KING D

KING D
Jebol!


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.


Markas Javier, Oman.


Hal serupa juga terjadi di kediaman Sultan. Rohan, Attaya dan Jaeda dibuat kalang kabut karena jumlah para monster yang tak lazim. Meskipun sistem persenjataan otomatis telah digunakan untuk melindungi benteng yang sangat tinggi dan kokoh itu, tapi pesawat kargo yang sengaja menjatuhkan muatan di bagian atas pelindung membuat pertahanan markas runtuh.


BRANG!! BRANGG!!


"Rohan!" teriak Attaya dari sambungan radio saat kamera yang tertempel di pundak kanan atasnya menangkap pergerakan besar para monster ketika keluar dari kerangkeng besi.


Mata Rohan melebar, tapi ia tetap tenang menanggapi serangan ini.


"Tenang saja, penghalang bisa menahan me— oh, shitt!" pekiknya langsung melebarkan mata ketika orang-orang dari kubu Hope menembakkan senjata peleleh logam untuk melubangi atap besi tersebut dari atas pesawat.


CESS!


"Attaya! Awas!" teriak Rohan lantang dengan kepanikan menyeruak hatinya saat melihat atap tersebut jebol dan para monster mulai berhambur masuk melalui celah lubang.


"Heyahhh!!"


DODODODOR!!


Suara tembakan tak berjeda terdengar memekakkan telinga. Attaya menggelontorkan seluruh amunisi ke arah sekumpulan para monster yang mencoba memasuki bagian dalam istana.


"Rohan! Tutup semua pintu! Mereka mencoba menerobos masuk!" pekik Attaya yang kini mulai dibidik oleh para monster karena menghujani mereka dengan peluru-peluru tajam mematikan.


Pria India itu dengan sigap mengunci seluruh pintu akses. Dia tahu jika Attaya bisa masuk karena datanya telah terekam dalam database. Rohan berlari ke tiap pos CamGun untuk memastikan amunisi tersebut selalu terisi penuh karena para monster tak bisa dibunuh dengan satu tembakan, tapi harus puluhan dan itu pun harus tepat di organ vital seperti kepala dan leher.


"Gila! Mereka itu apa?" tanya Jaeda memekik dari tempatnya bertugas di sisi Barat.


Rohan dan Attaya ikut terkejut karena bentuk tak wajar para monster. Tanda peringatan merah permintaan pengisian amunisi mulai membuat Rohan kewalahan karena luasnya istana Sultan. Fisik Rohan digempur habis-habisan demi mempertahankan markas Javier tersebut.


Sedang di pos tempat Jaeda berada. Gerbang lapis kedua sebelum memasuki istana dekat hangar sisi Timur.


"Heyaaa!" teriak wanita itu lantang saat melemparkan sejumlah granat tabung ke sekumpulan para monster karena senjata CamGun berhenti menembak.


Jaeda melihat tanda merah berkedip pada lampu indikator senjata otomatis keluaran Boleslav Industries tersebut. Lampu itu menandakan jika CamGun telah habis amunisi.


"Rohan! Sisi Selatan! Selatan!" teriak Jaeda yang tak bisa menahan sisi tersebut karena melihat pergerakan para monster dari atas menara sedang berkerumun di wilayah Selatan.


"Hah, hah, sedang kuusahakan! Aku sedang berada di sisi Utara. Mereka berkumpul di sini!" jawab Rohan terdengar kerepotan seperti dirinya.


Jaeda yang mulai kehabisan amunisi mulai panik. Ia sudah melemparkan semua senjata yang ia bawa. Entah apa yang membuat tubuhnya bergetar, tapi melihat banyaknya para monster membuat nyalinya ciut seketika.


Benar saja, BRANGG!!!


"Gerbang Selatan tertembus! Mereka memasuki istana!" teriak Jaeda saat melihat para monster itu masuk ke dalam pintu utama dengan buas.

__ADS_1


Rohan dan Attaya yang mendengar hal itu melebarkan mata seketika. Mereka tak menyangka, jika senjata dari Vesper dan Boleslav Industries tak mampu menahan serangan brutal para monster yang sudah bermutasi menjadi lebih beringas.


"Rohan! Amunisiku habis! Aku harus bagaimana?" tanya Attaya panik saat senapan gatling miliknya tak lagi bisa menggelontorkan peluru.


