KING D

KING D
Junior Si Pucat


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


Semua orang tampak tegang melihat sosok yang bagi mereka tak lazim baik segi wujud atau pun perilaku. Irina melepaskan kacamatanya berikut dengan Obama. Jonathan yang melihat dari tampilan kamera mini di seragam tempur tiga mafia muda itu sampai duduk dalam tabung.


"Apakah ... kau Junior putera dari Sandara dan Jordan?" tanya King D memastikan yang masih berjongkok di depannya.


Sosok berkulit pucat itu mengangguk. Ia lalu menarik tangan King D seperti mengajaknya ke sebuah tempat. King D sampai ikut melompat seperti kodok karena sosok itu hanya setinggi perutnya. Obama dan Irina mengikuti King D sampai mereka tiba di ruangan seperti pusat kendali.


"Hoh! Hoh!" ucapnya seraya menunjuk pada sebuah layar di mana tombol-tombol dari sistem komputer di tempat itu masih menyala.


Junior menekan sebuah tombol, dan seketika, muncul tampilan di sebuah layar yang membuat mata King D, Irina, Obama, dan Jonathan melebar seketika.


"Kalian mengenalku. Ya, aku Sandara Liu. Jika salah satu mafia dalam jajaran 13 Demon Heads atau The Circle bertemu dengan Junior, itu pertanda jika Bumi sudah dalam kondisi kritis, alias penurunan drastis populasi jumlah manusia. Jangan anggap puteraku sebagai makhluk aneh dan berbahaya. Aku sudah menginputkan banyak informasi di otaknya mengenai siapa saja orang-orang yang dianggap ancaman atau tidak. Junior bisa melindungi dirinya sendiri baik dari penjahat atau pun para monster," ucap Sandara yang membuat Irina, Obama, dan King D saling melirik.


"Sial, aku hampir lupa tak merekamnya," pekik Jonathan karena terpaku pada informasi yang Sandara sampaikan.


Keturunan Benedict itu segera melakukan perekaman meski bagian pertama dari informasi penting Sandara terlewatkan. King D yang baru menyadari keterlambatannya lagi ikut mendesis kesal. Obama dengan sigap mengeluarkan tablet dan merekam melalui fitur video.


"Junior bisa beradaptasi dengan wujud barunya. Dan dia adalah puteraku dari Jordan Boleslav. Dia ... mengalami semacam cacat gen mungkin karena kami saudara sepersusuan. Namun, hal itu juga terjadi pada puteraku dari hasil inseminasi buatan dengan Raden di mana baru kuketahui jika saat bayi dulu, Bibi Tika pernah mendonorkan ASI padaku," sambungnya yang membuat mata para mafia itu kembali melebar.


"Astaga! Aku sampai lupa hal itu. Benar yang dikatakan Sandara. Aish, kenapa tak ada yang mengingat kenangan ketika mama mengasingkan diri ke Australia saat hamil Sandara? Bodoh sekali," gerutu Jonathan karena tak ada satu pun mafia yang melarang ketika Sandara menunjuk Raden sebagai benih dari calon bayi keduanya.


"Aku dan Raden saudara sepersusuan seperti Jordan meski kondisi anak keduaku tak seburuk Junior. Malah, dia paling unggul dibanding dua saudara lainnya. Namun, berhati-hatilah jika bertemu dengannya. Aku dan Jordan menamainya Sengkuni usai melihat perubahannya ketika menginjak remaja. Jika kalian tahu watak dari tokoh wayang tersebut, bersiaplah, atau kalian bisa tewas karenanya. Segala cara sudah aku dan Jordan lakukan untuk menghentikan aksi gila Sengkuni, tapi ... semua sia-sia. Hanya Dayana Lubava dan Junior yang bisa mengendalikan Sengkuni. Semoga kita berumur panjang dan bisa berjumpa lagi saat Bumi kembali damai," ucap Sandara yang kemudian tampilan itu padam.


Para mafia itu terdiam. Junior lalu melompat ke atas kursi dan menunjuk layar lagi. King D, Irina dan Obama menatap Junior saksama ketika ia kembali menekan sebuah tombol lain. Lagi-lagi, mereka dibuat terkejut saat melihat sosok dari Sengkuni yang ternyata berwajah tampan, tapi memiliki goresan luka melintang di bagian ujung kanan sehingga alisnya seperti terpotong.


"Itu ... Sengkuni?" tanya King D memastikan, dan Junior mengangguk.


