
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Jason akhirnya memberikan empat orang yang menyelamatkan Raden sebuah alat translator. Tentu saja, orang-orang itu merasa kagum karena tak menyangka jika alat kecil itu bisa menerjemahkan banyak bahasa.
Meskipun seharusnya Raden masih muda dan hampir seumuran dengan Jason, tapi ia tak keberatan dipanggil paman karena sosoknya sekarang yang telah menua seperti kakek-kakek. Raden malah merasa jika umurnya tak lama lagi.
"Aku menaruh harapan besar pada kalian untuk membawa orang-orang ini ke Rusia. Tolong, amankan mereka. Aku sadar jika selama ini, aku memang tak memiliki kemampuan bertempur seperti kalian. Namun, aku yakin jika kalian bisa mengembalikan perdamaian dunia meski dulunya mafia," ucap Raden lirih.
"What?! Mafia? Penjahat?" pekik lelaki berambut hitam panjang sampai melotot.
"Hem, kenapa? Takut? Ya udah, sono pergi jauh-jauh. Otong gak suka ekspresi sok hebohmu itu," sahut Obama kesal seraya menunjuk pria asal Mongol tersebut.
Irina menatap Obama tajam, tapi lelaki gundul itu seperti tersinggung. Obama memilih untuk keluar dari helikopter lalu mendatangi gua di mana banyak orang masih berkumpul di sana menunggu hasil keputusan pembicaraan pemimpin mereka.
"Percayalah. Mereka bukan mafia kejam seperti yang kalian pikir. Itu sudah lama berlalu. Bahkan, militer dunia kini bekerjasama dengan para mafia ini untuk menyelesaikan wabah monster," ucap Raden mencoba memberikan pengertian.
Namun, empat orang asal Mongol itu masih terlihat ragu akan keberadaan orang-orang dari jajaran Raden.
Sarnai menepati janjinya untuk melepaskan King D berikut orang-orang dari kelompok mafia yang ternyata sengaja dijebak agar tersesat dalam gua.
Sarnai dan orang-orangnya sengaja keluar ketika kelompok King D masuk untuk menyelamatkan kawan mereka. Awalnya, mereka bermaksud untuk mencuri helikopter, tapi aksi tersebut gagal.
Sarnai berdiri di pintu luar gua lalu menekan sebuah tombol yang tertutup oleh sebuah batu. Irina dan Obama mengamati gerak-gerik wanita cantik itu saksama saat meraih sebuah alat seperti microfon portabel.
"Kalian kami lepaskan. Keluarlah melalui rute saat masuk tadi. Raden sudah mengklarifikasi jika kalian bukan ancaman. Cepatlah, kita mengejar waktu," tegas wanita cantik itu lalu memasukkan kembali alat tersebut yang ternyata, suaranya terdengar di sepanjang lorong.
Irina dan Obama tampak serius saat Sarnai kembali menatap mereka tajam. Sarnai menunjuk beberapa anggota kelompoknya yang tampak linglung seperti orang mabuk.
"Entah apa yang kalian lakukan pada mereka, tapi sembuhkan," tegasnya.
Irina dan Obama saling memandang lalu mengangguk pelan. Irina mengeluarkan sebuah botol dengan beberapa warna kapsul di dalamnya.
"Berikan mereka serum gel ini. Semoga belum terlambat," ucap Irina seraya menuangkan sekitar 5 kapsul ke telapak tangan Sarnai.
Sarnai mengamati serum itu saksama, lalu mengangguk pelan. Tiga orang yang ikut bersamanya membantu meminumkan serum itu kepada 5 orang anggotanya yang terkena dampak gas halusinasi.
Sedang di sisi lain.
Raden menunggu di helikopter bersama Jason. Terlihat, Jason sedang memeriksa keadaan Raden yang terlihat lemah saat dibaringkan dengan alat pemindai organ dalam.
