Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Pendant Keluarga.


__ADS_3

"Lihat itu! Ada pertunjukan sulap jalanan!!"


"Alice, tujuan kita ke sini untuk membeli perbekalan, tahu! Jangan bertindak sendiri atau kamu akan tersesat!!"


"Tuan Putri Alice!!" ×2


Saat Alice tiba-tiba berlari ke arah kerumunan orang yang sedang menonton sebuah pertunjukan pesulap jalanan, Eren meneriakinya. Di sana, Davies dan Peter langsung mengejar Alice.


"Ya ampun, anak ini."


"Biarkan saja, Peter bersama dengannya. Lebih baik kita langsung mencari bahan-bahan yang dibutuhkan."


Sebagai kakaknya, Eren kerepotan dengan tingkah Alice. Walaupun sebenarnya dia sudah menduga kalau Alice memang bakal merepotkan.


Semua keluarga tahu tingkah Alice seperti apa, dan untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan, Peter akan selalu bersama di sisi Alice. Dari keempat pengawal, hanya dia satu-satunya yang bisa membaca pergerakan tanda di peta kastil (Cermin Map).


Singkatnya, Alice tidak akan tersesat selama dia bersama dengan Peter. Tapi karena hal itu, Peter sekarang memiliki tanggung jawab yang besar.


Sekarang, semua orang sedang berada di pusat perbelanjaan ibukota Jyezi, negara Qzanth. Untuk mempercepat pengumpulan persediaan bahan makanan, mereka membagi kelompok menjadi beberapa tim dan berpencar.


Di kolam air mancur, Alice bersama Davies dan Peter sedang menonton pesulap, mereka hanya akan menunggu sampai yang lain selesai berbelanja. Kemudian Eren, Claris, dan Natalie akan pergi ke barat, sedangkan Atla dan Isabella pergi ke timur.


"Di distrik perbelanjaan timur, katanya kita akan menemukan penjual daging, whey, dan rempah-rempah."


"Kamu tahu dari siapa?"


"Aku mendapatkan informasi itu dari para maid."


"Kenapa maid memberikan informasi seperti itu kepadamu?"


"Aku dengar kalian baru pertama kali datang ke sini. Jadi sebelum kita pergi ke sini, aku bertanya kepada mereka."


"Oh, begitu rupanya."


Isabella dengan semangatnya menjelaskan hal itu kepada Atla. Atau sebenarnya, dia sudah sangat bersemangat sejak keluar dari rumah karena bisa ke ibukota dengan Atla dan yang lainnya.


Ketika ada sesuatu yang Isabella tidak ketahui, dia akan menunjuknya dan bertanya dengan mata berbinar kepada Atla. Mungkin untuk sebagian orang mereka akan kerepotan menghadapi orang sejenis Isabella, namun Atla justru menikmati perjalanan tersebut dengannya.


(Seharusnya, dia yang menunjukkan berbagai hal tentang negaranya sendiri ini kepadaku, tapi aku yang justru menjelaskan berbagai hal kepadanya. Yah, mau bagaimana lagi...) —Atla tahu sebelum Isabella bertemu dengan Albert, sejak kecil Isabella tidak pernah pergi meninggalkan rumah karena tubuhnya yang lemah. Jadi dia membiarkan Isabella bertanya-tanya seperti itu.


"Kamu menikmatinya?"


"Ya, saya sangat menikmatinya!"


"Itu bagus."


"Saya juga menantikan petualangan kita!"


"Oh, semangatnya. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke negara berpantai di tenggara. Katanya di sana ada banyak jenis makanan enak."


Setelah Atla mendapatkan izin dari ayah Isabella pagi tadi untuk membawa Isabella pergi berpetualang dengannya, dia langsung memutuskan untuk berangkat pergi. Itu sebabnya sekarang mereka sedang berada di pasar dan mempersiapkan perbekalan untuk petualangan jauh mereka.


"Tapi kenapa ke tenggara? Selain negeri ini, semua negara di pulau ini berada di pesisirnya, loh."


Di pulau ini, Qzanth berada di tengah pulau. Dan negara-negara lainnya barada di sisi-sisinya.


"Dari pelabuhan di negara di tenggara, kita bisa langsung pergi ke Kekaisaran Karamia dengan kapal untuk menjemput Cecilia. Aku ingin kita semua berkumpul dulu sebelum memulai petualangannya."


