KING D

KING D
Kim Loria*


__ADS_3


Mendengar nama Kim Loria disebut, orang-orang yang mengenalnya segera berlari mendekat. Betapa terkejutnya, ketika Jason, Bayu, dan Hadi melihat puteri dari Kim Arjuna-Tessa Flame berada di sana.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia campuran.


"I-itu ... apakah benar itu Loria? Kenapa dia berwujud seperti itu?" tanya Jason dengan mata membulat penuh karena merasakan jika gadis cantik itu memiliki kekuatan aneh sepertinya.


"Ih, lendirnya banyak banget. Dia pilek apa gimana?" tanya Fara merasa jijik.


"Paman. Kenapa tak dikeluarkan saja? Lihat, dia ketakutan," tanya Nero hingga keningnya berkerut.


"Lihat matanya! Ia sepertiku!" pekik Jason ketika melihat lebih jelas wajah Loria ketika menghapus lendir yang menutup tabung tersebut dengan tangannya.


Daniel tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia meminta semua orang bersiap karena khawatir jika Loria adalah ancaman. Jason dengan sigap menelepon King D dan pemimpin misi tersebut segera mendatangi Q.


Markas Greenland.


"Tabung Loria tak terkoneksi dengan GIGA SIA. Mungkin ... GIGA DARA? Orang-orang yang bangkit dari tabung ciptaannya memiliki kemampuan super yang aneh. Mungkin saja," jawab Q saat ditemui di Pusat Kendali.


King D segera berlari ke kamar Junior diikuti Obama, Irina, Jonathan dan Q karena penasaran. Sedang 5 orang penjaga dari Black Armys yang telah dibangkitkan untuk menjaga markas tetap berada di pos masing-masing.


"Bagaimana? Kau bisa melakukannya, Junior?" tanya King D penuh harap yang terpaksa membangunkan bocah lelaki berkulit pucat saat ia tertidur pulas.


Junior mengangguk. Ia diam dengan kepala bergerak-gerak berikut jari-jari tangannya seperti melakukan sesuatu. Seketika, layar ponsel yang pernah diotak-atik oleh Jonathan menyala. Semua orang di dalam kamar Junior tampak kaget ketika muncul sebuah perintah untuk membuka tabung.


KLEK! PESS ....


"Terbuka! Tabungnya terbuka, D!" pekik Jason dengan mata melebar ketika melihat kepulan asap keluar melalui pintu celah tabung.


"Hoh! Hoh!" ucap Junior yang membuat bingung orang-orang di sekitarnya.


"Apa yang ingin kaukatakan?" tanya Irina yang merasa jika Junior seperti memiliki informasi untuk timnya.


Namun, di tempat Loria berada.


"Wow! Wow! Wow!" pekik Nero saat melihat Loria melompat sangat tinggi begitu keluar dari tabung.


BRANG!


Semua orang di lokasi tertegun. Mata mereka melebar saat melihat Loria kini berdiri di atas atap mobil dengan napas tersengal dan dari dua tangannya meneteskan lendir. Daniel dan lainnya mengarahkan senjata ke tubuh gadis bertubuh ramping yang mengenakan pakaian dalam saja.

__ADS_1


"Lo-Loria? Kau mengenali kami? Aku Jason Boleslav, lalu dia Daniel, Bayu dan Hadi The Kamvret, kemudian ... dia Marco, Polo, Nero, dan Fara," tanya Jason seraya melangkah perlahan dengan ponsel satelit ia genggam di tangan kiri.


Loria menatap tajam orang-orang yang berdiri di hadapannya meski menjaga jarak. Loria melihat telepon satelit yang digenggam Jason.


Tiba-tiba, SYUT! CRAT!


"Woah!" teriak Jason panik ketika Loria mengayunkan tangan kanannya ke depan dengan cepat dan lendir bening itu seperti menjadi sebuah tali yang lengket untuk menarik telepon tersebut dari tangannya.


Mata semua orang melebar saat Loria masih menatap mereka tajam tampak waspada, tapi tangan kanannya menempelkan telepon itu ke telinga.


"Paman Jason! Apa yang terjadi?" tanya King D panik karena panggilannya tak mendapat jawaban.


"Hoh! Hoh!" seru Junior yang suaranya membuat mata Loria melebar dan matanya yang menyala kuning memudar. Lendir di tangannya mulai mengering menjadi seperti lapisan kulit kering berwarna putih.


"Junior?" panggilnya.


"Loria! Loria!" jawab Junior dengan suara Jordan saat ia menanggapi menggunakan bahasa isyarat.


Seketika, senyum Loria terkembang. Ia tampak senang saat mendengar namanya dipanggil. Jason dan lainnya saling melirik dalam diam. Tak lama, panggilan lain masuk ke radio helikopter. Bayu dengan sigap kembali masuk. Ternyata, tim Maksim menghubunginya usai Q meneruskan panggilan atas permintaan Junior.


"Loria! Hei, ini aku Sig! Kau mendengarku? Jika ya, mari bertemu," ucap Sig yang suaranya diperdengarkan oleh Bayu sehingga Loria mendengarnya.


"Oke!" jawabnya mantap dengan senyum terkembang.


"Halo," sapanya dengan senyum menawan.


