KING D

KING D
New York


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


New York, Amerika.


Patung Liberty tetap berdiri kokoh saat kendaraan terbang berbaling-baling besar melintasi kota besar itu. Sayangnya, pemandangan indah ketika matahari tenggelam tak memanjakan mata tim Yusuke. Banyaknya bangunan rusak akibat serangan brutal wabah monster yang menyerang kota itu, membuat New York kehilangan kharismanya.


"Mengerikan. Tempat ini paling parah dibanding negara lain yang pernah kita kunjungi," ucap Yusuke saat helikopter berhasil mendarat di helipad Apartemen Theresia.


"Kau benar. Sepertinya serangan monster benar-benar meluluhlantahkan wilayah ini. Lihatlah, tempat ini begitu sepi dan suram. Tak terlihat kehidupan sejak kita melewati perbatasan negara," sahut Sakura seraya meneropong memindai sekitar.


"Mom," panggil Reina pelan.


Sakura dan lainnya segera mendekati gadis cantik itu. Tampak sebuah CamGun aktif berada di pintu masuk menara landasan.Para mafia itu saling memandang karena senjata otomatis dari ciptaan Boleslav Industries tersebut tak menggelontorkan pelurunya. Orang-orang itu berasumsi jika sosok mereka dikenali database GIGA.


"Mix? Match? Apakah kalian melihat kedatangan kami? Halo?" tanya Lucy sengaja menghadapkan wajahnya ke kamera tersebut seraya melambaikan tangan.


Namun, tak ada jawaban. Semua orang saling memandang terlihat bingung. Yusuke mendekati pintu besi sebagai akses masuk ke dalam apartemen. Yusuke yang diberikan kartu akses oleh Jason saat di Jumbo Island menempelkan benda tersebut ke pemindai.


Seketika, KLEK!


"Terbuka! Bagus, alarm tak menyala," ucap Venelope dengan senyuman. Saat isteri dari Afro tersebut membuka pintu agar anggota timnya bisa segera masuk ke dalam, tiba-tiba, "AAAAA!"


"Lope!" teriak Lucy dengan mata melotot saat melihat kawannya diterkam oleh seseorang bertubuh besar, tapi tak memiliki tangan. Yusuke dan lainnya terkejut ketika mengenali siapa sosok itu.


"Match!" pekik Sakura lantang yang membuat pria dengan dua tangan terbalut perban menoleh seketika.


"Hah, hah," engahnya dengan mata melotot dan terlihat garang saat memandangi Yusuke serta lainnya.


Sakura, Lucy, dan Yusuke mengarahkan pistol ke tubuh Match yang tampak berantakan seperti mengalami kejadian buruk.


"Kau?" tanyanya berkerut kening.


"Ya, ini kami. Mana Mix?" tanya Yusuke terlihat gugup.


Match tiba-tiba duduk dengan lesu usai menjatuhkan Venelope dengan keras. Ia memejamkan mata dengan napas tersengal. Yusuke dan lainnya saling memandang lalu mengangguk pelan. Reina berjalan mendekati pintu akses yang terbuka dan berdiri mengamati dalam diam.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Lalu ... kenapa dengan kedua tanganmu?" tanya Lucy seraya berjongkok dan mengamati kondisi Match saksama.


"Mix tewas," jawabnya lesu dengan pandangan tertunduk. Praktis, mata semua orang melebar bahkan Reina sampai menoleh ke arah pria bertubuh besar itu.


"Bagaimana bisa?" tanya Venelope seraya bangun perlahan.


"Kelompok bertopeng sialan itu. Mereka sengaja memerangkap kami di dalam gedung. Dia memiliki akses Apartemen Theresia. Semua pintu ditutup dengan ratusan atau bahkan ribuan monster di dalamnya. Seluruh persenjataan untuk mengamankan gedung sampai habis amunisi. Aku dan Mix bahkan nekat membangunkan orang-orang Silhouette dan Black Suit untuk mempertahankan markas, tapi ... kami kalah jumlah. Hingga aku dan Mix terpisah karena serangan monster yang tak ada habisnya. Hal terakhir yang Mix lakukan adalah memotong tanganku karena sudah terluka parah akibat terkoyak gigitan monster. Dia mengurungku di pintu akses terakhir yang masih bisa diaktifkan dengan sidik jarinya, dan berharap aku bisa keluar, tapi ... sia-sia. Aku terjebak di perbatasan. Aku yakin, jika Mix tewas karena kudengar teriakan kematiannya dari balik pintu," ucap Match terlihat begitu sedih sampai matanya berlinang.