"Ah, jadi begitu rupanya. Berarti, setelah kita menjemput Cecilia, kita akan pergi ke negari seribu pulau di timur untuk menjemput Akane?"


"Ya."


"Wah! Sekarang aku baru sadar kalau kita akan pergi ke tempat yang sangat jauh seperti itu."


Ternyata sudah sejauh ini dia bersemangat berbicara tentang petualangan, tapi tidak memikirkan tujuannya sama sekali. Sebenarnya, apa yang dia pikiran selama ini membuat Atla bertanya-tanya.


"Kenapa, kamu takut?"


"Te-Tentu saja tidak! Ini hanya membuat hatiku berdebar."


Untuk anak yang bahkan tidak pernah pergi keluar pintu gerbang sepertinya, pasti memiliki sedikit kecemasan mengetahui dia akan pergi keluar negeri. Tapi, itu termasuk bagian dari pengalaman berpetualang, jadi Atla akan membiarkannya.


"Hei, ayo kita cepat-cepat belanjanya dan kembali ke tempat yang sudah dijanjikan."


"Baik, Leader!"


Dengan itu, mereka mempercepat belanjanya. Membeli barang yang sudah dicatat dalam memo dan memasukkannya ke dalam tas dengan kapasitas ruang penyimpanan.


Setelah selesai, mereka berjalan kembali ke tempat awal dimana Alice sedang menonton pertunjukan sulap. Tempat perjanjian, Kolam air mancur. Tapi...

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Mereka bertemu dengan beberapa orang tidak dikenal sedang menghadang jalan mereka. Dua orang yang menghadangnya bersenjata, satu orang di dekat kereta, dan satu kereta yang mungkin di dalamnya terdapat dalang dari orang-orang tersebut.


Untuk Atla, ini bukan pertama kalinya dia mendapatkan masalah di dalam kota. Kedua ibunya dan kakak-kakak perempuannya sangat cantik, jadi terkadang kelompok mereka sering diberhentikan oleh orang-orang yang berkhayal ingin mendapatkan mereka.


Jadi sekarang, Atla berpikir kalau dia sedang menemui orang bodoh seperti itu.


Pria di dekat kereta itu memasukkan kepalanya ke dalam kabin, mungkin sedang melapor.


"A-Atla..."


"Tidak apa-apa, percayakan saja semuanya padaku."


"Um."


Atla menenangkan Isabella yang tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, seperti kakak perempuan yang sedang menjaga adiknya. Tapi, Atla memang memiliki badan lebih besar daripada Isabella, itu membuatnya secara naluri mau berlindung dibalik Atla.


Tidak lama kemudian, seorang pria berpakaian mewah muncul dari dalam kabin kereta. Dia muda, rambutnya berwarna pirang, dan agak tampan juga.


"Lama tidak bertemu, Isabella."


Sapa pria muda itu. Atla sedikit kaget mengetahui pria itu ternyata mengenal Isabella.


"Ah, dia ini."


"Kamu mengenalnya?"


"Dia si pangeran kedua, kalau tidak salah namanya..."


Isabella berusaha mengingat namanya, dan membuat semua orang menunggu.


"Alan lra bour Qzanth!"


"Ya, kalau enggak salah namanya seperti itu."


"Hei, itu tidak sopan melupakan nama pangeran dari kerajaanmu sendiri!"


Alan merasa tersinggung. Melihat itu, kedua orang bersenjata glaive – yang tampaknya adalah pengawal si pangeran – mengarahkan senjatanya kembali ke arah mereka berdua. Itu membuat Isabella takut, tapi Atla tidak menanggapinya sama sekali.


Dia benar-benar sudah terbiasa dengan orang-orang semacam itu. Hanya perlu sedikit ancaman, mereka nanti akan mengerti dan pergi. Akan tetapi, kasus kali ini sepertinya tidak akan semudah itu.


"Kalian membuat Isabella takut, sebenarnya ada urusan apa kalian menemui kami?"


"..." ×2


Sudah diduga itu akan terjadi, pikir Atla. Untuk beberapa saat, dia sempat mengira kalau tebakannya mungkin salah karena dia pikir mungkin saja pria itu memberhentikan mereka hanya karena ingin menyapa, tapi ujung-ujungnya tebakan ternyata benar.


"Atla, dia hanya orang mesum yang selama ini mengincarku untuk menjadikanku sebagai istrinya. Walaupun aku sudah pernah menolak lamaran pernikahan darinya, dia tetap mengirim surat kepadaku yang isinya ajakan pernikahan. Lihat, dia habis keluar dari gang itu kan, di sana sebenarnya adalah tempat pelacuran."


"Oi! Aku mendengarmu, loh!"


Tanpa memperdulikan pihak lain, Isabella menjelaskan dengan polosnya. Kemudian Atla melihat ke arah gang yang dia tunjuk, lalu menemukan plang bertuliskan distrik hiburan di persimpangannya.


Ini masih siang hari, ada urusan apa seorang pangeran berada di tempat seperti itu. —pikiran Atla yang agak melenceng.


"Isabella! Apa kau tidak tahu kalau menyinggung keluarga kerajaan bisa membuatmu berada dalam masalah? Cepat minta maaf!"


"Uh, aku..."


Isabella pernah mendengar hal itu sebelumnya, dimana siapapun yang berani menyinggung keluarga kerajaan akan mendapatkan hukuman berat, bahkan bisa dieksekusi tergantung situasinya. Tapi mempertimbangkan Isabella yang berasal dari keluarga Adipati, menyinggung keluarga kerajaan tidak akan membuatnya dihukum berat. Palingan hanya akan membuat nama ayahnya menjadi buruk, di bagian itu Isabella khawatir.


"Isabella!"


Alan terus menekan Isabella, para pengawalnya juga ikut mengintimidasi supaya Isabella mau meminta maaf.


"Cepat minta maaf, Isa--"


"Ya, ya, ya. Cerewet banget 'sih jadi laki-laki! Kami minta maaf karena sudah menyinggungmu. Dan untuk ajakan menikahmu, aku tidak tertarik. Sejak awal aku bukan orang dari negara ini, aku tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkan ucapanmu. Sekarang menyingkirlah! Kami sedang terburu-buru!"


Tidak tahan dengan sikap pangeran itu yang menjengkelkan, Atla menginterupsi pembicaraannya. Di sana Isabella melihat Atla seperti sedang melihat orang dewasa, dia mengaguminya dengan mata berbinar.


"Ka-kau...!"


"Kenapa?"


Alan kehabisan kata-kata. Itu pasti tidak terduga bagi seorang pangeran mendapatkan bantahan langsung di depan wajahnya.


"Kalian tidak bisa pergi begitu saja dari sini. Karena kalian telah menyinggung keluarga kerajaan, kalian harus menghadap Yang Mulia Raja. Atau kalian akan dieksekusi ditempat sebagai bentuk pemberontakan terhadap keluarga kerajaan."

__ADS_1


"E-Eksekusi!?"


Seorang pria yang sejak awal berada di samping pangeran, akhirnya berbicara dengan mereka berdua. Dia adalah pria mencurigakan yang sejak awal senyum-senyum sendiri seperti penjahat yang sedang memikirkan rencana licik. Sebenarnya, orang yang selalu Atla waspadai adalah pria tersebut.


"Kami tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan raja."


"Apa itu?"


Atla menunjukkan liontin keluarganya, dan membuat pria itu bertanya.


"Aku berasal dari keluarga Testalia."


"... Lalu apa?"


"Ha!? Tidak mungkin...."


Seperti orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa, pria itu menjawabnya. Itu membuat Atla tersentak, terkejut karena reaksinya tidak seperti apa yang dia kira.


(Bukannya Ayah bilang benda ini bisa berguna di situasi seperti ini?) —Untuk pertama kalinya Atla merasa seperti telah dibohongi oleh Ayahnya di luar candaan. Atau kalung itu memang hanya sekedar candaan? Atla mulai mempertanyakan kredibilitas ayahnya.


Isabella juga sempat terkejut. Keluarga Atla tidak mungkin tidak dikenal oleh orang-orang dari istana, tapi pria itu seperti benar-benar tidak tahu apa yang telah dia lakukan. Karena pria itu, Atla menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sedang tersipu malu.


"Pangeran Alan, untuk menentukan hukuman apa yang pantas mereka dapatkan, kita harus membawa mereka ke pengadilan."


"Hah? Pengadilan? Apa memang seserius itu?"


