KING D

KING D
Menuju Rusia*


__ADS_3


Sedang di tempat Marco-Polo dan timnya berada. Dini hari menjelang fajar.


Mereka berhasil sampai ke tempat pengisian bahan bakar di negara Mongol dan mengisi semua jeriken dengan bahan bakar mobil yang mereka temukan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris dan Mongol. Terjemahan.


"Sejauh ini kita tak bertemu para monster. Ini hal bagus," ucap Polo di malam gelap seraya mengisi bahan bakar.


Malam itu, Marco menggantikan tugasnya sebagai sopir.


"Hem, aneh juga. Padahal Fara ikut bersama kita. Seharusnya, bau darah menstruasinya bisa mengundang para monster untuk memangsa kita," ujar Marco seraya melihat sekitar dari dudukkan kemudi.


PLAK!


"Agh! Apa-apaan kau ini?!" pekik Marco langsung memegang kepalanya karena Fara melotot.


"Aku sudah tak menstruasi!" serunya sebal.


"Oh," jawab Marco langsung keluar dari mobil.


Ia melangkah menjauh dari gadis manis bertaring itu sembari mengendus. Tak lama, Marco mengangguk karena baru menyadari jika tubuh Fara sudah tak tercium bau darah.


"Sepertinya dia menstruasi atau tidak, bau darahnya menempel kuat dalam penciumanku. Ini mengerikan," tegasnya seraya menggosok hidung.


Polo terkekeh seraya melepaskan selang pengisi bahan bakar di tangki bensin mobilnya.


"Sudah semua. Ayo, kita harus segera lanjutkan perjalanan," titah Souta usai tiga pria Mongol menaikkan 6 buah jeriken bahan bakar ke bak belakang.


BROOM!!


Mobil melaju dengan kecepatan sedang di atas jalanan aspal yang telah ditinggalkan. Selama perjalanan, mereka tak menemukan satu pun manusia yang selamat untuk bisa ditolong.


Keheningan dalam kegelapan membuat wajah orang-orang itu berubah sendu seolah di Bumi yang luas ini hanya ada mereka saja.


"Aku merindukan hiruk-pikuk kota metropolitan. Aku rindu belanja di mall, makan bersama baba, mimi dan D, serta mengobrol dengan kawan-kawanku," ucap Fara terlihat sedih sembari melihat keluar jendela dalam gelap.


"Bersabarlah. Aku yakin, keadaan akan kembali seperti semula. Hanya saja, kita harus segera menyelesaikan wabah monster ini secepatnya," sahut Souta seraya menepuk pundak kanan Fara lembut dari dudukkan tengah.


Gadis manis itu mengangguk pelan. Semua orang masih siaga dengan senapan laras panjang dalam genggaman.


Polo memilih untuk memejamkan mata karena lelah setelah mengemudi seharian hingga petang menjelang.


Hingga akhirnya, mobil berhasil melewati perbatasan dan memasuki wilayah Khyagt-Rusia. Tak ada penjaga, pengecekan administrasi dan lain-lainnya.


Gedung-gedung yang mereka lewati pada sebuah kota kosong dan gelap. Terlihat kendaraan roda empat dan roda dua ditinggalkan begitu saja di jalanan dengan posisi sembarangan.


Kini, tim Fara telah meninggalkan Mongolia. Tampak wajah tiga pria Mongol sumringah karena berhasil menyeberang tanpa hambatan.


"Ada apa, Marco?" tanya Souta yang melihat hidung lelaki bermanik merah itu bergerak seperti mengendus.


"Aku mencium bau monster," jawabnya dengan wajah serius dan mata memindai sekitar.


"Oke!" jawab Fara terlihat tegang, tapi menanggapinya dengan santai.


Tiga lelaki Mongol langsung bersiaga dengan mengarahkan moncong senapan laras panjang ke jendela yang dibuka setengah untuk menembak jika melihat monster mendekat.


Souta bergegas keluar dari jendela tengah lalu naik ke bagian atas mobil tempat barang-barang diletakkan.


Para pria Mongol terkejut karena Souta begitu gesit seperti monyet. Ia bahkan tak jatuh saat berjongkok di atas mobil karena sepatu magnet yang dikenakan.