Napas Rohan tersengal dengan pandangan tak menentu. Attaya dan Jaeda tampak pucat seperti sudah tahu bagaimana nasib mereka selanjutnya. Tiga orang itu mematung dalam keterpurukan. Mereka ketakutan dan kehilangan semangat juang seketika.


BRANG! BRANG!


"Harghhh!"


Tiga orang itu terperanjat saat mendengar suara pintu-pintu yang seharusnya tak bisa tertembus bisa dijebol oleh para monster entah apa yang mereka lakukan. Attaya dan Jaeda roboh, mereka berjongkok ketakutan. Attaya sampai memeluk dua lututnya dan menenggelamkan wajah. Jaeda menangis dan menutup dua telinga dengan dua tangan karena suara raungan para monster berhasil mencabik nyalinya. Rohan tertunduk lemas dan menjatuhkan dua tas berisi amunisi isi ulang di lantai begitu saja karena merasa apa pun yang akan dilakukannya sia-sia.


TET! TET! TET!


Suara alarm tanda pertahanan markas Javier jebol terdengar nyaring disertai raungan buas para monster. Tiga manusia itu pasrah menerima takdir yang akan berakhir di tempat itu. Saat harapan terasa lenyap, tiba-tiba saja ....


BOOM! BOOM! BOOM!


Suara ledakan hebat terdengar di bagian luar benteng. Rohan, Attaya dan Jaeda terperanjat karena mereka yakin jika persenjataan telah habis sehingga tak lagi bisa melakukan perlawanan. Tiga orang itu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi karena dua pesawat kargo yang menjatuhkan kerangkeng mengeluarkan asap saat menukik tajam di udara.


"Apa yang terjadi?" tanya Attaya bingung ketika ia kembali berdiri dan meneropong dua pesawat yang jatuh dengan cepat meluncur ke bawah.


BLUARRR!!


"Jaeda! Apa yang terjadi?" tanya Attaya yang tak mengetahui keadaan di luar karena fokus para monster kini seperti teralih.


"Siapa?" tanya Jaeda bingung dengan teropong menangkap kepulan asap berwarna-warni di sisi Utara.


"Mereka ayah dan ibu King D! Mereka masih hidup dan membantu kita! Hahahaha!" tawa Rohan gembira.


Jaeda dan Attaya yang pernah mendengar tentang dua senior mafia itu ikut merasakan kebahagiaan. Seketika, semangat bertahan mereka bangkit dan kembali bertempur.


"Rohan! Amunisi!" teriak Jaeda lantang.


Rohan bergegas berlari ke arah pos Jaeda. Wanita itu meninggalkan posnya dan akan bertemu dengan Rohan di persimpangan. Saat Rohan dan Jaeda sudah hampir tiba di persimpangan koridor, tiba-tiba saja, "Harghh!"


Spontan, langkah dua orang itu terhenti ketika muncul dua orang monster dengan dua tangan besar seperti memiliki lapisan batu yang keras. Jaeda dan Rohan melangkah mundur perlahan di mana mereka sadar jika tak mungkin menang melawan makhluk dengan bentuk tak lazim itu.


"Harghh!!" raung dua monster itu yang masing-masing berlari mendatangi Rohan dan Jaeda dengan buas.


"AAAA!" teriak Jaeda langsung berbalik dan berlari kencang agar tak tertangkap. Tiba-tiba saja, "Oh!"


Jaeda terkejut saat melihat seorang wanita berlari kencang dalam posisi terbalik berada di langit-langit koridor dalam markas. Wanita berambut panjang itu mengarahkan sebuah busur dengan tiga anak panah tertuju pada tubuh monster. Jaeda menghentikan langkah dan menatap sosok wanita berwajah cantik itu dengan mata terbuka lebar.


SHOOT! JLEB! JLEB! JLEB!


"Hargh!"

__ADS_1


BRUK!!


"Heahhh!"


SRING!! KRASS!!


"Tangkap ini!" ucap Lysa saat melemparkan sebuah tas hitam kepada Jaeda dari punggungnya ketika wanita itu melompat dari langit-langit koridor dan kini mendarat dengan mulus di lantai. Jaeda dengan sigap mengambil tas yang setelah ia buka berisi persenjataan berikut alat pengendali CD. "Aku sudah menempatkan CD di beberapa titik. Cepat habisi mereka!" titahnya.


