
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.
"Mm ... m ... A-Anda?"
"Eh, matamu kenapa, D? Katarak? Apa kena darah monster kok jadi item serem gitu?" tanya salah satu anggota Red Ribbon seraya memegangi wajah King D dengan dua tangan dan menatapnya lekat.
"Oh, ini ... sudahlah, nanti akan kujelaskan. Jadi ... kalian sudah bangkit? Semuanya?" tanya King D seraya bangun perlahan dan menahan sakit di tubuh.
Namun, wajah pria itu tampak loyo. Kening King D berkerut.
"Kami tersisa 15 orang, D. Jujur, kami juga gak tau siapa yang bangkitin karena tau-tau tabung kebuka lalu ada surat yang mengatakan jika kami harus segera bersiap karena wabah monster belum tuntas. Ini sebenernya kita dalam perjalanan menuju ke rumah Victor sesuai surat, eh ndilalahnya malah ketemu kamu sama polisi Korea itu," jawab pria Jawa itu yang tak lain adalah Sumanto.
King D mengangguk paham, dan tak lama semakin banyak anggota Red Ribbon yang mendatanginya. Orang-orang tua itu tampak senang karena berhasil membunuh para monster. Terlihat manusia-manusia buas itu sudah tergeletak tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan karena anggota tubuh sudah tidak lengkap. Motor yang dikendarai Polisi Lee juga kembali berikut dirinya untuk berkumpul.
"Polisi Lee! Anda tak apa?" tanya King D cemas karena pria Korea itu tampak berantakan.
"Hah, yah. Hanya saja, burung kecil yang kau minta untuk kuikuti kabur. Sepertinya dia takut akan kemunculan para monster itu. Beruntung aku bertemu orang-orang dalam jajaranmu. Salam kenal," ucap Lee sopan seraya membungkuk.
"Dia ini pikun apa gimana? Kok salam kenal?" tanya Made heran.
"Dia ... ah, panjang ceritanya," jawab King D seraya mengusap wajah di mana tubuhnya masih memulihkan diri sehingga membuatnya kurang fokus.
"Haha! Ba a kaba, D? Lai aman-aman se? Eh? Itu matamu kenapa?" tanya anggota Red Ribbon lainnya bernama Uda asal Padang.
King D terlihat kebingungan dalam menjawab, tapi akhirnya ia menjelaskan secara singkat mengenai keadaannya sekarang dan kondisi kawan-kawan yang disekap Sengkuni. Praktis, mata mantan anak buah Vesper yang dulunya masuk dalam jajaran Sutejo melotot seketika.
"Gila betul itu, Si Kun-kun! Kalau simaknya tau, bisa disunat habis itu bocah," sahut Toras bertolak pinggang.
"Waktu kita tak banyak, Paman. Kita harus ke sana. Hanya saja, jarak menuju kediaman Victor bisa menghabiskan beberapa hari jika menggunakan mobil atau motor," tegasnya.
Akan tetapi, senyum orang-orang asal Indonesia itu membuat kening King D berkerut.
"Hari gini pakai mobil dan motor sudah gak zaman, D. Ayo, ikut kita. Red Ribbon punya kendaraan bagus yang ditinggalkan simbokmu di Resort," ucap Gatot yang membuat King D terkejut karenanya.
Luka di tubuh King D berangsur membaik. Anggota Red Ribbon terlihat kagum akan kemampuan dari serum alien tersebut. Mereka malah ingin memiliki kemampuan serupa karena dianggap keren, sedang King D menganggap hal tersebut adalah beban. King D berharap dia bisa sembuh karena merindukan sosok manusianya tanpa kekuatan dari makhluk luar angkasa yang bersemayam di tubuh. King D mengikuti para seniornya hingga mereka tiba di balik hutan tak jauh dari Resort milik Lysa berada. Di sana, terdapat beberapa kendaraan yang pernah ia lihat sebelum ditidurkan.
"Oh, itukan ...," ucapnya dengan mata melebar.
"Ya! CD ini bisa bawa manusia, D, tapi cuma satu orang per drone. Ibumu kerjasama dengan Theresia Aero-Bot di bawah pengawasan Nyonya Manda di pabrik Italia peninggalan Nyonya Theresia. Tentu saja produk ini ilegal karena gak berlisensi dan khusus diproduksi buat jajaran kita aja. Nah, saat itu ibumu pesen 20 unit untuk kami. Hanya saja, karena lima dari kami telah tewas, masih ada sisa unit buat kamu dan Polisi Lee pakai. Ikhlas kita, wong kamu juga anaknya Mimi-mu kok," sahut Tukiman.
King D yang saat itu baru melihat prototipe melalui design 4 dimensi tak menyangka jika benda tersebut berhasil diterapkan dan diproduksi meski masih terbatas. Namun seketika, ia teringat alasan kenapa ia mengirimkan Polisi Lee dengan motor trail tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kakek Ivan, Shamsa, Gibran dan Irsyad?" tanya King D cemas.
