
Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Rusia. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Yeah!" seru Nero langsung berlari kencang dengan mata ungu menyala terang.
Bojan panik, tapi ia tahu kemampuannya tak sebanding dengan sang cucu. Bojan memilih untuk membidik para serigala yang mengejar Maksim, Daniel dan Arthur karena mereka manusia biasa sepertinya.
Namun, ia takut jika pelurunya malah akan mengenai Nero. Bojan kebingungan dan berdiri menjauh dari helikopter.
Ia melihat sang cucu beraksi sendirian melawan para serigala monster tersebut menjauh dari aspal menuju ke padang rumput.
"Otong! Bersiap lepas landas!" seru King D memerintah seraya menerima senapan pelontar granat berisi Rainbow Gas Halusinasi dari Irina.
"Siap!" jawab Obama menyalakan mesin helikopter siap lepas landas.
"Cepat! Cepat!" panggil Irina dan Sakura yang menunggu di pintu helikopter.
"Hah, hah!" engah Maksim yang berhasil lolos dengan susah payah hingga keringatnya bercucuran, begitupula Daniel dan Arthur.
Nero berhasil menghalau kejaran para serigala karena ia menghadangnya. Tiga lelaki itu berhasil masuk dan segera duduk meski napas mereka tersengal.
"Mana Polo dan lainnya?!" tanya Fara panik karena tak mendapati saudara kembar itu di sekitar helikopter dengan baling-baling sudah berputar.
"Aku tak bisa menghubunginya! Sepertinya ada pemblokir sinyal di sekitar gedung tersebut!" tunjuk Sakura seraya melihat ke arah bangunan tempat Maksim dan lainnya tadi berada.
Namun, tiba-tiba saja, "King D!" panggil Marco seraya mengendarai forklift dengan Polo dan Souta berdiri di atas benda tersebut dari sisi bangunan lain.
"Itu mereka!" teriak Fara menunjuk.
King D melihat jika di belakang benda pengangkut itu terdapat segerombolan manusia berwajah beringas, bermata merah dan berliur sedang mengejar mobil yang dikendarai oleh tiga anggota timnya.
"Itu para monster!" seru King D yang kini membidik senjata pelontar granat ke arah sekumpulan manusia sakit tersebut.
"Mana paman Jason?" tanya Fara panik karena Jason tak terlihat.
"King D! Kau mendengarku?" panggil Polo saat kendaraan mereka berada di landasan pacu menjauh dari gedung.
"Ya! Di mana Jason?" tanya King D panik saat komunikasi kembali tersambung.
"Dia nekat mengejar kapal yang meninggalkan pulau! Aku sempat melihat lelaki itu! Mereka berlima dan memakai topeng seperti ciri khas anak buah Hope!" jawab Polo yang membuat mata King D melebar.
"Fara! Gantikan tugasku!" panggil King D setelah gagal menembak karena mendengarkan informasi dari Polo.
Fara dengan sigap menaiki helikopter dengan sepatu magnetnya. Ia mengambil senapan pelontar granat itu dan membidik para monster manusia yang berlari dengan cepat mengejar forklift.
"Aku akan menyusul paman Jason!" ucapnya lantang. Semua orang mengangguk paham. "Otong! Jemput aku di perairan!" titah King D saat masuk ke dalam kabin dan mengambil perlengkapan selam dengan tergesa.
"Siap, Bos!" jawab Obama yang dengan sigap membuat benda terbang tersebut melayang.
King D melompat dari helikopter yang masih terbang rendah dan berlari kencang menyusul Jason menuju laut.
Irina menurunkan tali tangga untuk dipanjat orang-orangnya. Fara melontarkan gas halusinasi ke kerumunan orang-orang sakit itu untuk melumpuhkan pergerakan mereka.
Maksim, Daniel dan Arthur yang sudah berumur, tak bisa berbuat banyak karena tubuh mereka gemetaran.
"Tuan Bojan!" panggil Sakura karena lelaki tua itu malah berada jauh dari helikopter dan tak bergegas menggapai tali tangga.
"Aku harus melindungi cucuku!" jawabnya lantang dan terus membidik. Ia bergerak menuju ke padang rumput, tapi tak bisa menembak karena gerakan para serigala dan Nero yang gesit berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. "Agh, sial! Aku sudah rabun! Mata tua ini menyulitkanku!" ucap Bojan kesal pada dirinya sendiri.
Saat lelaki tua itu sedang mengambil kacamatanya dengan tergesa di saku celana, tiba-tiba, DUAKKK!!
"Tuan Bojan!" teriak Sakura saat melihat Bojan diseruduk oleh seekor rusa dari samping hingga lelaki itu terpental.
Namun, ada yang aneh dengan rusa itu. Binatang tersebut seperti ikut terjangkit serum monster karena begitu liar. Tanduknya yang besar dan tajam berwarna merah seperti terkena noda darah.
__ADS_1
Rusa itu terus menghujamkan tanduknya ke tubuh Bojan hingga lelaki tua itu tak bisa berkutik karena diserang dengan membabi-buta.
