KING D

KING D
Bonus Play AB-2*


__ADS_3


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"Om Jojon! Om!" panggil Obama saat helikopter yang dikemudikannya tiba-tiba terbang melayang karena melihat kepulan asap warna merah muda di atas sebuah bangunan.


Jonathan bergegas mendatangi Obama bersama dengan Zurna karena penasaran dengan hal tersebut.


"Apa ada manusia yang selamat?" tanya Jonathan saat melihat dari layar pemindai sensor panas di sekitar wilayah itu untuk mencapai keberadaan seseorang.


"Gak ada, Om! Cuma itu ada bendera punya oma Vesper. Itu bendera sakral loh. Kok bisa berkibar di sana?" tanya Obama heran yang ikut melihat dari layar detektor sensor gerak makhluk hidup, tapi hasilnya negatif.


"Aku saja yang turun. Semoga bukan jebakan Hope," usul Zurna.


Jonathan mengangguk pelan meski terlihat mencemaskan kondisi wanita perkasa itu. Obama dengan sigap mengaktifkan persenjataan untuk melindungi Zurna. Isteri James segera turun menggunakan tali. Mata Jonathan dan Obama fokus pada pergerakan Zurna di mana mereka saat ini sedang melintasi Istanbul, Turki.


Mata Zurna tampak waspada memindai sekitar saat melangkah. Ia menggenggam pistol di tangan kanan dan tangan kiri memegang pedang Silent Gold yang tersimpan apik di tempat penyimpanan barang berharga Black Castle.


"Ada surat," ucap Zurna saat ia mendatangi bendera itu.


"Surat?" tanya Jonathan mengulang.


Zurna mengambil surat yang digantung pada tiang penyangga bendera usai menyarungkan dua senjatanya. Zurna membuka surat itu dan membaca tulisannya saksama. Praktis, matanya melebar.


"Tante! Kasih tau isinya!" pinta Obama dari sambungan radio berfrekuensi khusus.


"Di sini tertulis utusan 13 Demon Heads. Orang ini mengatakan agar kita fokus pada pelenyapan anak buah Hope yang berhasil menguasai markas. Kita diminta untuk merebut kembali Black Stone!" jawabnya seraya memegang kertas khusus warna cokelat itu.


Obama dan Jonathan saling melirik. Zurna melihat sekitar di mana tak tampak satu pun orang di sana. Namun, ia yakin jika orang itu memang dari jajarannya mengingat ada stampel khusus dari keanggotaan 13 Demon Heads yang dimiliki oleh mafia senior. Zurna diam sejenak mencoba memikirkan hal ini dengan serius.


"Tante! Kita rembugan di helikopter aja. Naik sini cepet!" pinta Obama.


Zurna mengangguk dan segera naik ke helikopter menggunakan tali. Jonathan dengan sigap menarik wanita itu dan meminta suratnya.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu?" tanya Zurna menatap Jonathan lekat.


"Cap ini asli. Ini ... cap milik mama. Siapa yang menyimpan cap Vesper ya?" tanya Jonathan mengingat-ingat hingga wajahnya berkerut.


"Seinget Otong ya cuma bapak, tapikan bapak udah wasalam. Gak mungkin orang mati idup lagi. Iya kan ya?" tanya pria gundul itu tampak gugup akan sesuatu.


"Kita akan cari tahu. Namun, aku setuju dengan saran utusan itu. Kita lenyapkan anak buah Hope. Dugaanku, hal ini sengaja dilakukan saat Hope fokus menjaga Australia karena berpikir kita akan ke sana dan melakukan gempuran seperti yang dilakukan tim Barracuda," ujarnya.


"Ya, aku setuju. Taktik yang digunakan kali ini dilakukan oleh mafia senior. Siapa ya? Kenapa aku jadi memiliki banyak dugaan," sahut Zurna serius.


"Menurut tante siapa?" tanya Obama serius.


Jonathan dan Obama menatap Zurna saksama.


"Lysa atau mungkin Javier. Bukankah tabung mereka selama ini belum ditemukan?" jawabnya yang membuat mulut dua pria itu menganga lebar seketika karena hampir melupakan dua senior itu.


Di tempat Sig, Neil dan Nero berada.


"Bukankah ... kau Hugo? Salah satu anggota dari tim Marco-Polo? Aku pernah melihatmu saat kita melakukan teleconference dari semua markas aktif," tanya Sig memastikan. Pria bertubuh besar layaknya raksasa itu mengangguk membenarkan.


"Apa yang kaulakukan di sini? Kenapa ... kau tak ke Australia?" tanya Nero heran.


"Tujuanku memang ke sana sebagai tim ketiga sesuai strategi yang dibahas. Sarnai, Raden, dan sebagian kawan satu timku termasuk anggota Red Skull sudah tiba di sini kemarin menggunakan helikopter dari Black Castle. Aku berangkat dari Rusia bersama Goran dan Cathy menggunakan kapal kargo milik mendiang tuan Bojan. Hanya saja, saat perjalanan, kami mendapatkan panggilan jika pesawat yang ditumpangi tim Fara ditembak jatuh oleh anak buah Hope. Lalu, ia mengatakan jika kalian bertiga selamat dan sedang menuju kemari. Jadi, kami menunggu. Siapa sangka jika kabar itu benar," jawab Hugo bersuara besar seperti tubuhnya.


"Kau tahu siapa yang memberikanmu informasi itu?" tanya Sig melotot.