Yusuke dan lainnya terkejut karena ini pertama kalinya mereka melihat algojo Theresia sampai kehilangan kemampuan. Semua orang diam terlihat sedih. Sakura mengucapkan bela sungkawa berikut lainnya atas kematian orang-orang dari jajaran Theresia.


"Lalu ... bagaimana kondisi tabung yang disimpan di tempat ini dari total 150 yang pernah dikatakan oleh Jason? Apakah ... orang-orang itu selamat?" tanya Lucy terlihat tertekan menatap kawan-kawannya.


"Semua tabung yang dijaga dalam Apartemen Theresia sudah terbuka. Hal terakhir yang bisa kulakukan adalah menonaktifkan pemancar fatamorgana dan menutup pintu akses server pusat tempat GIGA disimpan agar tak ada siapapun yang bisa masuk ke sana, bahkan Jordan sekalipun," tegas Match yang tak seperti biasanya bicara banyak.


"Jika benar, kenapa Jason tak bisa mengakses dari ponselnya?" tanya Venelope bingung.


"Akan tetapi, Q bisa mengaksesnya. Apakah ada perbedaan? Kalau tidak salah, Jason pernah mengatakan jika ponsel miliknya sempat dicuri anak buah Hope. Hanya saja, saat ia mengaktifkannya masih bisa tersambung, meski setelah itu ia kehilangan koneksi," sahut Sakura teringat akan penjelasan Jason ketika berkumpul di Jumbo Island.


"Jika yang dikatakan Match benar, sepertinya ... pemancar fatamorgana sempat dirusak, tapi lihatlah. Ada bekas perbaikan pada tiang dan piringan penangkap serta pengirim sinyal," sahut Reina tiba-tiba seraya menunjuk pemancar tersebut.


Mata Match melebar. Ucapan Reina terdengar benar karena pemancar fatamorgana itu bengkok dan terlihat ada bekas besi di las dengan beberapa benda untuk mengikat pemancar itu agar tak jatuh dari menara.


"Jika benar ia berniat untuk menolong, kenapa tak mencoba menyelamatkanku atau lainnya? Ia malah memilih untuk memperbaiki pemancar bukan orang-orang dalam jajaran?" tanya Match dengan napas memburu.


Semua orang diam dengan wajah tertunduk tak berani menjawab pertanyaan tersebut.


"Mungkin baginya, memperbaiki pemancar fatamorgana dinilai lebih menguntungkan ketimbang menyelamatkan orang-orang yang terperangkap di apartemen," timpal Reina yang membuat Match langsung berdiri dengan mata melotot.


Praktis, semua orang dibuat panik dan berusaha menahan amukan Match ketika pria besar itu mendatangi Reina dengan gusar. Sedang Reina, malah berpaling begitu saja lalu menuruni tangga untuk masuk ke dalam apartemen.


"Reina!" panggil Sakura panik.


"Aku hanya ingin memastikan ucapan Match benar jika semua orang dalam jajaran Theresia tewas," jawabnya santai dan terus menuruni tangga hingga bertemu pintu yang tertutup. "Tuan Yusuke. Akses," pintanya yang masih memunggungi semua orang.


Match yang awalnya ingin mengamuk seperti mengurungkan niat meski matanya membidik Reina tajam.

__ADS_1


"Kau sudah cukup berjuang, Match. Tunggulah di helikopter," pinta Venelope.


Match memalingkan wajah, tapi mengangguk dalam diam. Venelope lalu memberikan earphone agar mereka tetap terhubung selama terpisah. Venelope membantu memasangkan benda tersebut di telinga Match lalu pergi meninggalkannya. Match duduk tertunduk di bangku helikopter seraya melihat tangannya yang buntung dengan bekas darah pada balutan perban.


Yusuke berjalan menuruni tangga mendatangi Reina. Pria Jepang itu tampak ragu saat akan membuka pintu akses. Sakura dan lainnya telah bersiap dengan senapan dalam genggaman berikut tas ransel berisi perlengkapan. Semua orang dalam tim Yusuke tampak siap jika terjadi serangan tiba-tiba.