Jaeda mengangguk paham. Ia segera berlari menuju ke sisi Selatan markas. Ia terkejut saat mendapati banyak mayat monster yang telah tewas dengan anak panah menusuk organ vital mereka. Beberapa diantaranya sudah kehilangan kepala usai Lysa menebas menggunakan pedang Silent Blue seperti yang ia gunakan ketika membunuh seorang monster yang tadi ingin memangsanya. Wanita itu tiba di pos sisi Selatan tanpa kendala. Ia terkejut saat menggunakan kacamata yang terkoneksi dengan kamera CD, karena ternyata benda terbang itu berjumlah banyak.


Drone-drone itu juga dilengkapi senjata lain yang dengan cepat menewaskan para monster saat terkena tembakannya. Dalam peluru tersebut terdapat peledak, sehingga peluru yang tertanam di tubuh para monster langsung membuat korbannya tercerai-berai. Bahkan ketika CD jatuh, benda itu meledak dan membuat para monster yang berada di dekatnya langsung tewas. Seringai Jaeda terpancar dan tampak bersemangat saat peluru-peluru peledak itu berhasil membunuh para monster yang tadinya hampir sukses menguasai istana sultan.


KRASS! BRUK!


"Ja-Javier," ucap Rohan tergagap saat Sultan muncul di hadapannya.


"Jangan mempermalukan anggota dewan, Rohan. Apa kata Jamal dan Rahul jika melihatmu gemetaran seperti ini? Apalagi ayahmu Raja Khrisna," ledek Javier tenang seraya mengelap darah hitam para monster yang mengenai senjatanya berupa pisau tajam di atas punggung tangan lapisan baju tempur.


"Sialan kau, tapi ... terima kasih," ucap Rohan yang bernapas lega karena tak jadi mati.


Namun tiba-tiba, "Rohan! Rohan! Kebun pisang Fara didatangi para monster!" teriak Attaya yang mengejutkan dua lelaki tersebut.


"Akan kuurus. Kau pertahankan sisi Utara! Aku sudah mengisi ulang seluruh CamGun dengan peluru ledak. Cepat!" titah Javier, dan Rohan mengangguk paham.


Saat Javier berlari dengan tergesa, Rohan tersenyum. Ia tak menyangka jika Javier masih bisa memikirkan kebun pisang kesayangan puteri Tobias tersebut.


"Jangan sentuh pohon-pohon itu, tangan jahanamm!" teriak Javier marah seraya berlari kencang.


Terdapat dua ujung pisau tajam berwarna emas di bagian atas punggung tangan yang menyatu dengan baju tempurnya. Javier siap menebas tangan para monster yang memiliki ekor tajam itu. Javier menggunakan helm emas berbentuk seperti kepala burung yang menutup wajahnya untuk melindungi diri. Tubuh Javier tertutup rapat meski darah para monster mengenai baju zirahnya, tapi lapisan pakaian tersebut seperti anti air karena darah-darah hitam itu hanya menempel sementara lalu menetes ke lantai.


Javier mengincar tiga monster dengan bentuk seperti beruang dulunya. Sang Sultan yang mengenakan pakaian tempur seperti baju zirah berwarna emas yang kokoh, tampak tak takut ketika harus menghadapi para monster yang ukuran tubuhnya tiga kali lebih besar darinya.


"Aku sudah tahu jika akan melawan makhluk jelek seperti kalian!" teriaknya marah seraya berlari kencang.


"Goarrr!" raung tiga monster yang berlari dengan buas, siap untuk menerkam Javier.


Tiba-tiba, JLEB!! CRATT!


"Harrr!" rintih tiga makhluk itu saat pakaian tempur Javier mengeluarkan besi tajam berbentuk kerucut di bagian punggung, dada, dan dua kakinya.


Besi-besi itu menusuk tubuh para monster dan melukainya saat mereka menangkap tubuh emas Javier. Sultan dengan sigap menusukkan ujung pisau tajamnya ke arah tiga monster itu dengan kuat secara bergantian karena ukuran mereka yang besar.


"Belum mati juga? Bagaimana dengan ini!" tanyanya lagi seraya menghentakkan dua tangannya ke bawah dan muncul bilah yang sangat tajam seperti kapak pada bagian bawah lengan depannya.


KRASS!! BRUK!!


"Hem, boleh juga ciptaan dua orang aneh itu. Tak rugi aku membayar mahal untuk pakaian tempur ekslusif ini," ucap Javier bangga dengan pakaian tempur pesanan khususnya itu.

__ADS_1


__ADS_2