
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
Para serigala monster seolah berpihak pada Sengkuni. Mereka tak mengizinkan King D untuk menggagalkan peluncuran roket yang disinyalir berisi serum monster terakhir. Menurut informasi dari William saat ia menjadi Hope, Sengkuni berupaya mengubah seluruh makhluk hidup di Bumi yang tersisa untuk menjadi monster selama-lamanya. Sesudahnya, ia akan menjadikan para monster itu sebagai pasukannya.
Mereka dimanfaatkan untuk mengancam para manusia yang bangkit dalam tabung jika menentang kepemimpinannya. King D yang baru mengetahui rencana tersebut bertekad untuk menghentikan kegilaan ini meski Sengkuni telah mati. Perlahan, hujan lebat yang mengguyur wilayah Cape Canaveral mulai reda meski meninggalkan banyak genangan air. Awan hitam mulai menjauh pergi dan digantikan cahaya matahari yang menguasai kawasan tersebut sedikit demi sedikit. Sayangnya, hal tersebut tak membuat suasana pertempuran mereda sedikit pun.
"Harggg!" erang King D yang akhirnya kembali menunjukkan sisi buas.
SRING! JLEB!
"Kaing ... kaing ...," rintih seekor monster serigala ketika King D membiarkan kakinya yang berlapis sepatu magnet digigit sebagai aksi untuk melakukan serangan balasan.
Jari-jari tangan King D yang memiliki kuku tajam dan bisa menembus besi, mencengkeram kuat leher seekor serigala hingga kukunya menembus kulit. King D mengangkat serigala monster itu dengan satu tangan lalu dilemparkannya jauh saat senjata otomatis dari Sengkuni kembali membidik.
DODODOOR! CRATT!!
"Manfaatkan peluru-peluru itu untuk membunuh para monster!" seru King D seraya melakukan aksi perlawanan terhadap para monster yang bersikeras untuk menjatuhkannya dari drone.
"Oke!" jawab William, Irina dan Romeo mantap.
Irina terbang menuju ke titik-titik senjata otomatis Sengkuni dengan menggiring para monster agar mengejarnya. William dan Romeo ikut melakukan hal yang sama. Strategi itu sukses membuat para monster tewas karena tertembak peluru-peluru tajam dan membuat hewan-hewan sakit itu sekarat.
"King D!" teriak William di kejauhan saat calon menantunya masih direpotkan oleh para monster yang menghambat jalannya.
Kepala King D menoleh ke arah telunjuk William. Tiba-tiba saja, terdengar seperti suara mesin beroperasi dari arah tempat peluncuran roket. Mata King D melebar saat ia bisa melihat dari kejauhan jika roket tersebut siap untuk diluncurkan meski tak ada manusia yang mengoperasikannya.
"Cepat, D!" seru Irina karena lampu pada menara menyala dan terdengar deru mesin bergemuruh.
Kepulan dari bagian bawah pendorong roket mulai menyemburkan asap. Praktis, hal itu membuat para mafia yang berada di sekitar tempat tersebut panik seketika.
"Tak akan kubiarkan!" teriak King D dengan mata melotot dan nekat untuk melompat turun dari drone karena benda terbang tersebut ditumpangi para serigala monster yang membuatnya kelebihan beban.
Saat Irina, Romeo dan William berusaha untuk membebaskan King D dari kepungan monster serigala, tiba-tiba, BRAKK!!
__ADS_1
"Arghh!" erang Irina ketika beberapa palka besi yang tertutup oleh semak di atas permukaan tanah terbuka dan mengeluarkan sekumpulan monster burung-burung gagak.
"Akk! Akk! Akk!"
"Irina!" teriak King D yang menghentikan laju lari karena Irina dikepung oleh burung-burung berbulu hitam dengan paruhnya yang tajam.
"Serahkan pada kami! Fokuslah pada roket itu! Hentikan peluncurannya!" teriak William lantang yang membuat King D mengangguk dengan terpaksa.
Kembali, William dan Romeo dibuat kewalahan karena para monster tak ada habisnya. Jordan, Q dan Eiji ikut panik karena para monster burung tak terdeteksi oleh GIGA. Tiga orang itu melihat pergerakan Tim King D yang bekerja keras untuk menggagalkan peluncuran roket sekaligus membasmi para monster yang tersisa.
"Apakah monster-monster itu sengaja dikurung dan dilepaskan saat roket siap meluncur? Kenapa putra Sandara begitu keji!" pekik Eiji marah besar dan kebingungan dalam waktu bersamaan.
"Sekarang bagaimana? Kita tak memiliki senjata apa pun untuk menggagalkan peluncuran roket itu. Kita tak memiliki akses persenjataan militer," tanya Q memegangi kepalanya dengan wajah pucat.
"Evakuasi. Masukkan para manusia yang selamat ke dalam bunker termasuk tabung-tabung. Cepat!" titah Jordan yang membuat dua orang itu tertegun seketika. "Lakukan!"
"O-oke!" jawab keduanya sampai tergagap karena tak menyangka hal ini akan terjadi.
TET! TET! TET!
"Kita harus segera pergi dari sini! Cepat!" seru Venelope di mana beberapa tim masih dalam perjalanan menyusul untuk membuang limbah monster.
