
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
Para pejabat tinggi negara yang berkumpul di ballroom akhirnya selesai memberikan pilihannya di ponsel masing-masing usai menghabiskan waktu 2 jam lamanya. Rakyat menunggu keputusan King D dan Agung dengan wajah tegang saat dua orang itu duduk bersama mengecek tablet dalam genggaman. Orang-orang tampak serius menyaksikan King D dan Agung seperti melakukan pembahasan serius setelah para pejabat melakukan penyeleksian akhir dari semua pendapat yang telah dirangkum oleh GIGA. Bahkan, King D dan Agung membutuhkan waktu lebih lama hingga 3 jam di dalam ruangan khusus di mana pergerakan mereka terpantau dalam layar, tetapi apa yang keduanya bicarakan dibisukan.
"Hem, sepertinya memang sulit dan rumit," gumam Polo tiba-tiba yang duduk di halaman depan Black Castle bersama para Demon Kids.
"Oh! Kau bisa bahasa bibir ya? Keren," puji Ryan dengan wajah berbinar.
"Jika kulihat, umur kalian menjadi sepantaran jika seperti ini," ucap Souta berpendapat.
"Yep! Saat kalian tertidur, kami sebenarnya masih bangun. Kami tidur bohongan. Yang kami lakukan adalah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan sebelum mode hypersleep diaktifkan," ujar Nicolas santai seraya menikmati potongan semangka.
"Hee!" pekik Obama dan para mafia lainnya melotot.
"Ya. Kami menghubungi orang-orang yang dipercaya untuk menjaga aset setelah diketahui bencana hebat yang dimaksud dalam ramalan adalah wabah monster. Jika para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads memiliki Black Armys, Black Suit, The Shadow, Kelompok Beruang Hitam, Silhouette, Red Skull dan sejenisnya, kami memiliki pasukan yang bernama DK. Kepanjangan dari Demon Kids," ujar Harun menjelaskan yang membuat para orang dewasa itu melongo.
"Kami mengamankan aset-aset Demon Kids dan mulai memindahkan orang-orang yang masuk dalam jajaran DK ke Italia. Selanjutnya, tugas digantikan oleh para robot selagi aset kami ditutup dan senjata otomatis diaktifkan. Mengenai hal ini, hanya Bibi Sandara dan Paman Jordan yang tahu," terang Laika tenang.
"Lalu ... orang-orang yang ditemukan meninggal saat menjaga aset kalian?" tanya Melody karena tak tahu akan hal ini secara detail di mana ia merasa kecolongan sebab tak dilibatkan.
"Ya. Mereka bertahan hidup selama wabah monster terus meluas. Orang-orang itu sudah sadar konsekuensinya. Mereka tak keluar dari wilayah aset karena semua hal yang dibutuhkan telah ada dalam gedung seperti robot petani dan semacamnya," jawab Czar tenang.
"Kenapa kalian tak membagi informasi penting ini pada kami? Jika kalian tak egois, pasti banyak nyawa yang bisa diselamatkan!" seru Eva marah.
"Siapa yang percaya dengan cerita Mitologi kami? Siapa? Hanya Bibi Sandara dan Paman Jordan yang percaya 100%. Setelah mereka bisa membuktikan dengan kemampuan serum dari para ilmuwan, barulah beberapa orang percaya, tetapi itu juga sudah terlambat karena kepercayaan itu dibutuhkan sejak awal, bukan saat krisis terjadi baru percaya! Kau saja menganggap kami membual, tetapi setelah dipercaya oleh Bibi Sandara dan juga diberikan serum Mitologi, kau berlagak layaknya penyelamat dunia," sindir Hihi tajam.
__ADS_1
"Hihi ...," ucap Gibson lirih seraya memegang pundak gadis cantik itu.
"Kita satu jajaran, tetapi apa yang kami ucapkan dan perjuangan tak dipercaya. Inilah hukuman alam untuk kalian yang egois. Rasakan!" imbuhnya yang masih kesal dengan pemikiran kolot para orang dewasa masa itu.
Eva memalingkan wajah. Namun, siapa sangka, ucapan Hihi membuat orang-orang di sekitarnya yang dulu menganggap ucapan Demon Kids omong kosong terdiam. Mereka tertohok dan malu karena tak percaya pada jajaran sendiri.
"Aku ingin jalan-jalan. Kau mau menemaniku?" tanya Hihi langsung berdiri dengan wajah cemberut menatap Gibson.
Pemuda yang kini menjadi lelaki gagah dan tampan itu memberikan lengannya pada sang kekasih. Sierra tersenyum saat Gibson dengan santun meminta izin membawa putrinya pergi entah ke mana.
"Kami minta maaf," ujar Arjuna dengan menundukkan wajah.
"Kami bisa mengerti hal itu, Paman," jawab Lazarus dengan anggukan dan senyuman.
"Abang gak mau minta maaf sama Juby?" sahut Jubaedah melirik sang kakak yang terlihat tegang di depannya.
"Hiss! Rexy! Pergi aja yuk. Di sini bikin bete!" ucapnya kesal sembari melemparkan garpu ke arah piring Obama.
"Wooo, ngambekan! Emang kalau bang Otong bilang minta maaf terus benefitnya apa?" tanya Obama.
