
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan
Malam itu, wilayah sekitar London tampak hidup meski tidak dengan kota-kota di sekitarnya. Para manusia yang tersisa berkeliling London yang mulai bercahaya lampu setelah pihak pemerintah mengembalikan daya di negara itu. Meskipun beberapa tempat masih butuh perbaikan, pembersihan dan juga perawatan paska wabah monster, tetapi orang-orang tampak antusias menjalani kehidupan baru di bawah kepemimpinan presiden baru. Seorang Presiden Dunia yang bernama King D.
Kali ini, orang-orang pemerintah, sipil dan para mafia berbaur. Tak terlihat perbedaan dalam diri mereka saat mengenakan pakaian sipil ketika menikmati pagi di London keesokan harinya. Mereka akan mendatangi Black Castle lagi karena keputusan hasil voting dari para penduduk akan dilakukan hari ini dengan bantuan GIGA yang bekerja ekstra semalaman menghimpun data. Jordan, yang mengawasi kinerja GIGA dari jauh sudah tahu, apa saja yang diinginkan orang-orang itu dalam pemerintahan baru di Era Evolusi.
"Hem, kurasa King D harus tahu hal ini," ujarnya saat GIGA sudah membuat kesimpulan, tetapi belum disampaikan kepada para manusia.
Namun, wajah Jordan berubah tegang dengan kerutan di dahi karena teleponnya tidak diangkat. Pria itu berdecak dan akhirnya memutuskan untuk menghubungi lagi 30 menit kemudian.
Di kamar King D.
Kamar yang tadinya begitu menawan dan mempesona layaknya ruangan khusus pengantin berubah menjadi seperti tempat renovasi. Barang-barang rusak dan berserakan di beberapa tempat. Bahkan, sosok Irina dan King D tak terlihat karena banyaknya barang memenuhi tempat itu.
"Emph!" keluh seseorang yang muncul dari balik kain lebar di bawah, samping tempat tidur.
Kepalanya mulai keluar di mana sebelumnya bersembunyi di balik kain putih seperti sutera itu. Ia merangkak di atas karpet berbulu dengan mata setengah terpejam seperti melawan letih yang masih menerjang.
"Agh!" rintihnya ketika matanya tersorot sinar terang dari cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamar.
Pria itu kembali merangkak, tetapi mengubah haluan menuju ke tengah. Tanpa sadar, tubuh bagian belakangnya terekspos sempurna tanpa kain penutup. Ia tengkurap di atas karpet memamerkan tubuhnya yang padat dengan otot terbentuk sempurna.
"Oh, aku ...?" gumamnya seraya melihat sekeliling sambil mengerjapkan mata. "Oh, Irina!" serunya yang berdiri begitu saja dengan benda tergantung layu di bawah perut. "Irina? Irina!" panggilnya panik dan tak peduli jika tubuhnya tak terbalut kain.
King D menyingkirkan beberapa benda karena panik mencari keberadaan sang istri entah ada di mana.
"Hem?"
"Oh, Irina?" sahut King D mendengar suara dari arah ranjang.
Ia bergegas mendatangi kasur di mana salah satu kakinya patah dan membuatnya miring ke samping. Mata pria itu membulat saat melihat tubuh mulus sang istri yang hanya tertutupi kain sebagian saja. King D mematung dan menikmati pemandangan indah di pagi hari sebagai pembuka. Seketika, senyum nakalnya terbit.
"Emph!" keluh Irina karena wanita cantik itu merasa risih.
Irina masih memejamkan mata saat King D menelusuri tubuhnya di balik selimut yang menutupi tubuh. Irina mulai terusik ketika merasakan sensasi basah menggelitik di pundaknya.
"Ah!" teriaknya yang langsung membuka mata karena kaget.
Dengan sigap, Irina bangun, tetapi karena ranjang yang miring, tubuhnya dengan cepat merosot. King D sigap menangkapnya. Mata Irina melebar saat melihat wajah rupawan yang dikenali tersenyum padanya.
"Kau benar-benar tahu bagaimana menggoda suamimu, Nyonya Tolya," bisik King D yang membuat jantung Irina berdebar kencang. "Good morning."
__ADS_1
CUP!
Mata Irina melebar. Morning kiss menyambut harinya sebagai pembuka. Senyum wanita cantik itu terpancar dan membalas sentuhan lembut bibir itu di bibirnya. Lama keduanya bertautan tanpa perang lidah karena hanya ingin merasakan kehangatan dari pasangan.
"Oh! Apa yang terjadi dengan kamar kita?" pekik Irina saat tautan itu terlepas dan mendapati kamarnya hancur berantakan.
"Harusnya aku yang bertanya. Apakah ... ini perbuatan kita? Jujur, Sayang. Aku dari tadi mencoba mengingat kejadian semalam," jawabnya masih mendekap tubuh sang istri di hadapan.
"Ouh. Semoga ... Paman Jonathan tak meminta ganti rugi," jawab Irina meringis.
King D terkekeh pelan dan diikuti sang kekasih. Irina menatap mata King D dalam begitupula sebaliknya.
