak bertanya lebih dulu."
Atau lebih baik jika dia tidak perlu bertanya karena aku sangat risih mendengar pria ingin dipeluk oleh pria.
Meski aku sudah menganggap Ignis sebagai keluarga sendiri, aku masih merasa merinding mendengar pria meminta hal seperti itu dengan malu-malu.
Mendengar jawabanku, ignis langsung memelukku dengan kencang. Membuat aku terkejut.
"Se-Seperti yang diharapkan, badanmu sangat besar, ya. Ignis."
Aku dipeluk dengan erat oleh badan besarnya. Itu sedikit memberikan tekanan di banyak tempat hingga membuat aku cukup kesulitan.
"Ah! Maaf, Tuan Albert. Aku bisa mengecilkan tubuhku."
Ignis merasa bersalah.
"Tidak, bukan itu masalahnya. Tapi kalau diingat lagi, kamu memang bisa merubah tubuhmu, ya?"
Mengingat kemampuan itu membuat aku kepikiran kalau Ignis bercinta dengan Clara pasti harus mengecilkan tubuhnya.
Atau, Clara memang lebih menyukai yang besar? Lagipula, Ignis selalu menggunakan bentuk tubuh besar itu. Jadi ada kemungkinan kalau Clara memang mengincar ukuran itu.
"Apa Anda ingin aku mengecilkan tubuhku, Tuan Albert?"
Ignis memberi penawaran.
(Hm? Mengecilkan tubuh? Akan jadi seperti apa tubuh Ignis jika dikecilkan? )
"Baiklah, aku ingin melihatnya."
"Lebih baik seukuran William atau Leon?"
"Oh, mungkin lebih bagus jika seukuran Leon."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
Dengan begitu, Ignis mengecilkan tubuhnya ke seukuran bentuk tubuh Leon.