Reina menyiagakan pedang di tangan kanan dan kirinya. Gadis itu lebih menyukai senjata tajam ketimbang senapan yang menembakkan peluru dengan suara berisik. Saat Yusuke menempelkan kartu akses pemberian Jason, tiba-tiba Reina berjongkok. Praktis, semua orang dibuat terkejut. Namun ternyata, gerakan gesitnya karena muncul seseorang dari balik pintu besi.


"AAAA!" teriak Yusuke ketika ia diterkam begitu pintu besi terbuka.


Reina yang berdiri di samping mantan anggota Dewan itu dengan sigap menusukkan dua pedangnya ke tubuh seorang monster. Pedang katana tajam miliknya menembus tengkorak dan juga pinggang musuh. Monster itu mengerang dengan tubuh menggelinjang hebat seperti merasakan sakit dari serangan gadis berponi itu.


BRUK!! KRAK!!


Mata Yusuke dan lainnya melebar saat Reina melemparkan tubuh monster ke koridor di luar pintu besi seolah manusia sakit itu seringan bantal. Reina bergegas mendatangi monster itu dan menginjak kepalanya dengan sepatu magnet hingga remuk. Mata Reina memindai sekitar dengan dua pedang ia kibaskan karena darah monster menempel di sana.


"Hem, sepertinya ucapan Match benar. Mereka ada banyak," ucapnya saat melihat banyak mayat tergeletak di sepanjang koridor baik dari kubu Theresia atau pun monster.


Yusuke dan lainnya keluar dari balik pintu besi dengan hati-hati. Wajah mereka pucat seketika melihat kengerian tersebut. Bau busuk dan darah hitam sudah menggenangi lantai apartemen mewah milik Theresia. Reina berjalan lebih dulu dengan santai seraya menginjak tubuh para mayat yang menghalangi jalan.


"Reina!" panggil Sakura panik karena anak gadisnya tampak cuek dengan kondisi mencekam di tempat itu.


Terlebih, lampu di gedung tersebut sebagian telah padam. Sakura dan lainnya mau tidak mau mengikuti Reina yang sudah memimpin jalan entah membawa mereka ke mana. Saat suasana mencekam karena bau busuk menyeruak di sekitar koridor, tiba-tiba Reina melompat dan membuat kedua kakinya menempel pada dinding koridor sisi kiri. Yusuke dan lainnya terkejut karena Reina selalu melakukan suatu hal tanpa memberitahukan mereka terlebih dahulu.


"Reina, apa yang kau ... monster! Masih ada monster yang berkeliaran di tempat ini!" teriak Yusuke yang dengan sigap mengarahkan moncong senjatanya ke sekumpulan orang-orang sakit itu.


DODODODOOR!!


Suara tembakan memekakkan telinga terdengar begitu nyaring. Namun, Reina menyarungkan dua pedangnya. Ia yang memiliki kemampuan seperti cicak malah merayap di atap bangunan dan meninggalkan kelompoknya.


"Reina!" teriak Sakura marah seraya terus menembak.


Namun, Reina terlihat cuek dengan nasib anggota timnya. Sakura dan lainnya begitu kesal dengan sikap Reina yang seenaknya. Sedang Reina, terus merayap di atas atap seperti ingin menuju ke sebuah tempat. Mata gadis cantik itu menyipit ketika merasakan terpaan angin dari ventilasi udara sebuah ruangan di sisi kiri dengan pintu tertutup rapat.


Reina mendekati lubang yang terbuka pada bagian atas jendela seperti sengaja dibuka dengan sebuah alat. Ia melongok dan betapa terkejutnya saat melihat seseorang mengenakan seragam tempur Black Armys seperti menyiapkan sesuatu dengan tergesa ke dalam tas. Tak diketahui dia laki-laki atau perempuan karena wajahnya ditutup masker. Reina diam saja menatap gerak-gerik orang itu hingga matanya melebar saat sosok tersebut membuka kaca jendela apartemen dan melompat dari ketinggian begitu saja tanpa pengaman.

__ADS_1


***


lele gak sertain gambar dulu ya biar direview sama sistem. siapa tau lebih cepet 😁 lele masih bengek dan mau balik rehat dl. kalo nemu typo koreksi aja tar lele benerin pas udah mendingan. ngilu badan ini uyy. gagal vaksin booster hari ini jadi doakan lele cepat sehat ya. tengkiyuw LAP lele padamu💋


__ADS_2