"Dia menyebut dirinya utusan 13 Demon Heads," jawabnya yang membuat tiga pemuda itu tertegun. "Keadaan tim kita semakin gawat. Kudengar dari informasi yang masuk dari orang tak dikenal karena suaranya disamarkan, King D dan timnya telah terbang menuju Australia. Awalnya kami merasa ini sebuah jebakan, tapi sepertinya informasi yang diberikan benar. Dia tahu banyak tentang kita. Utusan itu melindungi kita diam-diam. Mungkin sengaja agar tak diketahui oleh pihak Hope," ujarnya.


"Mungkinkah ... dia Dayana Lubava?" tanya seorang wanita seraya berjalan mendekati kumpulan lelaki itu. "Hei, aku Cathy. Red Skull generasi muda. Salam kenal," sapa gadis cantik berambut abu-abu tersebut seraya menyodorkan tangan.


Sig, Neil, dan Nero malah tersipu malu, tapi menyambut jabat tangan itu.


"Dia pacarku. Cari yang lain," ungkapnya. Praktis, wajah tiga pemuda itu datar seketika. Hugo menahan senyum.

__ADS_1


"Di sana," tunjuk Cathy tiba-tiba saat sebuah helikopter besar terparkir tak jauh dari helikopter mereka berada.


"Kita akan terbang secara estafet menuju Australia yang diperkirakan jaraknya 7000 km lebih. Tim lain sudah berangkat sejak kalian meninggalkan Black Castle. Kali ini, semua mafia dalam jajaran The Circle dan 13 Demon Heads bersatu melawan Hope. Dia harus dimusnahkan," tegas Cathy yang membuat tiga pemuda itu mengangguk dengan wajah tegang.


"Jadi ... kenapa diam saja? Segera bersiap," sahut Hugo yang membuat Sig dan lainnya bingung.


Cathy mengajak tiga tamu muda mereka ke helikopter tersebut. Sig yang menemukan buku panduan tentang helikopter itu membacanya dengan saksama. Sedang Neil dan Nero, tampak mengagumi benda terbang itu di mana mulai dipersiapkan untuk diberangkatkan.


"Hem, jumlah orang yang bisa diangkut oleh AW-101 Merlin sebanyak 26 personel dengan persenjataan lengkap atau setara lima ton kargo. Secara teknis umum, AW-101 Merlin memiliki panjang fuselage total 19,53 meter, tinggi 6,62 meter, radius baling-baling utama 18,59 meter, bobot kosong 10.500 kg dan bobot maksimum 15.600 kg. Wah ... ini hebat," kagum Sig yang tampak serius membaca sembari duduk di salah satu bangku. Neil dan Nero ikut merapat. "Sedangkan dari segi navigasi dan kemudi, helikopter ini dikatakan dapat memudahkan pilot. Mereka bisa menggunakan night vision google yang cocok dengan kokpit digital dan sistem manajemen penerbangan. Helikopter tersebut dapat terbang dengan mengangkut empat awak (dua pilot dan dua muatan)," sambung Sig seraya mengangguk-anggukan kepala. Sedang Neil dan Nero yang tak tertarik untuk mengetahui tentang helikopter tersebut memilih keluar untuk bergabung bersama tim lain. "Helikopter AW-101 ini dikenal bertenaga. Pasalnya, dia ditenagai tiga mesin Rolls-Royce Turbomecca RTM322-01 Turboshaft yang masing-masing mampu menyemburkan daya hingga 1.566 kiloWatt (2.100 shp). Helikopter ini mampu terbang dengan kecepatan 277 kilometer per jam. Sedangkan jarak tempuh dalam sekali isi tangki bahan bakar hingga penuh adalah 1.200 kilometer atau terbang dalam durasi 6,5 jam terbang. Untuk ukuran helikopter, terbang hingga durasi 6,5 jam tanpa henti ini cukup lama, mengingat pada faktanya penerbangan alias misi helikopter jarang yang berlangsung hingga selama itu."


"Jadi ... sudah pintar?" tanya Cathy saat kembali masuk seraya menenteng dua koper hitam besar.


"Di sini disebutkan hanya bisa terbang kurang lebih 6,5 jam dengan jarak 1.200 kilometer. Katamu, sampai ke Australia sekitar 7000 km lebih. Lalu ... di mana selanjutnya kita akan melakukan pengisian bahan bakar?" tanya Sig penasaran.


Namun, Cathy hanya tersenyum tak menjawab. Sig berdecak kesal karena gadis cantik itu merahasiakan hal tersebut. Tak lama, muncul sekumpulan orang yang membuat Sig melebarkan mata karena tak menyangka jika tim yang akan diberangkatkan akan sebanyak itu.


"Halo, Sig," sapa Goran seraya mengajaknya tos kepalan tangan.


Sig gugup, tapi menyambut dengan tos yang sama. Sig terlihat bingung saat satu per satu dari para mafia itu masuk hingga dua teman seperjuangan duduk mengapitnya.


"Bagaimana kau bisa ikut kemari?" tanya Nero bingung karena Goran tak menjaga markas.


"Ini cukup aneh. Setelah sambungan komunikasi kita diblokir oleh Hope, kami semua mendapatkan surat seperti kalian dengan menyebut dirinya utusan 13 Demon Heads," jawabnya tenang.


"Oh, benarkah?" tanya Neil seperti tak percaya, tapi para mafia dewasa itu mengangguk dengan wajah serius.


"Apa isi surat itu?" tanya Sig makin penasaran. Goran menatap Sig saksama.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE

__ADS_1


__ADS_2