Sontak, para manusia yang berada di kawasan gunung panik seketika. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam pesawat yang akan membawa pergi menuju ke markas terdekat dalam jajaran dan berharap bisa diselamatkan dari wabah monster susulan. Para sipil yang masih bertahan di Kastil Borka dibuat menangis. Suara tawa kebahagiaan sirna saat mereka merasa kedamaian hanya impian saja.
"Apakah kita semua akan menjadi monster? Apakah kita akan saling membunuh?" tanya Mitha sedih saat mereka diminta oleh Eiji untuk segera masuk ke bunker di kastil peninggalan Vesper tersebut.
"Aku tak tahu, aku tak tahu," jawab Ganzorig dengan wajah berkerut ikut tertekan.
King D mengerahkan seluruh kemampuan unik dari serum Mitologi yang terserap dalam tubuhnya untuk menuju ke lokasi peluncuran roket. Meski ia hanya disuntikkan serum Elf dari kemampuan Nicolas kala itu, tapi seolah-olah serum tersebut membangkitkan seluruh kemampuan serum Mitologi yang pernah masuk ke tubuhnya. Pria dengan warna mata hitam sepenuhnya itu berlari kencang seraya mengayunkan dua tangannya yang memiliki kuku tajam ke arah para monster. Monster-monster yang menghalangi jalannya diterobos oleh kecepatan berlari King D di mana mereka tak bisa mengunggulinya.
Di lokasi roket berada.
Suara gemuruh dari mesin berkekuatan besar mulai menggetarkan permukaan dengan kepulan asap tebal pertanda benda seperti misil raksasa tersebut siap meluncur. Eiji dan Q yang meninggalkan pusat komando untuk menyelamatkan diri di bunker, memasrahkan sepenuhnya kepada tim yang berada di lapangan. Sedang para mafia yang masih melakukan penerbangan menuju ke La Palma Spanyol tetap pergi ke gunung berapi tersebut tak peduli jika wabah monster akan menyeruak. Mereka yakin, dengan kemampuan Mitologi yang berada dalam tubuh, dampak dari serum monster tak akan berpengaruh. Mereka kebal dan fokus pada tujuan utama untuk melenyapkan limbah monster yang sudah dikumpulkan dengan susah payah.
__ADS_1
"Hah, hah, King D!" teriak Martin panik saat pesawat yang mereka kendarai berhasil lepas landas dan terbang menuju ke arah King D.
Pria bermata hitam seluruhnya itu berlari kencang. Panasnya semburan dari roket pendorong membuat wilayah basah itu menjadi kering dengan cepat. King D menoleh ke arah pesawat di mana salah satu pintunya terbuka dan ada Martin berdiri di sana. Mantan anggota dewan itu menatap King D tajam seperti menunggu instruksi darinya.
Di sisi lain, King D mulai menyadari jika senjata otomatis Sengkuni telah habis amunisi karena tak ada lagi peluru-peluru atau misil meluncur untuk membunuh mereka.
"Wow! Wow! Wow!" teriak Arthur dengan mata melotot begitupula Junior saat roket tersebut menyemburkan asap tebal menutupi permukaan di sekitarnya dan membuat pesawat yang dikemudikannya terkena terjangan layaknya badai.
"Pergi dari sini!" seru Arthur yang membuat Junior begitu fokus untuk menjauhkan pesawat tersebut dari wilayah roket meluncur.
"Kita terlambat!" teriak Romeo dengan napas tersengal usai berhasil membunuh para monster yang menghalangi rencana mereka.
"Paman! Tombak JERA!" seru King D yang berlari menuju kepulan asap.
Pria berambut gondrong itu dengan sigap melemparkan benda tersebut yang diambil dari kotak berisi persenjataan. King D menangkap senjata itu lalu membidik sasarannya. Semua orang dibuat tegang karena sosok King D tak terlihat akibat tertutup kepulan asap pekat yang bisa mengancam jiwanya. Pesawat yang diterbangkan Junior dan Arthur menjauh agar tak terkena dampak saat roket itu lepas landas.
"King D! King D!" panggil Irina dengan mata berlinang saat drone yang dikendarainya terbang mendekati wilayah peluncuran.
Hingga tiba-tiba, WHUSS!
"Menyingkir!" teriak William karena roket tersebut berhasil meluncur menuju ke langit dengan serum monster berada di dalamnya.
Wajah semua orang tegang, terlebih sosok King D tak terlihat. William yang memiliki kemampuan penglihatan super bahkan tak bisa menangkap keberadaan King D karena pekatnya asap.
"Ayah ...," panggil Irina menatap sang ayah yang berdiri tegak di atas drone, tapi pria tua itu menggeleng pelan. Tubuh Irina bergetar karena sang kekasih tak diketahui nasibnya. "D ...," panggilnya lirih dengan tubuh lesu di atas drone.
Semua orang terdiam dan pasrah dengan nasib baru mereka yang akan menjadi monster. Roket meluncur dengan cepat dan siap menyebarkan serum monster ke langit. Senyawa mematikan itu akan mencemari udara, air, dan tanah. Setiap makhluk hidup yang terkena senyawa tersebut akan berubah menjadi monster untuk selamanya.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE