Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".

Karena Cokelat, Aku Pergi Ke "Dunia Lain".
Rasionalitas.


__ADS_3

Tiba di lokasi terakhir eksplorasi tim pelopor.


Mayat naga berukuran raksasa sedang terbaring di antara celah lembah.


Lembah ini sangat besar untuk manusia, namun cukup sempit untuk naga raksasa tersebut.


Sebagian tubuhnya sudah membusuk dan memperlihatkan tulang. —Ini adalah undead yang aku maksud, dimana roh-roh jahat memasuki mayat dari bangkai monster dan menjadikan mayat itu sebagai media untuk bisa mempertahankan keberadaannya di dunia.


Berbeda dengan Olivia, dia mengutuk dirinya sendiri agar bisa hidup abadi.


Kekurangan menjadi Undead adalah proses metabolisme tubuh sudah tidak berfungsi lagi. Menciptakan keadaan stagnasi pada tubuh dan perlu dijaga dengan sihir.


Beruntung Olivia menjadi Undead ketika dia sudah dewasa. Jika dia dalam bentuk anak-anak, dia pasti tidak akan pernah berkembang lebih jauh lagi.


Aku ingin sekali merubah Olivia menjadi makhluk hidup kembali. Maksudku, menjalankan kembali proses metabolisme di tubuhnya itu.


Bagaimanapun, tubuh itu pasti dingin karena darah dan jantung tidak bekerja.


Yah, itu bisa menjadi urusan nanti. Sekarang, mayat naga di depan kami sudah dalam keadaan membusuk. Sejak William menemukannya, dia memang sudah seperti itu.


Namun, bentuk naga ini sedikit aneh, berbeda dengan bentuk naga Luminous, padahal ukuran mereka sama.


Pada tengkorak bagian kepala, dia memiliki empat tanduk dan semacam kristal di keningnya.


"Tuan Albert?"


"Ah... Ya, ayo mulai bereskan tempat ini."


"Dimengerti."


Aku mulai melamun.


Entah kenapa, naga ini terlihat tidak asing. Daripada penasaran, aku lebih memilih untuk membawanya, meski sudah membusuk.


Melanjutkan perjalanan, Mozes menggunakan kemampuannya untuk merontokkan batu kristal Ajaib di dinding atau lantai, dan kami hanya perlu mengemas sejumlah benda itu. Mozes sangat membantu.


Ngomong-ngomong, di lembah ini, kepadatan sihir atribut iblis sangat tinggi. Itu menandakan bahwa Dungeon ini benar-benar merupakan dimensi terpisah dari dunia Roh.


Karena Freya dan Kaguya sangat tidak nyaman berada di sini terlalu lama, kami melanjutkan perjalanan menuju ke lantai 71.


Kami tiba di daerah pegunungan bebatuan, dibentangi dengan lereng yang curam. Jika tidak berhati-hati, Mozes mungkin bisa terpeleset dan jatuh ke dasar lembah.


Tidak hanya monster, Dungeon ini tidak terduga memiliki medan ekstrem sebagai pertahanan ekstra.


Karena keadaan sudah hampir gelap, kami memutuskan untuk beristirahat. Kupikir, waktu di dalam dan di luar Dungeon hampir sama.


Oleh karena itu, aku menghubungi tim lain melalui jaringan Hydra dan menanyakan tentang keadaan mereka.


Hasilnya, mereka terlihat baik-baik saja, namun mereka belum menemukan kuda Legendaris.


Mendengar itu membuat aku teringat kembali tujuan kami datang ke Dungeon ini. Hydra ingin bertanya kepada penghuni dari Dungeon ini.


Menilai Dungeon ini begitu besar, dia pasti merupakan monster raksasa yang hebat. Sampai bisa dikenal oleh Hydra, dia tentunya menjadi monster terkemuka.


Tunggu, bagaimana jika dia monster sekaliber Hydra? Bukankah itu akan menjadi pertarungan yang sulit?


Tetapi, kami memiliki keunggulan. Hydra pernah mengatakan bahwa Party kami bisa membuat dia kerepotan. Jika seperti itu, aku hanya perlu menambahkan jumlah anggota Party untuk mendapatkan dukungan.


Ditambah dengan Hydra, aku sangat yakin kami pasti bisa menghadapi lawan apapun.


Menggunakan Jaringan Hydra, aku mulai melacak keberadaan tim yang lain. Setelah berhasil mendapatkan lokasi mereka, aku membukakan Gerbang Transfer dan menyuruh ketiga tim lain untuk bergabung dengan kami.


Kami lebih memprioritaskan keselamatan. Karena hari akan menjadi gelap, kami akan bermalam bersama dan memfokuskan kekuatan untuk menumpas Dungeon ini.


Kemudian...


"""Tuan Albert!!"""


Mereka semua sangat gembira karena kita telah bersatu kembali. Aku agak tersentuh di sana.


"Tuan Albert, lihat ini..."


Luminous membawa hewan kecil berwarna oranye di tangannya dan mengarahkan hewan itu kepadaku.


Itu adalah seekor rubah, ukurannya masih anak-anak dan sedang tertidur. Pasti, Rubah itu merasa terganggu karena Luminous.


"Ada apa, Luminous?"


"Coba Anda lihat dia dengan baik."


Kata-katanya membuat aku penasaran.


Kenapa tidak kau jelaskan saja semuanya agar lebih cepat?


Aku ingin sekali menyuarakan itu, tapi berhenti dan memeriksa kondisi rubah kecil di tangannya.


[SP: 1.649.285]


Hal seperti ini langsung muncul di dalam kepalaku.


"Oi, Oi, hewan apa ini?"


"ini adalah rubah, Tuan Albert."

__ADS_1


"Tidak, bukan itu yang aku maksud. Kenapa rubah kecil ini bisa mempunyai nilai sebanyak itu!?"


Entah kenapa, anak ini (Luminous) membuat aku kesal.


"Kufufu, ketika sedang berburu, aku ingat dengan anak ini dan memutuskan untuk mencari dia."


Luminous memberikan jawaban di luar pertanyaan.


"Luminous mengatakan ingin menunjukkan sesuatu kepada Tuan Albert. Karena dia mengatakan itu sesuatu yang penting dan mungkin akan berguna bagi Anda, maka saya mengikuti keinginannya."


Julius ikut berbicara sebagai pemimpin tim.


"Berguna untukku?"


"Benar, Tuan Albert. Saya tidak tahu di mana orang tua anak ini, tetapi dia sangat kuat. Saya yakin dia akan berguna bagi Anda."


Dengan wajah penuh semangat, Luminous mengajukan sarannya.


Rubah itu memiliki banyak energi Mana, sudah pasti dia akan berguna. Bahkan jika dia tidak melakukan apapun, kami hanya perlu menaruh dia di dalam gedung Familiar agar rembesan Mananya dapat kami serap. Bagaimanapun juga, dia adalah monster, bukan makhluk spiritual.


Aku mengambil rubah itu dari tangan Luminous. Anehnya, dia sangat tenang dan tidak melawan.


"Terima kasih, Luminous. Jika dia ingin tinggal bersama kami, maka aku akan merawatnya dengan baik. Jika tidak, kita harus mengembalikan dia ke tempat asalnya. Kamu mengerti, kan?"


"Dimengerti, Tuan Albert."


Jika dia mengamuk dan membuat resah para Familiar lainnya, lebih baik aku tidak merawat dia sejak awal.


Aku tidak ingin Alfred dan Saber mendapatkan pekerjaan tambahan karena harus mengurus hewan bermasalah.


Atla dan Eren melihat ke arah rubah di tanganku dengan diam. Aku yakin, mereka sangat ingin mengelus rubah kecil ini.


Yah, aku sendiri sedang mengelus rubah ini. Dia tidak melakukan hal apapun selain tidur.


Apa dia anak yang malas? Atau karena faktor lain?


«Saya rasa, dia tidak pernah makan.»


«Kamu mengetahui sesuatu?»


«Saya hanya asal menebak. Monster masih bisa hidup bahkan tanpa makan, tapi bukan berarti mereka tidak memerlukan makanan. Mereka masih membutuhkannya untuk mengisi pasokan Mana mereka. Jika mereka tidak makan, jangka hidup mereka tidak akan lama dan hanya berbaring lemas seperti ini.»


Kedengarannya cukup memprihatinkan.


Aku mencoba memberikan dia sepotong daging, namun dia langsung memalingkan wajahnya dari daging tersebut.


Seperti anak-anak sedang masa pubertas, mereka hanya memikirkan kesukaan dan keinginan egoisnya. Tidak dapat berfikir jernih dan melupakan kepentingan diri sendiri.


Tiba-tiba Atla dan Eren datang ke arahku, mungkin sudah tidak tahan hanya dengan melihat kami dan langsung ikut mengelus rubah itu.


"Makan daging itu. Kamu tidak akan tumbuh besar jika tidak makan."