"Benefitnya, hubungan kakak adik tercipta, tapi Abang selalu bikin Juby kesel! Juby ngrasa Abang itu kaya kakak tiri! Gak ada baik-baiknya sama Juby!" jawab gadis manis itu dengan mata berlinang.
Obama terkejut, terlebih saat melihat adiknya seperti akan menangis, tetapi cepat-cepat dihapus lalu beranjak pergi.
"Juby!" panggil Rex yang langsung ikut mengejar, meski sempat menoleh ke arah Obama sejenak.
__ADS_1
Obama pucat, tetapi masih duduk di kursinya. Ia menoleh ke arah Dayana dan gadis cantik itu tersenyum dengan anggukan. Obama menarik napas dalam di mana wajahnya tak pernah terlihat serius seperti sekarang. Para anggota Demon Kids hanya tersenyum kaku tak ikut berkomentar mengenai hal ini karena mereka sudah tahu tentang hubungan kakak beradik yang memang tak akur itu entah apa alasannya. Obama beranjak dari dudukkan dan berjalan ke arah sang adik yang pergi menjauh dari kerumunan ke hutan. Semua orang menatap wajah Obama yang tak terlihat sisi jenaka dari dirinya.
Di dalam hutan Black Castle.
"Sudahlah, Juby. Kami mengerti yang kau rasakan. Mungkin ... memang Abang Otong orangnya seperti itu. Kau tak bisa memaksakan watak seseorang seperti kemauan kita. Bukankah kau sudah bisa memakluminya sejak dulu, kenapa sekarang kau mengungkitnya?" tanya Rex lembut yang berdiri di sisi sang kekasih.
"Juby capek, Rexy! Bang Otong gak berubah. Dia tu manusia gak peka!" pekiknya kesal seraya menyapu air matanya yang telah membasahi pipi. Juby menangis terisak sembari menutup wajah. Tangan di pundaknya mengelus dengan lembut agar tangisan itu mereda. "Bahkan Abang Otong mau nikah sama Dayana aja, dia gak bilang apa pun ke Juby. Dia gak pernah anggap keberadaan Juby. Selama ini, Juby gak pernah protes karena gak mau liat Bapak sama Ibu sedih, tapi setelah mereka gak ada, Juby gak mau nutup diri lagi," ujarnya masih terus mengutarakan seluruh isi hati. "Cuma Bang Otong satu-satunya keluarga yang Juby miliki, tapi ngeliat Abang kaya gitu, Juby gak mau berhubungan sama dia lagi. Juby mau putus hubungan persaudaraan aja!"
"Ush, ush, ush."
Seketika, Jubaedah menaikkan pandangan dengan tangan menengadah penuh air mata. Ia berdiri mematung saat dipeluk dari belakang dengan kepala dibelai lembut. Gadis itu tampak terkejut di mana ia yakin jika bukan Rex yang melakukannya.
"Itu karena ... bang Otong liat kamu udah jadi cewek yang serba bisa. Kamu sangat mandiri, Jubed. Banyak yang muji kamu bahkan King D karena anggap pinter, mudah bergaul, bahkan jadi jutawan di usia muda. Abang sayang sama Jubed, cuma abang gak tau gimana caranya ngutarain dan nunjukin. Abang liat kamu deket sama temen-temen setanmu itu. Abang liat kamu udah punya segalanya, bahkan jujur, bang Otong ngiri ngeliat kesuksesan kamu di usia muda. Namun, abang juga bangga karena gak nyangka. Abang cuma pengen kamu bahagia dan bang Otong gak mau jadi penghambat kesuksesanmu. Nanti dikira ikut campur," ucap Obama dengan wajah sendu.
"Huwaaaa!" teriak Jubaedah malah semakin menangis histeris.
Obama bingung dan menoleh ke arah Rex. Pemuda itu meringis seraya menggaruk kepalanya. Ia lalu berjalan mendekati sang kekasih di mana dirinya sengaja memberikan waktu bagi Obama untuk meluruskan kesalahpahaman ini.
"Juby. Kamu selalu percaya sama Rex 'kan?" tanya sang kekasih yang kini berdiri di hadapan gadis manis itu. Jubaedah mengangguk dengan wajah sudah banjir air mata. Rex tersenyum. "Rex dan Bang Otong sama-sama lelaki. Rex percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abang. Gak ada kakak yang gak sayang sama adiknya, terlebih adik manis seperti kamu. Jadi ... seperti yang selalu Rex bilang. Gak mungkin Abang Otong gak peduli sama kamu, pasti dia peduli, tapi dengan caranya sendiri. Kamu sekarang udah denger 'kan? Jadi, jangan buruk sangka lagi. Oke?" ucap Rex memberikan pengertian.
"Huwaaa!"
Namun, tetap saja, gadis manis itu menangis. Obama dan Rex saling berpandangan terlihat bingung. Obama tetap memeluk adiknya seraya mengelus kepalanya lembut. Sedang Jubaedah, mengepalkan kedua tangannya di depan dada enggan membalas pelukan itu. Air matanya terus mengalir entah apa yang ia rasakan.
***
__ADS_1
abis bangun tidur biar melek karena masih harus lembur koreksi naskah, up dulu sebagai pembuka. met malam semua. lele padamuđź’‹