"D! D! Ini ... ini dugaan Otong loh ya. Bisa jadi si Hope ini Sengkuni," ucapnya.


"Begitukah menurutmu?" tanya King D menatap Obama lekat.


"Aku rasa, itu tidak mungkin," sahut Jonathan.


"Kenapa enggak, Om? Itu tadi Bibi Sandara udah kasih rincian dengan jelas watak dari Sengkuni loh. Mirip kaya Hope 'kan?" ucap Obama heran.


"Sengkuni seharusnya masih remaja jika dia dibangkitkan. Sedang sosok Hope yang kita lihat, dia sudah dewasa," jawab Jonathan yang membuat para mafia muda itu berpikir serius.


"Bagaimana jika dia memiliki kemampuan tak lazim seperti kami? Mungkin saja, kemampuan itu membuat tubuhnya menjadi seperti manusia dewasa?" tanya Irina menyampaikan pendapat.


"Hasih, entahlah. Namun, instingku mengatakan jika Hope bukan Sengkuni. Entah dia siapa," jawab Jonathan bersikeras dengan pendiriannya.

__ADS_1


Saat Irina dan Obama terlihat serius berpikir, tiba-tiba Junior sudah berada di tempat lain. King D segera mendekati anak lelaki berwajah pucat yang berjongkok di atas tabung. King D penasaran dengan sosok yang disimpan dalam tabung itu. Hingga lagi-lagi, hal mengejutkan terjadi.


"Oh!" pekiknya yang membuat Irina, Obama dan Jonathan ikut melebarkan mata. "Bukankah ini ...."


"Simbah Mandy!" pekik Obama yang membuat Irina langsung mendekati tabung itu dan menyentuhnya begitu saja.


Beruntung, Irina tak terkena dampak dari sistem keamanan tabung. Junior menatap Irina lekat yang kini berjongkok di samping tabung tersebut. Junior lagi-lagi menggerakkan telapak tangan di depan wajah seperti yang dilakukan pada King D. Irina terkejut, tapi diam saja menatap Junior lekat.


"Hah ... Irina Tolya," ucapnya dengan suara serak.


"Ya! Aku Irina Tolya. Aku bisa membuka tabung nenek!" serunya senang.


Junior seperti paham yang diucapkan oleh Irina. Anak lelaki berkulit pucat seperti kapur itu segera melompat turun. Ia melihat gerak-gerik Irina ketika menekan beberapa tombol di samping tabung dengan maksud membangkitkan Amanda Theresia.


"Bagus, Irina. Kita harus bangkitkan Nyonya Manda. Dengan begitu, kita bisa mengaktifkan GIGA," ucap King D senang.


Irina mengangguk mantap tanda setuju. Tak lama, sistem pembangkitan pada tabung generasi pertama buatan Kai mengeluarkan suara yang pertanda, jika proses pembangkitan sedang dijalankan. Junior tampak kagum karena tak henti-hentinya ia melihat tabung tersebut lalu mengelilinginya.


"Menyingkirlah, Junior," pinta Irina.


Dengan sigap Junior menyingkir. Namun, hal itu malah membuat Obama Otong berteriak histeris.


"Wa! Wa! Wa! Jangan Otong! Otong takut sama kamu! King D aja! King D! Tolong!" teriak Obama saat Junior malah melompat padanya seperti minta gendong.


"Otong!" pekik King D karena Obama pingsan seketika.


Junior menatap Obama yang tiba-tiba saja tergeletak di lantai dengan mata terpejam tak bergerak lagi. Junior menggerakkan tangan seperti melakukan pemindaian pada wajah Obama.


"Hoh! Hoh! Obama Otong! Tong! Tong!" ucapnya seraya melompat-lompat di atas perut Obama.


"Junior, maaf. Menyingkirlah. Otong butuh waktu untuk beradaptasi. Kau ... bermain denganku saja. Oke?" ajak King D seraya memegang lengan kanan anak kecil itu.


Junior mengangguk dan melompat ke punggung King D seperti minta gendong. Namun, hal lain dirasakan oleh King D dari aura Junior. Ia merasa jika tubuh Junior sedingin es. King D merasa dirinya seperti membeku seketika karena tiba-tiba menggigil dan mulutnya mengeluarkan asap.


"Hah, hah ...."


BRUKK!


"D!" panggil Irina langsung berlari mendekat karena kini, King D ikut pingsan.


Jonathan yang melihat hal tak wajar itu akhirnya nekat keluar dari helikopter. Ia berlari masuk dalam markas untuk melihat kondisi anggota timnya secara langsung. Junior terlihat bingung dan merangkak di sekitar dua lelaki itu.