Atla menasihati si rubah. Apakah rubah itu dapat mengerti nasihatnya, masih belum diketahui.


"Ya, Ayah memiliki banyak makanan. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


Eren ikut memberi dorongan dengan kalimat persuasif.


Kemudian, rubah itu melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan melankolis.


"Kenapa kamu tidak membutuhkan makanan?"


Tiba-tiba, Eren berbicara seolah-olah sedang berinteraksi dengan si rubah.


Tidak, sepertinya, dia memang benar-benar sedang mengobrol dengan rubah tersebut. Rubah itu pasti menggunakan semacam telepati kepada Atla dan Eren. Jadi kami tidak bisa mendengar mereka.


Namun, bukan berarti kami tidak bisa memasuki jaringan telepati si rubah itu. Jika Hydra mau, dia bisa meretas jaringan komunikasi diantara mereka.


Sementara mereka bertelepati, anggota keluargaku menyiapkan makanan untuk makan malam.


Mengetahui kami pergi, para koki di dapur kastil pasti tidak membuatkan porsi untuk kami.


Mengingat hal ini membuat aku penasaran, apakah kita bisa membuka pintu ruang harta kami di sini?


«Saya pikir, itu bisa dilakukan. Tetapi harus ada seseorang yang menjaga pintu agar tidak dihancurkan oleh monster ketika kalian kembali ke kastil.»


«Begitu, ya.»


«Yah, Anda bisa menyuruh para Familiar untuk berjaga, mereka pasti bisa mengatasi monster di area ini. Untuk keamanan tambahan, saya akan mengawasi mereka juga.»


«Hm, baiklah, kita pakai cara itu.»


Aku tidak tahu kalau perburuan kami akan memakan waktu lebih dari sehari.


Yah, ini bukan seperti aku menganggap mudah misi dalam pencarian kuda Legendaris.


Selain itu, tanpa kecepatan kuda Legendaris, mungkin kami memerlukan lebih banyak waktu untuk mencapai ke lapisan 70 ini.


"Begitu rupanya. Tapi kamu tetap harus makan untuk terus hidup."


Atla, Eren, dan anak rubah melanjutkan pembicaraan mereka.


"Kami mengerti perasaanmu. Kami juga pernah kehilangan orang yang kami sayangi, dan kemudian Ayah, Ibu, dan Mama datang menjemput kami. Kami sangat senang karena mereka mau menjadi orang tua kami."

__ADS_1


Atla dan Eren menatap aku dengan tersenyum.


Awww, anak-anak yang manis. Aku tidak menyangka mereka sudah tumbuh besar seperti sekarang dan mengerti hubungan kekeluargaan.


Namun, kalimat di atas entah kenapa sangat aneh didengar. Itu bukan seperti dia mengganti kosakata di tengah kalimat, tetapi mereka memang memiliki dua kata berbeda untuk mengarah ke dua individu berbeda, padahal artinya masih tetap sama.


Lupakan itu, melihat Atla dan Eren, anak rubah ikut menatap aku dengan pandangan mengamati.


"Kalau boleh jujur, aku sebenarnya tidak terlalu mengerti perasaan kehilangan orang tua. Namun, aku tahu rasanya berpisah dengan mereka. Semuanya menjadi terasa sepi karena tidak ada mereka. Tapi perlu diingat, orang tua kita lebih menyukai jika kita hidup dengan baik di dunia. Aku telah mengerti hal seperti ini setelah merawat Atla dan Eren."


Di sana, aku mengelus kedua rambut mereka. Menyuruh mereka agar lebih dekat denganku dan memeluk mereka.


Posisi aku sedang duduk di atas tikar, dan mereka berdua perlu merangkak agar bisa duduk di sebelahku.


Mendengar pembicaraan Atla dan Eren, aku menyimpulkan bahwa anak rubah ini telah kehilangan orang tuanya. Memaksa untuk tidak makan agar cepat mati dan menyusul kepergian mereka.


Sepertinya dia tidak pernah diserang oleh monster lain karena energi mana di tubuhnya terlalu besar. Itu membuat monster lain takut untuk mendekat.


Di atas pangkuanku, anak rubah itu menatap aku dengan mata melebar, mungkin sedang terkejut.


"Benar juga. Kenapa Ayah tidak menjadikan dia sebagai anakmu juga?"


"Benar, Ayah. Aku pikir dia anak yang baik."


Kedua putriku secara tiba-tiba menyatakan sesuatu yang absurd.