"Kenapa jika berdekatan denganmu rasanya malas?" tanya Irina seraya merangkulkan kedua tangan di tengkuk suami.
"Seharusnya aku yang berkata demikian. Kau membuatku ingin berada di sini seharian," jawabnya yang kembali mendaratkan bibirnya ke wajah cantik sang istri.
Irina tak bisa membohongi dirinya jika sentuhan King D membuatnya terlena. Ia memejamkan matanya rapat dan pasrah dengan aksi liar sang suami. Irina bahkan tak keberatan saat King D mengajaknya memadu kasih lagi seperti memintanya untuk mengingat kejadian semalam.
Hanya saja, pagi ini tak seliar kemarin. Dua insan itu bisa mengendalikan diri dan bercinta layaknya manusia normal. Tak ada erangan bintang dan sisi buas saat keduanya memuaskan pasangan. King D bisa melihat jelas sosok Irina yang tak lepas dalam dekapannya karena cahaya matahari menyinari dalam ruangan begitu apik. Irina juga tak mengeluh sakit pada intimnya.
Wanita cantik itu tak melepaskan King D dari sentuhan kenikmatan yang diberikan agar sensasi tersebut tak hilang. Lagi, entah sudah beberapa kali bibit pria itu bersemayam dalam rahim Irina. Wanita itu tak menolaknya bahkan memeluk sang kekasih erat seperti enggan dilepaskan. Ia membiarkan tubuh kekar itu jatuh dalam pelukannya.
"Tidak," jawab Irina dengan napas mulai tenang seraya mengelus rambut belakang King D lembut.
"Sepertinya ... aku ingat dengan yang terjadi pada kita semalam."
"Oh ya? Aku belum. Memang seperti apa?" tanya Irina menatap King D dengan mata membulat penuh.
"Kau pasti akan mengingatnya nanti. Jadi ... mandi? Aku tak ingin kita terlihat berantakan seperti kamar ini di depan para tamu," jawab King D seraya menarik tubuhnya yang menimpa Irina.
"Gendong," pintanya manja sembari mengulurkan tangan.
King D tersenyum dan dengan sigap membopong sang kekasih. Irina tersenyum malu saat tubuhnya yang polos itu ditatap penuh maksud oleh sang suami. Ternyata, King D yang belum puas melanjutkan aksinya di kamar mandi. Irina lagi-lagi tak berkutik. Ia juga heran, tiap ajakan bercinta King D sangat sulit ditentang. Namun, ia juga menyukainya malah mengharapkan.
Kini, warna mata yang lain kembali muncul. Irina bisa merasakan mata hijaunya menyala. Ia menoleh ke arah cermin di wastafel dan mendapati mata King D juga bersinar biru terang. Sensasi aneh kembali bergerilya di tubuh pasangan itu. Rasa letih kembali hilang dan digantikan keinginan untuk terus bercinta tanpa lelah.
Sedangkan di luar kamar, para tamu mulai berdatangan untuk menikmati sarapan di Black Castle. Para sipil yang bertugas sebagai tukang masak memberikan hidangan lezat untuk para tamu di kastil hitam itu. Beruntung, robot-robot pekerja membantu dalam proses memasak dan melayani undangan. Para Demon Kids yang mengembangkan pekerja robot sebelum wabah monster terjadi, kini menerapkannya di Black Castle untuk membantu sementara waktu.
Kastil hitam itu mulai dipadati lautan manusia untuk mengisi perut. Untung saja persediaan makanan sangat cukup hingga satu minggu ke depan karena para sipil membawa persediaan dari markas tempat mereka bernaung selama ini. Robot petani bekerja dengan baik saat mengumpulkan bahan makanan dari tanaman yang dirawat selama ini meski beberapa dari stok tersebut busuk akibat terlalu lama. Namun, bahan-bahan busuk itu dapat dijadikan bahan pangan bagi hewan-hewan seperti babii, ayam, kambing dan sapi di mana beberapa markas memelihara hewan-hewan tersebut dalam ruangan khusus.
Hewan-hewan ternak pilihan itu juga bisa berkembang biak dengan sendirinya meski para penjaga telah meninggal karena beberapa faktor. Saat panen tiba, para manusia itu tak kesulitan dalam mendapatkan bahan pangan. Walaupun tak dapat dipungkiri jika beberapa ternak mati karena umur dan faktor lain.
__ADS_1
Hingga akhirnya, orang yang ditunggu tiba. Irina tampak menawan dengan gaun warna hijau yang senada dengan warna matanya. King D terlihat gagah dengan setelan ekslusif ketika menemui rakyatnya. Keduanya mendapatkan sambutan tangan meriah.
Presiden Dunia itu melirik ke arah para petinggi negara yang sudah berkumpul di ballroom. King D mengangguk pelan di mana ia sudah tahu hasil penilaian dari GIGA. Beruntung, pria itu mengecek ponselnya sebelum keluar kamar. Pembicaraan serius dengan Jordan berlangsung dan Irina ikut mendengarkan.