__ADS_1


"Apa yang kaulakukan pada mereka, Junior?" tanya Irina menatap Junior lekat, tapi anak kecil itu seperti tak tahu dari hasil perbuatannya.


Saat Irina memegang pergelangan tangan Junior yang tak berlapis kain, ia merasakan hawa dingin dari tubuhnya. Junior memandangi tangan Irina lekat dan malah mendekat padanya.


"Hoh ... hoohhh ...," ucapnya seperti kagum.


Irina berjongkok dan diam saja ketika Junior memegang tangannya lalu digenggam erat. Junior menempelkan tangan Irina di kedua pipinya. Seketika, mata Junior terpejam dan lengkungan senyum terlihat. Irina bingung, tapi ia merasa jika Junior merasakan nyaman dari sentuhannya.


"Woah! Aslinya memang seram dan jelek! Aku kembali ke helikopter saja!" pekik Jonathan langsung menghentikan langkah ketika melihat sosok Junior saat memasuki ruangan.


Junior yang melihat kedatangan Jonathan dengan sigap menoleh ke arahnya dan menatap tajam. Jonathan ketakutan dan spontan berlari.


Tiba-tiba, "Eaakkkkk!"


"Arrghhhh!" erang Jonathan saat Junior mengeluarkan suara melengking bahkan membuat kaca di sekitar ruangan itu seperti retak.


Irina ikut terkejut, tapi seperti bisa menahan ketika mata hijaunya tiba-tiba menyala. Jonathan mengerang kesakitan dan menggelepar di lantai.


"Junior! Junior! Stop! Dia teman kita! Dia bukan ancaman!" seru Irina mencoba menghentikan teriakan melengking dari anak lelaki itu.


Seketika, Junior membungkam mulutnya. Irina berlari mendatangi Jonathan yang gemetaran karena telinganya berdarah. Irina panik dan bergegas membuka tasnya seperti mencari sesuatu.


"Hah, hah, telingaku sakit sekali," ucap Jonathan dengan wajah pucat.


"Kau akan baik-baik saja, Paman. Aku akan memindaimu," ucap Irina seraya melakukan pemindaian dengan alat ke bagian telinga Jonathan.


Irina terlihat panik saat ia meletakkan alat itu ke lantai lalu mengambil kotak dari dalam tasnya. Junior merangkak mendekat dan kini berjongkok di samping Irina.


"Dia terluka karena lengkinganmu. Dia bukan orang jahat," ucap Irina seperti mencari obat dari dalam kotak medis yang dibawanya.


Junior melihat Jonathan memejamkan mata dan memegangi dua telinganya yang sakit dengan tangan. Tiba-tiba saja, Junior memegang tangan Jonathan dan melepaskan dari telinganya yang sengaja ditutup. Jonathan terkejut ketika melihat wajah Junior persis di depannya. Jonathan yang ketakutan langsung memejamkan mata. Namun, hal aneh terjadi.


Junior seperti meniupkan udara di telinga Jonathan dan darah yang mengalir itu berhenti. Napas Jonathan yang tersengal mulai melambat dan kembali normal perlahan. Junior lalu merangkak mundur dan bersembunyi di balik tabung Amanda Theresia. Irina terpaku usai melihat yang Junior lakukan.


"Oh! Telingaku ... tak sakit lagi. Malah ... terasa dingin dan sejuk," ucap Jonathan seraya memegangi telinganya keheranan.


"Entahlah, Paman. Namun, darahmu sudah tak menetes lagi. Bagaimana? Apakah kau masih merasakan sakit di telinga atau bagian tubuh lain?" tanya Irina menatap Jonathan lekat.


Pria itu menggeleng dan perlahan duduk meski masih di lantai. Jonathan menatap Junior lekat dari kejauhan di mana anak kecil itu seperti memiliki kemampuan unik selain kamuflase. Junior juga bisa menyuarakan lengkingan kuat hingga membuat telinga sakit dan berdarah. Namun, Junior juga bisa meredakan sakit dengan tiupan dari mulutnya. Hanya saja, tubuh Junior yang dingin seperti es, membuat Irina yakin jika Junior menyukainya karena tubuhnya mudah sekali panas, terlebih jika marah.


***

__ADS_1


gak ada tips koin. kwkwkw ya sudahlah. doakan semua novel lele bisa tamat tepat waktu dan sesuai kuota. amin. lele padamu😘


__ADS_2