"Nanti kalian bisa mendapatkan sepatu magnet saat kita sudah di kastil berikut seragam Black Armys dan—"

__ADS_1


"Monster!" seru Souta yang mengejutkan semua orang hingga Fara gagal melanjutkan pidatonya.


Polo sampai terbangun saat bahunya ditepuk oleh Turgen. Polo dengan sigap duduk dan melepaskan pengaman pada senapan laras panjangnya.


Saat Marco terlihat serius dengan kemudinya, pandangan lelaki itu teralih.


"Hei, hei! Jangan berubah menjadi landak di sini! Keluar sana!" serunya mengusir.


Mata Fara yang awalnya sudah menjadi warna perak langsung memudar. Ia mendesis kesal menunjukkan taringnya, tapi Marco tak peduli dan malah mendorong lengan gadis manis itu untuk segera keluar.


"Awas saja jika babaku bangun nanti. Kau akan disunat olehnya!" serunya mengancam.


"Ha?" tanya Marco dengan wajah berkerut.


Fara dengan sigap keluar dari jendela samping mobil saat kendaraan itu masih melaju kencang dalam kegelapan. Fara berjongkok di atas kap mesin mobil dan mulai merubah dirinya menjadi gadis landak.


Terlihat, para monster berlari seperti berusaha untuk mengejar mobil yang berisi manusia-manusia yang selamat. Polo dengan sigap melompat ke dudukkan depan tempat Fara tadi.


"Lemparkan gas halusinasi untuk melumpuhkan mereka!" seru Souta yang kini berdiri di atas mobil seraya meneropong untuk melihat sekitar.


Turgen, Oktai dan Ganzorig dengan sigap mengganti senjata mereka dengan senapan pelontar granat berisi gas halusinasi.


Souta mencoba menerapkan protokol K-0 untuk mengidentifikasi para monster sebelum dibunuh.


"Hargghhh!"


"Now!" seru Souta lantang.


DUK! DUK! DUK!


BLUARRR! BUZZZ!!


Kepulan asap putih langsung menyeruak di tiga sisi mobil. Samping kanan, kiri dan belakang. Souta menembak ke sisi bagian depan.


Ia menggunakan tali yang sudah dipersiapkan di pinggul dengan perekat yang akan menempel pada ujung rambut jarumnya.


Fara dengan sigap melesatkan dua jarum panjang dan tajam itu ke kaki para monster lalu mencabutnya saat mobil akhirnya berhenti.


JLEB! CRATT!


"HARGGHH!" erang dua monster yang terkena jarum Fara di kaki mereka.


"Fara! Apa yang kaulakukan?!" pekik Marco karena ide Fara di luar nalarnya.


"Darahnya hijau dan hitam. Mereka tak bisa disembuhkan. Bunuh!" seru Fara saat melihat warna dari ujung jarum yang tertembus itu.


Polo dan Marco saling berpandangan saat Fara dengan sigap mengubah posisi tubuhnya dan kini mengincar para monster yang mulai terkena dampak di sisi kanan.


Ternyata, semua monster yang berusaha untuk menyerang mereka sudah tak bisa diselamatkan.


"Semoga Tuhan mengampuni kalian," ucap Souta dengan dua granat tabung dalam genggaman.


"Marco, now!" titah Polo karena beberapa monster tetap beringas seolah gas tersebut tak memiliki pengaruh dalam tubuh mereka.


BROOMM!!


Mobil melaju kencang meninggalkan para monster yang berusaha untuk menggapai mereka. Souta dengan sigap melemparkan dua granat tabung ke bagian belakang mobil.


KLANG! PIPIPIPIPIPI!


"Harrghh!!"


DODODODOOR!! BRUKK! BRUKK!!

__ADS_1


Polo ikut mengganti senjatanya dengan pelontar granat berisi Rainbow Gas Hitam ke kumpulan para monster yang masih agresif.


Tiga pria Mongol tampak tegang karena tak pernah menjumpai teknik bertempur seperti ini. Terlebih, para mafia itu menggunakan semacam senjata biologi untuk membunuh para monster.


