KING D

KING D
Tiba-tiba Saja


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Misil meluncur cepat mendatangi helikopter King D dan siap untuk meledakkannya.


"Tinggalkan helikopter! Cepat!" seru Zurna yang dengan sigap berlari, tapi ....


BLUAR!!


"Santai saja, Tante. Duduk sini. Mau teh? Kopi? Jarang-jarang nih Nathan nawarin minum," tanya Jonathan yang menahan tangan Zurna saat akan nekat melompat dari helikopter.


Wanita cantik itu terkejut ketika mendengar suara ledakan besar di bagian depan benda berbaling-baling besar tersebut. Zurna melongok dari pintu yang terbuka. Ternyata, persenjataan otomatis helikopter dengan sendirinya melakukan perlindungan. Sistem anti-rudal menangkap sensor adanya serangan dari misil yang ditembakkan oleh musuh dari sebuah gedung. Misil penghalang muncul dan sengaja menabrakkan diri dengan rudal musuh sebelum menimbulkan kerusakan parah pada helikopter karena dampak ledakan. Meski demikian, guncangan sempat terjadi karena helikopter menembus kepulan dari imbas ledakan di udara karena Obama tak siap untuk membelokkan laju helikopternya.


"Otong! Lakukan serangan balasan! Luluhlantahkan markas Hope!" titah Jonathan.


"Jangan! Terakhir kali ada banyak tabung yang dimasukkan oleh anak buah Hope di sana. Hanya saja, aku tak tahu siapa. Kita selidiki dulu baru hancurkan," tahan Zurna yang membuat Obama mengurungkan niat untuk menembak.


"Ada banyak tabung? Benarkah?" tanya Jonathan terkejut. Zurna mengangguk mantap.


"Kepung saja dengan Rainbow Gas. Lalu terbangkan CD untuk memantau sekitar," saran Irina.


Zurna mengangguk setuju. Benar saja, suara peringatan jika ditemukan tabung berbunyi. Detektor dari tabung Jonathan bersuara nyaring. Zurna terlihat bingung dan Jonathan menjelaskan dengan cepat.


"Heh, sebagai anak manja, kau pintar juga, Jonathan. Baiklah. Aku akan turun. Kalian, lindungi aku. Pastikan D tak mencabikku usai dia menyelesaikan tugasnya," tegas Zurna yang dengan sendirinya menyiapkan perlengkapan tempur.


"Siap, Tante!" jawab Jonathan dan Obama serempak.


Irina mengangguk siap dan terus mengawasi King D dari pantauan CD. Helikopter yang dipiloti Obama menembakkan Rainbow Gas dengan berbagai jenis di sekeliling gedung sehingga tempat itu tertutupi oleh kepulan asap berwarna-warni. Helikopter menjaga jarak kurang lebih 500 meter dari target sebelum menurunkan Zurna agar dampak Rainbow Gas tak membunuhnya nanti. Helikopter melayang dengan sistem persenjataan otomatis membidik Gereja tersebut mengantisipasi serangan tak terduga seperti sebelumnya. Obama mengaktifkan auto-pilot dan bergegas mendatangi Zurna saat sedang mempersiapkan diri.


"Tante, Tante," panggilnya berbisik seraya mendekat. Zurna menatap Obama lekat. "Kalau keadaan terdesak ...," ucapnya seraya menunjukkan sebuah serum kepada isteri James tersebut.


"Apa ini?" tanya Zurna bingung saat akan menerimanya.


"Apa yang kaulakukan?" tanya Jonathan curiga dari tempatnya berdiri. Obama dan Zurna berwajah tegang seketika.


"Oh, mau kasih jam tangan detektor tabung. Tante Zurna butuh alat ini biar cepet temuin tabung. Otong mau kasih tau teknis kerjanya," jawab Obama seraya melepaskan jam tangan pemberian Jonathan.


Keturunan Benedict itu percaya dan kembali mempersiapkan perlengkapan. Obama segera memakaikan jam tangan itu ke pergelangan tangan Zurna sembari memberitahukan teknis kerjanya. Zurna mengangguk paham. Obama melirik ke arah Irina dan Jonathan lalu kembali menunjukkan serum tersebut. Zurna menerimanya dan menatap cairan itu lekat.


"Kalau pengen buktiin omongan Nicolas soal kisahnya dulu bareng Demon Kids tentang perubahan unik, suntikkan ke tubuh. Siapa tau Tante jadi Wonder Woman ya to? Perkakas eh perkasa," ucapnya mantap.