"Raden, dengar. Tujuan kami ke Rusia sebenarnya ingin ke kastil ayahku di Krasnoyarsk. Hanya saja, sepertinya alasan pemindahan tabung yang terjadi padamu juga sama sepertiku. Nasibmu hampir sama denganku. Oleh karena itu, saat di Rusia nanti, biarkan kami tuntaskan dulu masalah di kastil hingga dinyatakan aman untuk dihuni orang-orang Mongol ini," ucap Jason seraya memasangkan infus di lengan Raden karena lelaki tua itu kekurangan cairan dan nutrisi.
"Aku mengerti. Aku pasrahkan semua pada kalian. Dan satu hal lagi, tolong temukan 9 tabung yang hilang itu. Aku sangat mencemaskan keadaan mereka. Semoga, mereka baik-baik saja dan masih hidup," pinta Raden terlihat sedih.
"Oke. Katakan padaku, siapa saja orang-orang dalam sembilan tabung itu," pinta Jason seraya melakukan perekaman agar menjadi bukti misi kepada timnya nanti.
Raden akhirnya menyebutkan kesembilan nama itu. Jason tak percaya jika banyak orang-orang dari jajarannya yang diculik entah dengan tujuan apa mereka mengambil tabung-tabung berisi manusia sehat di dalamnya.
Tak lama, King D keluar dari gua bersama seluruh anggota tim bentukan Marco-Polo. Terlihat, King D terluka parah hingga wajahnya pucat saat dipapah oleh Marco dan Polo.
Irina segera menangkap tubuh kekasihnya dan memapahnya kembali ke helikopter. Sedang Fara dan lainnya terlihat kesal.
Gadis manis itu menatap tajam orang-orang Mongol yang berjumlah 20 orang di hadapannya.
"Kami minta maaf jika terjadi salah paham diantara kita. Namun, kalian akan mendapatkan penjelasan dari kawan-kawan kalian," tegas Sarnai.
__ADS_1
"Ya! Memang seharusnya dijelaskan. Lihat! Kakakku sampai terluka parah. Kalian keterlaluan!" seru Fara geram dan seketika, matanya berubah menjadi silver.
Orang-orang Mongol itu terkejut dan langsung melangkah mundur, tapi Polo dan Marco meyakinkan jika gadis cantik itu bukan sebuah ancaman.
"Mata kalian ...," ucap lelaki dengan rambut potongan ala tentara menunjuk mata Marco, Polo, dan juga Fara yang terlihat terang.
"Akan kami jelaskan. Jangan panik," tegas Polo yang berdiri di depan Fara seperti melindunginya.
Perlahan, amarah Fara mereda. Rambutnya tak jadi berubah menjadi landak karena Marco berhasil menenangkannya.
"Sebaiknya kalian segera berkemas kalau mau diantar ke Rusia. Cepet, sebelum gelap," ucap Obama masih memasang wajah sebal.
Sarnai mengangguk pelan dan berbicara pada orang-orangnya tentang kesepakatan dengan para mafia itu. Terlihat perdebatan diantara mereka, tapi tim King D tak mau tahu akan hal tersebut.
King D segera diobati oleh Chen. Ia yang mengalami kekurangan darah dan luka tusuk yang dalam, membuatnya harus melakukan transfusi. Beruntung, saat itu stok darahnya tersedia meski seharusnya untuk Irina.
"Apa? Raden?" tanya King D masih pucat saat berbaring di ranjang pasien portabel.
"Ya. Lihatlah dia, menua. Raden sekarang sedang tidur," jawab Jason seraya menatap Raden yang terbaring lemah dengan infus tertancap di salah satu lengannya.
"Masalahnya sekarang, itu manusia banyak banget. Kita gak bisa angkut orang-orang sebanyak itu, D. Gimana baiknya?" tanya Obama yang berdiri di samping kawan karibnya itu.
Semua orang terlihat serius memikirkan hal ini karena King D masih lemah dan orang-orang tak ingin membebaninya.