"Ha-halo," jawab orang-orang gugup.


"Langsung ke bandara?" tanyanya santai, tapi membuat orang-orang dalam kubu Jason kebingungan.


"Kita ke gedung dulu saja dan terbang esok hari. Ini sudah malam dan ada beberapa hal yang harus dilakukan," tegas Daniel, dan Loria mengangguk dengan wajah lugu.


Loria bersama dengan Hadi dan Bayu terbang menggunakan helikopter. Sedang Marco, Polo, Nero, Daniel, Jason dan Fara mengendarai mobil yang berhasil mereka rampas dari anak buah Hope. Mayat-mayat mereka sengaja dibiarkan tergeletak di jalanan meski Jason menyempatkan untuk memotret wajah-wajah itu untuk diselidiki oleh GIGA.


Pusat Kendali Markas Greenland.


"Bagaimana? Apakah mereka teridentifikasi?" tanya King D saat melihat GIGA SIA melakukan pelacakan data ke seluruh catatan sipil kependudukan di dunia di sebuah layar monitor 60 inch.


"Bersabarlah," jawab Q yang membuat King D kembali duduk di sofa.


"Jadi ... bisa beri tahu kami tentang kemampuan Loria?" tanya King D saat melakukan panggilan video kepada Sig yang sedang berlayar menuju Colombia.

__ADS_1


"Ya. Entah kalian percaya atau tidak. Namun, kemampuan tak lazim kami memang bukan berasal dari Bumi sepenuhnya, melainkan campur tangan ilmuwan jenius dari planet lain. Anggap saja alien," jawab Sig santai, tapi membuat orang-orang yang terhubung dengan komunikasi tersebut berkerut kening.


"Jangan bilang yang dikatakan para Demon Kids saat itu benar," sahut Maksim dengan wajah berkerut, tapi Sig mengangguk membenarkan.


"Oke. Semua sudah jelas. Entah siapa yang gila, tapi melihat Junior, Irina, King D, Obama, dan Sig, aku ... memilih percaya meski masih sulit kuterima dengan akal sehatku terutama jika teringat ucapan Bobby kala itu," sahut Q tampak frustasi sampai melepas kacamata lalu memijat dua matanya.


Maksim mengangguk dengan wajah datar seperti ikut memikirkan ucapan Q kala itu. Jonathan diam saja menyilangkan dua tangan depan dada seraya melihat King D, Irina, dan Junior bergantian. Hingga tiba-tiba, ia menepuk tangannya yang mengejutkan semua orang.


"Opo sih, Om? Bikin kaget aja," seru Obama sembari mengelus dada.


"Sig! Katamu ada 13 anak yang dipilih oleh Sandara untuk mendapatkan kekuatan aneh itu. Apakah ... itu termasuk Hihi?" tanya Jonathan semangat.


"Tidak, Paman. Orang-orang yang masuk dalam kelompok Demon Kids tidak diberikan kemampuan itu. Aku pernah melihat rekamannya saat di perusahaan Elios jika mereka enggan memiliki kemampuan itu lagi karena akan berbeda seperti saat berada di Planet Mitologi," jawabnya tenang.


"Ada rekamannya? Di mana kau melihatnya? Pusat kendali?" tanya Q penasaran.


"Di dalam ruangan yang tak bisa dibuka itu."


Semua orang terlihat lesu seketika. Sedang Sig tampak biasa aja.


"Sig. Saat kau menyebutkan nama orang-orang yang diberikan kemampuan khusus, kalau tidak salah masih kurang 4. Jika ditambah dengan Kim Loria, tinggal 3 lagi. Apa kauingat sisanya?" tanya Souta yang membuat Maksim ikut menatapnya. Sig diam terlihat berpikir serius.


"Jika anak-anak Demon Kids tak termasuk, bagaimana dengan Neil? Anak dari Jonathan dan Cassie?" tanya Maksim yang mengejutkan Jonathan.


"Ah, Anda benar. Ya, Neil termasuk. Namun, aku tak ingat jenis kemampuannya. Itu karena, serum tersebut harus berinkubasi terlebih dahulu dengan tubuh. Maksudnya ... menyesuaikan. Setelahnya, gejala yang ditimbulkan baru bisa dilihat," jawab Sig menjelaskan.


"Anakku ikut menjadi objek penelitian Sandara? Dasar gila! Awas saja jika bertemu. Akan ku ... agh! Intinya aku tak segan memberikannya pelajaran!" pekik Jonathan kesal.


"Jangan sampai mengulang tragedi silam hingga kalian berempat bertikai," tegas Souta, dan para senior mengangguk membenarkan.


"Aku tahu," jawab Jonathan kesal dengan wajah garang.


"Jadi, tinggal dua orang lagi. Siapa kira-kira?" tanya Irina penasaran.


"Bagaimana dengan Dayana Lubava? Lalu ... Sengkuni?" tanya King D menebak.


"Yup. Puzzle sudah saling melengkapi. Kau pintar, D," jawab Sig.


Semua orang kini terlihat makin serius memikirkan hal tersebut. Para mafia senior dibuat berpikir keras untuk membahas hal ini lebih detail. King D menyudahi sambungan komunikasi mereka karena ingin berdiskusi dengan timnya.


***

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2