"Santai saja. Kembalilah duduk di kursi masing-masing melanjutkan sarapan. GIGA akan mengumumkan hasil dari perekaman kemarin," ujar King D di mana ia kini selalu memakai mic portabel yang terselip di kerah baju agar suaranya bisa terdengar di seluruh sudut Black Castle.
Layar-layar besar juga terpampang di beberapa ruas kastil megah itu karena banyak dari para tamu yang duduk tersebar di berbagai wilayah. Mereka menikmati makanan seraya melihat ke arah layar seperti sedang menonton televisi. King D berpidato singkat sebagai pembukaan dengan Irina dan Wakil Presiden Dunia—Agung—berdiri mengapitnya.
"Baiklah, tak usah berlama-lama. GIGA, umumkan," ucapnya pada komputer pintar itu.
"Perintah diterima. Akumulasi vote penentuan perundang-undangan untuk pemerintahan baru Era Evolusi," jawabnya dengan suara Vesper yang membuat beberapa orang memiliki kesan tersendiri. Rindu dan juga marah.
Orang-orang tampak tegang mendengarkan hasil yang dibacakan menurut jumlah terbanyak dari kesamaan pendapat. GIGA yang saat itu bertugas melakukan perekaman, selanjutnya melakukan pengelompokkan sesuai kesamaan dalam pendapat, misalnya keinginan penduduk untuk mendapatkan perlindungan, tunjangan, pekerjaan tetap, penghasilan, dan semacamnya. King D yang sudah tahu hasil itu telah membuat kesimpulan dalam pemikirannya di mana para pemimpin dunia ikut mendengarkan dengan saksama.
Kali ini, sistem yang diterapkan adalah demokratis mengingat jumlah populasi manusia yang sedikit dan bencana hebat membuat trauma tertentu pada beberapa orang. King D memilih agar orang-orang yang tersisa berhak untuk mendapatkan hak untuk melanjutkan hidup baru meski dirinya yakin, akan banyak perdebatan dengan para petinggi dunia lainnya.
"Terima kasih, GIGA," ujar King D usai mendengar hasil pendataan sistem.
Para pemimpin negara dan pejabat lainnya terlihat sibuk melakukan coretan-coretan penting dalam kertas di atas meja mereka. Para sipil tampak tegang menunggu keputusan karena kali ini, vote penentuan dari para pemimpin negara yang akan disahkan oleh King D.
"Irina, tolong," pintanya pada sang istri. Wanita cantik itu mengangguk paham. King D kini menikmati sarapan di mejanya sembari menunggu.
"Silakan aktifkan ponsel kalian masing-masing."
Para pejabat itu tampak bingung, tetapi menurut. Mereka terkejut saat melihat GIGA telah masuk dalam sistem ponsel tersebut. Ada sebuah aplikasi baru bernama GIGA yang secara otomatis membuat telunjuk mereka menekannya.
"Hasil dari pendataan GIGA telah ada di sana. Silakan melakukan pilihan dari ponsel masing-masing untuk menentukan pilihan. Cukup memberikan tanda cek pada kolom yang tersedia. GIGA otomatis menyimpannya dan privasi tetap terjaga. Kami memberikan waktu selama satu jam. Silakan," ucap Irina yang membuat para petinggi itu kagum karena kecepatan kinerja sistem komputer ciptaan Theresia tersebut.
Tampak para pejabat berwajah serius layaknya ujian. Para sipil tak sabar menunggu, tetapi mereka tahu jika orang-orang cendikia itu sedang berusaha keras memikirkan nasib mereka untuk masa depan dalam era yang baru. Para pejabat itu terlihat seperti menimang-nimang baik buruk dari keputusan yang diambil. Ternyata, satu jam tidaklah cukup. Terlalu banyak berpikir ketimbang melakukan eksekusi meskipun sekedar memberi tanda cek. Namun, orang-orang paham jika membuat keputusan yang menyangkut hidup orang banyak memanglah sulit.
"Baik. Tambahan waktu satu jam lagi. Gunakan dengan bijak. Terima kasih," ucap Irina setelah mendapatkan izin dari King D.
Saat para pejabat itu serius dengan pekerjaannya, King D, Agung dan Irina berkeliling Black Castle untuk menemui rakyat. Mereka mendengarkan keluh kesah secara langsung dan bersalaman. Banyak di antara mereka menceritakan tentang perjuangan yang dilakukan untuk tetap bertahan hidup di tengah wabah monster. King D akhirnya paham penderitaan rakyatnya dan berusaha memberikan yang terbaik.
"Aku sangat bahagia melihat putra kita dipercaya untuk memimpin dunia, My Sultan," ucap Lysa penuh haru.
"Pemimpin seluruh dunia. Tentu saja, darah penguasa mengalir deras dalam diri keturunanku," ucap Javier bangga tanpa berkedip menatap putranya yang berdiri di tengah-tengah kerumunan manusia.
***
kwkwkw nangkring di kamar mandi dapet 1800 kata. mayan lah ya. bonus kesemutan di kaki 😆 trims udh sabar menunggu. lele padamu💋
__ADS_1