Menyuruhku untuk mengadopsi seekor rubah sebagai anak? Apa akal sehat milikku akan dipertanyakan jika aku menerima penawaran ini?


Tapi rubah ini tidak bisa disamakan dengan hewan biasa pada umumnya. Dia bisa berbicara dan memiliki kecerdasan. Meski dia berbentuk hewan, dia sudah tergolong sebagai makhluk yang kuat.


Apa aku harus menerima proposal aneh ini?


"Dengar, anak-anak. Kita tidak bisa memutuskan semuanya secara sepihak. Jika dia tidak menginginkannya, kita tidak boleh memaksa. Tapi..."


Aku mengelus tubuh anak rubah itu lagi dan melanjutkan...


"Jika kamu ingin bergabung dengan keluarga kami, tentu saja kami akan menyambut kamu dengan hangat. Jadilah keluargaku dan tetap hidup. Aku sangat yakin, orang tuamu pasti lebih menginginkan kamu hidup lebih lama dan bahagia."


Tidak, aku berbohong. Mana mungkin aku bisa mengetahui pemikiran dari makhluk yang sudah mati?


Itu hanya sekedar kalimat persuasif untuk mendorong dia agar mau bergabung dengan kami.


Dalam arti tertentu, ini seperti tindakan kejahatan. Namun, aku tidak ingin dia mati begitu saja. Bagaimanapun, dia adalah seekor rubah aneh dengan kekuatan abnormal. Mungkin saja, cuma dia satu-satunya spesies rubah dengan kekuatan seperti ini.


Setelah mendengar kalimatku, rubah itu mengeluarkan air mata, seperti sedang menangis.


Tidak, dia memang menangis. Aku hanya tidak terlalu mengerti bagaimana perasaan hewan.


"Semua akan baik-baik saja mulai sekarang, aku berjanji."


Sambil mengatakan hal tidak bertanggung jawab seperti itu, aku berusaha menghapus air matanya dengan sapu tangan.


Dia menangis untuk beberapa menit dan kemudian tertidur dengan lelap.


Anak ini sudah menjalani kehidupan panjang hanya dengan sendirian. Dia pasti sangat kesepian dan selalu dilanda berbagai macam rasa tidak nyaman.


Jika aku benar, mungkin rasa tidak nyaman itu telah menghilang. Menghasilkan air mata karena sudah terbebas dari suatu perasaan dan tertidur karena merasa lega.


Itu hanya hipotesis dariku yang tidak mendasar, tapi pada kenyataannya, banyak sekali manusia yang mengalami hal serupa.


Yah, ini bukan seperti aku menyamakan manusia dengan hewan. Hanya, jika rubah ini memiliki hati, perasaan seperti itu pasti akan muncul.


Aku menyerahkan perawatan anak rubah itu kepada Atla dan Eren.


Karena dia tertidur disebabkan oleh kelelahan psikologis, kami tidak boleh membangunkan dia sekarang.


Memahami ini, Atla dan Eren membiarkan rubah itu agar tetap tertidur dan menaruh dia di atas selimut agar tidak kedinginan.


...


Hmm, aku tidak menyangka anak ketiga kami adalah seekor rubah.


Aku makan malam sambil memikirkan hal tersebut.


Selama kami berbicara dengan rubah, tukang masak sudah menyelesaikan hidangan makan malam kami.


Tukang masak itu adalah Ignis. Menggunakan semua pengalamannya sebagai koki di dalam game dan dengan menerapkan api yang terkontrol, dia dapat menciptakan makanan lezat dari bahan baku yang baru saja kami dapatkan.


"Setelah makan, apa kita akan melanjutkan perburuan?"


Freya bertanya mewakili semua orang.


"Kita akan melanjutkan perburuan besok pagi. Sangat berbahaya jika kita berburu pada malam hari seperti ini."


Benar, sekarang hari sudah gelap.


Kami menggunakan alat penerangan dari inventaris kami masing-masing untuk sementara.


Selain itu, Atla dan Eren tidak cukup ahli dalam membuat pertahanan sendiri. Akan berbahaya jika ada serangan proyektil anti deteksi dari monster dan menyerang ke arah mereka.


Meski aku sangat yakin hal kecil seperti itu pasti tidak akan pernah bisa menyakiti mereka karena adanya Merlin dan Freya, aku masih tetap ingin berjaga-jaga.


Lagi pula, ini bukan seperti kita sedang terburu-buru. Kita bisa dengan bebas pulang pergi ke sini tanpa perlu khawatir ditegur oleh pihak asing.

__ADS_1


__ADS_2