Kening Zurna berkerut, tapi ia menyimpan serum itu di saku pakaian tempurnya. Zurna mengangguk pelan dan bersiap turun saat Jonathan menerbangkan CD untuk mengamankan sekitar sebelum Zurna memasuki gedung.


"Sudah 5 menit! Otong! Gunakan sensor untuk memeriksa adanya manusia hidup di sana!" titah Jonathan.


"Siap, Om Jon!" jawab Obama yang dengan sigap berlari ke bangku pilot.

__ADS_1


Obama menggunakan pemindai untuk mengetahui keberadaan manusia hidup di sana. Terlihat, beberapa orang menggelepar di lantai seperti terkena dampak dari Rainbow Gas. Obama menyeringai dan segera mengabarkan hal tersebut kepada timnya.


"Bagus. Seharusnya, kau akan baik-baik saja, Tante. Sebenarnya, aku ingin ikut, tapi ...," ucap Jonathan terlihat ragu di akhir kalimat.


"Ya ya, aku tahu. Pasti alasan ketampanan," jawab Zurna malas, tapi Jonathan meringis lebar. Namun tiba-tiba, PLAK!


"Agh! Tante! Sengaja ya!" pekik Jonathan saat Zurna tiba-tiba menampar pipinya tanpa rasa bersalah.


Isteri James melompat turun menggunakan tali pengait. Irina menahan senyum saat Jonathan mendesis kesal seraya mengelus pipinya yang merah karena tamparan kuat Zurna. Wanita perkasa itu terlihat begitu sigap saat berlari menggunakan masker gas khusus untuk menangkal dampak dari asap beracun karena terlihat Rainbow Gas masih menyeruak di beberapa tempat.


Zurna sudah dilengkapi dengan jam tangan khusus untuk mencari keberadaan tabung dalam gedung, termasuk pelacak di seragam tempurnya, kamera pengintai pada kacamata empat sisi, serta earphone sebagai sistem komunikasi dengan tim King D. Jonathan mengawasi Zurna dengan serius pada layar tablet yang terkoneksi dengan helikopter.


"Wah! Tante gesit sekali," ucap Jonathan kagum saat melihat pergerakan Zurna yang cepat dan sigap ketika mengarahkan moncong senapan ke beberapa sudut yang dicurigainya.


Obama Otong akhirnya mendaratkan helikopter di wilayah aman meski King D masih mengamuk di luar sana.


"Kalian berdua tahu apa yang harus dilakukan. Urus teman kalian itu," tegas Jonathan. Irina dan Obama mengangguk siap.


Di tempat King D berada.


"Harghhh!" pria dengan manik mata berwarna silver itu mengaum layaknya predator yang menunjukkan kekuasaannya.


Irina dan Obama sudah siap dengan pistol bius untuk melumpuhkan King D. Terlihat, para monster sudah tergeletak di beberapa tempat meski sebagian dari mereka masih hidup, tapi tak bisa bangkit lagi karena rusaknya anggota tubuh. Sedang King D, seluruh tubuhnya sudah terkena darah hitam dari para monster yang tak lagi bisa disembuhkan. Jantung Irina dan Obama berdebar kencang saat King D mendatangi satu per satu musuhnya yang tak mampu lagi melawan.


KRAKK!!


"Asem! Tubuh King D hampir ketutup semua sama pakaian tempur. Cuma wajah sama tangan doang yang gak berpelindung. Pie iki, Jeng Irina? Anggap aja D lagi akupuntur gitu?" tanya Obama berbisik.


"Tak apa. Jika itu bisa membuatnya kembali normal. Ayo," jawab Irina terlihat siap seraya menatap Obama lekat.


Pria gundul itu mengangguk mantap. Saat keduanya siap dengan pistol dalam genggaman, tiba-tiba ....


"Woahhh!" teriak Irina dan Obama bersamaan karena King D sudah muncul di depan mereka dalam posisi merangkak siap menerkam.


Irina dan Obama yang kaget akan kemunculan King D malah mematung. Jantung keduanya berdebar kencang tak karuan dan tubuh gemetaran.


"Harghhh!"


"AAAAA!" teriak Irina histeris karena King D dengan sigap menerkamnya hingga wanita cantik itu jatuh terlentang. Obama Otong segera berguling ke samping dan membidik wajah King D dengan pistol bius. "D! Ini aku, Irina!" teriak Irina seraya menahan kepala sang kekasih yang mengincar lehernya.


SHOOT! SHOOT! SHOOT!


"HARRGHHH!" King D meraung karena wajahnya tertancap tiga buah peluru bius. Obama terperanjat saat mata silver King D kini membidiknya.


"Waaaa!" teriak Obama histeris dan langsung berlari.