Namun, lagi-lagi. Senyum para pria Indonesia dari Sabang sampai Merauke itu terpancar. King D berkerut kening.
"Mereka aman, D. Mereka jatuh deket resort saat kami siap-siap. Untung kita ngenalin Tuan Ivan. Segera kita amankan karena mereka berempat terluka cukup parah," ujar Wayan yang membuat King D semakin cemas.
"Tadinya kami siap terbang, tapi melihat ada banyak sekali pesawat melintas, kami bersembunyi. Lalu, lima orang dari kami sengaja tinggal untuk menjaga Resort ibumu agar tak diambil alih oleh musuh yang bernama Hope, sesuai informasi dalam surat. Oleh karena itu, kami waspada," terang Nyoman.
"Kuring ukur bingung. Saha anu dimaksud ku utusan tina 13 Demon Heads? Kuring hariwang yén ieu téh bubu, tapi di tempo sajauh ieu, lain sigana mah. Anjeunna janten salah sahiji jalma dina pangkat anu tugasna janten mata-mata. Meureun siga anggota Black Armys. Salaku éta tugas na Naomi, Sun dina poé-Na," ujar Ucup.
(Cuma kita bingung. Yang dimaksud utusan 13 Demon Heads itu siapa ya? Khawatirnya ini jebakan, tapi ngeliat sejauh ini sih kayaknya enggak. Dia pasti salah satu orang dalam jajaran yang tugasnya menjadi mata-mata. Mungkin para anggota Black Armys. Seperti tugasnya Naomi, Sun pada zamannya.)
King D dan anggota Red Ribbon lainnya mengangguk setuju. Polisi Lee yang terluka akhirnya mendapatkan pengobatan dari para senior mafia di bawah jajaran Lysa. King D memasrahkan Ivan dan anggota timnya kepada Red Ribbon yang berjaga di resort ibunya. Kini, ia lega karena anggota timnya telah ditangani oleh orang-orang terpercaya.
"Polisi Lee. Sebaiknya Anda menyusul ke Resort. Misi ini akan sangat berbahaya dan mungkin bisa menewaskan Anda. Percayakan saja pada kami dan aku berjanji untuk menyelamatkan Haru," pinta King D serius.
Wajah Lee yang terbalut perban layaknya mumi menggeleng. "Aku seorang suami dan juga seorang ayah. Anak dan isteriku disekap oleh bajiingan keparatt Sengkuni. Mana bisa aku hanya berharap pada kalian dengan menunggu di Resort? Maaf, tapi sejauh ini, tiap aku berdoa tak pernah dikabulkan Tuhan. Jadi, aku memilih untuk berjuang," terangnya.
Anggota Red Ribbon terkekeh. King D tak bisa menahan keinginan polisi asal Korea Selatan itu untuk ikut bersama timnya. King D dan Polisi Lee dipersenjatai. Polisi itu juga dipasangkan earphone translator agar mengerti dengan bahasa yang akan mereka gunakan nantinya karena menurut King D, tak banyak yang bisa berbicara bahasa Indonesia kecuali jajarannya dan Sengkuni sendiri.
Terdapat empat baling-baling besar di bagian atas drone pada empat sisi membentuk persegi. Lalu sebuah dudukan layaknya kursi dengan pengaman pada bagian dada yang membuat pengendara itu bisa duduk selama terbang. Pengendali terdapat pada pegangan di sisi kiri dan kanan dudukkan. Bagian atas kepala pengendara terdapat moncong senjata dari senapan mesin yang siap menembak dengan amunisi tersimpan apik pada sandaran pengendara tersebut. Kamera drone terdapat di empat sisi yang terkoneksi dengan kacamata pengendara. King D dan 10 anggota Red Ribbon siap berangkat bersama dengan Polisi Lee menuju kediaman Victor.
"Jangan khawatir soal bahan bakar. Drone memakai baterai dan sumbernya dari panas matahari. Baterai cadangan sudah disiapkan dan seharusnya cukup membawa kita sampai ke rumah Victor," terang Bonar.
Dua belas drone modifikasi yang diberi nama Aero-CD kini meninggalkan Alice Spring menuju kediaman Victor yang berada di Warrnambool, sebuah kota di pantai barat daya Victoria, Australia.
Sedang di sisi lain.
Tim yang mendapatkan surat dari Utusan 13 Demon Heads mulai gencar melakukan perebutan markas seperti yang dilakukan tim Jonathan dan juga Goran. Mereka tak segan membantai anak buah Hope karena telah mengambil yang bukan miliknya. Obama yang masih belum bisa mengendalikan kemampuannya, dipaksa oleh Jonathan dan Zurna agar bisa menggunakannya dengan tepat.
Black Stone, Turkey.
"Bangunkan mereka cepat! Anak buah Hope terlihat dari sensor pemindai!" titah Jonathan yang menggantikan tugas Obama sebagai pilot helikopter.