Fara masih berjongkok di kap mobil dalam mode landak terlihat sigap. Souta juga masih berjongkok di atas mobil untuk melihat keadaan sekitar saat mereka melintasi kota menuju Irkutsk.


"Jangan bengong saja! Segera isi ulang amunisi kalian! Kita akan melintasi banyak kota dan pastinya, banyak monster berkeliaran! Cepat!" seru Marco melotot dengan warna mata merah menyala.


Tiga lelaki Mongol itu tersentak. Wujud Fara yang memiliki taring sudah membuat mereka takut, terlebih saat melihat gadis manis itu ternyata bisa berubah menjadi seperti landak dengan rambut yang mematikan.


Ditambah, dua manusia aneh saudara kembar dengan warna mata yang menyala pada keadaan tertentu.


Praktis, suasana mencekam itu menjadi semakin horor karena keberadaan Marco.


"Ka-kami mengerti," jawab Oktai sampai gemetaran saat memasukan Rainbow Gas berwarna hitam ketika Polo memberikan senapannya ke belakang.


Tiga lelaki Mongol itu dengan sigap mengisi ulang amunisi mereka. Souta mencoba menghubungi orang-orang dari Red Skull yang katanya akan menjemput mereka dekat danau.


"Bagaimana, Paman?" tanya Fara yang masih bertahan dengan wujud landaknya, tapi ia mulai merasa pusing karena menggunakan kekuatannya terlalu lama.


"Belum ada tanggapan. Sepertinya jarak kita dengan mereka masih terlalu—"


DUKK!


"FARA! Marco, stop!" teriak Polo saat tiba-tiba saja Fara ambruk ke belakang menghantam kaca depan.


CITTT!!


Beruntung, sepatu magnet yang ia kenakan menempel kuat pada besi kap mobil. Mata perak dan rambut landak gadis manis itu memudar.


Fara kembali menjadi seperti manusia normal meski dalam kondisi lemah masih sadarkan diri.


"Hei, kau tak apa?" tanya Polo saat keluar dari mobil dan bergegas mendatangi Fara.


"Capek ... Fara laper ... mau pisang," pintanya dengan mata sayu.


Polo menghembuskan napas panjang dengan senyuman. Ia mengangguk pelan dan menonaktifkan sepatu magnet yang Fara kenakan.


Fara ia bopong untuk kembali masuk ke dalam mobil. Turgen keluar dari dudukkan tengah mobil dan kini duduk di bangku depan samping Marco karena Fara duduk di bangku tengah.


Oktai juga pindah ke belakang menemani Ganzorig karena Polo menemani adik dari King D tersebut.


Marco hanya bisa geleng-geleng kepala dan kembali melaju mobilnya. Polo dengan telaten menyuapi Fara biskuit yang ia celupkan dalam selai pisang buatan Hakim karena lelaki tua itu tahu makanan kesukaan dari anak majikannya.


"Sebaiknya kau istirahat. Kau ikut begadang. Kerja bagus, Fara. Kau bisa bertahan sejauh ini," ucap Polo memuji seraya menutup wadah selai pisang.


Fara tak menjawab, tapi tersenyum seraya merebahkan kepalanya ke paha Polo. Lelaki bermanik biru itu terlihat bingung.


Terlebih, saat ia ditatap oleh semua orang dalam mobil ketika Fara meraih tangannya dan meminta kepalanya dielus seperti kucing.


"Jika ada Otong, kau pasti sudah diledek habis-habisan olehnya, Polo," ujar Souta terkekeh saat Polo terlihat tegang ketika mengelus kepala Fara dengan tangan kanannya.


Semua orang terkekeh, tapi Marco memasang wajah serius dengan mata terfokus pada jalanan gelap di depannya.


***


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE



Uhuy makasih tipsnya lele padamu😍 Yang lain ditunggu tipsnya ya biar lancar dobel epsnya😁 Hehe. Btw baca komen kalian yg nebak2 siapa si Hope malah bikin eke tergeli-geli😆 Semua tokoh dituduh. Nanti jg kejawab pas mau tamat. Sabar ya saudara saudari😘 Oia, yg bingung kenapa ada Red Skull tambahan, baca aja Marco-Polo. Kalo dijelasin puanjang x lebar nanti.

__ADS_1


__ADS_2