"Agh! Arghhh!" erang Bojan saat tubuhnya terluka terkena serangan brutal itu.
"Kakek!" panggil Nero saat ia menoleh dan mendapati kakeknya jatuh bangun di atas rerumputan karena diserang dengan tanduk rusa tersebut.
Siapa sangka, usaha Nero untuk membunuh para serigala itu gagal. Hewan itu gesit tak seperti pergerakan para manusia. Sangat sulit menangkap kepala mereka untuk diremukkan.
Teknik yang digunakan oleh Nero seperti saat ia melawan para manusia monster gagal. Yang ada, remaja itu malah lelah sendiri karena hewan-hewan itu begitu buas. Nero mulai panik dan takut karena ia dikeroyok.
"Kakek!" panggil Nero mulai kewalahan menghindari terkaman.
Bojan mengerang kesakitan, tapi ia melihat sang cucu mulai diterkam dan tubuhnya jatuh di atas rerumputan.
Mata Bojan melebar. Ia bergulung ke samping saat rusa itu ingin menginjaknya dengan dua kaki depan.
Bojan mengambil senapannya dan segera berdiri meski tubuhnya dipenuhi luka. Mata Bojan menajam siap membidik dan DOR!!
Semua orang tertegun ketika melihat Bojan mulai menembakkan pelurunya ke arah para serigala.
Namun, tembakannya itu malah membuat serigala lainnya menjadi agresif. Bojan kini dibidik.
"Kak Irina!" panggil Fara saat amunisi pada gas halusinasinya telah habis.
Irina dengan sigap menangkap senapan itu dari bawah palka helikopter tempat biasanya King D memanjat.
Irina kini menggantikan tugas Fara untuk melumpuhkan para serigala di mana para monster yang mengejar forklift mulai merasakan dampak dari gas halusinasi tersebut.
"Lihat! Mereka mulai tenang! Itu berarti, para monster itu baru saja terjangkit!" ucap Sakura menunjuk sekumpulan manusia tersebut diam di tempat mereka berdiri seperti orang bingung.
Marco, Polo dan Souta segera turun dari mobil. Mereka berlari kencang menuju helikopter yang terbang melayang menunggu para penumpangnya naik ke atas.
"Hah, mana tuan Bojan?" tanya Polo panik seraya menaiki tangga tali dengan napas tersengal.
"Dia di padang rumput! Rumput itu cukup tinggi. Nero dan tuan Bojan hampir tak terlihat. Cepat naik!" jawab Sakura panik, dan tiga orang itu bergegas mengisi ulang senapan untuk menolong dua orang yang sedang terdesak tersebut.
Fara mencabut rambutnya dan membidik serigala yang mengepung Nero. Tampak jelas Nero ketakutan.
Nyalinya hilang seketika saat dirinya dikepung dari segala arah. Kuku dan taring tajam serigala monster itu mulai melukai tubuhnya.
"Agh! Kakek!" panggil Nero saat pakaiannya tercabik.
Ketika Bojan siap untuk menembak lagi meski tubuhnya sudah terluka parah hingga berdarah, tiba-tiba, CRATT!!
"Tuan Bojan!" teriak Souta saat ia baru bersiap untuk menembakkan pelurunya dari atas helikopter.
Mata semua orang melebar ketika melihat punggung Bojan ditusuk oleh tanduk runcing itu hingga tubuh mantan mafia tersebut terangkat.
Mata Bojan melebar dan tubuhnya langsung bergetar. Senapannya terjatuh ketika rusa itu dengan mudahnya membawa tubuh Bojan lalu melemparkannya ke rerumputan.
"Argh! Bunuh hewan-hewan gila itu!" teriak Souta marah.
Dengan sigap, DODODODOOR!!
Obama mengarahkan helikopternya mendekat usai Polo, Marco dan Souta berhasil naik ke atas.
Polo ikut menembaki rusa yang menusuk Bojan hingga hewan itu akhirnya tewas di atas rerumputan.
Fara terlihat fokus dengan lesatan rambut jarumnya untuk menusuk tubuh para serigala yang berusaha untuk memangsa Nero.
Pemuda itu jatuh terlentang di atas rumput seraya menahan mulut seekor serigala yang ingin menggigit wajahnya.
Polo menembaki serigala itu usai ia ikut memanjat dan berdiri di samping Fara menggunakan sepatu magnet. Satu per satu, serigala itu berhasil dirobohkan.
"Arrrghhh!"
__ADS_1
KRAKKK!! BRUKK!!
"Hah, hah, hah," engah Nero dengan napas tersengal saat kepala serigala yang ingin menggigitnya berhasil ia remukkan. Serigala itu tewas dan ambruk saat Nero melemparkannya ke samping.
Helikopter perlahan turun di tepian padang rumput. Semua orang bergegas memasuki wilayah itu dengan wajah cemas.
Nero melihat para seniornya itu tampak panik seperti mendatangi sesuatu karena tak menuju ke arahnya. Saat Nero berdiri, matanya melebar seketika.