"Mm, mobil yang kita lihat tadi bisa dipakai gak sih? Atau cuma buat pajangan doang?" tanya Fara seraya menunjuk mobil tersebut di kejauhan.
"Bisa. Hanya saja, bahan bakar yang kami miliki tak mencukupi. Mungkin hanya bisa melaju selama satu jam perjalanan, setelah itu, mogok," sahut lelaki dengan rambut kuncir kuda. "Perkenalkan, namaku Turgen," ucap lelaki itu memperkenalkan diri.
Akhirnya, Obama dan lainnya ikut memperkenalkan diri kepada orang-orang Mongol yang akhirnya sepakat untuk meninggalkan gua. Mereka percaya jika akan dibawa ke Rusia karena mengenal Raden.
"Mm, gimana kalau yang punya kemampuan naik mobil? Kaya Fara, Marco, Polo dan om Jason. Sisanya naik helikopter? Terus ... tadi siapa nama kalian?" tanya Fara menunjuk lelaki yang baru saja memperkenalkan diri.
"Turgen. Lalu dia bernama Oktai, dan dia Ganzorig," jawab lelaki tersebut seraya menunjuk dua temannya.
"Nah iya itu. Kalian ikut aja semobil dengan kami sampai mobil mogok. Selanjutnya, kita pikirkan nanti," jawab Fara yang membuat semua orang melongo.
"Untung bukan kamu ketua tim kita. Bisa mati sengsara anak buahmu di gurun pasir," sahut Obama, tapi membuat wajah Fara langsung berubah masam meski tertutup masker.
"Bukankah ... ada bahan bakar di helikopter dari sisa cadangan kita, Polo?" sahut Ritz mengingatkan.
"Ah, kau benar. Kami masih memiliki sekitar 20 liter dalam satu jeriken bahan bakar untuk mobil. Kita bisa menggunakannya sampai ke tempat pengisian terdekat. Namun, perencanaan harus matang. Kita harus memetakan wilayah agar tak melenceng jauh dari rute," tegasnya.
"Hem, usulan bagus, Polo. Kita harus tetap terhubung. Aku akan mencoba menghubungi Kastil Borka untuk melakukan penjemputan di titik terakhir kalian berada nanti," sahut King D dengan mata sayu.
"Okeh, Otong coba rapiin detailnya dulu. Bos D bobo aja, biar Otong yang kerjain. Gampang ini," sahut Obama yang mendapat senyuman dari semua orang.
Kumpulan orang-orang asal Mongol itu terlihat senang. Fabio segera mengambil bahan bakar ditemani oleh Lucas untuk mengisi bahan bakar mobil tersebut.
Tiga orang Mongol itu terlihat cukup terampil saat mencoba menyalakan mesin dan mengecek kondisi kendaraan sebelum digunakan.
Turgen, Oktai dan Ganzorig yang dipilih Fara tampak tak keberatan saat mereka diminta untuk ikut dalam perjalanan darat menyusuri gurun.
"Kita akan bertemu di Rusia," ucap Sarnai saat menyalami tiga kawan lelakinya itu.
"Setidaknya, mereka lebih menjanjikan ketimbang orang-orang itu. Doakan kami selamat sampai tujuan. Karena jujur, keberadaan kawan-kawan kita yang berubah menjadi monster membuatku cemas," ucap Oktai si lelaki berambut ala tentara.
__ADS_1
Sarnai pamit dan berjalan bersama orang-orangnya menuju helikopter yang siap meninggalkan Gurun Gobi siang hari itu.
"Oh, itu apa?" tanya lelaki dengan rambut hitam panjang tergerai bernama Ganzorig menunjuk dua lelaki kembar yang berjalan mendatangi mereka.
"Persenjataan dan perbekalan selama melintasi gurun. Kita tak pernah tahu bahaya yang akan mengancam. Oleh karena itu, persiapan dilakukan," tegas Marco seraya meletakkan dua tas besar di atas mobil, begitupula Polo.
