KING D

KING D
Anggota Baru*


__ADS_3


Para anggota militer gabungan terperangah saat akhirnya melihat Bumi yang ditinggali sekarang, sangat jauh dari ingatan mereka terakhir kali sebelum terjebak di Oasis untuk bertahan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Pilihan kalian tepat dengan meninggalkan Oasis," tegas King D dari sambungan earphone.


"Kau benar, D. Selama ini kami sudah salah menduga. Ternyata, dunia benar-benar sudah kacau," sahut wanita berambut sebahu tampak tegang dengan pemandangan yang dilihat di bawahnya selama melintasi daratan gurun yang luas.


"Tak ada manusia selamat lainnya?" tanya wanita berambut hitam panjang.


Anggota tim Marco-Polo menggeleng. Orang-orang militer gabungan kembali terkejut dan tampak sedih usai melihat jawaban dari gerakan tersebut.


"Bagaimana kita bertahan selanjutnya jika jumlah manusia yang tersisa sangat sedikit?" tanya wanita berambut hitam sedada tampak pucat.


Semua orang diam tak menjawab. Suasana menjadi hening dan hanya suara baling-baling helikopter yang menjadi pengiring musik selama penerbangan.


Hingga akhirnya, dua helikopter berhasil tiba di Oman dengan selamat. King D tampak tak sabar untuk segera menginjakkan kaki ke rumah karena ia harus bergegas memikirkan misi selanjutnya.


Helikopter sukses mendarat di hangar kediaman sultan karena dua benda terbang tersebut dikenali oleh CamGun yang terhubung dengan database aktif.


"Wah ... i-ini ... aku tak menyangka ada tempat seperti ini," ucap lelaki berkacamata hitam tertegun.


Ia melepaskan benda itu ketika melihat wilayah yang dilindungi benteng besar seperti stadion sepak bola.


Bagian atas bangunan berbentuk oval itu terbuka dari perisai besi yang melindungi harta dalamnya.


Tampak sebuah istana megah di tengah-tengah pekarangan luas dengan lahan hijau, kolam, dan bangunan pendukung lainnya. Orang-orang dari militer gabungan terlihat kagum.


Sayangnya, mereka belum dikenali oleh database sehingga tak bisa memasuki istana. Fara menerapkan cara yang sama kepada 8 orang tersebut seperti ketika anggota tim Marco-Polo memasuki benteng.


"Kalian paham?" tegas Fara.


"Ya, kami mengerti," jawab wanita dengan rambut dikepang.


Jason yang telah dikenali sistem, dengan mudah memasuki benteng berikut anggota tim lainnya.


Kini, orang-orang itu menunggu teman-teman baru mereka yang harus melewati tes pembuktian dan masuk kategori bukan ancaman.


"Identifikasi dirimu," perintah sistem.


"Aku Shamsa. Aku salah satu anggota pasukan angkatan darat UAE rekrutan baru dari sipil," ucapnya mantap.

__ADS_1


"Data kurang akurat. Detail," pinta sistem.


Wanita bernama Shamsa tampak gugup. Terlebih, lampu pintu dari besi itu mulai menyala kuning.


Praktis, jantung semua orang berdebar kencang tak karuan karena khawatir wanita itu akan mati tersengat. Shamsa menarik napas dalam.


"Dulunya, aku bekerja sebagai tukang tato hingga pemerintah melibatkanku untuk ikut bertempur. Aku terpaksa ikut karena mereka menjanjikan keamanan untuk dua adikku. Hanya saja, sejak aku bergabung dengan militer, aku tak tahu bagaimana kabar mereka hingga saat ini. Aku terlalu takut untuk keluar dari Oasis. Aku tak pernah melihat kematian sebanyak ini sebelumnya," ucapnya dengan suara bergetar seperti akan menangis.


Shamsa terlihat berusaha tegar dan melanjutkan kisahnya karena lampu indikator belum menyala hijau.


"Aku bergabung dengan pasukan lainnya saat ancaman wabah monster meluas di wilayah Arab. Sayangnya, usaha kami gagal dan aku terjebak di Oasis bersama tim lainnya," ungkap wanita bertato itu gugup.


"Data terverifikasi. Identifikasi dinyatakan benar. Silakan masuk, Shamsa, dan selamat datang di Istana Sultan Javier, Oman. Kami akan melindungimu," ucap sistem yang membuat Shamsa langsung tersenyum lebar.


"Oh! Dia berhasil!" seru pria bersurban cokelat yang akhirnya terlihat wajah aslinya karena selama ini tertutupi. Dan ternyata, ia botak.


Shamsa disambut oleh Irina di seberang pintu pendeteksi kebohongan. Shamsa terlihat senang dan mengayunkan tangan agar kawan-kawannya segera masuk menyusulnya.


Tampak orang-orang militer itu tak sabar untuk segera masuk ke dalam benteng dan menjelajahi istana sebagai tempat tinggal baru mereka nantinya.


Satu per satu dari mereka lolos dari pengecekan detektor kebohongan. Talora—wanita dengan rambut cokelat sebahu, Etra—wanita berambut hitam panjang, Jaeda—wanita yang memakai penutup wajah dan terlihat matanya saja, Attaya—wanita berambut hitam sedada, Amir—lelaki bersurban cokelat, Gibran—lelaki berkacamata hitam, dan Irsyad—lelaki dengan potongan militer yang selalu membawa helm.