Zurna dan Obama bergegas membangunkan 4P yang sengaja tidur di dalam tabung tanpa mode hypersleep. Empat orang itu melakukan kerja lembur semenjak datang ke Black Castle. Jonathan berbaik hati dengan membiarkan mereka beristirahat selama perjalanan dan baru dibangunkan saat keadaan terdesak. Dan sekaranglah waktunya.
BYUR!!
"Woi!" teriak P-I karena tiba-tiba saja wajahnya disiram dengan air hingga ia terperanjat dan langsung duduk.
Hal serupa juga terjadi pada 3P lainnya. Mereka kaget dengan mata merah layaknya para manusia monster, tapi bukan terjangkit melainkan masih mengantuk dan dibangunkan secara paksa.
__ADS_1
"Udah ngilernya. Bangun cepet! Ganti strategi. Kita rebut Black Stone dari anak buah Hope. Bersiap!" titah Obama yang masih membawa ember usai membangunkan empat orang itu sekaligus dengan menyiram mereka.
4P yang tadinya marah, langsung reda usai mendengar perintah itu. Meskipun masih sempoyongan karena kaget, mereka dengan sigap mempersenjatai diri dan siap ditugaskan.
DODODODOOR!!
"Mereka menyerang kita! Cepat turun dan hajar semuanya!" teriak Jonathan yang berhasil menghindari tembakan dari bangunan Black Stone saat helikopternya memasuki wilayah tersebut.
"Siap, Ndan!" jawab 4P dengan pengait di pinggang.
PIP! NGEK!
Dengan cekatan, 4P melompat turun dari helikopter seraya membawa senapan laras panjang dalam genggaman. Obama Otong dan Zurna melindungi 4 lelaki itu saat memasuki wilayah terluar untuk meruntuhkan pertahanan anak buah Hope yang menjaga gerbang. Suara tembakan dan ledakan terdengar bersahut-sahutan yang membuat suasana tenang menjadi riuh seketika.
"Otong, cepat!" titah Zurna yang siap turun bersama Obama menuju ke titik terdekat dari Black Stone usai menurunkan 4P.
"Aku akan melindungi kalian!" teriak Jonathan dari bangku pilot yang berusaha tetap terbang stabil sampai muatannya turun.
Obama dan Zurna dengan sigap meluncur turun menggunakan tali. Keduanya lalu berpencar mencari lokasi penyergapan sesuai dengan instruksi. Jonathan terbang di sekitaran Black Stone mencoba menghancurkan pertahanan terkuat dengan membombardirnya. Hingga ia teringat dengan kemampuan Obama yang belum dimaksimalkan.
"Lakukan dengan benar, Otong! Kau sudah berjanji untuk melindungiku!" teriak Jonathan kesal yang terus melakukan penyerangan menggunakan persenjataan dari benda terbangnya tersebut.
"Lagi dicoba, Om! Buset dah! Omelannya bikin kepala cenat-cenut kaya simbok!" pekik Obama yang sedari tadi masih berdiri dengan mata terpejam rapat lalu dibuka dan dipejamkan lagi seperti mencoba mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya. "Otong beneran gak tau gimana ngeluarin kemampuan, Om! Pie iki?" teriaknya frustasi sendiri karena 4P saja yang tak memiliki kemampuan serum tetap tangguh menghadapi musuh-musuhnya.
"Kau sungguh memalukan! Kau kembali saja ke tabung!" teriak Zurna marah dari sambungan radio berfrekuensi khusus yang terhubung dengan earphone-nya.
"Gak perlu pakai kemampuan. Otong udah jadi jagoan walaupun manusia biasa! Heaaaa!" teriaknya yang akhirnya memilih untuk bertempur layaknya manusia biasa.
"Maju, Tong!" teriak P-M menyemangati dari kejauhan saat Obama Otong berlari seraya menggenggam dua pedang Silent Gold yang tersimpan apik di ruang penyimpanan benda berharga Black Castle.
"Demi bapak, ibu, dan semuanya yang tewas karena kebiadaban kalian! Mati semua! Heaaa!" teriaknya lantang terlihat tak takut dan begitu berambisi untuk menghabisi para pria bertopeng itu.
Obama dihujani tembakan, tapi ia terselamatkan berkat pakaian tempur anti peluru. Obama menebas anggota tubuh yang masuk dalam jangkauan pedangnya. Semangat Obama, praktis membangkitkan gelora di hati kawan-kawan seperjuangannya.
"Demi 13 Demon Heads!" teriak Zurna lantang yang bertarung dengan tangan kosong karena kemampuan uniknya sudah dirasa lebih dari cukup.
"Yeah! Demi 13 Demon Heads!" jawab semua orang ikut berteriak penuh semangat.
***
__ADS_1
puanjang nih epsnya dari tips koin berlimpah mak ben. lele padamu❤️ yg lain ditunggu ya sedekahnya karena udah hari senin jangan lupa vote vocer keburu angus berikut poin dari misi dan mulung. tengkiyuw💋