Pangeran kedua baru saja meragukan saran pengawalnya sendiri. Kemudian pengawalnya mendekatkan wajahnya ke telinga pangeran untuk membisikkan:


"Jangan khawatir, Pangeran Alan. Kita membawa mereka ke istana bukan untuk menghukum mereka. Dengarkan aku, kita bisa menggunakan alasan ini untuk mempertemukan mereka dengan ayah Anda, lalu meminta Yang Mulia untuk menikahkan mereka dengan Anda sebagai hukumannya. Bagaimana? Bukankah itu rencana yang bagus?"


(Tidak bagus sama sekali! Mana mungkin raja akan melakukan hal bodoh seperti itu?) —Pikir Atla yang masih menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.


"Wah, itu ide yang sangat bagus, Putu!"


(DIA SETUJU!!?) —Atla terkejut dalam hati dan mulai mengangkat wajahnya. Dia tidak menduga kalau pangeran dari kerajaan lain akan sebodoh itu, dan ternyata nama pria itu juga sama konyolnya dengan rencana yang baru saja dia buat! Bukankah itu nama kudapan? Orang tua mana yang memberikan nama itu untuk anaknya sendiri?


"Baiklah, karena sikap kasar kalian barusan, kalian berdua harus menghadap Yang Mulia Raja! Pengawal... Eh?"


Alan ingin memberi pengawalnya perintah, namun ucapannya terhenti ketika melihat Atla memiliki rona merah pada wajahnya. Dengan rambut merah muda yang dia punya, tersipu seperti itu membuatnya semakin manis dan cantik. Alan baru saja terpana dengan kecantikannya.


"Cantiknya..."


"Ha?"


Alan tanpa sadar mengucapkan isi hatinya.


"Ah, tidak. Pengawal, cepat, ikat mereka! Fufu, mereka berdua akan menjadi milikku."


Seolah-olah semuanya sudah menjadi kenyataan, Alan memiliki tawa kemenangan. Kemudian Pengawalnya menuruti perintahnya dan mendekati Atla dan Isabella.


"Tunggu! Kalian, apa kalian benar-benar tidak mengenal keluarga Testalia? Apa tidak ada yang memberitahu kalian tentang keluarga tersebut? Tidak mungkin Yang Mulia Raja tidak tahu tentang keluarga Atla!"


"Ha? Apa maksudmu, Isabella?"


Alan yang sedang menghayal telah mendapatkan dua wanita cantik, diganggu oleh Isabella. Itu membuat raut wajahnya berubah seketika, tapi Isabella tidak peduli dengannya.


"Pangeran Kedua, Anda hanya akan dimarahi oleh Yang Mulia kalau Anda berani mengusik Atla, tahu!"


"Kenapa?"


"Kenapa Anda bilang? Julukan Anda sebagai Pangeran bodoh ternyata benar! Kenapa Anda tidak bertanya langsung pada Yang Mulia Raja, ayahmu sendiri. Nanti Anda akan tahu jawabannya."


Alan menegang untuk sesaat karena gertakan Isabella, namun kesal setelahnya saat dia sadar telah dipanggil bodoh.


"Putu, apa kau benar-benar tidak tahu tentang keluarga gadis itu?"


"Pa-Pangeran, aku benar-benar tidak mengetahuinya!"


Untuk mencari kepastiannya, Alan bertanya kepada Putu. Sayangnya Putu tidak terlalu berguna.


Sekarang dia menjadi panik. Isabella adalah anak keluarga Duke, ucapannya memiliki kredibilitas. Bahkan jika Isabella berbohong hanya untuk menakuti dirinya, Isabella hanya akan mempermalukan nama keluarganya sendiri karena berani berbohong besar di tengah-tengah pasar seperti ini.


"Cih, Isabella! Kalau kamu berbohong, kamu akan tahu sendiri akibatnya! Kalian semua, ayo kita kembali."


Takut dengan ancaman Isabella, Alan pergi meninggalkan mereka berdua. Akibat perdebatan mereka, area di sekitar mereka sempat ramai. Dan bubar setelah pangeran kedua pergi.


"Fiuh, syukurlah mereka sudah pergi."


"Y-Yah. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak akan pernah menggunakan barang ini lagi. Ayo kita cepat kembali."

__ADS_1


"Baik, Leader!"


Sambil menyembunyikan liontinnya di saku, Atla pergi bersama Isabella meninggalkan area tersebut dengan terburu-buru.


__ADS_2