Kedelapan orang dari gabungan beberapa militer asal Timur Tengah itu disambut baik oleh koloni baru mereka.


Rasa haru begitu terasa dalam diri masing-masing. Orang-orang itu tak menyangka jika bisa mendapatkan sebuah harapan meski harus bergabung dengan para mafia.


"Aku sungguh minta maaf, Fara. Aku lapar. Namun, aku harus memujimu. Rasa pisangmu sungguh luar biasa. Aromanya begitu harum dan menggoda iman bagi siapapun yang mencium baunya," ucap Rohan terlihat berhati-hati dalam bicara usai mengetahui kemampuan adik King D.


"Hem," jawabnya dengan wajah masam dan mata terkunci pada sosok Rohan.


Semua orang menahan senyum saat mereka berkumpul di ruang makan. Obama Otong membagikan alat translator buatan Eiji kepada para orang-orang militer gabungan itu selama berada di kediaman Sultan.


"Ulangi apa yang barusan Otong katakan!" serunya garang di hadapan kedelapan orang tersebut.


"Dilarang memakan pisang tanpa persetujuan dari Fara!" jawab orang-orang itu serempak.


Fara tampak senang seraya bertepuk tangan. Irina menahan senyum, begitupula King D.


"Apa lagi selain itu?" tanya Otong masih terlihat galak.


"Jika sistem tak mengizinkan masuk, dilarang menyabotase atau kami akan mati oleh pengamanan dari sistem itu sendiri."


"Nah, pinter. Gampang 'kan? Otong juga kasih hadiah gelang ekslusif buat kalian. Namun sebenarnya, itu gelang super mematikan jika kalian gak hati-hati," ucap Obama dengan seringai.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Gelang ini bisa membunuh kami?" tanya Irsyad langsung melotot.


"Itu adalah gelang pemenggal. Fungsinya adalah ... untuk menghukum para pengkhianat. Nah, walaupun detektor kebohongan sudah mengatakan kalian jujur, tapi ... sifat manusia gak ada yang tau ya to. Untuk mengantisipasi tindak kejahatan nurani kalian yang melenceng selama bersama kami, gelang itu siap menjadi tukang jagal bagi tangan kalian. Hati-hati, pisaunya sangat tajam bahkan langsung motong dengan cepat. Namun, santai saja. Potongannya rapi kok sejauh ini. Kalau jelek, nanti Otong gunting dikit-dikit biar serpihan dagingnya gak semrawut," jawabnya santai.


Praktis, mulut orang-orang itu menganga lebar seketika. Wajah orang-orang itu tampak pucat saat melihat gelang besi yang membelenggu pergelangan tangan kiri tersebut.


"Hah, hah, kau bohong!" seru Amir sampai napasnya tersengal.


"Welah, gak percaya. Pengen bukti? Ayo, kita kemon," ajak Obama ke suatu tempat.


Orang-orang itu bergegas mengikuti meski terlihat panik. Mereka tampak ketakutan bahkan tak berani memegang gelang tersebut.


"Nah, liat? Itu adalah tikus yang berusaha nyolong pisang punya Fara. Dia masuk perangkap. Tadinya mau kita lepasin di luar benteng biar ketemu sama para monster, tapi melihat kalian butuh bukti, Otong akan kabulkan impian kalian," jawabnya dengan senyuman.


Semua orang tampak tegang, bahkan anggota tim Marco-Polo karena tak mengetahui hal tersebut. Mereka merasa beruntung karena tak dipakaikan gelang tersebut.


Obama terlihat dengan sigap memasangkan gelang pemenggal di perut hewan pengerat itu. Orang-orang terlihat jijik, tapi Obama cuek saja saat memegang hewan tersebut.


"Nah, liat baik-baik," ucap Obama saat ia membiarkan tikus itu berada dalam sebuah akuarium kaca.


Mata semua orang terfokus pada hewan berkaki emat yang berusaha untuk melepaskan gelang pemenggal tersebut.


Namun, besi yang menghimpit tubuhnya sangat kuat. Ketika tikus itu terlihat seperti memaksa untuk melepaskannya, tiba-tiba, KRASS! CRATT!


"AAAAA!" teriak para wanita anggota militer gabungan karena tubuh tikus itu terpotong seketika.


Semua orang tampak shock, tapi tidak bagi mereka yang sudah melihat fungsi dari benda itu sebelumnya.


"A-aku pergi dulu," ucap Chen pucat dan terlihat linglung seperti orang mabuk.


"Hem, aku ikut denganmu," sahut Bruno.


"Yak. Itulah presentasi singkat dari Otong. Gimana? Cukup jelas? Mau contoh yang lain? Hanya saja kita butuh sukarelawan manusia mengingat stok tikus udah habis," jawabnya santai. "Kalau kamu gimana, Nak Gibran? Mau tes?" tanya Obama menunjuk pria yang tampak tegang itu.


Namun seketika, BRUKK!


"Eh?!" pekik Obama karena lelaki berkacamata hitam dan bertampang sangar itu pingsan seketika.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1



Uhuy covernya ganti. Hayo pada tau gak yg baru di novel apa? Jangan lupa baca ulang kalo masih kangen dengan kisah mereka dan tinggalkan komen serta like kalo lupa belom jejak. Lele padamu ❤️


__ADS_2