"Kakek!" teriaknya tertegun saat mendapati Bojan jatuh tengkurap dengan punggung robek karena tertusuk tanduk rusa tersebut.
Nero bergegas mendatangi kumpulan orang-orang yang berusaha untuk mengobati senior mereka, tapi sepertinya sudah terlambat. Bojan terluka parah, dan darah sudah mengalir deras dari luka-luka di tubuhnya.
"Ka-kakek," panggil Nero dengan tubuh bergetar saat ia berdiri di hadapan sang kakek yang sedang dipangku oleh Daniel.
"Hah, Nero ... kemarilah," pinta Bojan mengulurkan tangan kanan yang sudah berlumuran darah.
Namun, Nero malah menangis. Ia diam saja berdiri di depan kakeknya tak menyambut uluran tangan tersebut. Bojan tersenyum tipis.
"Jadilah lelaki tangguh seperti ayahmu, Sun. Kakek tahu kau selalu berselisih dengannya, tapi ... ketahuilah jika Sun adalah sosok lelaki yang patut kau tiru ketimbang Kakek. Dia sangat menyayangimu. Hanya saja, ia tak tahu bagaimana caranya untuk menunjukkan. Kau, harus percaya pada Kakek," ucap Bojan yang membuat Nero memalingkan wajah meski air matanya terus menetes.
Perlahan, mata Bojan terpejam. Sakura dan lainnya panik. Nero yang memalingkan wajah tak tahu hal itu. Tiba-tiba saja, Sakura mendorong Nero hingga remaja itu tersentak.
"Datangi kakekmu, genggam tangannya, dan dengarkan permintaan terakhirnya. Atau kau, akan menyesal seumur hidup, Nero," tegas Sakura menatapnya tajam.
Nero terkejut dan langsung duduk bersimpuh di samping sang kakek. Nero meraih tangan Bojan yang bergetar seperti menahan sakit di tubuhnya.
Nero menahan air matanya, tapi tak bisa menutupi kesedihan hatinya. Bojan tersenyum.
"Katamu ... kau ingin menjadi seperti King D saat besar nanti. Belajarlah banyak darinya dan para seniormu. Percayalah ... mereka ... sangat bisa, diandalkan ...," ucapnya dengan mata terpejam.
Semua orang membungkam mulut rapat meski air mata mereka menetes. Bojan menggerakkan bibirnya, tapi tak terdengar suara apa pun yang keluar dari ucapannya itu.
Semua orang terlihat bingung. Polo menyipitkan mata melihat pergerakan bibir itu dengan saksama hingga bibir Bojan tak bergerak lagi.
"Tuan Bojan? Tuan?" panggil Daniel panik seraya memegang wajah Bojan dengan dua tangannya.
"No! Kakek!" teriak Nero langsung memeluk tubuh Bojan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada pria tua itu.
Fara menangis terisak dan Marco dengan sigap memeluknya. Obama Otong menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal hingga ingin ia kuliti.
Nero tak melepaskan pelukannya pada jasad sang kakek yang sudah pergi untuk selamanya. Maksim hanya bisa duduk dengan lesu seraya mengelus punggung Nero dalam diam.
"Tuan Bojan mengatakan jika ia sangat menyayangimu, Nero," ucap Polo tiba-tiba yang membuat mata semua orang langsung terarah padanya. "Dia mengatakan ... kaulah penerus keluarga Nebojsa. Kau keturunan sah dan suatu saat nanti, kau akan menggantikan posisinya. Itulah yang dikatakan tuan Bojan padamu saat terakhirnya," ucap Polo yang membuat tangisan Nero mereda.
"Bagaimana kau tahu?" tanya remaja itu bingung.
"Oh! Aku ingat! Polo bisa membaca gerakan bibir. Hal itu juga ia lakukan saat Alex suamiku mengucapkan kata-kata terakhirnya," jawab Sakura yang membuat semua orang seperti kagum akan hal tersebut.
Polo tersenyum dengan anggukan. Marco ikut tersenyum karena Polo memiliki kemampuan hebat lainnya.
"Begitukah? Itukah yang dikatakan kakek padaku?" tanya Nero menatap Polo lekat.
"Ya. Dan kau, harus mewujudkan harapan besar itu. Jangan buat kematian kakekmu sia-sia, Nero. Dia berkorban untukmu," tegas Polo dengan mata biru menyala terang.
Nero mengangguk mantap dan menghapus air matanya dengan cepat. Semua orang tersenyum karena Nero akhirnya bisa mengerti dan merelakan kepergian sang kakek.
Namun tiba-tiba, "Eh! King D! Weladalah! Otong lupa suruh jemput doi di air! Ya ampun!" teriak Obama yang membuat kaget semua orang.
Segera, Obama berlari dengan tergesa menerobos rerumputan menuju helikopter. Orang-orang yang sedang dirundung duka tampak bingung, tapi Polo dan Marco dengan sigap mengejar Obama yang panik karena melalaikan tugasnya.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya diriku. lele padamu😘 kwkwkw. aku tunggu sedekah koin dari LAP lainnya #ngarep😁