KING D

KING D
Gempuran Markas Lainnya*


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Silau dari pedang Silent Red membuat senyum Arthur terkembang. Pria itu dengan sigap membantu sosok berpakaian putih itu dengan membawa beberapa persenjataan yang telah disiapkan dalam tas-tas sebagai bentuk evakuasi ketika terjadi keadaan genting seperti saat ini. Arthur berlari mendatangi tiap pos di mana dirinya yakin jika para penjaga kewalahan dengan serangan para monster yang telah bermutasi.


"Hei!" panggil Arthur saat melihat salah satu penjaga tampak kerepotan ketika melemparkan granat tabung ke sekumpulan para monster. Pria itu melihat kedatangan Arthur dan siap menerima lemparan tas ransel tersebut. Saat Arthur akan melemparkannya, "Oh!"


"Arghhh!" rintih penjaga itu ketika tubuhnya tiba-tiba saja diterkam dari samping oleh seekor monster yang membuatnya tewas seketika.


"Oh, shitt!" pekiknya dengan mata terbelalak lebar saat melihat monster lainnya kini mengincarnya.


"Goarrr!"


"Siall! Kenapa mereka begitu terobsesi padaku?" pekik Arthur kesal dan kembali berlari seraya membawa empat buah tas untuk para penjaga.


Arthur dikejar saat ia kembali masuk ke dalam. Ia masih penasaran siapa sosok yang menutup wajahnya itu karena baginya orang tersebut bukan Jordan. Arthur kenal pemuda yang telah tumbuh dewasa itu dengan karakter hampir mirip dengan mendiang ayahnya, Antony Boleslav. Arthur menutup seluruh pintu masuk ke markas karena ia yakin jika orang yang menggunakan pedang Silent Red dan juga Yu Jie bisa masuk karena dikenali oleh sistem.


Arthur mendatangi sisi Timur untuk memastikan amunisi penjaga di sana tetap terisi penuh ketika melawan para monster. Namun seketika, langkah Arthur terhenti ketika melihat dari layar tablet yang terpasang di dinding dan terkoneksi dengan CamGun di luar bangunan jika penjaga tersebut telah tewas mengenaskan.


Pria beruban itu sampai terhuyung ke belakang karena merasa linglung usai melihat kengerian di depannya. Arthur segera beranjak ke sisi lain meski bayang-bayang penjaga itu melekat kuat di pikirannya saat tubuhnya terkoyak karena digerogoti dengan rakus oleh para monster dalam keadaan hidup.


"Hah, hah," engah Arthur seraya berjalan dengan tergopoh menyusuri koridor menuju ke sisi Selatan bangunan.


Namun, hal serupa juga terjadi. Penjaga itu dikerubungi oleh para monster yang haus darah hingga berakhir dengan kematian. Arthur semakin mempercepat langkah menuju sisi Barat, tapi ia lagi-lagi terlambat. Penjaga di lokasi itu sudah kehilangan anggota tubuhnya karena tercerai berai akibat para monster saling berebut.


Arthur lemas dan langsung ambruk dengan empat tas masih dibawanya. Semangat juangnya seakan sirna seketika. Ia merasa jika nyawanya juga akan berakhir tak lama lagi meskipun Yu Jie datang menolong berikut sosok tak dikenal yang menggunakan Silent Red.


Hingga tiba-tiba, suara raungan keras terdengar disertai derap langkah yang ambisius menuju ke arahnya. Arthur mematung dengan mata terbelalak lebar saat melihat seekor monster berupa anjiing yang telah bermutasi siap menerjangnya. Arthur seperti kehilangan kemampuan bertarung. Pria itu malah siap menerima ajal di tangan makhluk buas itu. Arthur memejamkan mata.


"Horrghh!"


JLEB! JLEB! JLEB! BRUKK!


"Arghh! Aggg!" teriak Arthur dengan mata terpejam saat tubuhnya tertimpa makhluk itu.


Arthur terlentang di atas lantai koridor seraya memberontak. Jiwanya tak sudi untuk mati di mana sebelumnya ia sudah memilih pasrah. Namun tiba-tiba ....


"Hei, hei!" panggil seseorang dengan intonasi tinggi yang membuat mata Arthur terbuka seketika.

__ADS_1


Ia terperanjat dan langsung menyingkirkan mayat monster yang jatuh di atas tubuhnya. Arthur menatap sosok berpakaian putih dengan pedang Silent Red dalam genggaman tanpa laser yang berdiri tegap di depannya. Arthur menelan ludah.


"Kau ...."


"Anda baik-baik saja? Syukurlah, aku datang tepat waktu. Hay, aku Eva. Aku puteri dari Yuki dan Torin. Anda pasti mengenal mereka berdua bukan?" tanya gadis berwajah Asia itu ramah saat melepaskan penutup wajah.


"Ya, ya," jawab Arthur sampai kesulitan bicara.