"Otong sudah memetakan wilayah untuk kita, dan ini rute menuju pengisian bahan bakar terdekat," ucap Polo seraya menunjukkan sebuah tablet dengan beberapa titik sudah ditandai sebagai tempat transit mereka nanti. Tiga orang Mongol itu mengangguk pelan terlihat kagum. "Lalu, kemungkinan besar, kita hanya bisa menyeberang sampai ke Irkutsk, Rusia. Otong sudah menghubungi kastil Borka, dan para wanita dari Red Skull siap untuk menjemput kita," imbuhnya yang membuat wajah Lucas dan Fabio berbinar seketika.
"Apakah ... Zeni pacarku akan ikut menjemput?" tanya Fabio terlihat sumringah.
"Bagaimana dengan Rea?" timpal Lucas terlihat gugup.
Polo dan Marco menahan senyum sambil geleng-geleng kepala.
"Cari tahu sendiri saat bertemu mereka nanti," sahut Polo yang membuat wajah dua lelaki itu bersemu merah.
"Oh, tapi aku baru ingat. Kalian 'kan tak ikut dalam mobil. Jadi ... kita akan bertemu di Krasnoyarsk," ucap Marco yang membuat wajah dua lelaki itu berubah masam.
"Jika kalian mau bertukar tempat, kami persilakan," timpal Polo.
"Tidak bisa! Kalian tak boleh digantikan. Tujuanku mengajak kalian berdua karena kemampuan superpower kita. Sedang Lucas dan Fabio orang biasa. Jangan sampai mereka terbunuh," imbuh Fara yang sudah berpenampilan modis seperti siap untuk jalan-jalan, dan kini ia cuek saat menunjukkan taringnya tak ditutup masker wajah lagi.
"Di-dia memiliki taring," ucap Turgen menunjuk.
"Hem. Jangan membuatku kesal atau aku tak segan menghisap darahmu seperti vampir," ancam Fara seraya memakai kacamata hitam lalu duduk di samping bangku sopir.
Semua lelaki hanya diam tak berani berkomentar. Tiga lelaki Mongol itu seperti bingung dan takut dengan situasi ini.
Polo lalu mengajak tiga orang itu menjauh seperti ingin mengatakan sesuatu. Lucas dan Fabio segera menuju ke helikopter karena mereka siap untuk lepas landas.
Polo yang nantinya akan menjadi sopir sampai matahari tenggelam, lalu dilanjutkan oleh Marco. Sayangnya, Jason tak bisa ikut serta. Ia akan digantikan oleh Souta dan lelaki Jepang itu tak keberatan.
"Ah, kami mengerti," ucap Oktai seraya menoleh ke arah Fara yang sedang duduk manis ketika Souta mengepang rambutnya di mobil.
"Kami tak akan bertingkah. Kami hanya ingin pergi dari tempat ini dan memulai kehidupan baru meski ancaman monster masih membuat resah," sahut Ganzorig terlihat cemas.
"Aku paham hal itu. Ayo, kita harus segera berangkat. Sebentar lagi gelap," ajak Polo, dan tiga orang Mongolia itu mengangguk paham.
Souta meletakkan Critical Drone di atas kap mobil untuk mengamankan kendaraan dari serangan udara.
Orang-orang itu juga terlihat sigap dengan senapan laras panjang dalam genggaman selama perjalanan darat melintasi gurun demi bisa memasuki negara Rusia.
Mesin mobil sudah dinyalakan dan kendaraan roda empat itu melaju lebih dahulu. Helikopter lepas landas tak lama setelah mobil yang ditumpangi oleh Fara, Polo, Marco, Souta, Ganzorig, Oktai, dan Turgen melaju pesat melintasi gurun.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
uhuy makasih tipsnya diriku. kwkwkw. lele padamu😆
__ADS_1