__ADS_1


King D yang melihat buruannya kabur dengan sigap mengejarnya. Napas irina tersengal, tapi ia selamat karena sang kekasih melepaskannya. Namun, Obama Otong yang berlari ke arah helikopter, membuat Jonathan panik dan nekat untuk menutupnya.


"Om Jojon! Tunggu, Om! Jangan ditutup buset!" teriak Obama panik dan berlari sekuat tenaga.


Namun, tiba-tiba, "Ieekkk!"


"Arghhh!" rintih Jonathan, Obama, Irina dan King D saat mendengar lengkingan Junior.


Seketika, pengendali CD dalam genggaman Jonathan terjatuh. Benda terbang bersenjata itu jatuh di beberapa lokasi tak lagi mengawasi pergerakan Zurna.


Bocah berkulit pucat itu bangun dari tabung yang sengaja ditidurkan oleh Jonathan demi keselamatannya meski hanya selama penerbangan sampai ke Inggris. Namun, Junior yang tiba-tiba bangun dengan sendirinya membuat kaget orang-orang.


"Iekk! Iekkk!" lengkingnya yang membuat King D langsung terhuyung dan matanya perlahan berubah meski belum stabil karena berganti-ganti.


"Sial! Lengkingannya bisa membuatku tuli! Cepat masuk!" perintah Jonathan seraya memegangi kedua telinganya meski kali ini tak mengeluarkan darah karena Junior berlari mendatangi King D.


Obama Otong bergegas mendatangi helikopter meski harus jalan tergopoh seraya memegangi telinganya yang sakit. Irina juga melakukan hal yang sama. Ia bahkan harus merangkak karena jarak lengkingannya cukup dekat dengan Junior yang membuat salah satu telinganya berdarah. Junior tak terlihat takut ketika melompat layaknya monyet ke tubuh King D.


Kedua tangan putera Sandara-Jordan dengan sigap memegang kepala King D saat pria itu tampak linglung. King D jatuh berlutut dan tak lagi agresif. Obama, Irina dan Jonathan tampak terpukau ketika melihat Junior seperti bersenandung. Perlahan, pemimpin tim mereka kembali normal dengan mata merah birunya.


"Oh! Junior bisa menyembuhkan King D!" seru Irina yang tak menyangka dengan hal tersebut.


King D jatuh dengan posisi bersujud. Junior duduk di punggungnya dan tetap memegang kepala putera Javier seraya bersenandung entah apa yang ia ucapkan karena tak terdengar jelas.


Saat perasaan lega menyelimuti hati semua orang, tiba-tiba, "Agg!" teriak Junior ketika tubuhnya ditutup dengan sebuah kain warna hitam seperti sebuah kantong besar lalu diangkat paksa dari punggung King D.


"Junior!" seru Jonathan saat melihat sekumpulan orang bertopeng putih membawa lari keponakannya yang dimasukkan dalam kantong hitam dengan cepat.


King D yang linglung ternyata ikut terkena imbas saat hidung dan mulutnya dibungkam dengan sebuah kain hingga ia tak sadarkan diri.


"King D!" panggil Irina yang berusaha untuk segera bangun ketika melihat kekasihnya dimasukkan dalam kantong hitam yang lebih besar dan dibawa lari begitu saja oleh sekelompok orang bertopeng putih.


"Mereka menculik King D dan Junior! Jangan biarkan lolos!" seru Jonathan dari pintu helikopter.


"Tante Zurna gimana? Dia masih di dalam gedung!" tanya Obama panik.


Jonathan ikut pusing seraya meremat-remat kepalanya. Irina berusaha untuk mengejar, tapi berulang kali jatuh dan pada akhirnya, sosok bertopeng putih lainnya muncul dengan tato hijau yang ia kenali.


"Emph!" erang Irina ketika sosok itu ikut menempelkan sebuah kain di hidung serta mulut wanita cantik itu ketika berusaha bangun.


"Irina!" teriak Jonathan saat menyadari jika pria yang kini membius Irina adalah Hope.


Irina langsung tergeletak tak sadarkan diri. Hope mengangkat tubuh Irina dengan mudah dan ia letakkan di salah satu pundaknya. Jonathan berlari kencang untuk menghentikan aksi pria bertopeng yang menculik kawan-kawannya.


"Sialan kau! Lepaskan mereka!" teriak Jonathan marah dan dengan sigap menarik pistol dari balik pinggangnya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba, DOR! DOR! DOR! BRUKK!


"Om Jojon!" teriak Obama dengan mata melotot saat melihat Jonathan ambruk begitu saja saat Hope mengarahkan pistol ke tubuh keturunan Benedict itu.


__ADS_2