Eva tersenyum lalu mengulurkan tangan membantu Arthur bangun. Arthur yang masih bingung menatap gadis di depannya saksama dengan umur hampir sepantaran dengan Fara dan lainnya.


"Jadi ... bagaimana bisa kau memiliki pedang Silent Red?" tanya Arthur saat gadis manis itu membersihkan belah pedang dengan sapu tangan hitam.


"Oh. Paman Jordan yang memberikannya padaku, berikut kartu akses untuk masuk ke markas ini. Oia, ini rahasia. Sebenarnya, ayah dan ibuku tak tahu jika aku ikut dalam pasukan yang disebut Utusan. Ini pilihanku sendiri. Kami sengaja merahasiakan hal ini sebagai kejutan," jawabnya dengan wajah berbinar seperti tak merasa kejadian yang terjadi di luar sana sebuah petaka.


"Ah, begitu," jawab Arthur datar.


Hingga tiba-tiba, terdengar suara lengkingan dari luar. Spontan, wajah serius langsung ditunjukkan gadis manis itu. Arthur kembali terperanjat saat laser dari Silent Red kembali dinyalakan olehnya.


"Paman, sebaiknya kau tetap di dalam saja. Biar aku dan bibi Yu Jie yang menyelesaikan ini. Namun, maaf. Kau bukan tandingan mereka, tapi kau bisa membantu dengan tetap ikut menyerang menggunakan persenjataan milik Boleslav Industries. Walaupun tak membunuh secara langsung, tapi cukup untuk memperlambat serangan mereka. Semoga beruntung, aku keluar dulu ya," ucapnya dengan wajah gembira seraya menepuk pundak Arthur.


Arthur berjongkok dan mencabutnya. Ia menatap benda hitam itu saksama di mana dirinya yakin jika itu adalah sebuah kuku. Namun, bagaimana bisa kuku besar layaknya burung pemangsa itu bisa tercabut dari jari-jari. Kening Arthur berkerut.



Lalu, apa yang terjadi dengan tim yang beranggotakan Kolektor, Etra, dan Talora?


Helikopter yang membawa mereka diserang anak buah Hope saat sudah memasuki wilayah China. Iskra terpaksa menjauh lalu menuju ke wilayah yang berdekatan dengan salah satu markas peninggalan Vesper, Camp Militer. Beruntung, helikopter mereka tertangkap oleh mata Drake saat pria itu sedang mengawasi dari atas menara.


"Two!" teriak Drake dengan teropong mengawasi pergerakan helikopter yang bergerak ke wilayahnya.


Number 2 yang mendengar panggilan itu segera mempersenjatai Camp Militer. Drake terus meneropong hingga matanya menyipit saat pintu samping helikopter di buka dan terlihat sebuah bendera yang ia kenali.


"Oh, mungkinkah?" ucap Drake yang tak menyangka jika para Kolektor masih hidup.


"Drake, status!" pinta Number 2 siap menembak dari menara di seberang untuk menjatuhkan helikopter menggunakan misil.


"Mereka sekutu! Biarkan mereka masuk!" jawabnya.

__ADS_1


Number 2 menurunkan tangannya saat jempolnya siap menekan tombol merah untuk menembak jatuh benda terbang itu. Namun tiba-tiba, orang-orang dari helikopter berteriak dengan suara yang tak jelas karena jarak yang masih terlampau jauh. Mereka menunjuk ke bawah dengan wajah panik. Kening Drake berkerut.


"Goarrr!"


SRAK! SRAK!


"Cuit ... cuit ... cuit!"


"Apa itu?" tanya Drake bingung seraya menoleh ke sisi lain yang berada di belakangnya.


Burung-burung yang bertengger di pohon langsung mengepakkan sayap meninggalkan tempat bernaung seperti takut akan sesuatu. Drake penasaran dan kembali meneropong. Hingga tiba-tiba, matanya melebar.


"Drake! Monster!" teriak Number 2 yang membuat mata pria berkulit hitam itu melebar seketika.


Benar saja, "Hargghh!"


"AAAA!" teriak Drake histeris saat melihat seekor monster berupa monyet yang telah terkena dampak serum tambahan dari Sengkuni muncul dari balik rimbunnya pepohonan.


Drake terkejut saat monyet-monyet beringas itu melompat ke arahnya dari atas pohon. Seragam pelindung Drake tercabik termasuk wajahnya karena tak siap menerima serangan itu.


"Arrghh!"


BRUKK!


"Hah, hah, hah," engah pria itu dengan sebuah belati telah berlumuran darah monyet yang sudah berwarna hitam.


Drake menoleh dan mendapati orang-orang di helikopter menembaki para monster yang bergerak di daratan. Mata Drake melebar saat melihat banyaknya monster dengan berbagai jenis mulai dari manusia sampai hewan sedang mengepung Camp Militer.


"Oh, my, God!" pekiknya dengan kulit meremang.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


Tips koin abis uyy menunggu sedekah biar makin semangat up nya. Uhuk😆

__ADS_1


__ADS_2